Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Srek srek srek.
Suara pintu rolling door besi ditarik ke bawah bergema di halaman parkir yang mulai sepi.
Toko Grosir Hoki Pratama akhirnya resmi ditutup tepat pada pukul sembilan malam.
Lampu sorot besar di depan ruko tiga lantai itu dimatikan menyisakan beberapa lampu kecil untuk penerangan malam.
Di dalam ruang kantor lantai dua, Akbar sedang duduk santai di kursi kebesaran berbahan kulit warna hitam.
Hawa dingin dari AC ruangan itu sangat kontras dengan hawa panas dari mesin penghitung uang di atas meja.
Ttrrrrr.
Suara mesin penghitung uang kertas berbunyi tanpa henti sejak satu jam yang lalu.
Risa duduk di depan meja dengan wajah yang terlihat sangat lelah namun matanya berbinar terang benderang.
Kemeja biru muda manajernya bahkan sedikit basah oleh keringat di bagian punggungnya.
Di sudut ruangan, Siska si perwakilan distributor dari Jakarta juga masih duduk menemani mereka.
Wanita kota itu sengaja menunda kepulangannya ke hotel karena sangat penasaran dengan total akhir penjualan hari ini.
"Akhirnya selesai juga uang terakhirnya dihitung Bar," ucap Risa sambil menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya.
"Bagaimana hasil akhirnya Mbak Risa? Silakan sebutkan angkanya biar kita semua bisa tidur nyenyak," jawab Akbar tersenyum santai.
Risa mengambil selembar kertas catatan dan berdeham pelan membersihkan tenggorokannya.
"Total omzet penjualan kita dari jam sepuluh pagi sampai jam sembilan malam ini mencapai angka yang gila Bar."
Risa menatap mata Akbar dan Siska secara bergantian dengan senyum yang sangat lebar.
"Kita berhasil meraup total uang tunai sebesar delapan ratus lima puluh juta rupiah dalam satu hari penuh!"
Mendengar angka fantastis itu dibacakan, Siska langsung menjatuhkan pulpen mahal dari tangannya ke lantai.
"Delapan ratus lima puluh juta? Kamu serius Risa tidak salah hitung nolnya kan?" tanya Siska langsung berdiri dari kursinya.
"Sangat serius Mbak Siska, mesin penghitung uang dan laporan sistem kasir komputernya sangat cocok seratus persen," jawab Risa meyakinkan.
Siska berjalan mondar-mandir di dalam ruangan kantor itu sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Ini adalah rekor penjualan toko retail tingkat desa paling gila yang pernah dia lihat seumur hidup karirnya.
Bahkan supermarket besar di pusat Jakarta pun butuh waktu berminggu-minggu untuk mencapai omzet uang tunai sebanyak itu.
"Toko ini benar-benar mesin pencetak uang masif, lokasinya yang di pinggir jalan raya utama desa rupanya sangat strategis," gumam Siska menganalisis.
Siska sama sekali tidak tahu kalau faktor utama kesuksesan itu berasal dari Aura Penglaris Tingkat Dewa milik sistem Akbar.
Akbar hanya tertawa pelan dan memutar kursi kulitnya menghadap ke arah kedua wanita cantik di depannya.
"Kerja bagus Mbak Risa, sesuai janjiku, gaji bulan pertamamu akan aku berikan bonus dua kali lipat dari kesepakatan awal," puji Akbar tulus.
"Ya ampun Bar, terima kasih banyak! Uang itu akan sangat berguna buat menebus resep obat ibuku besok pagi," balas Risa nyaris menangis haru.
"Sama-sama Mbak Risa, kamu pantas mendapatkannya karena sudah berdiri menjaga kasir seharian penuh."
Akbar kemudian beralih menatap Siska yang masih berdiri mematung di tengah ruangan.
"Nah Mbak Siska, dengan omzet delapan ratus juta sehari, berarti stok barang di gudang bawah kita sudah ludes lebih dari separuh kan?"
Siska langsung mengangguk cepat merespons pertanyaan bos muda di depannya ini.
"Benar Mas Akbar, beras, minyak, dan gula pasir nyaris tidak bersisa sama sekali di rak dan gudang."
"Kalau begitu, aku mau Mbak Siska telepon bos besar di Jakarta malam ini juga."
Akbar menatap Siska dengan sorot mata tajam dan penuh dominasi.
"Suruh mereka kirim lima truk tronton penuh berisi barang sembako ke toko ini besok pagi sebelum jam delapan."
Siska menelan ludahnya mendengar pesanan barang yang jumlahnya sangat brutal tersebut.
"Li... lima truk tronton Mas? Itu nilainya bisa mencapai lebih dari satu setengah miliar rupiah lho," ucap Siska memastikan.
"Uangku sangat cukup untuk membayarnya lunas besok pagi saat barang datang, Mbak Siska tidak perlu repot memikirkan dompetku," potong Akbar tegas.
"Siap Mas Akbar, saya akan langsung hubungi bagian logistik pabrik sekarang juga untuk memuat barangnya malam ini."
