NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4,1

Yamada tidak menunjukkan keterkejutannya di wajah. Dia sudah berlatih selama 17 tahun untuk terlihat normal saat sedang panik. Dia malah memiringkan kepalanya, dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat.

"Apakah itu berbahaya?" tanyanya. Pertanyaan yang paling logis.

"Aku tidak tahu." Jawab ayahnya jujur. "Aku belum pernah melihat kasus seperti ini. Buku-buku kuno di perpustakaan desa tidak pernah mencatatnya."

"Apakah pernah terjadi sebelumnya? Di desa lain? Di kerajaan?"

"Belum pernah. Setidaknya tidak dalam catatan yang kumiliki."

"Apakah aku bisa mati karena ini?" Yamada bertanya lagi, langsung ke intinya. Karena bagi seorang pemalas, kematian adalah hal paling merepotkan yang harus dihindari.

Ayahnya tidak menjawab. Dia hanya menatap Yamada dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan seorang ayah yang tidak ingin berbohong pada anaknya, tapi juga tidak ingin menakutinya.

Jawaban itu sudah cukup. Diamnya ayahnya adalah jawaban yang paling jujur.

Yamada menghela napas panjang, napas yang penuh dengan kepasrahan.

"Repot."

Satu kata itu keluar begitu saja.

Ayahnya mengerutkan kening, tidak mengerti. "Repot?"

"Ya. Repot." Yamada mengulanginya, sambil mengusap rambutnya yang berantakan, kebiasaan lamanya. "Aku baru sadar setelah dua hari koma, kepalaku pusing, aku tidak ingat kenapa aku bisa ada di hutan, dan sekarang diberi tahu ada dua jiwa di dalam tubuhku. Satu tubuh dipakai berdua, seperti kos-kosan yang kamarnya terlalu kecil."

Dia mengusap rambutnya lebih keras.

"Kenapa hidup keduaku tidak bisa tenang saja? Di kehidupan pertama aku sudah cukup repot menghindari kerja keras, sekarang di kehidupan kedua malah harus berbagi tubuh. Tagihan listriknya jadi double dong."

Ayahnya menatapnya aneh. Sangat aneh. Seolah-olah anak yang ada di depannya adalah orang yang sama sekali berbeda.

"Entah kenapa..." Pria itu bergumam pelan.

"Apa?"

"Kau terlihat berbeda."

Yamada terdiam. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.

"Aku berbeda? Berbeda bagaimana?"

"Ya." Ayahnya memicingkan mata, mengamati setiap detail. "Putraku... Yamada yang asli, yang kubesarkan selama 15 tahun... dia anak yang penakut, tapi baik hati. Kalau dia mendengar hal seperti ini, dia akan panik, dia akan menangis, dia akan memeluk ibunya dan bertanya, 'Ayah, aku akan mati ya?'."

Pria itu melangkah selangkah lebih dekat.

"Tapi kau..." Dia menatapnya tajam, tatapannya menusuk. "...terlalu tenang. Kau mendengar bahwa ada dua jiwa di dalam tubuhmu, bahwa kau mungkin bisa mati, dan reaksi pertamamu hanya bilang 'repot'. Seolah-olah ini hanyalah gangguan kecil, seperti lupa membawa bekal ke ladang."

Yamada tidak menjawab. Otaknya berputar cepat, mencari alasan. Alasan paling malas dan paling masuk akal.

"Tapi kau... terlalu tenang." Ulang ayahnya.

Yamada tersenyum. Senyum tipis, senyum lelah yang dia harap terlihat seperti senyum anak 15 tahun yang sedang mencoba terlihat dewasa.

"Mungkin aku berubah, Ayah." Jawabnya. "Mungkin setelah tidur dua hari di dalam lingkaran sihir itu, aku jadi sedikit lebih dewasa. Orang bilang, pengalaman mendekati kematian bisa mengubah seseorang."

Ayahnya tidak terlihat puas dengan jawaban itu. Sama sekali tidak puas. Tatapan curiganya masih ada, bahkan semakin dalam.

Namun sebelum dia bisa bertanya lebih lanjut, sebelum dia bisa menginterogasi lebih jauh—

[System initialization: 71%.]

Yamada mendengar suara itu lagi. Jelas, di dalam kepalanya.

Hanya dia yang mendengarnya. Ayahnya tidak mendengarnya. Yamada yang asli di dalam kepalanya juga sepertinya tidak mendengarnya dengan jelas, hanya merasakan dengungan.

[Analyzing host body...]

