NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:602
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 - By Chance, By Fate

Hari ini adalah hari yang tak pernah kubayangkan akan datang secepat ini dalam hidupku.

Hari Minggu yang biasanya kuhabiskan dengan bermalas-malasan di kamar sambil menonton drama korea kini berubah menjadi hari paling menegangkan dalam hidupku.

Sesuai kesepakatan dua bulan lalu, hari ini aku dan Javier akan menikah.

Sejak semalam aku tidak bisa benar-benar tenang. Rasanya masih sulit dipercaya beberapa jam lagi aku akan menyandang status sebagai seorang istri. Istri dari laki-laki yang bahkan baru kukenal dua bulan lalu.

Meskipun kami tidak akan benar-benar menjalani hubungan layaknya pasangan suami istri pada umumnya, tetap saja semua ini terasa aneh dan asing bagiku.

Seumur hidup aku tidak pernah pacaran, tidak pernah dekat dengan laki-laki mana pun, lalu tiba-tiba aku akan menikah begitu saja. Rasanya seperti hidupku melompat terlalu cepat.

Sejak sekitar jam enam pagi aku sudah dirias oleh make-up artist dari salon yang tidak jauh dari rumahku. Kuas dan sponge berkali-kali menyapu wajah hingga leherku sampai terasa pegal.

“Sudah selesai, Mbak.” ucap make-up artist itu.

Aku perlahan membuka mata.

Pantulan diriku langsung terlihat di cermin besar di depanku. Aku sampai terdiam beberapa detik karena merasa asing dengan wajah itu.

Apa itu benar-benar aku?

“Sekarang tinggal pakai baju dan jilbabnya, Mbak.” ucapnya lagi.

“Iya.” ucapku pelan.

Aku pun berdiri.

Make-up artist itu lalu membantuku mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan desain sederhana namun tetap anggun. Bagian atas gaun itu dipenuhi renda halus bermotif bunga yang menjuntai lembut hingga ke lengan. Potongannya tertutup rapi dengan kerah tinggi yang membuat tampilannya terlihat sopan dan elegan.

Kain tulle tipis menjuntai dari bahu hingga ke bawah gaun, memberikan kesan lembut setiap kali aku bergerak. Rok gaun itu mengembang ringan tanpa terlihat berlebihan, membuat tampilannya manis dan tenang di saat yang bersamaan.

Setelah memakai baju pengantin, aku kembali duduk untuk dipakaikan jilbab. Warna jilbabku senada dengan gaun yang kupakai. Bentuknya sederhana tanpa banyak aksesoris, hanya dipadukan dengan veil panjang transparan yang menjuntai hingga menyentuh lantai. Tidak terlalu mewah, tapi juga tidak terlalu sederhana. Semuanya terasa pas.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan Lila masuk ke dalam.

“Naya...” ucapnya.

Aku langsung menoleh.

“Hai...” ucapku sambil tersenyum kecil.

Mata Lila langsung membesar.

“Wah... kamu cantik banget, Nay.” ucapnya takjub.

“Ah kamu bisa aja. Kamu juga cantik pakai rok begitu. Biasanya kan kamu lebih pilih pakai celana daripada rok.” ucapku.

Lila hari itu memakai kebaya berwarna nude dengan detail bordir di bagian luar dan renda di tengahnya. Kebaya itu dipadukan dengan rok panjang warna senada serta jilbab polos berwarna krem muda.

“Lha aku kan mau datang ke acara nikahan. Masa pakai celana?” ucap Lila.

Aku tertawa kecil.

“Eh kamu bawa apa itu?” tanyaku saat melihat paperbag ukuran sedang di tangannya.

“Hadiah buat kamu.” ucap Lila sambil mengangkat paperbag itu sedikit.

“선물? 무슨 선물? (Hadiah? Hadiah apa?)” ucapku penasaran.

“Ada lah. Lihat aja nanti.” ucap Lila santai.

Aku mengernyit bingung.

