Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi Hati Yunita
Denting piring dan riuh tawa di dalam aula gedung pertemuan itu perlahan memudar saat Arvino melangkah keluar menuju selasar yang lebih tenang. Malam perpisahan SMA baru saja berakhir. Di bawah pendar lampu taman yang temaram, Vino mengelus pelan lengan jas biru gelap yang melekat di tubuhnya. Kainnya masih sangat halus, tidak berkerut sedikit pun. Sepanjang acara tadi, ia sengaja menjaga geraknya agar jas sewaan milik Evita ini tidak bernoda atau rusak.
"Vin!"
Langkah Vino terhenti. Ia menoleh dan menemukan Yunita berjalan menghampirinya. Gadis itu tampak anggun dalam balutan gaun kebaya simpel berwarna merah muda. Di tangannya, Yunita menggenggam sebotol air mineral dingin yang langsung ia sodorkan pada Vino.
"Makasih, Yun," ujar Vino seraya menerima minuman tersebut dan meminumnya beberapa teguk. "Acara malam ini sukses berat. Selamat ya, ketua panitia akhirnya bisa bernapas lega."
Yunita tertawa kecil, melangkah menyamping hingga mereka kini berdiri sejajar menatap area parkiran yang mulai dipadati kendaraan para wali murid. "Semua juga karena bantuan kamu, Vin. Kalau kamu nggak mau direpotkan ngurus bagian konsumsi dan dekorasi panggung, mungkin acaraku berantakan dari tadi."
"Ah, biasa aja. Niatku kan cuma mau memastikan semua orang makan kenyang," sahut Vino dengan cengiran khasnya. Ia menyandarkan punggung di pembatas semen, membiarkan angin malam Surabaya yang sedikit gerah mengusap wajahnya.
"Kamu... beneran nggak mau lanjut kuliah, Vin?" tanya Yunita tiba-tiba. Suaranya memelan, kehilangan nada ceria yang biasanya mendominasi.
Vino tersenyum tipis, menatap lurus ke depan. "Nggak dulu, Yun. Keadaan rumah lagi belum memungkinkan. Sejak Ayah meninggal tiga tahun lalu, Ibu sendirian yang banting tulang. Sekarang saatnya aku yang gantiin Ibu. Aku mau fokus kerja dulu di kedai, nabung, sambil belajar seluk-beluk bisnis kuliner dari Ibu."
Vino menguraikan ceritanya tanpa nada ratapan. Kehidupannya bersama Bu Lidya memang sederhana. Ibunya adalah sosok wanita tangguh yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang lewat usaha kuliner kecil-kecilan. Dari sang ibu pula Vino belajar cara menghormati orang tua, bersikap sopan, dan memasak dengan sepenuh hati. Bagi Vino, memeras keringat di usia muda adalah bentuk bakti paling nyata yang bisa ia berikan untuk ibunya.
Yunita mengangguk-angguk pelan. Ada rasa kagum yang makin membuncah di dadanya saat menatap pemuda di sampingnya itu. "Ibumu pasti bangga banget punya anak kayak kamu, Vin."
"Bisa aja kamu," balas Vino santai. "Lha kamu sendiri gimana? Jadi ambil kedokteran?"
"Jadi. Papi udah mendaftarkanku," jawab Yunita. Ia mendesah pelan, mengingat sosok ayahnya. "Kamu tahu sendiri kan, Papi itu mantan perwira polisi. Aturannya ketat banget di rumah. Kalau aku nggak masuk jurusan yang jelas kayak kedokteran, bisa-bisa kena sidang tiap malam."
Vino terkekeh membayangkan ketegasan Pak Haris yang kerap diceritakan Yunita di sekolah. "Pak Haris cuma mau yang terbaik buat kamu, Yun. Apalagi Mbak Vita kan juga udah berjuang mandiri dengan butiknya."
Mendengar nama kakaknya disebut, wajah Yunita berubah makin melunak. "Mbak Vita itu hebat banget, Vin. Setelah cerai dari mantan suaminya yang kasar itu... dia berjuang keras dari nol. Papi sempat mau menanggung semua kebutuhan Mbak Vita dan Keyra, tapi Mbak Vita menolak. Dia mau membuktikan kalau dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bantuan pria mana pun. Trauma KDRT yang dialaminya bikin Mbak Vita menutup diri rapat-rapat dari laki-laki."
Vino mendengarkan cerita itu dengan cermat. Potongan kisah tersebut seolah melengkapi teka-teki tentang ekspresi dingin dan jarak tebal yang selalu dibangun Evita saat ia temui di butik kemarin. Ada rasa empati yang mendalam yang perlahan tumbuh di dalam dadanya.
"Tapi, Vin..." Yunita memutar badannya, kini menghadap penuh ke arah Vino. Jemarinya saling meremas di depan gaun kebayanya, menandakan rasa gugup yang luar biasa. "Malam ini kan malam terakhir kita sebagai siswa SMA. Ada satu hal yang sebenarnya mau aku omongin ke kamu."
"Kenapa, Yun? Mulai lapar lagi? Di dalam masih ada sisa kue bolu, mau tak ambilkan?" tawar Vino dengan cengiran khasnya, mencoba mencairkan suasana yang mendadak serius.
