Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Viktor
"Itu bukan urusanmu!"
Anne mendorong keras tubuh Davin hingga pria itu memberi jarak.
"Meskipun aku tidak memiliki hubungan
dengan tuan Viktor sekalipun, aku juga tidak akan mau menerima tawaranmu." lanjut Anne.
la masih waras untuk melakukan hal gila itu.
Dain tampak tertunduk dalam, ia merasa
sangat kacau saat ini, lalu berpikir bahwa ia tak sebanding dengan Viktor, selain Viktor jauh lebih berkuasa, Anne pasti akan berpikir dua kali menerima orang yang sudah pernah menghianatinya seperti dirinya.
Setelah meronta dan Davin tak lagi menahannya, akhirnya Anne pun memutuskan untuk kembali ke dalam ball
room.
Di sana ia kembali duduk di samping Viktor, tidak lama juga Davin tampaknya kembali ke ruangan itu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Viktor.
Anne kikuk, "sedang mengantri,"
Viktor hanya diam, dia tahu jawaban Anne tidak jujur.
Anne pun kembali menatap fokus ke depan saat pelelangan masih berlanjut, namun tidak ia sangka sedang terjadi keributan rupanya.
Selina terlihat berdebat dengan seorang wanita yang memenangkan lelang di sesi berikutnya ini.
"Kamu curang!" bentak Selina pada seorang wanita yang ia hampiri.
"Apa karena kamu merasa kekayaanmu kalah dari orang lain, kamu jadi kamu marah saat kalah lelang?" seru wanita itu pada Selina.
Senyum tipisnya mengundang kemarahan Selina.
Pun orang-orang yang melihat mereka mentertawakan Selina karena sangat arogan saat dia tak terima kalah dalam lelang itu.
Anne menoleh ke arah Viktor seakan ingin bertanya apa yang sedang terjadi pada mereka.
Meski dari perdebatan yang ia dengar ia paham apa yang sedang keduanya ributkan.
Pria itu hanya mengedikan alisnya, "kita lihat saja,"
Selina tampak emosi dia tak terima dengan kalimat penghinaan yang sudah di lontarkan wanita itu untuknya.
"Dasar, kamu memenangkan lelang ini
pasti karena mendapat uang dari sugar daddy kan?" balas Selina seolah ingin menjatuhkan wanita itu.
Plak!
Namun sebuah tamparan kuat mendarat
di pipi Selina dari wanita itu saat tak terima dengan tuduhan di lontarkan Selina, semua orang tercengang, Selina menahan malu dan sakit di pipinya.
"jaga mulutmu, apa matamu buta? Aku
bekerja di kantor ayah ku sendiri dan memiliki gaji yang cukup kamu malah bicara aku memelihara sugar daddy? Kamu yang memelihara sugar daddy! Kamu merebut tunangan kakak sepupumu dan menikah dengannya supaya merasakan kekayaannya, jadi jangan berlagak kaya jika kamu hanya bersembunyi di balik ketiak suamimu," balas wanita itu begitu sengit.
Anne tercengang karena wanita itu paham dengan permasalahan mereka di masa lalu, bibi Evelyn juga sangat kaget, ia merasa malu karena kini borok anaknya di dengar banyak orang.
Selina ini apa-apaan beraninya dia menentang wanita sosialita itu?'batin Evelyn.
"Kamu ya berani!" Selina menunjuk wanita itu dengan geram kala tak terima mendapatkan tamparan darinya.
Wanita itu tak terusik, dia malah semakin menjadi.
"Aku bahkan yakin setelah suamimu melihat Anne lagi dan bahkan dekat dengan tuan Viktor dia akan menyesal! Pun jika di beri kesempatan dia pasti ingin balikan dengannya." sahutnya sambil terkekeh puas.
Davin yang melihat perdebatan sengit itu
pun mengepalkan tangannya karena ucapan itu fakta.
Sedangkan Viktor melipat wajahnya tak senang, ia mengeratkan rangkulannya di
pinggang Anne, seolah ia ingin orang yang melihatnya ia tak gentar dengan seruan wanita itu.
