NovelToon NovelToon
Ketika Hati Berubah Arah

Ketika Hati Berubah Arah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Fina Indri

Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.

Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.

Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.

Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?

Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah yang Berbeda

Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan kedua Almeera dan Rafael di masjid waktu itu. Tidak ada kejadian yang berubah secara drastis di hidup Almeera. Ia tetap menjalani rutinitas harian kampusnya seperti biasa. Pagi hari pergi kuliah, siang hari mengikuti kelas dosen, dan sore hari mengerjakan tugas atau langsung pulang ke rumah.

Sesekali, dia juga masih rajin datang ke acara kajian yang sama. Bedanya, sekarang Almeera mulai lebih memperhatikan hal hal baik yang selama ini sering dia abaikan. Ia mulai berusaha keras untuk menjaga waktu ibadahnya, mengurangi kebiasaan buruknya, dan belajar mengendalikan emosinya yang labil. Walaupun jujur saja, usahanya itu tidak selalu berhasil dengan mulus.

Pagi itu, Almeera sedang berjalan di koridor menuju ruang kelasnya ketika salah satu sahabat dekatnya memanggil dari arah belakang.

"Meera!" panggil sahabatnya setengah berlari.

Almeera menghentikan langkah lalu menoleh. "Kenapa?"

"Kamu nanti sore ada acara luang nggak?" tanya sahabatnya setelah berhasil mendekat.

"Nggak ada acara apa apa kok harian ini. Memangnya kenapa?" jawab Almeera.

"Aku mau mengajak kamu pergi ke tempat kajian yang baru, mau nggak?" ucap sahabatnya menawarkan.

Almeera berpikir sebentar sebelum menjawab. "Boleh deh, aku ikut."

Sahabatnya langsung tersenyum lebar, tampak tidak percaya. "Seriusan kamu mau ikut?"

"Iya, serius. Memangnya kenapa sih kok heran begitu?" tanya Almeera balik.

"Nggak apaapa, aku kirain kamu bakal langsung menolak karena tempatnya agak jauh," jawab sahabatnya jujur.

Almeera tertawa kecil mendengar alasan itu. "Ya kalau acaranya bagus buat aku, kenapa harus ditolak?"

Mereka berdua kemudian berjalan beriringan memasuki ruang kelas karena dosen sudah mau datang. Hari itu jadwal perkuliahan berjalan cukup padat dan melelahkan. Ada beberapa tugas baru yang diberikan oleh dosen, membuat Almeera harus mencatat semuanya di buku saku agar tidak lupa deadline pengumpulannya.

Begitu kelas terakhir resmi selesai, Almeera langsung memasukkan buku bukunya ke dalam tas. Sahabatnya ternyata sudah berdiri menunggunya di depan pintu kelas.

"Ayo, Meera, langsung berangkat sekarang biar nggak telat," ucap sahabatnya.

"Iya, sebentar," jawab Almeera sambil menyampirkan tas ke bahunya. Mereka kemudian pergi bersama meninggalkan area kampus.

Sesampainya di lokasi kajian yang baru, Almeera melihat sudah ada cukup banyak mahasiswa dari berbagai fakultas lain yang datang. Ia mengambil posisi duduk bersama sahabatnya di barisan tengah, lalu mengikuti acara dengan tenang dari awal sampai selesai.

Materi kajian hari ini benar benar membuat pikiran Almeera terbuka lebar. Ustaz di depan membahas tentang bagaimana seorang manusia seharusnya tidak menjadikan urusan duniawi sebagai satu satunya tujuan hidup. Dibahas juga tentang bagaimana hati manusia bisa dengan mudah dibolak balikkan, dan tentang bagaimana seseorang harus tetap semangat memperbaiki diri meskipun di masa lalunya pernah melakukan banyak kesalahan fatal.

Almeera mendengarkan setiap nasihat itu dengan takzim. Bahkan setelah acara kajian selesai ditutup, dia tidak langsung berdiri dari duduknya. Ia masih betah duduk bersimpuh sambil memperhatikan poin poin catatan kecil yang baru saja dia tulis sendiri.

"Kamu suka sama isi materi kajian hari ini, Meer?" tanya sahabatnya memecah lamunan.

"Iya, suka banget," jawab Almeera tulus.

"Bagian mana yang paling bikin kamu berkesan?" tanya sahabatnya lagi penasaran.

Almeera berpikir sejenak sebelum menjawab. "Bagian pas ustaz membahas tentang proses memperbaiki diri."