[Analysis complete.]

Sebuah jendela transparan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya muncul di hadapan Yamada. Jendela itu melayang tepat di depan wajahnya, menghalangi pemandangan ayahnya.

Yamada menatapnya, dengan mata yang sedikit melebar.

[HOST INFORMATION]

Name: Yamada

Age: 15

Race: Human

Level: 1

Condition: Stable

Soul: Abnormal - Dual Consciousness Detected

Synchronization: 71%

Yamada mengerutkan kening, membaca data itu. Level satu? Jadi dia benar-benar mulai dari nol lagi. Kondisi stabil, tapi jiwa abnormal. Sinkronisasi 71%... angka itu terus naik sejak tadi malam.

Dia melihat bagian bawah jendela, di mana ada baris tulisan yang berkedip-kedip dengan warna keemasan.

[Unique Trait detected.]

[Lazy Genius]

Yamada berkedip. Dua kali. Dia membaca ulang.

"Apaan ini?"

Kata itu keluar tanpa sadar dari mulutnya, cukup keras hingga terdengar oleh ayahnya.

Ayahnya yang sedang menatap curiga, langsung bereaksi.

"Ada apa? Kau melihat sesuatu?"

Yamada cepat-cepat menggeleng, panik, dan melambaikan tangan. "Tidak ada! Tidak ada! Aku hanya... hanya pusing sedikit!"

Dia kembali fokus ke jendela sistem dan membaca deskripsi kemampuan itu, dengan hati berdebar.

[Lazy Genius]

Rank: Unique (Hanya satu di dunia)

Deskripsi: Kemampuan unik yang meningkatkan efisiensi pembelajaran dan pemahaman berdasarkan tingkat kesulitan aktivitas dan tingkat kemalasan pengguna. Semakin malas pengguna dan semakin sulit tugasnya, semakin cepat otak akan mencari jalan pintas paling efisien untuk menyelesaikannya. Efek: +300% kecepatan belajar untuk hal-hal yang dianggap 'merepotkan' oleh pengguna.

Yamada terdiam. Mulutnya sedikit terbuka.

"Jadi..." Dia berbisik pelan, hampir tidak terdengar, dengan senyum yang perlahan muncul di wajahnya yang tadi tegang. "Malasku dianggap kemampuan? Malasku diakui oleh sistem dunia ini sebagai bakat unik?"

[Affirmative.]

[Your laziness is your greatest talent.]

Yamada hampir tertawa terbahak-bahak di depan ayahnya. Untuk pertama kalinya sejak bereinkarnasi, sejak mati konyol ditabrak truk, dia merasa sistem ini mungkin tidak terlalu buruk. Mungkin dewa yang mengirimnya ke sini punya selera humor yang bagus.

Namun kemudian, tepat saat dia hampir tertawa, tulisan baru muncul di bawah trait itu. Tulisan dengan warna merah darah, dengan simbol peringatan segitiga.

[Hidden condition detected.]

[Condition: Unknown.]

[Warning.]

Senyumnya menghilang seketika. Wajahnya kembali pucat.

[Your current body is rejecting your soul.]

[Your soul is foreign. Host body immune system is attacking foreign soul.]

Yamada membeku. Darahnya terasa membeku.

"Apa?" Bisiknya, kali ini dengan nada yang benar-benar berbeda. Nada takut.

Ayahnya yang melihat perubahan ekspresi drastis itu kembali menatapnya dengan khawatir.

"Yamada? Kau pucat. Apa yang terjadi?"

Yamada tidak menjawab. Matanya hanya terpaku pada jendela sistem yang kini menampilkan hitungan mundur yang mengerikan.

[Estimated synchronization failure: 29 days.]

[Current Synchronization: 71% -> Decreasing 1% per day if not stabilized.]

[If synchronization reaches 0%...]

Tulisan berikutnya muncul perlahan, huruf demi huruf, seolah-olah sistem itu sendiri ragu untuk menampilkannya.

[Host consciousness will be erased. One soul will be consumed to stabilize the other.]

Yamada tidak bergerak. Napasnya tertahan.

Di dalam pikirannya, suara pemilik tubuh yang asli yang tadinya diam, akhirnya terdengar lagi, dengan suara yang penuh ketakutan.

Apa yang terjadi? Kenapa kau diam? Apa yang dikatakan sistem itu? Apa yang kau lihat?

Yamada dengan gerakan gemetar, menutup jendela sistem itu dengan mengibaskan tangannya di udara, gestur yang dia pelajari secara insting.

