Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambang Batas Kekuatan
Hantaman gelombang kejut dari gada Gandaruka melemparkan tubuh Sekar melintasi udara, membanting punggungnya keras ke salah satu pilar batu yang masih tersisa berdiri kokoh, disusul suara batuk kasar yang memuntahkan percikan darah segar dari mulutnya.
"SEKAR!" jerit Larasati, tubuhnya sendiri sudah nyaris ambruk kelelahan namun tetap memaksakan diri merangkak mendekat, berusaha merapalkan sihir pemulihan terakhirnya yang tersisa. Lututnya bergesekan dengan lantai batu yang kasar, namun ia sama sekali tidak mempedulikan rasa perih yang menjalar itu, seluruh perhatiannya tertuju pada tubuh Sekar yang tergeletak lemas.
Cahaya dari ujung tongkat sihirnya terpancar sangat lemah, jauh dari kekuatan yang biasa ia hasilkan, seperti nyala lilin terakhir yang berjuang melawan angin kencang. Energi spiritualnya sudah terkuras habis, dipompa tanpa henti sejak awal pertarungan maraton ini dimulai. Ia mencoba sekali lagi mengarahkan cahaya itu ke tubuh Sekar, namun pendarnya hanya cukup untuk menutup sebagian kecil luka di sudut bibir, tidak sanggup memulihkan tenaga yang sudah benar-benar terkuras habis dari tubuh gadis itu.
Sekar tergeletak lemas di dasar pilar, tubuhnya gemetar hebat mencoba bangkit namun gagal berkali-kali, darah masih menetes tipis dari sudut bibirnya. Matanya yang biasa menyala tegas kini terlihat sayu, kesadarannya menggantung di ambang batas antara terjaga dan pingsan total. Ia mencoba menggerakkan jarinya untuk meraih parang yang terlempar beberapa langkah darinya, namun tubuhnya menolak menuruti perintah otaknya sendiri, seolah setiap syaraf sudah kehilangan daya untuk menggerakkan otot yang sudah terlalu lama dipaksa bekerja.
Gandaruka mendekat perlahan, langkah beratnya menggetarkan lantai batu, tatapan matanya yang menyala merah terpaku pada mangsa yang kini tak berdaya di hadapannya. Raungan rendah keluar dari tenggorokannya, seolah menikmati momen kemenangan yang sudah dekat. Setiap langkahnya meninggalkan retakan baru di lantai yang sudah rapuh akibat pertarungan panjang tanpa henti ini.
Galih, yang menyaksikan semuanya dari jarak beberapa meter, merasakan dunianya seolah runtuh seketika. Tanpa berpikir panjang, tanpa mempertimbangkan risiko yang jelas jauh melampaui kemampuannya, ia berlari maju, berdiri tepat di antara Sekar yang terkapar dan Gandaruka yang mendekat, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seolah tubuh kurusnya bisa menahan makhluk raksasa itu. Ia tidak sempat memikirkan apakah tindakannya masuk akal atau tidak, insting untuk melindungi mengalahkan seluruh logika yang seharusnya menahannya kembali ke belakang.
"Jangan sentuh dia," desis Galih, suaranya bergetar hebat, jauh dari kesan gagah yang ingin ia tunjukkan. Kakinya sendiri gemetar ketakutan, keringat dingin mengucur deras di sepanjang punggungnya, namun ia tetap berdiri tegak, menolak mundur meski setiap insting tubuhnya berteriak untuk lari secepat mungkin.
Gandaruka berhenti sejenak, seolah menilai keberanian nekat pemuda kurus yang tiba-tiba menghalangi jalannya. Kemudian, tanpa peringatan lebih lanjut, makhluk itu mengangkat cakar besarnya, mengayunkannya cepat membelah udara, mengarah lurus ke tubuh Galih yang berdiri mematung di hadapan Sekar. Kuku-kuku tajam di ujung cakar itu berkilat samar diterangi obor yang masih menyala di dinding, mengingatkan Galih pada betapa mudahnya benda itu merobek daging manusia dalam sekali sabetan saja.
Waktu seolah melambat drastis bagi Galih. Ia bisa melihat setiap detail cakar tajam yang mendekat, setiap tetes air liur yang menetes dari rahang Gandaruka, setiap otot yang bergerak dalam gerakan lambat yang mustahil bagi mata manusia biasa.
