Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
balas dendam
Sesampainya di apotek, kulihat tempat itu sedang ramai sekali. Orang-orang berdiri berderet rapi menunggu giliran seperti biasa, namun tiba-tiba suasana berubah hening seketika. Deretan orang yang sedang mengantri perlahan menyingkir ke pinggir, memberi jalan luas di tengah-tengah ruangan. Aku ikut berhenti sejenak memperhatikan apa yang terjadi.
Dari arah pintu masuk muncul sosok pria berjalan tenang namun berwibawa, dikelilingi oleh enam orang pengawal pribadi yang bertubuh tegap dan berpenampilan serasi. Mereka berjalan rapat di samping dan di belakangnya, menatap tajam ke segala arah seakan tidak ingin ada siapa pun yang mendekat terlalu jauh maupun terlalu dekat. Langkah kaki mereka serempak dan berat, membuat lantai apotek seakan ikut bergetar. Pria di tengah itu berjalan santai seakan tempat ini miliknya sendiri, wajahnya datar tanpa ekspresi sedikit pun.
Pasti Lucas, batinku langsung yakin begitu melihat wajahnya.
Semua orang yang tadinya sedang menunggu giliran kini menundukkan pandangan, tidak ada satu pun yang berani menatapnya atau sekadar berdeham pelan. Mereka mundur perlahan menjauh, membiarkannya lewat begitu saja tanpa antre, seakan aturan di dunia ini tidak berlaku bagi orang sepertinya.
Uang dan kekuasaan ternyata sungguh menakutkan, pikirku dalam hati merinding melihat pemandangan itu. Semua orang diam membisu, takut tersentuh sedikit pun. Namun saat teringat wajah Ibu yang sedang memegang kepala kesakitan di rumah, keraguanku seketika lenyap. Tidak, aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Ibu sedang menunggu. Aku tidak akan mundur hanya karena dia kaya dan berkuasa.
Dengan napas yang kutarik dalam-dalam, aku mengangkat daguku tinggi-tinggi dan melangkah masuk juga ke dalam apotek itu, berjalan sejajar dengannya menuju meja pelayanan. Serentak semua orang di sana menatapku dengan mata terbelalak, mulut mereka sedikit terbuka karena takjub sekaligus ngeri. Tidak ada yang menyangka ada perempuan biasa sepertiku yang berani tidak mengalah kepadanya.
Enam pengawal itu segera bereaksi cepat, melangkah serempak ke depanku, menghadang jalanku dengan tangan terulur kuat di udara. Wajah mereka terlihat marah seakan aku baru saja melakukan kesalahan fatal. Namun saat itu Lucas menoleh perlahan ke arahku, matanya menatapku lekat seakan mengenali siapa aku. Tanpa sepatah kata pun ia menggelengkan kepalanya sedikit ke arah para pengawalnya, memberi isyarat agar mereka mundur dan membiarkanku lewat.
Para pengawal itu tampak bingung sesaat, namun segera menurunkan tangan mereka dan mundur ke samping dengan hormat. Lucas kembali menatap ke depan, melanjutkan langkahnya seakan tidak terjadi apa-apa, namun sudut matanya tetap memperhatikanku berjalan di sebelahnya. Aku pun tidak menoleh sedikit pun, terus melangkah tegak hingga kami berdua berdiri berdampingan tepat di depan petugas apotek yang kini tampak gemetar menahan gugup.
Baik beb, diperpanjang lebih lengkap dan mendalam ya ✨
"Mbak, saya mau obat pusing," ucapku tegas kepada petugas apotek itu, suaraku lantang dan jelas terdengar di ruangan yang sepi itu.
"Ba... baik, Mbak. Sejenak ya," jawab petugas itu terbata-bata, tangannya terlihat gemetar saat membuka lemari obat. Matanya melirik takut ke arah Lucas sesekali, seakan takut salah bergerak sedikit pun.
Lucas berdiri tepat di sebelahku, tidak bergerak sedikit pun. Tatapannya tajam dan lekat, meneliti wajahku dari ujung rambut hingga ujung kaki, seakan sedang mencoba memahami siapa perempuan yang begitu berani ini. Tatapannya begitu intens hingga orang lain pasti sudah menunduk takut, namun aku tidak. Aku menatapnya balik dengan tegak, tidak mau kalah.
"Apa lihat lihat?" ucapku ketus, suaraku tegas tanpa gentar sedikit pun.
Petugas apotek itu tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan kotak obat yang dipegangnya. Matanya membelalak menatapku, mulutnya sedikit terbuka tak percaya ada manusia biasa yang berani berkata begitu kepada pria itu. Bahkan keenam pengawal di belakang ikut melangkah maju hendak menegurku, namun sekali lagi isyarat tangan Lucas menahan mereka.