Apa sebenarnya yang Lila bawa sampai dia merahasiakannya seperti itu?

“Oke...” ucapku pasrah.

Beberapa menit kemudian, Ibu datang dan memberi tahu bahwa akad akan segera dimulai.

Aku dan Lila pun keluar dari kamar.

“Nay, nanti setelah Javier ngucap ijab kabul kamu cium tangannya ya.” ucap Ibu begitu kami keluar kamar.

“Kenapa harus begitu? Nggak ah.” ucapku spontan.

“Eh harus. Istri itu harus cium tangan suaminya. Itu tanda hormat sama suami.” ucap Ibu.

Aku langsung mendecakkan lidah pelan, merasa kesal.

Kami bertiga pun berjalan menuju ruang tamu dengan aku yang diapit Ibu dan Lila.

Rasa kesal masih menyelimutiku sepanjang berjalan ke ruang tamu. Namun begitu sampai di sana, langkahku sedikit melambat.

Bukan karena banyaknya orang yang datang, tapi karena seseorang yang duduk di depan Ayah terlihat sangat berbeda dari biasanya.

Javier.

Entah kenapa auranya terasa berbeda pagi ini.

Javier mengenakan setelan akad berwarna putih polos dengan desain sederhana dan rapi. Tidak banyak detail mencolok pada pakaiannya, hanya sedikit bordir halus di bagian dada dan lengan yang membuat tampilannya tetap elegan tanpa terlihat berlebihan. Peci putih yang ia kenakan membuat penampilannya terlihat tenang dan bersih.

Saat itu juga pandangan kami bertemu.

Jantungku langsung berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Apa karena ini situasi yang belum pernah aku alami atau memang ada alasan lain?

Ibu dan Lila menuntunku menuju meja akad. Aku pun duduk di samping Javier.

Begitu duduk aku langsung menghela napas pelan.

Ini benar-benar terasa seperti mimpi.

Aku akan menikah.

Ayah akan menikahkanku hari ini.

Aku menoleh pelan ke arah Javier. Javier juga sedang menatapku. Kami kembali saling pandang beberapa detik dan anehnya jantungku justru semakin tidak karuan.

Ada apa denganku?

Padahal ini bukan pernikahan yang benar-benar kuinginkan. Tapi kenapa perasaanku jadi seperti ini?

Tak lama kemudian pembawa acara membuka acara. Setelah salam dan beberapa kalimat pembuka, acara dilanjutkan dengan nasihat singkat dari penghulu.

Namun aku tidak terlalu fokus mendengarkannya. Kepalaku justru dipenuhi berbagai macam pikiran.

Ini benar-benar terjadi.

Aku benar-benar akan menikah hari ini.

Aku menunduk sambil menyatukan kedua tanganku yang terasa dingin.

Setelah nasihat selesai, penghulu mulai memastikan data pernikahan, wali nikah dan mahar.

Tak lama kemudian ijab kabul dimulai.

Ayah dan Javier saling berjabat tangan.

“Javier Aditya Permana bin Jamal Permana, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Naya Arletta binti Gilang Gunawan, dengan mas kawin seperangkat alat salat, uang satu juta sembilan ratus ribu rupiah dan emas lima gram dibayar tunai.” ucap Ayah dengan lancar.

Kulirik Javier dari sudut mataku. Ia terlihat menarik napas pelan sebelum akhirnya menjawab.

“Saya terima nikah dan kawinnya Naya Arletta binti Gilang Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

Lancar.

Tegas.

Tanpa jeda.

Aku langsung mengangkat kepala dan menatap Javier tanpa sadar.

Tak kusangka Javier bisa mengucapkannya selancar itu. Seolah-olah ia sudah lama mempersiapkan dirinya dan seolah-olah ia sedang menikahi perempuan yang benar-benar ia cintai.

Beberapa orang langsung mengucapkan sah hampir bersamaan.

“Sah!”

Dadaku mendadak terasa sesak.

Aku benar-benar sudah menikah sekarang.

