Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. KEKERASAN
Matahari pagi menembus celah jendela kaca patri Kediaman Duke Dravenhart, memantulkan warna keemasan yang hangat di atas lantai marmer sayap barat.
Seharusnya, pagi hari di puri seorang panglima besar dimulai dengan keteraturan yang disiplin, suara derap sepatu bot pengawal yang berpatroli, dan aroma teh hitam segar yang diseduh sempurna.
Namun, pagi ini, suasana di kediaman tersebut terasa menyesakkan dan penuh dengan duri tak kasat mata.
Di dalam kamar tidurnya yang luas, Virelia duduk meringkuk di sudut ruangan. Gaun tidurnya yang semalam tampak kusut dan kotor oleh noda. Rambut pirangnya yang panjang tergerai liar, kusut masai tanpa pernah disisir, dengan beberapa helai daun kering dan serpihan debu yang menyangkut di antaranya. Wajahnya yang pucat dipenuhi coretan arang, dan matanya menyalang tajam ke segala arah dengan binar penuh kewaspadaan tinggi.
Ini akan jadi hari yang melelahkan lagi. Dan aku mulai membenci kediaman ini sekarang, batin Virelia.
Di lantai sekitar tempat duduknya, pecahan keramik vas bunga, serpihan piring porselen, dan vas tembaga berserakan. Beberapa tetes darah segar tampak mengering di ujung pecahan kaca, bukti bisu dari pertempuran kecil yang baru saja terjadi.
Beberapa menit sebelumnya, keributan hebat kembali pecah di koridor lantai dua saat sarapan diantar.
Dua orang pelayan istana, seorang wanita paruh baya bertubuh gempal bernama Jane yang terkenal angkuh dan seorang pelayan pria muda bertubuh tinggi bernama Ron, mendatangi kamar Virelia dengan membawa nampan kayu.
Namun, alih-alih melayani sang putri dengan hormat selayaknya keluarga bangsawan, sikap mereka jauh dari kata pantas.
Jane membuka pintu kamar dengan dorongan kasar hingga daun pintu menghantam dinding batu. Ia melangkah masuk sambil membawa nampan berisi sepotong roti hitam yang sudah keras membatu dan segelas air keruh yang berbau aneh.
"Hei, Putri Gila! Bangun dari sarang tikusmu!" bentak Jane nyaring, suaranya melengking tidak menyenangkan. Ia langsung membanting nampan itu ke lantai begitu saja, membuat air di dalam gelas tumpah membasahi gaun Virelia.
"Jangan mematung seperti orang bodoh di sudut sana! Cepat makan makanan ini sebelum membusuk, atau kau mau mati kelaparan seperti anjing kurap?" tambah satu pelayan wanita lainnya.
Virelia menatap roti keras di lantai itu dengan mata menyipit tajam. Ia sama sekali tidak berniat menyentuhnya, karena itu adalah roti busuk yang sudah belumut.
Melihat sang putri hanya diam menatap kosong, Ron mencibir sinis dari ambang pintu. Ia melipat kedua tangannya di dada sambil mendengus mengejek.
"Sudahlah, Jane. Kau berharap apa dari wanita gila yang kerjanya hanya berteriak dan melempar barang sepanjang malam?" ucap Ron dengan nada merendahkan.
Jane mendengus tak senang.
"Dia bahkan tidak mengerti bahasa manusia. Lihat saja penampilannya, seperti pengemis jalanan yang kebetulan nyasar masuk istana. Menjijikkan," tambah Ron.
Jane berkacak pinggang, menatap Virelia dari atas ke bawah dengan tatapan penuh jijik yang tidak ditutup-tutupi.
"Benar katamu, Ron. Sungguh malang nasib Yang Mulia Duke Kael. Pahlawan perang terhebat di Valdoria, pria tertampan di seluruh benua, harus dipaksa menikahi sampah masyarakat seperti dia. Kalau aku jadi Duke, sudah dari hari pertama aku melempar wanita tidak waras ini ke kandang babi di luar puri," cemooh Jane.
Mendengar hinaan bertubi-tubi itu, tangan Virelia yang tersembunyi di balik lipatan gaunnya mencengkeram erat. Selama ini, alasan utamanya mengamuk dan melempar barang adalah untuk memerkuat sandiwara gilanya agar orang-orang menjauh.