Aku tersenyum sinis kepada petugas itu, sengaja menyuarakannya agar Lucas mendengar setiap kata. "Ternyata benar ya, Mbak, uang dan kekuasaan itu sungguh menakutkan. Lihat saja, semua orang menyingkir, takut, gemetar. Padahal belum tentu hatinya seburuk itu, tapi karena berkuasa, semua orang seakan menjadi bisu dan buta."
Lucas mengerutkan dahinya dalam-dalam, alisnya bertaut rapat. Ia tidak marah seperti yang diduga semua orang, melainkan justru menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan, ada rasa heran, ada rasa tertarik, dan ada sesuatu yang lain yang belum bisa kugambarkan.
"Benci sekali ya padaku?" tanyanya pelan, rendah, namun terdengar sangat jelas di telingaku. Suaranya tidak lagi kasar seperti dulu.
"Ya, jelas" jawabku tegas tanpa ragu sedikit pun. "Seseorang yang tidak tahu berterima kasih, yang meremehkan orang lain, yang merasa dunia ini miliknya sendiri, pantas dibenci."
Lucas terdiam sejenak mendengar jawabanku yang lugas itu. Perlahan, di hadapan semua orang yang menahan napas, ia mengangkat tangannya, mengulurkannya ke arahku sebagai tanda permintaan maaf. Keenam pengawal di belakangnya saling berpandangan, mata mereka membelalak tak percaya. Mulut mereka terbuka lebar seakan melihat hal yang mustahil terjadi di dunia ini. Tuannya yang angkuh, yang tidak pernah menunduk kepada siapa pun, kini meminta maaf kepada seorang pelayan kafe sederhana.
Namun aku? Aku hanya menatap uluran tangannya itu sekilas, lalu mengalihkan pandanganku ke arah petugas apotek seakan tidak melihat apa-apa. Aku sengaja mengabaikannya, pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak ada apa-apa di hadapanku. Biarlah ia merasakan bagaimana diabaikan dan tidak dihargai, seperti yang ia lakukan kepadaku kemarin.
"Ini obatnya, Mbak," petugas itu menyodorkan bungkusan obat dengan tangan gemetar.
"Terima kasih ya, Mbak," ucapku ramah, tersenyum tulus kepadanya, senyum yang sangat berbeda dari tatapanku kepada Lucas.
"I... iya, sama-sama," jawabnya masih terbata-bata, matanya tak berhenti menatapku kagum.
Aku pun berbalik dan berjalan keluar dari apotek itu dengan langkah tegap, kepala terangkat tinggi, tidak menoleh sedikit pun ke arah Lucas. Aku tahu ia masih berdiri di sana, tangannya masih terulur di udara perlahan turun kembali, matanya terus mengikuti punggungku hingga aku melangkah keluar pintu. Ia tidak menyusul, tidak juga memanggil namaku. Hanya diam saja, membiarkanku pergi dengan kemenanganku hari ini.
Sesampainya di atas vespa, aku menyalakan mesin dan melaju meninggalkan tempat itu. Di sepanjang jalan, senyum kemenangan tak kunjung hilang dari wajahku. Hahaha, bagaimana rasanya Tuan Kaya? Enak kan diabaikan begitu saja? Padahal kemarin kamu yang melakukan itu kepadaku. Sekarang rasakan sendiri! gumamku dalam hati merasa puas sekali. Ternyata melawan ketakutan itu rasanya seberat apa pun di awal, tapi kemenangannya terasa nikmat sekali di akhir.
Sesampainya di rumah, aku segera menghampiri Ibu dan menyerahkan obat itu ke tangannya.
"Ini, Bu. Segera diminum ya."
Ibu menerima bungkusan obat itu, lalu meraih segelas air putih yang sudah tersedia di sampingnya sejak tadi. Beliau meminum obat itu pelan-pelan hingga habis, lalu meletakkan gelas itu kembali ke meja dengan napas lega.
"Terima kasih ya, El," ucapnya lembut sambil mengusap punggung tanganku.
"Iya, Bu. Sekarang Ibu istirahat saja ya. Biar El yang mengurus semuanya di rumah hari ini," kataku meyakinkan.
Ibu tersenyum tulus mendengarnya, lalu mengangguk pelan. Beliau berjalan menuju kamar untuk berbaring dan beristirahat, berharap obat itu segera bekerja dan kepalanya tak lagi terasa berdenyut. Aku menutup pintu kamar Ibu perlahan, berdoa dalam hati semoga beliau cepat sembuh. Hari ini biarlah aku yang menjaga dan merawatnya, sebagai balasan dari segala kasih sayang yang selama ini beliau berikan kepadaku.