Setelah itu kami semua berdoa bersama. Begitu doa selesai, kulihat Ibu kembali memberi kode agar aku mencium tangan Javier.

Sebenarnya aku masih enggan melakukannya, tapi Ibu terus menatapku memberi isyarat.

Dengan terpaksa aku pun memegang tangan Javier. Javier langsung menoleh ke arahku lalu aku mencium punggung tangannya pelan.

Namun setelah itu sesuatu yang sama sekali tak kuduga terjadi.

Javier tiba-tiba mencium keningku.

Singkat.

Sangat singkat.

Tapi cukup membuatku membeku di tempat.

Aku menatap Javier dengan bingung sementara jantungku kembali berdetak tidak karuan.

Ini pertama kalinya ada laki-laki yang menciumku.

“Nay... Naya...” ucap Javier menyadarkanku.

“Hah?” ucapku spontan.

“Ini tanda tangan.” ucap Javier sambil menunjuk beberapa dokumen di depanku.

“Ah iya.” ucapku cepat sambil menahan malu.

Aku dan Javier pun mulai menandatangani beberapa dokumen pernikahan.

“Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri. Semoga pernikahan kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.” ucap penghulu begitu semua dokumen selesai ditandatangani.

Aku hanya bisa mengangguk kecil sambil menunduk pelan.

Setelah itu beliau pamit karena masih memiliki jadwal akad lain.

Tak lama kemudian acara dilanjutkan dengan tausyiah dari seorang ustad. Ustad yang sejak tadi duduk di sudut ruang tamu itu maju ke depan untuk memberikan tausyiah singkat tentang pernikahan.

Aku duduk diam sambil sesekali memainkan jemariku sendiri sementara Javier duduk tenang di sampingku.

“Pernikahan bukan tentang mencari pasangan yang sempurna.” ucap ustad itu. “Tapi tentang dua orang yang mau belajar saling memahami, saling menghargai dan bertahan bersama dalam keadaan apa pun.”

Aku menunduk pelan mendengar ucapan itu.

“Karena setelah akad ini, bukan hanya status yang berubah. Tapi juga tanggung jawab dan cara hidup.” lanjutnya.

Entah kenapa ucapan itu terasa begitu mengena di kepalaku.

Aku melirik Javier sekilas dari sudut mataku. Javier masih duduk tenang sambil mendengarkan tausyiah itu dengan serius.

Beberapa menit kemudian tausyiah selesai dan acara dilanjutkan dengan sungkeman.

Ayah yang tadi duduk di depan Javier kini berpindah duduk di samping Ibu. Di sebelah mereka sudah ada Pak Jamal dan Bu Soraya.

Aku dan Javier pun langsung sungkem ke orang tuaku terlebih dahulu.

“Naya sekarang kamu sudah jadi istri. Jadi tolong nurut sama suami kamu ya.” ucap Ayah pelan.

Aku langsung mengangguk sambil menahan tangis.

Lalu Ayah menoleh ke Javier.

“Saya titip Naya. Tolong jangan sakiti dia.”

“Baik, Pak.” ucap Javier pelan.

Setelah itu aku dan Javier bergantian sungkem ke Ibu. Ibu terus menangis sambil beberapa kali mengusap kepalaku dan memberiku nasihat agar menjadi istri yang baik.

Sementara itu Pak Jamal memberi nasihat singkat pada Javier agar menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab sedangkan Bu Soraya memintaku untuk selalu menemani Javier dan memperhatikannya dengan baik.

Setelah acara sungkeman selesai, kami berenam berdiri untuk foto bersama.

Aku dan Javier berdiri di tengah. Aku di sebelah kanan sementara Javier di sebelah kiri. Di sampingku berdiri Ayah dan Ibu sedangkan di samping Javier ada Pak Jamal, Bu Soraya dan Janessa.

Setelah beberapa kali berfoto, orang-orang mulai berbaris untuk menyalami kami satu per satu sambil memberikan ucapan selamat dan doa.

