NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tim Kecil

Data terbaru masuk jam sepuluh malam, dan angkanya lebih buruk dari yang siapa pun perkirakan.

"Aditama buka dua flagship store baru," kata Reza, membaca laporan dari ponselnya di ruang rapat kecil lantai lima belas, suaranya sudah mulai serak karena sudah bicara sepanjang hari. "Satu di lokasi ketiga yang baru kita mulai konstruksinya minggu lalu, satu lagi di kota yang belum masuk radar kita sama sekali."

Ruangan itu jauh lebih kecil dari ruang rapat besar yang biasa dipakai—cuma cukup untuk empat orang, meja bundar kecil dengan satu layar proyektor di sudut, dipilih karena situasinya sudah terlalu genting untuk formalitas ruang kaca besar yang biasa dipakai rapat resmi.

Madoc, Gwen, Reza, dan Elias duduk mengelilingi meja itu, dikelilingi kertas-kertas laporan yang sudah berserakan, tiga laptop menyala dengan berbagai tab data yang terus diperbarui.

"Ini di luar prediksi awal," kata Gwen, matanya bergerak cepat menyusuri data yang baru masuk. "Mereka gak cuma nyerang di dua lokasi yang udah kita antisipasi, tapi ekspansi lebih agresif dari yang kita kira."

"Berarti proyeksi burn rate awal kita salah?" tanya Reza.

"Bukan salah," kata Gwen, "tapi kayaknya mereka dapet suntikan modal baru yang gak masuk radar publik. Ini gak sesuai pola historis mereka sama sekali."

---

Madoc duduk diam sejenak, menatap layar yang penuh angka merah—penurunan penjualan, proyeksi kerugian, semua indikator yang menunjukkan Meridian sedang menghadapi ancaman jauh lebih besar dari yang dia bayangkan sebelumnya.

Dia menggosok matanya, lelah yang jujur mulai terlihat di wajahnya—sesuatu yang jarang dia perlihatkan di depan siapa pun, apalagi di depan tiga orang yang sedang menunggu instruksinya.

"Kita perlu cari tau darimana suntikan modal itu," katanya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Kalau kita tau sumbernya, kita bisa prediksi seberapa lama mereka bisa nahan strategi agresif kayak gini."

"Saya bisa coba gali dari koneksi finansial," kata Reza. "Butuh waktu, mungkin dua sampai tiga hari."

"Kita gak punya waktu selama itu," kata Madoc, frustrasi mulai terdengar di nadanya. "Setiap hari kita nunggu, penjualan kita makin anjlok."

Elias, yang sejak tadi diam mencatat di tabletnya, mengangkat kepala. "Pak, kita bisa mulai eksekusi strategi loyalti yang udah disiapin Gwen dulu, sambil nunggu informasi soal modal Aditama. Gak harus nunggu satu-satu."

"Betul," kata Gwen, mengangguk cepat. "Kita jalan paralel. Strategi bertahan tetap jalan sesuai rencana, sambil kita cari info tambahan buat evaluasi ulang kalau perlu."

---

Madoc menatap mereka bertiga, merasakan tekanan yang terus menumpuk sejak pagi tadi mulai mencapai titik yang sulit dia tahan sendirian. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang, dan untuk sesaat, membiarkan kelelahannya terlihat jelas tanpa berusaha menutupinya.

"Saya gak nyangka bakal seberat ini," katanya, jujur, lebih ke diri sendiri daripada ke siapa pun secara spesifik. "Waktu Aditama pertama kali masuk, saya kira kita bisa handle dengan strategi yang udah kita susun. Tapi sekarang..."

Dia tidak melanjutkan kalimatnya, membiarkan keheningan mengisi ruangan itu sejenak.

Reza dan Elias saling lirik, tidak sepenuhnya tahu harus merespons apa—jarang sekali mereka melihat Madoc menunjukkan keraguan seterbuka ini, apalagi di depan tim, meski tim itu adalah orang-orang yang paling dia percaya.

Gwen, di sisi lain, tidak menunjukkan reaksi kaget atau canggung. Dia menatap Madoc sejenak, lalu berbicara dengan nada yang sama tenangnya seperti biasa dia gunakan untuk membahas data.

"Wajar kalau ini berat, Pak," katanya. "Ancaman kompetitor sebesar ini emang di luar kontrol kita sepenuhnya. Tapi yang bisa kita kontrol itu respons kita, dan sejauh ini respons kita udah cukup solid."

"Kalau responnya gak cukup?"

"Maka kita cari respons lain," kata Gwen, sederhana, tanpa kepanikan sedikit pun. "Sama kayak yang selalu kita lakuin dari awal. Bapak gak perlu punya semua jawaban sekarang juga, Pak. Yang penting kita terus gerak, terus adaptasi."

