Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Kecemburuan Zena yang mengakibatkan kerugian dirinya sendiri
Kriiiiiiingg......
Lorong sekolah tampak lengang setelah bel pulang berbunyi, menyisakan deretan loker yang mulai ditinggalkan oleh para siswa.
Namun, di ujung koridor dekat laboratorium kimia, suasana justru terasa memanas.
Zena mengepalkan tangannya dengan buku-buku jari yang memutih.
Tatapan matanya menajam, mengunci sosok Lyra yang sedang merapikan beberapa lembar kertas tugas di tangannya.
Di mata Zena, Lyra adalah definisi dari mimpi buruk.
Bukan hanya karena Lyra selalu menjadi juara kelas yang diagungkan oleh seluruh guru, tetapi juga karena cowok yang diam-diam dicintainya sejak awal masuk SMA, Bima, selalu menunjukkan perhatian khusus kepada Lyra.
Bagi Zena, Lyra adalah parasit yang merampas semua perhatian yang seharusnya menjadi miliknya.
"Kau selalu saja sok suci, Lyra!" desis Zena, melangkah mendekat dengan napas memburu.
Tap, tap, tap, tap!
Kaki jenjangnya bergerak cepat hingga membentur loker di sebelahnya, menimbulkan suara berdengung nyaring.
Lyra menghentikan langkahnya, menatap Zena dengan sorot mata yang tenang dan datar.
Ia sama sekali tidak terlihat terintimidasi.
"Ada apa lagi, Zena? Kita baru saja menyelesaikan tugas kelompok, dan aku harus menyerahkannya ke meja Pak Tio."
"Tugas!" teriak Zena, suaranya menggema di lorong yang sepi.
"Itu yang selalu kau banggakan, kan? Nilai sempurna dan pujian! Kau pikir kau pintar, lalu kau berhak mengambil segalanya dari hidupku? Termasuk Bima!"
Wajah Zena memerah padam. Emosinya benar-benar telah mengaburkan akal sehatnya.
Tangan kanannya terangkat, menggenggam erat sebuah botol kaca berisi cairan kimia pekat dari ruang laboratorium yang dibiarkan tidak terkunci tadi.
Tanpa pikir panjang, Zena mengacungkan botol tersebut ke arah Lyra dengan gestur yang mengancam, berniat menyiramkan isinya untuk merusak wajah yang selalu dibanggakan banyak orang itu.
"Mati kau dengan semua kesempurnaanmu itu!" pekik Zena histeris, bersiap mengayunkan tangannya.
"Zena, hentikan! Jangan gila!" teriak sebuah suara dari arah berlawanan.
Tubuh Zena membeku. Sebelum cairan berbahaya itu terlepas dari genggamannya, sebuah bayangan melesat cepat dari balik sudut koridor.
Tap, tap, tap, tap!
Itu adalah Rian. Cowok berpostur atletis itu berlari kencang, menerjang tubuh Zena dan mendorongnya menjauh dari Lyra.
Prang!
Botol kaca tersebut terlepas dari tangan Zena dan jatuh membentur lantai keramik, pecah berkeping-keping dengan bau menyengat yang menguar tajam ke udara.
Gedebuk...
Zena jatuh terduduk di lantai, syok dan terisak hebat akibat ledakan emosinya sendiri.
Rian segera berdiri dan memastikan kondisi Zena sebelum menatap gadis itu dengan pandangan kecewa.
"Tindakanmu ini kriminal, Zena. Kau bisa celaka, dan Lyra juga bisa terluka parah. Apa yang ada di dalam kepalamu?" tegas Rian dengan suara beratnya, mencoba menenangkan situasi yang hampir berubah menjadi bencana.
Lyra mematung sejenak, terkejut melihat apa yang baru saja terjadi.
Namun, ia tidak berteriak histeris ataupun menangis.
Tap-tap-tap....
Ia mengambil langkah maju, melewati pecahan kaca yang berserakan, lalu berdiri tepat di depan Zena yang sedang menangis tersedu-sedu.
Dengan dagu terangkat dan nada suara yang sangat dingin namun terukur, Lyra bersuara.
"Dengar ini baik-baik, Zena, " ucap Lyra tegas, sorot matanya mengunci pandangan Zena dengan tajam.
"Kau membenciku karena kau merasa aku merebut perhatian Bima. Tapi asal kau tahu, aku tidak pernah sedikit pun tertarik pada Bima. Hatiku sama sekali tidak tertuju padanya. Jadi, berhentilah bertindak bodoh dan membahayakan nyawamu sendiri hanya untuk cowok yang bahkan tidak melihat ke arahmu."
Zen mendongak, air matanya berderai membasahi pipi.
Kalimat lugas Lyra seolah menampar keras egonya.
Di sisi lain, Rian yang berdiri di dekat mereka terdiam mendengar pengakuan jujur Lyra.
Ada sedikit kelegaan yang terpancar dari wajah Rian, meski ia tetap mempertahankan ekspresi seriusnya.
"Mulai detik ini," lanjut Lyra tanpa melepaskan tatapannya, "aku tidak peduli dengan apa yang kau pikirkan tentangku. Tapi jika kau berani melakukan hal berbahaya seperti ini lagi, aku tidak akan segan-segan melaporkanmu ke pihak sekolah dan polisi."
Setelah melontarkan kalimat penutup yang menohok itu, Lyra berbalik dan mengambil kembali map tugasnya yang sempat terjatuh.
