NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu
Popularitas:173
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Pria itu menyesap teh chamomile, dengan begitu anggun layaknya bangsawan.

Tatapannya teduh tidak seperti tatapan sebelumnya yang layu dan putus asa. Ada sedikit cahaya di matanya yang membuat Cindy makin terpesona.

“Sebenarnya kenapa anda malam-malam seperti ini datang ke kompleks ini?“ tanya Cindy kembali membuka percakapan setelah keheningan sejenak yang menyergap suasana di sekitaran mereka.

“Sebenarnya saya ingin kembali tinggal di sini usai pergi ke belanda meninggalkan tempat di mana dulu saya tumbuh.“

“Anda tinggal di area sini?“ tanya Cindy terkejut seolah-olah ia makin excited mendengar bahwa pria di hadapannya akan tinggal di area sini. Itu berarti dia akan sering bertemu dengan pria itu.

Pria itu tersenyum, “Sebelumnya perkenalkan nama saya. Damian Van der Van, saya tinggal cukup lama di Indonesia dan kembali ke Belanda setelah berumur 18 tahun. Dan sudah hampir 20 tahun saya tidak kembali ke Indonesia lagi.“

Mendengar hal itu Cindy mengangguk faham. “Lalu hanya anda sendiri yang kembali?“ tanya Cindy lagi.

Damian terdiam sebentar lalu tersenyum kecil, “iya…..saya ke sini sendirian untuk meninggalkan kenangan di Belanda.“

Cindy membekap mulutnya, ia langsung mengerti apa yang di maksud Damian. “Jadi anda benar-benar sendirian ke sini?“ tanya Cindy memastikan lagi.

Pria itu mengangguk tersenyum hangat pada Cindy. “Tak apa-apa, saya sudah mengikhlaskan semuanya. Sekarang saya di sini mau memulai hidup baru.“

Cindy mengangguk lagi lalu terdiam memandangi hujan yang tinggal rintik-rintik saja. “Ngomong-ngomong memang rumah mana, yang akan anda tinggali?“ tanya Cindy setelah kepikiran soal rumah.

Damian menunjuk ke seberang kiri rumahnya di mana rumah kuno peninggalan kolonial Belanda yang terbilang lebih mewah ketimbang rumah Cindy. Meskipun tidak terawat.

Cindy langsung menoleh ke arah yang Damian tunjuk lalu membelalak kan matanya terkejut, lantas menatap kembali Damian yang tersenyum.

“Kita akan jadi tetangga!“ katanya dengan nada hangat.

Keesokan paginya

Cindy terbangun dari tidurnya seolah-olah dia baru saja bermimpi. Tapi ia lupa mimpi apa tadi malam.

Ia segera turun dari ranjangnya, memakai sandal rumah dan berjalan ke arah dapur untuk membuat teh hijau. Sambil membuat tidak sengaja matanya menatap ke arah halaman belakang rumahnya yang luas. Di bawah pohon beringin yang tumbuh tinggi dan kuat ada sosok pria yang sedikit asing untuknya tapi sepertinya dia familiar dengan wajahnya.

Usai teh hangatnya jadi ia memegang ganggang cangkirnya lalu berjalan ke pintu belakang yang menghubungkan dapur dengan teras belakang. “Siapa di sana?“ tanya Cindy sama seperti yang ia lakukan tadi malam.

Pria itu menoleh dan tersenyum. “Hai! Kamu masih ingat dengan ku?“ tanya pria itu langsung berdiri dan berjalan mendekati Cindy yang berada di lantai teras terpisah dengan dua undakan teras.

Cindy diam sejenak lalu ia menoleh ke samping rumah kosong yang terdapat banyak orang yang sedang memperbaiki rumah itu.

“Ooohh anda Damian kan?“ tanya Cindy setelah mengingat nama pria itu.

Damian tersenyum hangat, menatap ke atas sedikit di mana Cindy berdiri. “Sesuai yang saya katakan kemarin, kalau saya akan tinggal di sebelah rumah anda. Kita akan jadi tetangga.“

Cindy mengangguk-angguk kecil melirik ke rumah sebelah dengan tatapan biasa lalu menatap kembali ke Damian yang sedari tadi tatapannya tak lepas darinya.

“Ah by the way namaku Cindy, Cindy Yuvia. Anda bisa panggil saya Cindy.“

Damian tersenyum hangat dan mengangguk, “nama anda sangat indah seperti nama pemiliknya,”

Mendengar pujian tiba-tiba dari Damian membuat kulit putihnya memerah dari pipi hingga ke telinga. “Ah anda bisa saja…”

Cindy terdiam sejenak menatap ke arah lain lalu menyesap teh hangatnya. “Mau mampir sebentar? Aku buatkan teh hijau juga sambil temani aku memasak, aku sendirian di sini…”

Mendapatkan tawaran seperti itu membuat binar mata Damian terlihat cerah dan berseri-seri membuat mata birunya terlihat indah di bawah cahaya matahari yang perlahan mulai naik dari arah timur.