Sikap Siska kini berubah menjadi sangat penurut dan segan layaknya seorang karyawan rendahan yang patuh pada direktur utamanya.
Dominasi Akbar yang ditopang oleh bukti uang tunai miliaran rupiah benar-benar membungkam arogansi wanita kota tersebut.
"Karena urusan hari ini sudah selesai, mari kita kunci uang ini di brankas dan kita pergi cari makan malam," ajak Akbar berdiri dari kursinya.
"Aku traktir kalian berdua makan sate kambing paling enak di ujung jalan desa ini."
Risa dan Siska langsung mengangguk setuju karena perut mereka memang sudah keroncongan sejak sore tadi.
Mereka bertiga turun ke lantai dasar dan Akbar memastikan semua pintu terkunci rapat sebelum pergi.
Brummm.
Akbar mengendarai motor Scoopy hitamnya membonceng Risa di belakang.
Sementara Siska mengikuti mereka dari belakang menggunakan mobil sedan Civic putihnya.
Udara malam desa terasa sangat dingin menusuk tulang, tapi suasana hati mereka bertiga sedang sangat hangat.
Sesampainya di warung sate kambing tenda pinggir jalan, mereka langsung memesan puluhan tusuk sate dan gulai.
Aroma daging bakar yang gurih langsung membuat perut mereka semakin bergejolak lapar.
"Makan yang banyak Mbak Siska, jangan jaim walau ini cuma makanan pinggir jalan desa," ucap Akbar menyodorkan sepiring sate.
"Tenang saja Mas Akbar, aku ini aslinya juga suka jajan di pinggir jalan kok kalau lagi tidak dinas," jawab Siska tersenyum manis melepas jas kerjanya.
Siska mulai terlihat lebih santai dan banyak tersenyum, aura kakunya sebagai wanita karir perlahan luntur.
Kring kring kring.
Tiba-tiba ponsel pintar milik Siska yang ada di atas meja berbunyi sangat nyaring.
Siska melihat layar ponselnya dan dahinya langsung berkerut dalam melihat nama si penelepon.
"Maaf Mas Akbar, saya angkat telepon dari bos manajer area Jawa Tengah sebentar ya," pamit Siska.
Akbar mengangguk pelan dan melanjutkan mengunyah sate kambingnya dengan santai.
"Halo Pak Manajer, iya saya masih di desa Sukamaju," jawab Siska membuka obrolan telepon.
Suasana warung yang agak sepi membuat suara percakapan dari speaker ponsel Siska sedikit terdengar oleh telinga tajam Akbar.
"Siska! Apa benar kau menyetujui kontrak suplai langsung pabrik ke sebuah toko baru di desa Sukamaju?" bentak suara pria paruh baya dari telepon itu.
Siska langsung menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara bosnya itu sangat keras dan bernada marah.
"Benar Pak, potensi toko itu sangat gila, omzet hari pertamanya saja tembus delapan ratus juta," bela Siska bangga.
"Kau ini bodoh atau bagaimana Siska! Gara-gara tindakanmu itu, Bos Tony dari kota tadi sore meneleponku mengamuk!"
Mendengar nama Bos Tony disebut, wajah Siska langsung berubah menjadi agak pucat.
Akbar yang sedang mengunyah sate langsung menghentikan gerakan rahangnya dan menajamkan pendengarannya.
"Bos Tony mafia ritel itu Pak? Kenapa dia ikut campur urusan toko di desa kecil ini?" tanya Siska kebingungan.
"Toko di desa itu menyedot semua pelanggan dari desa-desa lain, sampai-sampai toko swalayan besar milik Bos Tony di perbatasan kecamatan sepi total hari ini!"
Suara bos manajer itu terdengar sangat panik dan ketakutan di seberang sana.
"Bos Tony mengancam akan memutus semua kontrak kerjasama dengan pabrik kita kalau kita masih berani mengirim satu truk pun ke desa Sukamaju!"
Siska menelan ludahnya dengan susah payah melirik ke arah Akbar yang sedang menatapnya datar.
"Tapi Pak, kita sudah ada kesepakatan lisan dengan pemilik toko ini, uang mereka juga bayar tunai tanpa utang."
"Persetan dengan kesepakatan lisan! Kau batalkan pengiriman lima truk besok pagi sekarang juga!" perintah bos itu mutlak.
"Kita tidak boleh mencari gara-gara dengan penguasa pasar level kabupaten seperti Bos Tony, karir kita bisa hancur Siska!"
Tut tut tut.
Panggilan telepon langsung dimatikan secara sepihak oleh manajer area tersebut.
Siska meletakkan ponselnya di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar.
Nafsu makannya mendadak hilang entah ke mana digantikan oleh rasa bingung dan takut.
"Ada masalah apa Mbak Siska? Kelihatannya bosmu di sana sedang kebakaran jenggot," tegur Akbar santai memecah keheningan.
Risa juga ikut menatap Siska dengan pandangan penuh tanda tanya.