NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:498
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEDINGIN ES

Permainan tanya jawab pun berlanjut hingga larut malam. Suasana yang semula riuh dengan canda dan tawa perlahan berubah menjadi hening, seiring waktu yang terus berjalan dan rasa kantuk yang mulai menyerang satu per satu. Mereka pun mulai beranjak, berjalan masuk ke dalam tenda untuk beristirahat, hingga akhirnya di luar tenda hanya tersisa tiga orang: Kevin, Adit, dan Doni. Api unggun masih menyala terang di tengah mereka, memantulkan cahaya kemerahan pada wajah ketiga pemuda itu yang tampak masih segar meski larut malam.

Kevin menatap kedua temannya secara bergantian, lalu bersuara memecah keheningan. "Kalau kalian... di antara adik kelas yang baru ikut kemah kali ini, adakah yang menarik perhatian kalian?"

Adit tersenyum tipis sambil memutar botol minuman di tangannya. "Kalau aku... jujur saja, aku tertarik pada Cintya. Gadis itu ceria, sopan, dan sikapnya menyenangkan."

Pandangan keduanya pun kemudian beralih kepada Doni. Namun pemuda itu hanya diam seribu bahasa, tak sedikit pun membuka mulutnya. Ia terus menatap nyala api unggun di hadapannya sambil sesekali meneguk isi gelas yang dipegangnya, seakan tak mendengar pertanyaan itu sama sekali.

Adit tertawa pelan melihat sikap Doni yang begitu, lalu menepuk bahu temannya itu pelan. "Lihatlah dia... diam saja. Sudah kubilang, Doni tak akan pernah menyukai siapa pun. Di matanya, seakan semua orang itu sama saja."

Kevin mengangguk pelan sambil tersenyum, lalu ikut bersuara. "Kalau begitu, aku juga tak akan menyembunyikannya. Sebenarnya... aku juga tertarik kepada salah satu dari ketiga gadis itu. Dan aku berniat untuk mulai mendekatinya."

Doni perlahan mengalihkan pandangannya dari api unggun, menatap Kevin sekilas dengan tatapan yang tetap datar dan dingin. "Lakukan apa yang harus kau lakukan. Tapi jangan pernah tanyakan hal seperti ini lagi padaku."

Kevin tertawa lebar mendengar jawaban itu, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Wah, tetap saja jawabannya begitu. Jangan terlalu tegang dan kaku begitu, Don. Santai saja."

Adit kembali tertawa, lalu menyisipkan candaan. "Siapa yang tahu... mungkin saja Doni sebenarnya tak tertarik pada wanita. Bisa jadi hatinya sudah tertarik pada laki-laki."

Doni tidak ikut tertawa. Ia kembali menatap nyala api di hadapannya dan berkata dengan nada tenang namun tegas. "Untuk saat ini... aku tidak akan membuka hati pada siapapun. Itu saja."

Percakapan pun berlanjut diiringi suara kayu yang terbakar dan bunyi serangga malam. Mereka bertiga masih asyik berbicara sambil meneguk minuman hingga waktu berlalu tanpa terasa, menjelang pagi. Akhirnya, rasa kantuk yang tak tertahankan membuat mereka terlelap tepat di depan api unggun yang perlahan mulai mengecil dan meredup nyalanya.

 

Keesokan paginya, sinar matahari mulai menembus celah dedaunan dan menyentuh wajah Kristin hingga ia terbangun perlahan. Saat ia mencoba merasakan kehangatan yang menyelimuti tubuhnya, ia tertegun kaget. Tubuhnya ternyata terbalut rapi diselimuti kantong tidur yang tebal dan hangat—sesuatu yang sama sekali tidak ia bawa. Kristin meraba bahan kantong tidur itu dengan rasa heran. Ia sama sekali tidak tahu barang itu milik siapa dan kapan diletakkan di dekatnya saat ia terlelap semalam.

Tak lama kemudian, Cintya pun terbangun dari tidurnya dan menyapanya dengan senyum mengantuk. Kristin segera bertanya dengan suara berbisik agar tidak membangunkan yang lain. "Cintya... kau tahu kantong tidur ini milik siapa? Aku yakin tidak membawanya."

Cintya menggeleng pelan sambil merapikan rambutnya yang berantakan. "Aku juga tidak tahu. Semalam saat aku masuk tidur, aku belum melihat barang ini di dekatmu. Mungkin saja ada malaikat yang turun menyelimutimu saat kau tidur lelap tadi malam."

Kristin tertawa kecil mendengar jawaban temannya itu sambil menepuk pelan bahu Cintya. "Sudahlah, jangan berkhayal setinggi langit di pagi buta begini. Ayo kita bangun dan bersiap, hari ini kita harus pulang kembali ke kota."

Keduanya pun bergegas keluar dari tenda. Udara pagi yang segar menyambut mereka, namun perhatian Kristin segera tertuju pada pemandangan di depan tenda. Di sana, terlihat Doni dan Adit yang masih terlelap nyenyak tepat di depan tumpukan kayu bekas api unggun yang mulai padam. Wajah mereka tampak tenang seakan tak terganggu oleh apa pun.