"Kenapa emangnya?"

"Karena aku merasa diriku yang sekarang ini masih punya banyak banget kekurangan yang harus diperbaiki," jawab Almeera jujur.

Sahabatnya tersenyum tulus lalu menepuk pundak Almeera. "Itu tanda yang bagus, Meera"

Almeera mengangguk pelan setuju. "Iya." setelah itu, mereka berdua merapikan barang barang dan berjalan keluar dari ruangan utama gedung.

Almeera berjalan santai menyusuri halaman depan gedung sambil tetap mendekap buku catatannya. Namun saat dia hendak melewati gerbang halaman, langkah kakinya mendadak berhenti total. Matanya menangkap sosok yang rasanya sudah tidak asing lagi baginya.

Di dekat tiang luar, tampak Rafael sedang sibuk mengobrol santai dengan beberapa mahasiswa lainnya. Almeera benar benar tidak menyangka kalau dia akan kembali bertemu dengan lelaki itu di tempat kajian yang baru ini.

Sahabatnya yang menyadari perubahan sikap Almeera langsung mengikuti arah pandang mata sahabatnya itu. "Loh, kamu kenal sama cowok itu, Meera?" tanya sahabatnya berbisik.

Almeera mengangguk pelan. "Iya, kenal."

"Dia cowok teman yang kamu ceritakan waktu di masjid kemarin, kan?" tanya sahabatnya memastikan.

"Iya, betul," jawab Almeera singkat.

Pada saat yang sama, Rafael refleks menoleh ke arah gerbang halaman. Tatapan mata mereka berdua sempat bertemu selama beberapa detik di udara. Rafael dengan sopan menganggukkan kepalanya kecil sebagai tanda sapaan dari jauh, dan Almeera pun langsung membalas anggukan tersebut dengan senyuman tipis. Tidak ada lambaian tangan atau obrolan yang heboh.

Tidak lama kemudian, Rafael tampak menyudahi obrolannya dengan mahasiswa di dekatnya, lalu dia melangkah berjalan menghampiri posisi Almeera berdiri.

"Assalamu'alaikum," sapa Rafael ramah begitu jarak mereka sudah dekat.

"Wa'alaikumussalam," jawab Almeera dan sahabatnya secara bersamaan.

"Kamu ternyata datang ke acara kajian di sini juga?" tanya Rafael membuka obrolan ringan.

"Iya, harian ini kebetulan diajak sama teman saya," jawab Almeera.

Rafael mengangguk angguk paham. "Bagaimana materi kajiannya tadi menurut kamu?"

"Bagus banget kok," jawab Almeera santai.

Di tengah obrolan mereka, sahabat Almeera tiba tiba menyenggol lengan Almeera pelan. "Meera, aku izin ke kantin depan sebentar ya, mau beli minuman dingin dulu karena haus banget."

"Oh, iya boleh. Jangan lama lama ya," jawab Almeera.

"Siap!" ucap sahabatnya sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Kini, tinggallah Almeera dan Rafael yang berdiri berhadapan di dekat pintu masuk gerbang.

"Kamu emangnya sering ya, datang ke tempat tempat kajian seperti ini?" tanya Almeera penasaran.

"Kalau lagi ada waktu luang dan tugas akhir saya selesai, biasanya saya sempatkan datang," jawab Rafael jujur.

Almeera mengangguk angguk mengerti. "Kalau saya sendiri baru baru ini aja mulai sering datang."

"Bagus kalau begitu," jawab Rafael ramah.

Mendengar kalimat itu, Almeera langsung tersenyum kecil menahan tawa. "Ih, tolong jangan bilang kata 'bagus' terus dong."

Rafael langsung mengernyitkan dahinya bingung. "Loh, kenapa emangnya?"

"Soalnya kalau kamu bilang begitu, rasanya kayak kamu lagi memuji anak kecil yang baru bisa jalan," protes Almeera bercanda.

Rafael terkekeh pelan setelah menyadari maksud Almeera. "Ah, maaf. Maksud saya bukan seperti itu kok."

Almeera kembali tertawa kecil melihat ekspresi canggung Rafael. "Terus maksud kamu bagaimana?"

Rafael terdiam sebentar, lalu menjawab dengan nada suara yang tenang dan berwibawa. "Maksud saya menurut pandangan saya, siapa pun orangnya yang saat ini sedang berjuang keras untuk memperbaiki hidupnya, dia memang sangat layak untuk mendapatkan apresiasi dan dukungan."