Hari itu yang datang bukan hanya sanak saudara dan tetangga sekitar rumahku, tapi juga rekan kerjaku di Sina Bank serta pegawai Ruang Rindu. Javier bahkan sengaja meliburkan dan menutup rumah makannya sehari penuh agar semua pegawainya bisa menghadiri pernikahan kami.

Beberapa rekan kerjaku terlihat masih sulit percaya melihatku benar-benar menikah secepat ini sementara pegawai Ruang Rindu bergantian menyalami Javier dengan wajah yang terlihat ikut bahagia untuknya.

Meskipun acara pernikahan kami sederhana, tetap saja aku mulai merasa lelah harus terus berdiri dan menyalami semua orang satu per satu.

Setelah semua tamu selesai bersalaman, mereka dipersilakan makan.

Orang tuaku dan orang tua Javier ikut menuju ruang makan sementara Janessa tetap berada di dekat kami. Ia langsung berpindah posisi ke sampingku.

“Kak Naya... akhirnya kakak jadi kakak iparku. Aku senang banget.” ucap Janessa girang sambil memegang tanganku.

“Ah iya... aku juga senang.” ucapku sambil tersenyum kecil.

Tiba-tiba Lila mendekat ke arah kami. Karena tadi terlalu fokus dengan acara dan banyaknya orang, aku sampai sempat lupa pada Lila.

“축하해 친구야... (Selamat temanku...) akhirnya kamu nggak single lagi.” ucap Lila sambil tertawa kecil.

“고마워. (Makasih.)” ucapku.

“Kak, ini siapa?” tanya Janessa penasaran.

“Kenalin, ini temanku. Lila.” ucapku.

“Hai, aku Lila.” ucap Lila sambil menyalami Javier dan Janessa bergantian.

“Kak Lila juga suka Korea dan bisa bahasa Korea?” tanya Janessa antusias.

“Iya, tapi bahasa Koreaku nggak sejago Naya.” ucap Lila.

“Ah aku juga belum jago.” ucapku cepat.

“Tapi mending, Nay. Kamu kan kadang bisa ngerti tanpa subtitle.” ucap Lila.

“Wah... ternyata Kak Naya sehebat itu.” ucap Janessa kagum.

“Nggak, Jane. Aku masih harus banyak belajar.” ucapku merendah.

“Udah jago kamu, Nay. Udah pro.” ucap Lila santai.

Lalu tiba-tiba Lila menoleh ke Javier.

“Mas, jangan tertipu sama polosnya Naya. Dia ini udah pro banget.”

“Lila, dibilang aku masih harus banyak belajar.” ucapku kesal.

“Naya ini udah nonton banyak series dan film dari berbagai umur, Mas.” ucap Lila santai.

Eh?

Aku langsung tahu ke mana arah pembicaraan Lila.

 “Lila...” ucapku pelan. “Udah sana kamu makan.”

“Eh sebentar. Aku belum selesai ngomong sama suami kamu.” ucap Lila santai.

“Udah nggak perlu.” ucapku cepat.

“Ih baru juga jadi istri udah cemburuan aja. Tenang, aku juga nggak bakal ambil suami kamu kali.” ucap Lila sambil tertawa kecil.

Aku langsung terkejut.

Cemburu?

Siapa yang cemburu?

“Ya udah deh aku makan. Tapi sebelumnya aku mau foto dulu sama kalian.” ucap Lila sambil mengeluarkan ponselnya lalu memberikannya pada Janessa. “Jane, tolong fotoin kami ya.”

“Oke, Kak.” ucap Janessa semangat.

Lila pun berdiri di tengah aku dan Javier. Setelah beberapa kali berfoto bertiga, Lila kembali meminta foto hanya denganku saja.

“Udah sana makan.” ucapku lagi.

“Eh kalian berdua belum foto berdua kan?” ucap Lila tiba-tiba.

Hah?

Apalagi sekarang?

Lila langsung menoleh ke arah fotografer.

