Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 17, MUSUH DI PINTU GERBANG
Berita tentang pembelotan Solis dan terbentuknya persekutuan antara Oakhaven, Thalyn, dan Solis sampai ke telinga Raja Vereon dalam waktu yang sangat singkat. Dan reaksinya bukan sekadar kemarahan—itu adalah badai yang siap menghancurkan apa pun yang menghalanginya.
Di ruang takhta Veyra, para penasihat dan jenderal berkumpul dalam keheningan yang menakutkan. Raja Vereon berjalan mondar-mandir di depan jendela besar yang menghadap ke kota terbesar di benua itu. Wajahnya merah padam, dan tangannya mengepal begitu kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol.
"Seorang anak desa!" geramnya dengan suara rendah namun penuh amarah yang menakutkan. "Seorang anak desa yang tidak punya apa-apa berani merampas kerajaan dari bawah kakiku! Dan mereka membiarkannya! Mereka yang telah aku beri kekayaan dan perlindungan—mereka berbalik arah hanya karena kata-kata manis dari seorang pengemis!"
"Yang Mulia," kata salah satu jenderal dengan hati-hati. "Pasukan mereka belum terlalu besar. Jika kita menyerang sekarang, sebelum mereka sempat menyatukan kekuatan sepenuhnya, kita bisa menghancurkan mereka satu per satu sebelum musim dingin tiba."
Raja Vereon berhenti berjalan, lalu menatap jenderal itu dengan tatapan dingin yang tajam seperti pisau. "Kau pikir aku butuh nasihatmu tentang cara berperang? Aku telah memenangkan lebih banyak pertempuran daripada jumlah hari dalam hidupmu! Masalahnya bukan pada pasukan mereka—masalahnya adalah kata-katanya! Jika orang-orang mulai percaya bahwa mereka bisa hidup tanpa aku, maka seluruh kekuasaanku akan runtuh bukan oleh pedang, tapi oleh harapan!"
Ia berbalik menghadap mereka semua, suaranya meledak:
"Oleh karena itu, kita tidak hanya akan menghancurkan mereka dengan pedang! Kita akan menghancurkan harapan itu! Kita akan membuat seluruh benua tahu bahwa siapa pun yang berani menentangku akan binasa—dan bersama mereka, semua orang yang mereka cintai! Kumpulkan seluruh pasukan! Tidak ada yang boleh tertinggal! Kita akan bergerak ke utara, ke perbatasan Kaelthara, tempat di mana semuanya bermula! Dan di sana, kita akan membakar tanah itu hingga menjadi abu, sebagai peringatan bagi seluruh benua—bahwa tidak ada Zhoo yang bisa melindungi kalian dari kemarahanku!"
Sementara itu, di perbatasan Kaelthara, desa tempat Zhoo tumbuh dan dibesarkan, penduduk desa hidup dalam ketakutan yang nyata. Kabar tentang pasukan Veyra yang bergerak ke utara telah sampai ke telinga mereka. Orang-orang mengemas barang-barang mereka, bersiap untuk melarikan diri, namun banyak yang tidak tahu ke mana harus pergi.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria tua dengan jubah hitam dan wajah yang penuh kedengkian tiba di desa itu. Itu adalah Rhaen—namun bukan Rhaen yang mereka kenal. Ia berjalan dengan langkah yang berbeda, matanya tidak lagi tenang, melainkan menyala dengan cahaya gelap yang mengerikan. Ia berhenti di tengah lapangan desa, dan suaranya bergema di udara:
"Zhoo telah pergi mencari kekuatan, dan ia melupakan kalian! Ia berjalan menuju kehancuran, dan ia membawa kalian semua bersamanya! Serahkanlah desa ini kepada Raja Vereon, dan kalian akan hidup! Atau tetap setia padanya, dan kalian semua akan mati!"
Beberapa orang yang lemah imannya mulai goyah. "Mungkin benar apa yang dikatakannya..." bisik seseorang. "Mengapa kita harus mati karena ambisi satu orang?"
Namun seorang wanita tua—ibu dari sahabat Zhoo—berdiri tegak di depan pria itu. "Zhoo tidak pernah melupakan kami! Dan ia tidak berjuang untuk kekuasaan! Ia berjuang agar anak-anak kami tidak perlu takut setiap kali ada orang asing datang! Pergilah kau dengan kata-kata busukmu! Kami tidak akan menyerah!"
Rhaen yang gelap itu menggeram, lalu mengangkat tangannya, siap menghancurkan wanita itu dengan kekuatan gelapnya. Namun sebelum ia sempat melepaskan serangan itu, cahaya perak melesat dari kejauhan dan menabraknya hingga terlempar ke tanah. Dari balik bukit, muncul sosok Zhoo, Elara, Arvin, Kael, Naira, dan ratusan prajurit dari tiga kerajaan yang kini bersatu. Mereka tiba tepat pada waktunya.
"Kau bukan Rhaen!" seru Zhoo dengan suara lantang, matanya memancarkan cahaya keemasan yang lembut namun kuat. "Siapa kau? Dan di mana teman kami yang sebenarnya?"
Sosok itu tertawa keras, suaranya seperti batu yang beradu. "Kau sudah mulai berpikir kau adalah pahlawan, Zhoo! Tapi kau tidak tahu apa-apa tentang dunia ini! Rhaen yang kau kenal hanyalah bagian kecil dari diriku! Dan aku adalah kegelapan yang selalu ada di setiap hati manusia—termasuk hatimu sendiri!"