Tap.. tap.. tap....
Ia melangkah pergi meninggalkan lorong, meninggalkan Zena yang tertunduk lemas dalam penyesalannya, serta Rian yang masih berdiri terpaku menatap punggung Lyra yang menjauh.
___________________
tik-tok, tik-tok...
Suara detak jam dinding di ruang Kepala Sekolah terdengar begitu nyaring di tengah keheningan yang mencekam.
Zena duduk tertunduk lesu di sofa kulit hitam, ditemani oleh kedua orang tuanya yang tampak syok dan kecewa.
Di seberang meja, duduk Lyra dengan wajah tenang, Rian yang tampak siaga, serta Pak Haris, Kepala Sekolah yang terkenal tegas.
Pak Haris menghela napas berat, memecah kesunyian sembari merapikan berkas laporan kejadian dari guru piket dan bukti sisa cairan kimia yang diamankan dari koridor.
"Tindakan yang kamu lakukan kemarin sore, Zena, sudah di luar batas kenakalan remaja," buka Pak Haris dengan nada suara yang berat dan berwibawa.
"Membawa bahan kimia berbahaya dari laboratorium tanpa izin dan berniat mencelakai teman sekelas adalah pelanggaran berat tingkat satu."
Ibu Zena mulai terisak, menggenggam tangan putrinya yang gemetar. "Pak, kami mohon maaf sebesar-besarnya. Zena anak yang baik, dia hanya sedang khilaf karena tekanan belajar..."
"Ini bukan soal khilaf karena tekanan belajar, Bu," potong Pak Haris dengan tegas namun tetap sopan.
"Jika bukan karena tindakan cepat dari Rian yang mengamankan situasi, kita mungkin sekarang tidak berada di ruangan ini, melainkan di kantor polisi atau rumah sakit."
Rian hanya mengangguk pelan, sementara Lyra tetap melipat tangannya dengan ekspresi datar.
Lyra tidak berniat memperkeruh suasana, namun ia juga tidak akan membiarkan tindakan yang mengancam nyawanya berlalu begitu saja tanpa konsekuensi hukum sekolah yang jelas.
Pak Haris kemudian beralih menatap Zena, yang sejak tadi tidak berani mengangkat wajahnya.
"Berdasarkan poin pelanggaran di buku tata tertib sekolah, tindakanmu ini mencakup tiga pelanggaran sekaligus: pencurian fasilitas sekolah, pengancaman fisik, dan tindakan membahayakan nyawa orang lain. Skor pelanggaranmu langsung melampaui batas maksimal," jelas Pak Haris sembari mengetuk jarinya di atas meja.
"Oleh karena itu, pihak sekolah memutuskan untuk menjatuhkan sanksi skorsing selama dua minggu penuh efektif mulai hari ini. Selama masa skorsing, kamu wajib mengerjakan tugas mandiri di rumah dan dilarang keras memasuki lingkungan sekolah untuk kegiatan apa pun."
Mendengar keputusan itu, Zena tersentak. Air matanya menetes ke pangkuannya.
Skorsing dua minggu berarti nilainya akan merosot tajam, dan reputasinya di sekolah akan hancur.
"Tidak hanya itu," lanjut Pak Haris tanpa kompromi.
"Setelah masa skorsing selesai, kamu diwajibkan mengikuti sesi konseling intensif dengan guru BK sebanyak dua kali seminggu selama satu semester penuh. Ini dilakukan untuk memantau kestabilan emosimu. Kami juga meminta surat pernyataan tertulis di atas meterai dari kamu dan orang tuamu, yang menyatakan bahwa jika kamu melakukan intimidasi sekecil apa pun kepada Lyra atau siswa lain di kemudian hari, kamu akan langsung dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat."
Ayah Zena mengangguk pelan, menerima keputusan tersebut dengan berat hati.
"Kami menerima keputusan sekolah, Pak. Kami akan memastikan Zena merenungkan kesalahannya dan mendapatkan pendampingan psikologis di luar sekolah juga."
Pak Haris kemudian menatap Lyra. "Lyra, apakah kamu merasa sanksi ini cukup, atau kamu dan keluarga ingin membawa kasus ini ke jalur hukum luar sekolah?"
Lyra menarik napas pendek, lalu menatap Zena yang kini sedang memandangnya dengan tatapan memohon yang penuh penyesalan.
"Saya rasa sanksi dari sekolah sudah cukup mendisiplinkan, Pak," jawab Lyra dengan suara yang jernih dan tegas.
"Saya tidak butuh dendam. Saya hanya butuh jaminan keamanan agar saya bisa belajar dengan tenang di sekolah ini tanpa ada gangguan atau ancaman fisik dari siapa pun."
Kata-kata Lyra yang dewasa itu membuat ruang kepala sekolah kembali hening.
Zena yang mendengar hal itu langsung terisak mendalam, menyadari betapa besarnya hati orang yang selama ini ia benci.
Sesi pendisiplinan ditutup dengan penandatanganan surat perjanjian.
Tap.. tap...
Zena perlahan meninggalkan ruangan didampingi orang tuanya dengan langkah gulai, bersiap menjalani konsekuensi dari api cemburu yang hampir menghancurkan masa depannya sendiri.
Bersambung~~~
Hallo guyss!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗
Jangan lupa follow akunnya, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~