Selina semakin kesal, tapi ia kehilangan kata-kata untuk membalasnya.
"Selina, Selina, jika aku jadi kamu aku akan langsung mencari lubang untuk bersembunyi. Selamanya tidak akan keluar bertemu orang, lihatlah orang-orang sedang memandangmu ilfeel saat ini." balas wanita itu sengit.
Sialnya Selina ikut melirik kanan kiri, dan benar ia melihat semua orang sedang
memandangnya benci, ia benar-benar ingin menangis saat ini, ia mengharap Davin akan menolongnya.
Tapi pria itu kenapa malah tak datang.
Dari belakang, Davin tampak berjalan mendekati Viktor, "tuan Viktor karena lelang sudah selesai izinkan aku pulang dahulu, permisi!"
"Baiklah, jangan bosan ya datang ke acaraku," balas Viktor dengan senyum nya.
Pria itu segera pergi tanpa menoleh ke arah Selina sama sekali.
Selina berteriak dalam dalam hati memanggil nama suaminya.
Davin kenapa kamu tidak membela ku sekali! teriaknya dalam hati.
Melihat anaknya yang di permalukan
seperti itu Evelyn pun maju ke depan ingin melindungi anaknya.
Dia sudah berada di depan mereka, namun entah dorongan dari mana dia tak tahan sehingga mengangkat tangannya untuk menampar wanita yang berdebat dengan Selina itu.
Plak!
"Jaga mulutmu ya ... jangan mentang-mentang kamu menang kamu bisa seenak bicara!" berang Evelyn.
"Mama!" Selina tak percaya ibunya akan menampar wanita itu.
Seketika wanita tadi menatap Evelyn dengan kesal, "kamu berani menamparku?!"
Pengawal wanita itu mendekat seakan ingin melindunginya.
Wanita itu sangat murka, "aku akan melaporkanmu ke polisi karena sudah berani menamparku!" peringatnya menatap sengit Evelyn.
la tak peduli jika dia orang tua karena sudah berbuat semena-mena dengannya.
Evelyn terkesiap, seketika tangannya yang baru menampar wanita itu pun terasa gemetar.
la bukan tak tahu bahwa wanita ini adalah putri konglomerat.
"Tolong panggil polisi sekarang!" pinta wanita itu pada bawahannya.
"Baik, nyonya!" yang di perintah sudah bersiap pergi.
"Jangan!"
Namun Evelyn tiba-tiba menahannya, ia mendadak takut, meski ia bisa mengeluarkan uang untuk menangguhkan laporan itu, tapi tetap saja nama baik keluarga akan tercemar, apalagi ia membawa kehormatan keluarga Davin juga.
"Kenapa?" wanita itu menatap puas saat Evelyn takut.
"Saya akan melakukan apapun asal jangan laporkan ke polisi," mohon Evelyn.
Kilapan matanya meneduh.
Selina tercengang dengan seruan ibunya. Ia begitu khawatir jika hal itu akan di manfaatkan oleh wanita itu untuk berbalas dendam.
Wanita itu tersenyum licik, "bagaimana
jika aku menamparmu saja? Kamu sudah
menamparku l kali maka aku akan menamparmu 10 kali!"
Evelyn dan Selina tercengang. Mereka
melebarkan matanya.
"Apa-apaan ini?" Selina menyahut tak terima. Ia merasa ini tak sebanding.
"Kenapa? Jadi kamu mau ibumu ku laporkan ke polisi?" wanita itu bersungut.
Selina menjadi semakin panik.
"Ya, tidak apa," Evelyn menyela, ia fikir ini lebih baik dari pada ia masuk penjara.
"Ma!" Selina menahannya, dan Evelyn
memberinya lirikan.
Membuat Selina mengerti, jika ia harus pura-pura seolah tersakiti nantinya.
Evelyn belum siap, tapi satu tamparan kuat sudah mendarat di pipi Evelyn.