Ia berubah wujud menjadi sosok yang tinggi dengan sayap bayangan dan mata yang menyala merah. Itu adalah wujud sejati dari kekuatan yang telah merasuki lembah utara Oakhaven dulu—kekuatan yang berpikir telah dikalahkan, namun sebenarnya hanya tertidur dan tumbuh semakin kuat.
"Kau pikir kau bisa menyatukan benua ini dengan kebaikan?" teriak makhluk itu. "Benua ini dibangun di atas darah dan perang! Dan perang adalah satu-satunya kebenaran yang abadi! Aku akan membiarkan kau dan Vereon saling menghancurkan, dan dari reruntuhan kalian berdua—aku akan bangkit menjadi penguasa sejati atas segala sesuatu!"
Zhoo melangkah maju, diikuti oleh teman-temannya. "Kau salah. Perang bukanlah kebenaran. Itu adalah kesalahan yang terus berulang sampai seseorang berani menghentikannya. Dan hari ini, aku akan menghentikannya—baik dari Vereon maupun dari kegelapan sepertimu!"
Pertempuran itu dimulai di bawah langit yang mulai gelap. Di satu sisi ada pasukan bayangan yang dikirim oleh makhluk itu, di sisi lain ada kabar bahwa pasukan depan Veyra sudah berada di dekat bukit di kejauhan. Zhoo tahu bahwa ia harus mengakhiri pertempuran ini secepat mungkin, sebelum mereka terjepit di antara dua musuh.
"Kita tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan fisik saja!" teriak Elara di tengah pertempuran. "Ia makan dari ketakutan dan kemarahan kita! Kita harus bersatu—benar-benar bersatu—bukan hanya dengan pedang, tapi dengan hati kita!"
Zhoo mengerti. Ia meletakkan pedangnya. "Kalian semua—pegang tangan teman di sebelah kalian! Jangan biarkan kemarahan atau ketakutan menguasai kalian! Ingatlah untuk apa kita berjuang! Ingatlah rumah, keluarga, dan harapan yang kita lindungi!"
Mereka semua—Zhoo, Elara, Arvin, Kael, Naira, para prajurit Oakhaven, Thalyn, dan Solis—berdiri dalam lingkaran, saling bergandengan tangan. Cahaya mulai memancar dari tubuh mereka, menyatu menjadi satu bola cahaya yang semakin besar dan semakin terang, menerangi seluruh lembah itu. Cahaya itu bukan milik siapa pun—itu adalah gabungan dari harapan, keberanian, dan kasih sayang dari ratusan hati yang berjuang untuk tujuan yang sama.
Makhluk bayangan itu berteriak kesakitan saat cahaya itu menyentuhnya. Tubuhnya mulai meleleh, bayangannya memudar, dan di tempat ia berdiri, perlahan muncul sosok Rhaen yang asli—lemah dan terluka, namun matanya jernih kembali.
"Kalian... kalian berhasil..." bisik Rhaen pelan. "Kalian mengalahkan kegelapan bukan dengan pedang, tapi dengan cahaya di dalam diri kalian sendiri..."
Namun kelegaan itu hanya berlangsung sesaat. Dari kejauhan terdengar suara terompet perang yang panjang dan mengerikan. Pasukan Veyra—puluhan ribu prajurit dengan zirah yang berkilauan—muncul di cakrawala, menutupi tanah sejauh mata memandang. Raja Vereon berdiri di depan mereka di atas kuda perang yang besar, wajahnya dingin dan penuh kemenangan.
"Permainan berakhir, Zhoo!" suaranya terdengar jelas di udara yang hening. "Kau bisa mengalahkan bayangan, tapi kau tidak bisa mengalahkan kekuatan kerajaan terbesar di benua ini! Serahkanlah dirimu, dan mungkin aku akan membiarkan orang-orangmu hidup!"
Zhoo menatap teman-temannya. Mereka lelah, terluka, dan jumlah mereka jauh lebih sedikit. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mundur. Elara menatapnya dengan senyum penuh keyakinan. Arvin memegang pedangnya dengan siap. Kael mengangguk tegas. Naira dan para prajurit lainnya berdiri tegak, siap untuk bertarung sampai akhir.
Zhoo menatap Raja Vereon, lalu mengangkat suaranya sehingga setiap orang di kedua sisi bisa mendengarnya:
"Kau bilang permainan berakhir? Tidak, Raja Vereon. Permainan baru saja dimulai! Kau memiliki pasukan yang lebih banyak, kau memiliki emas yang lebih banyak, kau memiliki kekuasaan yang lebih lama! Tapi satu hal yang tidak pernah kau miliki dan tidak akan pernah kau miliki—adalah orang-orang yang rela berjuang bukan karena takut, tapi karena mereka percaya! Dan selama masih ada satu orang yang percaya pada kebebasan... kau tidak akan pernah menang!"
Ia berbalik ke arah pasukannya, lalu mengangkat pedang pemberian ayah Elara ke langit.
"Kawan-kawan! Musuh ada di depan kita! Dan di belakang kita adalah rumah kita, keluarga kita, dan masa depan yang kita inginkan! Kita tidak bisa mundur! Dan kita tidak akan menyerah! Bukan hari ini! Bukan untuk semua hari yang akan datang! Maju—untuk Benua Est yang bersatu!"
Dengan teriakan yang mengguncang bumi, pasukan persekutuan itu—meskipun jauh lebih sedikit—berlari maju menyambut musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat lebih besar. Bukan karena mereka gila, dan bukan karena mereka tidak tahu takut. Tapi karena mereka tahu bahwa ada hal-hal yang lebih berharga daripada nyawa sendiri. Dan di sanalah pertempuran yang akan mengubah sejarah Benua Est benar-benar dimulai.