"Bukan," potong Yunita cepat. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus tepat ke dalam manik mata Vino. "Aku mau ngomong sesuatu. Soal kita."
Vino menahan senyum konyolnya. Tatapan matanya berubah tenang dan penuh perhatian. "Kenapa soal kita? Ada yang salah?"
"Aku menyukaimu, Vin," tutur Yunita tegas, walau ada getar halus di ujung suaranya. "Aku suka kamu sejak kita kelas dua SMA. Waktu kamu bantuin aku bawa barang-barang pameran tanpa diminta, waktu kamu selalu bikin suasana kelas ramai walau semua orang lagi stres sama ujian. Kamu itu hangat, Vin. Di rumahku, karena Ayah mantan perwira, semuanya serba kaku dan ketat. Tapi pas di dekatmu, aku merasa bisa bernapas bebas."
Yunita menghela napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang bergemuruh keras. "Sekarang kita udah lulus. Kamu nggak kuliah dan pilih fokus kerja, aku juga mau masuk kedokteran. Tapi aku nggak mau berpisah tanpa menyampaikan ini. Aku mau kita coba jalan bareng, Vin."
Vino mendengarkan setiap kalimat Yunita tanpa memotong satu kata pun. Tidak ada raut panik atau kepedean di wajah pemuda itu. Yang ada hanyalah rasa hormat dan kejujuran yang utuh. Vino membetulkan posisi duduknya, menghadap penuh ke arah Yunita.
"Yunita..." suara Vino terdengar sangat lembut, berbeda dari nada bercandanya yang biasa. "Pertama, aku mau bilang terima kasih banyak. Kamu cewek yang hebat, pintar, dan berani banget bisa ngomong kayak gini langsung di depanku."
Yunita menahan napasnya, merasakan ada nada penggalan kata yang mengindikasikan kabar kurang baik.
"Tapi, Yun," lanjut Vino perlahan, "aku nggak bisa membalas perasaanmu melebihi rasa sayang seorang teman."
Kalimat itu terucap polos tanpa kepura-puraan. Yunita merasakan dadanya seperti dihantam sedikit sesak, namun ketenangan Vino membuatnya tidak bisa marah.
"Kenapa, Vin? Apa karena aku kurang menarik? Atau karena kamu mau fokus kerja dulu?" tanya Yunita dengan suara pelan.
Vino menggeleng halus. "Bukan karena kamu kurang, Yun. Kamu itu sempurna, calon dokter yang masa depannya cerah banget. Tapi hati itu kan nggak bisa dipaksa atau dibohongi. Kalau aku bilang 'iya' cuma karena nggak enak sama kamu atau karena kamu baik, itu namanya aku jahat. Kamu berhak dapat cowok yang hatinya utuh hanya buat kamu dari awal, bukan cowok yang cuma setengah-setengah."
Yunita menggigit bibir bawahnya, menunduk dalam-dalam. "Jadi... benar-benar nggak ada kesempatan buatku?"
"Kita tetap berteman baik, Yun. Itu janji," jawab Vino mantap sambil mengulas senyum hangat. "Aku bakal selalu ada kalau kamu butuh bantuan atau sekadar butuh teman cerita pas pusing sama kuliah kedokteranmu nanti. Tapi untuk hubungan asmara, aku nggak bisa."
Yunita mengusap sudut matanya yang mendadak basah dengan ujung lengannya. Ia menarik napas panjang lalu tertawa kecil, mencoba menutupi rasa kecewanya yang membumbung. "Dasar koki sok jual mahal. Padahal yang nembak kamu ini calon dokter, lho."
"Wah, iya ya? Wah, aku rugi dong?" canda Vino dengan raut wajah heboh yang dibuat-buat, berhasil membuat Yunita terkekeh pelan. "Tapi serius, Yun. Terima kasih sudah jujur sama aku."
"Sama-sama, Vin," sahut Yunita yang kini sudah mulai tenang. Ia menatap jas yang dipakai Vino seraya teringat sesuatu. "Oh iya, besok kamu jadi mengembalikan jas itu ke butik Mbak Vita, kan?"
Mendengar nama itu disebut, fokus Vino seketika terkunci. "Jadi. Kan batas sewanya cuma sampai besok siang. Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Mbak Vita besok ada di butik seharian. Dia sempat nanya ke aku tadi sore, jasnya pas atau enggak di badanmu," kata Yunita kasual.
Vino terpaku sejenak. "Mbak Vita... nanyain aku?"
"Iya, nanya soal ukuran jasnya," jawab Yunita polos. Namun, matanya yang cermat menangkap perubahan mendadak pada ekspresi Vino ada kilat binar yang sangat berbeda di mata pemuda itu, jauh lebih terang daripada saat Yunita menyatakan cintanya beberapa menit lalu.
Yunita mengerutkan keningnya tipis, menyimpulkan sebuah kecurigaan halus yang mulai mengusik benaknya. Namun, ia memilih menyimpan tanda tanya besar itu rapat-rapat dalam hati malam ini.
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