NovelToon NovelToon
SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Hujan turun dengan sangat deras mengguyur kota Jakarta malam ini.

Langkah kaki yang dibalut sandal jepit usang itu berdecit saat menginjak genangan air kotor di pinggir jalan.

Genta menghela napas panjang sambil merapatkan jaket kainnya yang sudah basah kuyup hingga menembus kulit.

Tangannya menggenggam erat sebuah amplop cokelat yang mulai melunak dan nyaris hancur karena air hujan.

"Jadi ini kota metropolitan yang selalu dibanggakan oleh Guru," batin Genta sambil menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di kejauhan.

"Terlalu bising, udaranya sesak, dan orang-orangnya berjalan seperti mesin tanpa jiwa."

Genta kembali menyeret langkah kakinya menyusuri trotoar yang sepi menuju alamat yang tertera di amplop tersebut.

Kakek tua yang membesarkannya di puncak Gunung Rinjani, sosok yang mengajarinya segala ilmu pengobatan, baru saja berpulang tiga hari yang lalu.

Sebelum menghembuskan napas terakhirnya di gubuk reyot mereka, kakek itu batuk darah dan memaksakan diri menulis surat ini.

"Temui kawan lamaku di kota, Genta, dia berhutang nyawa padaku dan dia pasti akan mengurusmu serta menikahkanmu dengan cucunya."

Kata-kata terakhir gurunya itu terus terngiang di telinga Genta bagaikan kaset rusak yang terus berputar.

Jujur saja, Genta sama sekali tidak peduli soal pernikahan, harta, atau janji manis lainnya.

Dia menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan bus ekonomi reyot murni hanya untuk menyampaikan wasiat terakhir gurunya kepada orang yang dituju.

Setelah berjalan kaki hampir dua jam dari terminal bus, Genta akhirnya tiba di depan sebuah gerbang besi hitam raksasa.

Temboknya sangat panjang dan tinggi, dihiasi pilar-pilar batu marmer mengkilap yang memancarkan aura kekayaan tak terbatas.

"Kediaman Utama Prameswari," ucap Genta pelan saat membaca ukiran emas raksasa di dinding gerbang tersebut.

"Sepertinya kawan lama Guru benar-benar bukan orang sembarangan."

Genta melangkah maju menembus hujan dan menekan tombol bel di samping pintu gerbang.

Tidak lama kemudian, seorang pria berseragam satpam tebal keluar dari pos penjagaan sambil memegang payung besar.

Satpam itu memicingkan mata, menatap Genta dari atas sampai bawah dengan tatapan penuh kecurigaan dan jijik.

Pakaian Genta sangat lusuh, celananya dipenuhi bercak lumpur kering, dan rambutnya yang agak panjang terlihat lepek berantakan.

"Hei, pengemis dilarang mengamen di kawasan elit ini!" bentak satpam itu dari balik celah gerbang besi.

"Pergi sana sekarang juga sebelum aku melepaskan anjing penjaga untuk menggigit kakimu!"

Genta tidak marah sedikitpun, dia hanya mengusap air hujan yang mengalir deras menutupi matanya.

"Aku bukan pengemis, Pak, namaku Genta dari Gunung Rinjani."

"Aku menempuh perjalanan jauh ke sini untuk mengantarkan surat penting ini kepada Tuan Besar Prameswari."

Satpam itu mendadak tertawa terbahak-bahak seakan baru saja mendengar lelucon paling konyol sejagat raya.

"Tuan Besar? Kau pikir orang gila berbau selokan sepertimu bisa seenaknya bertemu dengan pimpinan keluarga Prameswari?"

"Sudah, pergi sana, jangan sampai aku mematahkan kakimu pakai tongkat ini!"

Tiba-tiba, sorot lampu mobil yang sangat terang menyilaukan mata Genta dari arah jalan raya utama.

Sebuah mobil mewah berwarna hitam legam jenis keluaran terbaru berhenti tepat di depan gerbang.