Almeera seketika terdiam mendengarkan penuturan Rafael. Ia tidak menyangka kalau Rafael akan memberikan jawaban sedewasa itu. Hatinya mendadak merasa tersentuh.

"Tapi... bagaimana kalau suatu hari nanti di tengah jalan saya mendadak malas dan memilih berhenti berubah?" tanya Almeera menguji, menyuarakan ketakutan terbesar yang ada di dalam hatinya.

Rafael menatap mata Almeera dengan sorot mata yang sangat tenang dan menyejukkan. "Proses berhenti sebentar karena capek itu hal yang manusiawi, Almeera. Berhenti sebentar bukan berarti kamu harus menyerah dan berbalik arah ke masa lalu, kan?"

Almeera menganggukkan kepalanya perlahan lahan. Jawaban dari mulut Rafael harian ini terdengar sangat sederhana dan tidak berbelit belit. Namun anehnya, kata kata lelaki itu terbukti ampuh membuat hatinya yang penuh keraguan menjadi jauh lebih tenang dan damai.

"Iya, kamu benar. Terima kasih banyak ya atas nasihatnya," ucap Almeera tulus.

"Sama sama," jawab Rafael ramah.

Tidak lama kemudian, sahabat Almeera kembali datang sambil membawa dua botol minuman dingin di tangannya. "Maaf ya kalau aku agak lama, antreannya panjang banget tadi," ucap sahabatnya tidak enak hati.

"Nggak apa apa kok," jawab Almeera tersenyum.

Rafael kemudian melirik ke arah jam tangan di pergelangan kirinya. "Kalau begitu, saya pamit duluan ya."

"Mau langsung pergi ke mana emangnya?" tanya Almeera refleks.

"Ada sedikit urusan penting yang harus diselesaikan sore ini," jawab Rafael sopan.

"Oh, ya sudah kalau begitu," ucap Almeera mengerti.

"Hati hati di jalan ya, kalian berdua," pesan Rafael sebelum melangkah pergi.

"Iya, kamu juga hati hati di jalan," jawab Almeera. Rafael pun berjalan menjauh meninggalkan halaman gedung.

Almeera sempat memandangi punggung Rafael beberapa saat sebelum akhirnya dia berbalik untuk berjalan pulang bersama sahabatnya.

"Ciee... kamu kelihatannya sudah mulai cukup akrab ya sama kakak tingkat yang tadi," goda sahabatnya sambil menyenggol bahu Almeera di sepanjang jalan.

Wajah Almeera langsung memerah, dia menoleh cepat. "Akrab dari mana sih? Ngaco deh kamu."

"Ya kelihatan dari cara ngobrol kalian tadi, santai banget kayak sudah kenal lama," jawab sahabatnya terkekeh.

"Nggak ya, kita berdua itu murni baru kenal karena insiden buku jatuh kemarin aja kok," jawab Almeera membela diri agar sahabatnya tidak berpikir macam macam. Sahabatnya hanya mengangguk angguk jail mendengar bantahan itu.

Di dalam angkutan umum perjalanan pulang ke rumah, Almeera kembali membuka buku catatan kecilnya. Ia menggunakan pulpennya untuk menulis beberapa kalimat penting yang dia dapatkan dari materi ustaz harian ini. Namun gerakan tangannya mendadak terhenti pada halaman draf yang masih kosong.

Almeera terdiam sebentar, lalu dia menggoreskan pulpennya untuk menulis satu kalimat tegas:

“Aku ingin berubah menjadi lebih baik murni karena Allah. Bukan karena kehadiran seseorang.”

Almeera membaca ulang kalimat tegas yang baru dia tulis itu di dalam hatinya, lalu segera menutup bukunya rapat rapat. Dia sadar betul kalau perjalanan hijrahnya ini masih sangat panjang dan terjal. Masih ada banyak ilmu agama yang harus dia pelajari, masih banyak kebiasaan harian yang buruk yang harus dia pangkas habis, dan masih banyak sifat egois di dalam dirinya yang harus dia benahi dari nol.

Namun untuk kali ini, Almeera berjanji tidak mau lagi berjalan terburu buru mengikuti nafsu. Dia sama sekali tidak berniat untuk mencari cowok baru sebagai pengganti posisi Kaizan di hatinya. Dia juga tidak mau menjadikan sosok baik seperti Rafael sebagai alasan atau motivasi utamanya untuk berubah menjadi muslimah yang baik.