"Belum waktunya." Bisiknya pelan, menjawab suara di dalam kepalanya, bukan menjawab ayahnya.

Yamada? Suara itu masih bertanya, cemas.

"Aku akan menjelaskannya nanti. Setelah ini." Janji Yamada.

Dia berdiri dari kursinya, dengan kaki yang terasa lemas.

Ayahnya menatapnya, bingung dengan semua tingkah aneh anaknya.

"Aku ingin kembali ke kamar." Kata Yamada, dengan suara yang terdengar sangat lelah.

"Kau belum selesai berbicara. Kita belum selesai membahas lingkaran sihir itu dan kristal ini." Ayahnya menolak.

"Aku lelah." Jawab Yamada, alasan universalnya.

"Kita baru berbicara beberapa menit." Ayahnya tidak menyerah.

"Justru itu." Yamada menjawab, dengan logika malasnya yang kembali, meskipun wajahnya pucat. "Berbicara beberapa menit tentang hal yang rumit seperti dua jiwa dalam satu tubuh itu sangat melelahkan. Otakku butuh istirahat untuk mencernanya."

Yamada berjalan menuju pintu besar itu, ingin segera keluar dari ruangan yang pengap ini, ingin segera berdiskusi dengan penghuni lain di dalam kepalanya.

Namun sebelum keluar, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, ayahnya memanggilnya lagi, dengan suara yang jauh lebih berat, suara seorang ayah yang memberi perintah terakhir.

"Yamada."

Yamada berhenti, tanpa berbalik.

"Apa?"

Pria itu menatap punggung anaknya dengan serius, dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran yang mendalam.

"Jangan pergi ke Hutan Elaria lagi. Jangan pernah lagi, apa pun yang terjadi. Berjanjilah padaku."

Yamada menoleh sedikit, menatap ayahnya dari sudut matanya.

"Kenapa? Apa yang ada di sana?"

Ayahnya tidak menjawab. Tatapannya cukup untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang sangat ditakutinya di hutan itu. Sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada sekadar monster atau hewan buas. Sesuatu yang berhubungan dengan lingkaran sihir itu, dengan kristal jiwa itu, dan dengan dua jiwa di dalam tubuh anaknya.

Yamada tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan.

"Baik. Aku berjanji."

Dia keluar dari ruangan. Menutup pintu besar itu di belakangnya.

Begitu pintu tertutup, dengan bunyi 'klik' yang pelan—

Yamada menghela napas panjang, sangat panjang, dan menyandarkan punggungnya ke dinding koridor kayu. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Sepertinya kehidupan kedua memang tidak akan tenang sama sekali." Gumamnya pada dirinya sendiri.

Apa maksud sistem tadi? Suara Yamada yang asli bertanya lagi, dengan nada yang masih takut dan bingung. Apa yang dituliskannya? Kenapa wajahmu pucat sekali?

Yamada mulai berjalan pelan menuju kamarnya, setiap langkah terasa berat.

"Katanya tubuh ini menolak jiwaku." Jawab Yamada jujur, dengan suara pelan. "Katanya aku punya 29 hari sebelum salah satu dari kita menghilang."

Lalu bagaimana? Tanya suara itu, panik.

Yamada terdiam. Dia belum tahu jawabannya. Dia, seorang pemalas jenius, untuk pertama kalinya dihadapkan pada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan cara bermalas-malasan.

Namun ada satu hal yang membuatnya lebih khawatir daripada hitungan mundur 29 hari itu.

Sebelum keluar dari ruangan tadi, dia sempat melihat Kristal Jiwa milik ayahnya yang masih tergeletak di atas meja, bersinar biru.

Dan pada permukaan kristal yang mengkilap itu...

Yamada melihat pantulan wajahnya. Pantulan wajah anak laki-laki 15 tahun itu.

Tetapi pantulan tersebut tidak tersenyum seperti dirinya.

Pantulan itu sedang menangis. Air mata mengalir di pipi pantulan itu, padahal wajah asli Yamada tidak menangis sama sekali. Wajahnya datar.

Dan sesaat sebelum pintu tertutup— sesaat sebelum bayangannya menghilang dari kristal itu—

pantulan itu mengangkat tangannya yang transparan, dan dengan jarinya yang berair mata, menulis sesuatu pada permukaan kristal dari dalam.

Tiga kata yang membuat darah Yamada yang baru ini membeku untuk kedua kalinya hari itu.

"Jangan percaya sistem."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!