Damian tersenyum senang, “tentu boleh jika anda tidak keberatan…” jawabnya cepat seolah-olah baru saja mendapatkan hadiah di hari istimewa nya.

Cindy terkekeh lalu berbalik masuk, “naiklah, anda bisa menunggu di ruang makan…”

Damian melepas sepatu pantofel nya dan menaiki dua undakan di teras itu dan berjalan mengikuti Cindy dari belakang. Bisa Damian lihat bahwa tinggi Cindy hanya sebatas dadanya membuat pria itu tanpa sadar tersenyum senang.

Cindy langsung pergi ke dapur dan mulai membuatkan teh hijau hangat untuk Damian. “Duduklah Damian! Maaf jika dapur ku berantakan..“

Mendengar namanya di panggil langsung oleh Cindy membuat hati nya makin berbunga-bunga dan ia duduk anteng di meja makan.

“Ngomong-ngomong saya tidak melihat orang lain selain anda di sini?“ tanya nya sambil celingak-celinguk.

Cindy tersenyum kecil, “sudah dua tahun saya tinggal sendirian di sini, karena orang tua saya meninggal karena kecelakaan.“ jujur saja Cindy tidak pernah terbuka soal masalah keluarganya dengan orang asing namun ntah kenapa dengan Damian ia berani mengatakan nya melihat pria itu membuat hatinya dag dig dug tanpa sadar.

Mata Damian meredup menatap punggung Cindy yang bergerak lincah mengambil beberapa bahan makanan sambil menunggu tehnya terseduh.

“Ini minum teh ini dulu untuk menghangatkan diri dari dinginnya pagi hari.“ Cindy berbalik membawa secangkir teh hijau yang bau harumnya menguar-nguar seisi ruangan.

“Terimakasih Cindy….“ Damian menerima cangkir itu dengan kedua tangan lalu mendongak menatap pada mata Cindy yang berwarna coklat terang. “Apakah anda tidak kesepian tinggal di rumah ini sendirian?“ tanya nya membuat Cindy tertegun.

“Hahaha….“ ia langsung tertawa lantas berbalik memulai memasak. “Kesepian memang ada, tapi aku gak pernah berlarut-larut, soalnya aku juga harus tetap menjalani hidup meskipun sebenarnya sakit di tinggal begitu saja secara bersamaan. Tapi mau bagaimana lagi apa aku harus melawan takdir tuhan?“ tanya nya sambil tersenyum melirik ke Damian yang tatapannya terlihat sedih. “Tentu tidak bukan? Aku cuma gadis biasa yang juga harus menjalani hidup, meskipun ada luka karena di tinggal orang tersayang.“,

Mendengar ucapan Cindy membuat Damian terdiam cukup lama. Ruangan itu menjadi sepi tanpa ada percakapan hanya ada suara dentingan spatula dengan penggorengan kuali.

Triiing….

Dalam keheningan itu tiba-tiba telfon Cindy berbunyi. Gadis itu segera mematikan kompor, meninggalkan kuali penggorengan. “Aku angkat telfon dulu yah, tunggu di sini!“ ujarnya lantas berjalan ke arah kamarnya yang berada di samping dapur.

Suara nada tersambut terangkat, Cindy menaruh handphone nya di telinga dan mendengar suara Mahen di telinganya.

“Cin! Gue agak telat ke rumah lo yah! Ada urgent nih di rumah gue!“ suara Mahen si penelpon terlihat gusar.

“Emang ada masalah apa Hen? Mama kamu baik-baik aja kan?“ tanya Cindy jadi ikut khawatir.

“Nah itu masalahnya, mama ngedrop jadi gue bakal ke sana paling ya siangan dikit, gpp kan? Nanti gue editin kok tetep, cuma agak telat aja.“

Mendengar kekhawatiran Mahen membuat Cindy menghela nafas panjang. “Lo gak ke sini pun gapapa Hen, mama Lo lebih penting.“

“Lo emang sahabat terbaik gue, tapi nanti siang gue tetep ke sana. Biar nanti gantian di jaga bokap gue.“

“Ya udah kalau gitu, celatan lo urus nyokap lo, titip salam yah semoga lekas pulih.“

“Thanks baby, baaayy….“

Cindy mendengus kesal, belum sempat memprotes karena dirinya di panggil baby oleh Mahen, malah langsung di matiin telponnya oleh pria itu membuat Cindy hanya bisa mendengus kesal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!