Kaca jendela belakang mobil perlahan turun, menampilkan separuh wajah seorang wanita yang luar biasa cantik.

Kulitnya putih mulus tanpa cela, riasannya sempurna, namun tatapan matanya setajam pedang es.

Itulah Kiara Prameswari, CEO muda dari Prameswari Group yang terkenal akan kekejamannya di dunia bisnis.

"Ada keributan apa di luar sana, Pak Hasan?" tanya Kiara dengan nada suara yang sangat datar dan dingin.

"Kenapa gerbang rumahku belum dibuka?"

Satpam bernama Hasan itu langsung terkejut, tubuhnya membungkuk hormat dengan wajah pucat pasi.

"Maaf beribu maaf, Nona Kiara, ada pengemis gila yang membuat onar dan memaksa ingin masuk."

"Saya akan segera mengusir gembel ini sekarang juga."

Kiara melirik Genta melalui sudut matanya yang indah.

Namun tatapan wanita itu menyiratkan rasa jijik yang amat mendalam saat melihat penampilan Genta yang kotor dan menggemeretak kedinginan.

"Suruh dia pergi jauh-jauh, jangan biarkan kuman dari tubuhnya mengotori aspal di depan rumahku," ucap Kiara tanpa ampun.

Kaca mobil perlahan bergerak naik bersiap untuk ditutup kembali.

"Tunggu sebentar, Nona!" seru Genta mengabaikan rasa dinginnya, dia melangkah berani mendekati mobil.

Hasan langsung panik melihat kelancangan itu, dia menerjang maju dan menahan dada Genta dengan kasar.

"Berhenti di sana, gembel bau!"

"Aku membawa surat dari Guruku yang baru saja meninggal untuk Tuan Besar Prameswari!" teriak Genta sekuat tenaga mengabaikan dorongan kasar satpam.

Gerakan tangan Kiara yang hendak menekan tombol otomatis mendadak terhenti di udara.

Wanita dingin itu menoleh kembali menatap Genta, kali ini kedua alisnya berkerut tajam membentuk garis kemarahan.

"Gunung Rinjani? Mengirim surat?" batin Kiara dengan suara gemetar yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

"Buka gerbangnya dan bawa dia masuk ke paviliun depan," perintah Kiara pada akhirnya, mengejutkan semua orang.

"Tapi Nona, orang ini..."

"Lakukan saja dan pastikan dia tidak menginjak karpet utama peninggalan kakekku!" potong Kiara tajam.

Hasan menelan ludah ketakutan dan tidak berani membantah lagi.

Mobil mewah itu melaju perlahan memasuki halaman setelah gerbang otomatis terbuka lebar.

Genta hanya tersenyum tipis, merapikan letak amplop di tangannya dan melangkah masuk mengikuti arahan satpam yang kini terus mengumpat pelan.

"Jangan berani macam-macam kau di dalam, awas saja kalau matamu berani melirik barang berharga," ancam Hasan sinis.

1
yani
💕💞💕
pricilia
🥰🥰
Anton barly
🥰🥰🥳🥳
fitri
/Gift//Gift//Gift//Gift//Gift/
Antoni gergio
💞💞💞💞💞
Angel
🌹🌹🌹🥰🥰🥰
Shinta geol
❤❤❤❤
clara
andai di dunia nyata ada🥹
Jamrud Khatulistiwa
sistem sangat pelit, setiap misi tdk sda hadiah
Jamrud Khatulistiwa
sistim tdk pernah memberi tahu hadiah yg diberikan
Jamrud Khatulistiwa
murid orang sakti mendapat sistem
Gege
katanya diawal sudah belajar banyak di gunung Rinjani.. nyatanya masih bergantung sama sistem...tapi gpp biar lebih op laah MC nyaaaah .pesen 10 hareem yaa Thor...jangan lembek..🤭
Cherlly: iya kaka,judul nya aja sistem kaka,next crita ya kaka saya lagi mikir lgi biar menarik 😊😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!