Tak lama kemudian, Kevin berjalan menghampiri mereka dan memberi arahan. "Selamat pagi semuanya! Sebagian dari kalian silakan bersiap dan menyiapkan sarapan pagi, sementara yang lain mulai merapikan peralatan agar tidak ada yang tertinggal. Kita akan segera berangkat setelah perut terisi."

Kristin pun melangkah mendekati Kevin dengan rasa penasaran yang belum hilang. Ia menatap pemuda itu sekilas, lalu bertanya pelan. "Kak Kevin... semalam, apakah Kakak yang memberikan kantong tidur itu kepadaku?"

Kevin tampak bingung mendengar pertanyaan itu dan langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan aku. Semalam aku ikut tertidur lebih dulu, meninggalkan Doni dan Adit yang masih terjaga di sini. Aku sama sekali tidak tahu soal itu."

Mendengar jawaban itu, pikiran Kristin langsung tertuju pada Adit. Jika bukan Kevin, maka kemungkinan besar pemilik barang itu adalah Adit. Karena saat ia melirik ke arah Doni yang masih terlelap, ia menyadari satu hal: Doni mengenakan jaket tebal yang menutupi tubuhnya. Artinya... kantong tidur itu kemungkinan besar bukan dari Doni.

Di saat yang sama, Nisa keluar dari dalam tenda senior dan menyapa mereka semua dengan senyuman hangat. "Selamat pagi semuanya. Segera periksa perlengkapan masing-masing ya, pastikan tidak ada barang yang tertinggal di sini."

Semua orang pun segera bergegas. Setelah sarapan pagi yang sederhana, mereka merapikan semua peralatan dan perlengkapan berkemah, lalu berjalan beriringan meninggalkan tempat perkemahan menuju jalan keluar hutan.

Sepanjang perjalanan pulang, suasana tetap terasa hidup dan hangat. Di barisan paling depan, Cintya tampak asyik berjalan berdampingan dengan Adit sambil terus berbicara dan tertawa. Di belakang mereka berjalan Bobi dan Jeki, diikuti Ari yang berjalan sendirian sambil menikmati pemandangan hutan. Tak jauh di belakangnya, Nisa dan Rangga berjalan berdampingan sambil terus berbincang dengan serius. Kemudian ada Kevin yang berjalan di samping Joel sambil terus bercanda dan tertawa lebar.

Sedangkan Kristin berjalan sendirian di bagian belakang, tepat di depan Doni yang berjalan sendirian di barisan paling belakang sekali. Langkah Doni terlihat tenang dan mantap, namun wajahnya tetap datar tanpa ekspresi apa pun. Kristin sesekali melirik ke belakang, berniat menyapa pemuda itu, namun selalu terhenti. Ia tak tahu harus memulai percakapan dari mana.

Doni yang menyadari tingkah Kristin yang tampak gelisah itu akhirnya bersuara lebih dulu. "Ada apa denganmu? Apakah kau sedang mengalami masa-masa wanita?"

Pertanyaan itu membuat langkah kaki Kristin seketika terhenti. Wajahnya seketika memerah padam karena kaget dan malu. Ia menatap Doni dengan mata terbelalak dan segera membantah dengan suara yang sedikit meninggi. "Tentu saja tidak! Kakak ini... bicara asal dan ngawur."

Doni tidak terlihat terkejut sedikit pun. Ia hanya melanjutkan langkahnya dengan tenang sambil berkata, "Kalau begitu, sebaiknya kau fokus berjalan. Jangan sampai terpeleset lagi seperti kemarin malam." Sejenak kemudian, ia menambahkan dengan nada yang tetap datar, "Dan simpanlah sepasang sendal itu dengan baik. Siapa tahu suatu saat kau membutuhkannya lagi untuk berkemah di lain waktu."

Hati Kristin seketika berdebar. Ia menatap Doni sekilas lalu berkata pelan, "Terima kasih..."

Namun ucapan terima kasih itu seakan tak didengar sama sekali. Doni terus berjalan di sampingnya dengan wajah yang tetap dingin dan tak berubah sedikit pun. Tak ada senyuman, tak ada tanggapan, dan tak ada tanda bahwa ia baru saja mendengar ucapan itu.

Kristin pun menarik napas panjang dan kembali melangkah. Di dalam hatinya, ia akhirnya menyimpulkan satu hal yang kini semakin jelas baginya. Pantas saja... dia memang lelaki yang sedingin es. Walaupun diletakkan di atas api yang menyala besar sekalipun, hatinya tak akan mencair sedikit pun. Tetap saja dingin dan tak tersentuh.

Kristin pun memilih untuk diam dan terus melangkah. Ia tak lagi berusaha menyapa atau membuka percakapan. Hening menyertai langkah mereka berdua hingga akhirnya mereka keluar dari kawasan hutan itu dan kembali menuju jalan pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!