Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Menjalankan Misi Sesungguhnya
Bian langsung tersenyum lebar. "Selamat datang di Klan Black Gold yang sesungguhnya, Dhana!"
Argan tertawa kecil sambil mengangkat tangannya. "Selamat, Brother."
Fikri bahkan terlihat jauh lebih antusias daripada keduanya. "Akhirnya kau bisa bergabung dengan kami!"
Sementara Reno hanya mengangguk dengan senyum tipis, tetapi sorot matanya menunjukkan sambutan yang tulus. Dhana membalas mereka sekadarnya. Pikirannya masih tertinggal di sebuah kamar. Pada seorang perempuan yang menangis di balik pintu. Dan pada seorang bayi yang tidak tahu bahwa keberadaannya telah menjadi bagian dari permainan orang-orang dewasa.
"Dirga." Reval memanggil salah satu anak buahnya.
Seorang pria segera maju. "Ya, Tuan."
"Bawa Dhana. Jelaskan semua pekerjaannya."
Dirga mengangguk. "Baik." Ia kemudian menghampiri Dhana. "Ikut aku."
Dhana melirik Reval sekali lagi. Pria itu hanya memberikan anggukan singkat sebelum berbalik meninggalkan ruangan. Dhana pun mengikuti Dirga. Langkahnya membawa dirinya semakin jauh dari aula utama dan semakin dalam menuju markas yang kini harus menjadi tempat tinggal keduanya.
"Mulai sekarang," kata Dirga tanpa menoleh, "kau akan punya banyak pekerjaan."
Dhana diam seakan sedang mendengarkan dengan seksama apa yang Dirga katakan. Hingga Dirga berhenti di depan sebuah pintu dan sebelum masuk ia menoleh kepada Dhana. "Menjadi orang kepercayaan Reval berarti setiap keputusan yang menyangkut dirinya bisa jatuh ke tanganmu."
Pintu terbuka bersamaan dengan perkataan Dirga selanjutnya, "Dan kalau kau salah mengambil keputusan..."
Dirga tersenyum tipis. "Yang mati bukan cuma kau."
Dhana menatap ruangan di hadapannya. Kemudian tanpa mengatakan apa-apa, ia melangkah masuk. Dimana Dirga mulai menjelaskan secara rinci apa yang bisa dan tidak bisa ia lakukan saat berada disisi Reval. Dimana pintu gerbang untuk segera menyelesaikan misi negaranya akhirnya terbuka lebar di depan matanya.
Sejak hari ketika dokter mengumumkan kehamilan Jenara, kehidupan Dhana berubah. Ia tidak lagi ditempatkan di sekitar kamar Jenara. Reval justru membawanya semakin dekat ke pusat kekuasaan Black Gold. Pada awalnya, Dhana mengira kepercayaan itu hanya sebatas pengawalan pribadi, ternyata jauh lebih besar dari dugaannya.
"Mulai sekarang, kau ikut denganku." Itulah perintah Reval pada pagi itu, setelah ia selesai mendapat rincian pekerjaan dari Dirga.
Dhana menundukkan kepala. "Baik, Tuan."
...****************...
Sejak hari itu, pintu-pintu yang sebelumnya tertutup baginya mulai terbuka. Ia diberi akses kepada sejumlah dokumen internal klan. Catatan distribusi aset, laporan keuangan, daftar perusahaan yang berada di bawah kendali keluarga, hingga berbagai laporan mengenai hubungan mereka dengan pihak luar.
Dhana membaca semuanya. Bukan dengan rasa ingin tahu seorang bawahan, melainkan dengan ketelitian seorang perwira intelijen. Ia mengingat nama, mencatat tanggal, membandingkan angka, menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya. Dan semakin lama ia membaca, semakin jelas gambaran sebenarnya mengenai kekuasaan Reval.
Black Gold tidak berdiri hanya karena kekuatan senjata. Kekuasaan itu dibangun di atas jaringan. Jaringan bisnis, jaringan politik, jaringan pengaruh dan bahkan jaringan di dalam institusi yang seharusnya menjadi pihak yang memburu mereka.
Beberapa minggu kemudian, Dhana mulai ikut menghadiri pertemuan-pertemuan tertutup Reval. Ruangan-ruangan mewah. Restoran yang ditutup untuk umum. Kediaman pribadi para tokoh penting.