---

Kalimat itu, sesederhana apa pun kedengarannya, punya efek yang jauh lebih besar dari yang mungkin disadari Gwen sendiri.

Madoc merasakan ketegangan di bahunya sedikit mengendur, seolah kalimat itu memberi izin bagi dirinya untuk tidak harus sempurna dalam setiap keputusan, untuk boleh ragu tanpa dianggap lemah.

"Oke," katanya, akhirnya, duduk lebih tegak lagi, energinya sedikit kembali. "Kita jalan paralel kayak yang tadi diusulin. Reza, lo cari info soal modal mereka. Gwen, lo pastiin implementasi strategi loyalti berjalan sesuai rencana. Elias, koordinasi komunikasi internal biar seluruh tim tau update terbaru."

"Siap, Pak," kata ketiganya, hampir bersamaan.

Rapat berlanjut dengan energi yang lebih terarah, meski jam sudah menunjukkan hampir tengah malam—diskusi teknis, pembagian tugas, timeline yang harus dikejar besok pagi. Madoc kembali ke mode fokus kerjanya yang biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda dalam cara dia sekarang berinteraksi dengan tim kecilnya—lebih terbuka, lebih santai dalam mengakui keterbatasannya, lebih mudah menerima masukan tanpa perlu mempertahankan citra selalu benar.

---

Elias, yang duduk di sudut ruangan sepanjang rapat itu, memperhatikan perubahan itu dengan seksama.

Dia sudah bekerja untuk Madoc cukup lama untuk tahu betapa jarangnya bosnya menunjukkan kerentanan di depan orang lain—bahkan di depan dirinya sendiri, yang sudah dianggap paling dekat dan dipercaya, Madoc jarang benar-benar membuka soal keraguannya secara profesional seperti yang barusan terjadi.

Tapi malam ini, di ruangan kecil ini, dengan Gwen duduk di sisi yang sama meja bundar itu, dia melihat sesuatu yang berbeda—Madoc yang mengakui kelelahannya, yang mempertanyakan keputusannya sendiri secara terbuka, yang tampak jauh lebih manusiawi dari citra CEO tegas dan terkontrol yang biasa dia tunjukkan ke seluruh perusahaan.

Dan setiap kali momen kerentanan itu muncul, Gwen selalu ada di sana—tidak dengan drama, atau dengan simpati berlebihan, tapi dengan ketenangan sederhana yang entah bagaimana selalu berhasil menstabilkan suasana, membuat Madoc kembali fokus tanpa harus merasa malu karena sempat ragu.

Dia gak sadar, pikir Elias, memperhatikan Gwen yang sekarang kembali sibuk dengan laptopnya, menyusun detail teknis untuk implementasi besok, betapa besar pengaruhnya buat bos.

Dia melirik ke arah Reza, yang juga sesekali memperhatikan dinamika itu dengan ekspresi yang sulit dia baca, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berkomentar secara terbuka—terlalu sibuk dengan urgensi krisis yang sedang mereka hadapi untuk membahas hal lain di luar itu.

---

Rapat itu akhirnya berakhir jam setengah satu pagi, dengan rencana kerja yang solid untuk besok, tugas yang jelas untuk masing-masing orang, dan energi yang, meski lelah, jauh lebih terarah dari sebelumnya.

"Terima kasih semuanya," kata Madoc, berdiri, merapikan kertas-kertas di meja. "Ini bakal jadi minggu yang berat, tapi saya yakin kita bisa handle ini."

"Pasti bisa, Pak," kata Reza, mengangguk yakin.

Mereka berkemas bersama, keluar dari ruang rapat kecil yang sudah penuh dengan bekas kopi dan kertas berserakan, berjalan menuju lift dalam keheningan lelah yang menyatukan mereka setelah hari yang panjang.

Di dalam lift, Madoc berdiri di antara timnya, dan untuk sesaat, dia merasakan sesuatu yang jarang dia rasakan sebagai CEO—bukan beban tanggung jawab yang harus dia pikul sendirian, tapi rasa kebersamaan yang tulus dengan orang-orang yang sudah membuktikan diri mereka bisa diandalkan, terutama satu orang yang berdiri di sudut lift itu, sudah terlihat lelah tapi tetap dengan ekspresi tenang yang sejak tadi menjadi jangkar bagi seluruh ruangan.

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi malam itu, tapi dalam hatinya, rasa syukur yang tulus mulai tumbuh—bukan cuma karena timnya yang solid, tapi karena satu orang di antara mereka yang, tanpa dia sadari sepenuhnya, telah menjadi alasan kenapa krisis seberat ini masih terasa bisa dihadapi, bukannya membuatnya runtuh sendirian di tengah tekanan yang terus menumpuk sejak pagi tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!