Dan di tengah kelambatan waktu yang aneh itu, sesuatu di dalam dirinya bergetar hebat, sama seperti malam ketika ia membantai seluruh kawanan Bayangkara demi menyelamatkan Sekar dari kematian yang hampir merenggutnya.
Namun kali ini berbeda. Bukan sosok raksasa bayangan yang meledak keluar, melainkan sesuatu yang lebih halus, lebih dalam, seolah bukan kekuatan fisik yang bangkit melainkan sesuatu yang lebih mendasar, sesuatu yang berkaitan dengan cara ia melihat dunia itu sendiri. Pandangannya tiba-tiba berubah, dunia di sekitarnya memudar menjadi hitam putih, kecuali satu titik di dada Gandaruka yang berpendar terang, sebuah cahaya merah menyala yang berdenyut teratur seperti jantung yang hidup.
Galih terpaku, matanya membelalak menyaksikan pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal ini. Ia bisa melihat menembus wujud fisik Gandaruka, menembus kulit tebal yang selama ini menahan setiap tebasan Sekar, langsung ke inti terdalam makhluk itu, sebuah titik kecil berkilau yang tersembunyi rapat di balik daging dan tulang. Seluruh urat dan otot raksasa itu tergambar jelas dalam pandangannya, seperti diagram anatomi yang terpampang telanjang di hadapan matanya sendiri.
"Apa... apa ini," gumamnya, suaranya tercekat antara takjub dan bingung, seolah baru saja menemukan sesuatu yang selama ini tersembunyi jauh di dalam dirinya sendiri tanpa pernah ia sadari keberadaannya.
Cakar Gandaruka semakin dekat, hitungan detik terakhir sebelum benturan yang akan meremukkan tubuhnya. Namun Galih tidak lagi merasakan ketakutan yang sama seperti sebelumnya. Sesuatu yang baru, sesuatu yang terasa seperti kejernihan mutlak, mengalir deras menggantikan kepanikan yang tadi menguasainya. Seolah semua kekhawatiran, semua keraguan yang selama ini membebaninya, lenyap begitu saja digantikan satu fokus tunggal yang sangat jelas.
Ia menatap tajam ke arah titik cahaya di dada Gandaruka, seolah matanya sendiri baru saja menemukan bahasa baru untuk membaca dunia, bahasa yang mengungkap kelemahan tersembunyi di balik kekuatan raksasa yang tampak tak terkalahkan itu. Setiap detail dari titik cahaya itu terlihat begitu jelas, seolah ia bisa menghitung setiap denyutnya satu per satu tanpa kesulitan sedikit pun, seakan waktu memberinya kemewahan untuk mengamati dengan seksama.
Tangannya bergerak perlahan menuju gagang keris kecil yang tersampir di pinggangnya, jari-jarinya menggenggamnya erat dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, seolah senjata sederhana itu kini terasa jauh lebih bermakna di tangannya, bukan lagi sekadar besi tajam melainkan perpanjangan dari tekad yang baru saja menemukan arahnya.
Waktu masih terasa melambat, cakar Gandaruka masih meluncur turun, namun pikiran Galih justru semakin tenang, semakin fokus, seolah seluruh kekacauan dan ketakutan yang selama ini menyelimutinya perlahan tersapu bersih oleh satu kesadaran baru yang mendadak muncul dari kedalaman jiwanya. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri berdegup pelan namun mantap, jauh berbeda dari degupan panik yang biasa menyertai situasi berbahaya.
Ia menarik napas panjang, memusatkan seluruh sisa tekad yang tersisa di dalam dirinya ke dalam genggaman keris kecil itu, matanya tidak sekali pun lepas dari titik cahaya berdenyut yang kini menjadi satu-satunya hal yang berarti di seluruh dunia yang memudar menjadi hitam putih di sekelilingnya. Di belakangnya, samar-samar ia masih bisa mendengar suara Larasati yang panik memanggil namanya berkali-kali, namun suara itu terdengar begitu jauh, seolah datang dari dunia lain yang tidak lagi bisa ia jangkau sepenuhnya.