Namun, mendengarkan secara langsung betapa rendahnya para pelayan memandangnya dan bagaimana mereka menginjak-injak harga dirinya di kamar sendiri membuat emosinya mendidih.
"Kalian! Kalian adalah burung gagak beracun," suara Virelia terdengar serak dan rendah, mencicit pelan seolah ketakutan, sengaja mempertahankan nada suara orang tidak waras.
"Hah? Mulai lagi ocehan gilanya!" geram Jane, merasa tersinggung karena Virelia menatapnya lekat-lekat.
"Nona Jane, dia seperti menantang Anda," kata pelayan wanita di samping Jane.
Jane melangkah maju, lalu dengan sengaja menendang piring kayu berisi roti keras itu hingga menabrak lutut Virelia.
"Jangan melihatku dengan tatapan kosong seperti itu, Perempuan Sialan! Pungut rotinya dan makan! Jangan buat kami harus membersihkan kekacauanmu lagi hari ini!" seru Jane dengan wajah jijiknya.
Virelia mendongak, menatap Jane dengan seringai tipis yang menyeramkan. Tiba-tiba, ia menyambar vas kaca kecil yang ada di dekatnya dan melemparkannya dengan tenaga penuh ke arah kepala pelayan gempal itu.
BRAK!
"Agh! Anjing betina! Kau berani melempariku?!" Jane memekik histeris sambil memegang pelipisnya yang langsung robek dan mengeluarkan darah segar.
Tanpa rasa hormat sedikit pun kepada darah biru yang mengalir di tubuh Virelia, Ron langsung melompat maju ke depan. Ia mencengkeram lengan Virelia dengan kasar dan mendorong tubuh kurus sang putri hingga tersungkur keras ke lantai marmer yang dingin.
"Cukup, hentikan kenakalanmu, Perempuan Gila! Dengar baik-baik ya, Putri Virelia! Jangan pikir karena kau berstatus istri Duke lantas kau bisa berbuat semaumu di sini! Semua perlakuan kasar kami padamu itu adalah perintah langsung dari Yang Mulia Duke sendiri!" maki Ron dengan suara membentak, wajahnya memerah karena marah.
Virelia tertegun sejenak di lantai. Telapak tangan kanannya tanpa sengaja menumpu di atas pecahan kaca vas yang berserakan, membuat kulitnya tertusuk dan darah segar langsung mengalir membasahi lantai. Namun rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan hantaman kalimat Ron di kepalanya.
Perintah langsung dari Duke Kael, jadi semua ini atas perintah Duke, pantas saja mereka berani melakukan semua ini pada keluarga kerajaan? batin Virelia, matanya membelalak kaget.
Ron semakin mendekat, menunduk seraya berbisik dengan nada mengejek yang keji tepat di telinga Virelia, "Ya, kau tidak salah dengar. Duke sendiri yang berpesan kepada kami untuk mengabaikanmu, memperlakukanmu sekasar mungkin, dan memastikan kau hidup menderita di puri ini supaya kau cepat mati atau bunuh diri. Jadi, jangan pernah berharap pahlawan perang itu akan datang melindungimu! Pria waras mana yang mau punya istri gila sepertimu!"
Mendengar kebohongan telak itu, amarah Virelia yang sesungguhnya meledak seketika. Ia tidak lagi peduli pada akting. Dengan tenaga dalam yang terlatih, Virelia bangkit berdiri, menerjang Ron, dan melayangkan cakarannya ke wajah pelayan pria itu hingga meninggalkan luka cakar berdarah.
"Keparat kau!" jerit Virelia, sengaja memekik histeris di akhir teriakannya agar kedengarannya tetap seperti orang gila yang mengamuk.
"Aaaaa! Tolong! Dia benar-benar ingin membunuhku!" teriak Ron panik sambil memegangi wajahnya yang tercakar, sementara Martha yang pelipisnya berdarah ikut menjerit histeris meminta bantuan.
"Akan kuhabisi kalian semua sekarang!" seru Virelia yang tak lagi bisa menahan amarah karena perbuatan mereka.
Virelia hanya perlu menghabisi mereka semua dan kabur dari kediaman hina ini, tentu itu bukan hal sulit mengingat Virelia bukanlah wanita gila seperti reputasi yang ia buat selama ini, melainkan Ketua dari kelompok pembunuh bayaran.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