"Hei kamu jangan kurang ajar, apa kamu
juga lupa suamiku direktur Davin!" sahut Selina.
"Wow, sangat sombong sekali!"
Tepat saat suara Selina berakhir sebuah suara lain terdengar menyahuti.
Mereka menoleh dan melihat Viktor mendekat berdampingan dengan Anne.
"Tuan Viktor tolong bantu aku!" Selina memohon, dia bahkan menghilangkan rasa malunya pada Anne.
Viktor tersenyum smirk begitu Selina merendahkan harga dirinya saat ini.
Ia berfikir bahwa ini adalah balasan untuknya karena Evelyn sudah berani menampar Anne saat itu.
"Silahkan lanjutkan!" pinta Viktor pada wanita tadi memberi ruang.
Selina tercengang saat Viktor tak mengindahkan permintaan nya.
"Baiklah dengan senang hati tuan .." kata wanita itu ingin mengangkat tangannya.
"Sebentar!" Viktor menahan,"apa tanganmu tidak lelah melakukannya sendiri? Mungkin kamu bisa meminta bantuan orang lain," imbuhnya.
"Ah, ya aku akan meminta bantuan anak
buahku. Mereka jauh lebih kuat," kata wanita itu.
Evelyn dan Selina tercengang, mereka menggeleng tak bisa membayangkan jika itu terjadi.
Anne cemas, ia meremas lengan pria itu.
Viktor menoleh sekilas ke arah Anne kemudian keara Selina, "bagaimana jika Selina yang membantu kamu untuk menampar wanita ini?"
"Apa?" Selina tercengang. la tak mungkin menampar ibunya sendiri.
"Sepertinya itu menarik," balas wanita itu.
Evelyn melirik Selina seolah memberi tahu agar ia menyetujuinya kemudian Selina berpikir sepertinya lebih baik ia yang menamparnya sendiri dari pada orang lain karena ia bisa melakukannya dengan pelan.
"Baiklah," Selina setuju.
Plak!
Selina langsung memulai sambil berhitung, tapi Viktor menahannya dengan gerakan jarinya.
"Lakukankan sampai terdengar dengan keras bunyi tamparannya, yang tadi tidak di hitung." ucapnya.
Apa?
Selina dan Evelyn saling memandang.
"Ya, benar lakukan cepat!" sambung wanita tadi dengan puas.
Selina kemudian dengan ragu mengangkat tangannya, meski ia merasa begitu durhaka saat ini.
"Cepat!" suara tegas Viktor menginterupsi.
Selina menoleh sekali lagi ke arah Viktor dan melihat wajah Anne yang menyebalkan, ia tak bisa menghindar lagi dari hal ini, kekuasaan wanita itu yang bersatu dengan Viktor membuatnya tak bisa berkutik hingga akhirnya ia pun mengangkat tangannya lalu menjatuhkan tamparannya ke pipi Evelyn.
Plak!
"Maafkan aku ma!" Selina bergumam pelan.
Pipi Evelyn langsung memerah, ia melirik putrinya kesal, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
Bunyi keras akibat tamparan itu pun terdengar membuat Anne langsung tercengang.
Dia mencubit jas di pinggang Viktor untuk meminta pulang dari sana.
Senyum di bibir Viktor terulas. Ia menatap puas ke arah mereka sebelum akhirnya pergi dari sana dengan menggandeng Anne.
Kini mereka tiba di dalam mobil dengan Anne duduk di sebelah pria itu.
"Tuan, apa tadi tidak keterlaluan untuk
mereka?" tanya Anne membuat Viktor menoleh.
"Tentu saja tidak, itu balasan yang sepadan, mereka harus merasakan apa yang kamu rasakan saat itu." Viktor membisik di sebelah telinga Anne.
Dan Anne bergidik saat baru menyadari bahwa Viktor sedang ingin membalaskan
perbuatan Evelyn yang menamparnya saat itu dengan balasan yang bahkan sepuluh kali lipat darinya.