“Mas, tolong ini pengantinnya difotoin.” ucap Lila.

Fotografer itu langsung mendekat.

“Sudah selesai salam-salamannya?” tanyanya.

“Sudah, Mas. Silakan difotoin mereka berdua.” ucap Lila cepat.

Fotografer itu mengangguk sementara Lila dan Janessa sedikit menjauh dari kami.

“Mbak, coba rangkul tangan Mas-nya ya.” ucap fotografer.

Aku langsung diam. Bingung harus bagaimana.

Namun tiba-tiba Lila kembali mendekat lalu menarik tanganku dan memposisikannya untuk merangkul lengan Javier.

“Gini lho, Nay. Kok kamu bingung begitu sih? Kamu kan udah pro.” goda Lila pelan.

Aku langsung menatapnya kesal.

“Baik, sekarang senyum ya Mas, Mbak.” ucap fotografer.

Beberapa kali kilatan kamera langsung menyala memotret kami berdua.

“Sekarang coba sambil pegang buku nikah.” ucap fotografer lagi.

Janessa langsung menyerahkan buku nikah kami.

Fotografer kembali memotret kami beberapa kali sebelum akhirnya Lila mendekat dan mengambil buku nikah itu dari tangan kami.

“Mas, sekarang coba cium kening Naya.” ucap Lila santai.

“Lila! Apaan sih kamu? Kamu kan bukan fotografernya.” ucapku malu.

“Lha kenapa? Bagus kok posenya.” Lila langsung menoleh ke fotografer. “Iya kan, Mas?”

“Iya, Mbak.” jawab fotografer setuju.

“Nah tuh kan. Udah ikutin aja apa kata aku.” ucap Lila puas.

Lila lalu memosisikan tubuhku dan Javier agar saling berhadapan.

“Ayo, Mas.” ucapnya sambil menjauh.

“Mas...” ucapku pelan sambil menoleh gugup ke Javier.

“Ikutin aja kata temenmu biar dia diem.” ucap Javier santai.

Lalu Javier memegang kedua lenganku pelan sebelum mendekat dan mencium keningku.

Aku langsung memejamkan mata refleks.

Ciumannya sama seperti tadi.

Singkat.

Lembut.

Namun anehnya jantungku kembali berdetak tidak karuan dibuatnya.

Kilatan kamera kembali menyala beberapa kali.

Setelah itu Lila kembali mendekat. Kali ini ia memosisikan tangan Javier di pinggangku lalu menarik tanganku hingga melingkar di leher Javier.

“Lila...” ucapku malu sekaligus panik.

“Ayo Mas, difoto.” ucap Lila sambil kembali menjauh.

Aku dan Javier pun saling menatap dari jarak yang sangat dekat.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Ini benar-benar terasa seperti mimpi.

Aku berada sedekat ini dengan seorang laki-laki. Dengan seseorang yang kini berstatus sebagai suamiku.

Padahal dua bulan lalu kami bahkan masih menjadi orang asing.

Lalu kenapa sekarang semuanya terasa begitu berbeda?

1
Mamah Dini11
nah situ ngerti , makanya jgn suka ngehalu. ketinggian bisa jatuh kmu, coba jadi permpuan itu sdikit bisa memahami situasi, di otak kmu kn cuma nikah terus cerai cerai karna gk cinta. pemikiran kmu beda sm javer , kmu mh oncom naya
Mamah Dini11
makanya otak jgn ke mana2 dulu , umur udh 30 pemikiran gk dewasa banget. lihat tuh javer santai tenang kalem,, kmu absrud banget kayak umur 17 thn , banyak nonton tuh perbaiki mulutmu naya
Mamah Dini11
ini pemeran si nay kenapa di oon kan thor. gk di saring lgi tuh mulutnya, kan dia. itu perpendidikan kerja di bang , masa gk tau tatak rama sedikit pun , jadi sebel dehhh , sering nonton drakor juga gk segitunya kali .
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!