Bagi Almeera saat ini, Rafael hanyalah sosok kakak tingkat yang kebetulan takdir pertemukan dengannya di tengah jalan proses hijrahnya. Tidak ada arti yang lebih dari itu. Setidaknya, untuk sementara waktu ini.

Malam harinya, Almeera sudah duduk tenang di dalam kamarnya yang sepi untuk menyelesaikan sisa tugas kuliah dari dosen. Di tengah keheningan malam, ponsel di atas mejanya mendadak bergetar pendek tanda ada pesan baru masuk.

Almeera meraih ponselnya. Dahinya agak berkerut saat melihat pesan itu dikirim oleh sebuah nomor baru yang belum tersimpan di daftar kontaknya. Karena penasaran, Almeera langsung membuka isi pesan tersebut.

“Assalamu'alaikum. Ini saya, Rafael. Maaf mengganggu waktunya, Meera. Cuma mau kasih tau kalau buku catatan kamu tadi sepertinya tertinggal di atas meja panitia kajian.”

Membaca pesan itu, Almeera spontan langsung memeriksa isi tas ranselnya yang ada di lantai. Jantungnya mencelos. Benar saja, buku diktat penting milik dosennya tidak ada di sana. Almeera bahkan baru menyadari keteledorannya setelah diberi tahu lewat chat ini.

Dengan perasaan panik dan tidak enak hati, Almeera langsung mengetik balasan pesan untuk Rafael.

“Wa'alaikumussalam. Eh iya, benar banget! Astagfirullah, saya sampai nggak sadar kalau buku itu ketinggalan di sana. Terima kasih banyak ya, Rafael, sudah mau mengabari aku.”

Tidak butuh waktu lama, sebuah pesan balasan kembali masuk dari nomor Rafael.

“Iya, sama-sama. Kebetulan bukunya sudah aman aku amankan di dalam tasku sekarang. Besok pagi biar aku bawa ke kampus dan aku serahkan ke kamu ya.”

Almeera buru-buru mengetik balasan singkat sebagai penutup. “Oke, siap. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Rafael. Maaf banget sudah merepotkan kamu.”

Setelah pesan terakhir itu terkirim, tidak ada lagi balasan chat dari Rafael. Percakapan mereka harian ini berakhir begitu saja dengan sangat formal dan sopan tanpa ada basa-basi yang berlebihan.

Almeera meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, lalu mengembuskan napas panjang. Tidak ada obrolan PDKT yang panjang, dan tidak ada pembahasan di luar urusan buku kuliah harian ini.

Namun entah mengapa, insiden buku tertinggal harian ini sukses membuat Almeera tersadar akan satu hal penting. Bahwa takdir hidup ini ternyata selalu memiliki caranya sendiri yang unik untuk mempertemukan seorang manusia dengan manusia lainnya. Kehadiran seseorang di hidup kita tidak selalu bertujuan untuk dijalin ke dalam sebuah ikatan hubungan asmara.

Terkadang, Allah mendatangkan seseorang murni hanya untuk memberikan kita sebuah pelajaran hidup yang berharga. Terkadang hanya untuk membantu membukakan jalan gerbang yang baru bagi masa depan kita. Dan terkadang, tanpa pernah kita sadari sedikit pun, sebuah interaksi kecil yang sangat sederhana bisa menjadi batu loncatan awal dari sesuatu hal yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Almeera sendiri saat harian ini masih belum tahu pasti apa arti dan tujuan dari takdir pertemuannya dengan sosok Rafael. Dan jujur saja, dia juga belum memiliki niat atau ketertarikan untuk mencari tahu jawabannya lebih jauh.

Untuk saat harian ini, Almeera hanya ingin memfokuskan seluruh sisa tenaganya untuk terus berjalan maju ke depan. Berjalan pelan pelan secara konsisten, tanpa ada niat sedikit pun untuk menoleh kembali ke arah masa lalunya yang kelam bersama Kaizan, dan tanpa mau terburu buru juga menebak nebak masa depannya.

Sebab untuk kali ini, Almeera hanya ingin memastikan dengan sangat saksama bahwa setiap jengkal langkah kaki yang dia pilih harian ini, adalah langkah kaki yang benar benar berjalan menuju ke arah jalan yang diridai oleh Allah SWT.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!