Satu demi satu wajah mulai dikenalnya. Ada pengusaha besar yang secara terbuka mengaku hanya memiliki hubungan bisnis dengan Reval. Ada pejabat yang selalu berbicara mengenai hukum dan ketertiban, tetapi diam-diam memperlakukan Reval seperti rekan lama. Ada pula beberapa orang dari kepolisian pusat yang datang bukan sebagai penegak hukum, melainkan sebagai bagian dari lingkaran yang melindungi kepentingan tertentu.
Dhana tidak pernah menunjukkan keterkejutan. Ia hanya berdiri di belakang Reval. Diam, mendengarkan, dan mengamati. Namun setiap kali kembali ke mansion, pikirannya bekerja tanpa henti. Satu nama dikaitkan dengan nama lain. Satu perusahaan mengarah pada perusahaan lain. Satu hubungan politik menjelaskan mengapa sebuah masalah hukum tiba-tiba menghilang.
Sedikit demi sedikit, Dhana menemukan pola. Reval memiliki banyak sekutu, tetapi tidak semuanya loyal. Sebagian besar hanya takut. Sebagian membutuhkan uang. Sebagian lagi membutuhkan perlindungan. Dan beberapa orang bahkan tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi bagian dari jaringan Black Gold.
Itulah kelemahan terbesar Reval. Kekuasaan sebesar itu membutuhkan terlalu banyak orang untuk tetap berdiri. Dan semakin banyak orang yang terlibat, semakin banyak pula celah yang dapat ditemukan.
Dan untuk saat ini, Dhana menyingkirkan masalah tentang Jenara dari pikirannya. Sebab kali ini ia harus fokus menjalankan misi negaranya selagi ada kesempatan emas seperti ini. Semakin cepat ia menyelesaikan misi negaranya, maka akan semakin cepat ia membawa pergi Jenara dari tangan Reval dan bertanggung jawab atas bayi itu.
Setiap malam hari menjadi waktu Dhana bekerja sendirian. Di kamar pribadinya, ia membuka kembali catatan yang telah dibuatnya. Tidak ada nama lengkap. Tidak ada keterangan yang terlalu jelas. Hanya kode-kode yang menurut orang lain tidak memiliki arti. Namun bagi Dhana, setiap tanda memiliki makna.
Ia menatap satu halaman cukup lama. Sumber dana, jalur pengaruh, sekutu, orang-orang yang dapat dipercaya, orang-orang yang mungkin bisa dipisahkan dari Reval dan orang-orang yang harus diawasi.
Dhana menyandarkan tubuhnya. Kini ia memahami sesuatu. Jika ingin menjatuhkan Reval, kekuatan Reval tidak perlu dihancurkan sekaligus. Cukup membuat fondasinya retak. Satu demi satu. Tetapi ia juga tahu bahwa semakin dekat dirinya dengan Reval, semakin besar risiko penyamarannya terbongkar.
Karena itu, semua informasi harus keluar dengan sangat hati-hati. Tidak melalui satu jalur. Tidak dalam bentuk yang mudah dikenali. Dan tidak pernah membawa terlalu banyak informasi sekaligus.
Dhana mengambil napas panjang, “Aku tidak bisa mengirim semua informasi ini melalui jalur biasa. Ini terakhir kalinya aku mengirim laporan ini melalui Zeno untuk mengurangi kecurigaan Reval dan anak buah kepercayaannya.”
“Meski tidak terlihat, tetapi sudah jelas sekali kalau Reval menempatkan beberapa anak buahnya untuk mengawasiku setiap saat.” Sambungnya.
Kemudian ia menutup dokumen tersebut. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan singkat berhasil dikirim kepada rekan, Zeno. “Antarkan makanan dengan menu biasa ke tempatku.”
Hanya pesan biasa yang berisikan pesanan makanan seperti yang biasa Dhana lakukan. Tidak ada kalimat yang menunjukkan identitas sebenarnya. Tidak ada penjelasan mengenai bagaimana informasi itu diperoleh. Hanya fakta-fakta penting yang telah disaring dengan teliti. Zeno akan langsung memahami dengan baik. Sementara tugas Dhana selanjutnya hanya meletakan informasi yang telah ia salin, ketempat biasa agar Zeno bisa mengambilnya tanpa menimbulkan kecurigaan.
Apa yang Dhana khawatirkan rupanya benar terjadi. Dimana malam selanjutnya, ia tiba-tiba saja di panggil ke ruang kerja Reval. Ruangan yang hanya diterangi cahaya lampu meja dan kilatan lampu kota dari balik jendela tinggi. Dimana Reval sudah menunggunya dengan raut wajah yang sulit dibaca.
Bersambung….