NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Mansion yang Terbakar

Pemakaman Gabriel berlangsung sederhana di halaman belakang mansion Alvaro.

Hujan turun perlahan, seolah ikut mengiringi kepergian pria tua yang selama bertahun-tahun menyimpan rahasia keluarga Alvaro.

Raven berdiri tanpa payung di depan makam baru itu.

Tatapannya kosong.

"Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih," gumamnya.

Leo berdiri di sampingnya.

"Gabriel mempertaruhkan nyawanya demi memenuhi janji kepada Tuan Matteo."

Raven mengangguk pelan.

"Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanannya."

Tangannya menggenggam erat kunci emas bernomor 27.

Satu-satunya petunjuk yang kini tersisa.

Malam harinya, Raven mengumpulkan Leo, Aurora, dan Elena di ruang kerja.

"Kita berangkat besok pagi."

Aurora mengernyit.

"Ke mana?"

"Mansion lamaku."

"Kau yakin tempat itu masih ada?"

"Yang tersisa hanya puing-puing."

"Tapi ruang bawah tanahnya mungkin masih utuh."

Elena menatap Raven dengan ragu.

"Aku ikut."

"Kondisimu belum pulih."

"Aku harus melihat tempat itu lagi."

Raven akhirnya mengangguk.

"Baik."

Keesokan paginya, empat mobil hitam berhenti di depan gerbang sebuah bangunan tua yang telah hangus dimakan waktu.

Rumput liar tumbuh tinggi di antara reruntuhan.

Dinding yang tersisa dipenuhi bekas kobaran api.

Aurora memandang bangunan itu dengan perasaan pilu.

"Jadi... di sinilah semuanya bermula."

Raven tidak menjawab.

Ia melangkah perlahan melewati bekas pintu utama.

Kenangan masa kecilnya kembali memenuhi pikiran.

Suara tawa Matteo.

Elena kecil yang berlari mengejarnya.

Dan malam ketika semua kebahagiaan itu berubah menjadi lautan api.

Elena menutup matanya.

Air mata perlahan jatuh.

"Aku masih ingat aroma asap malam itu."

Aurora menggenggam tangan Elena pelan.

"Kita akan menemukan jawabannya."

Mereka akhirnya tiba di bekas ruang kerja Matteo.

Lantainya telah runtuh di beberapa bagian.

Raven mengeluarkan kunci emas.

"Gabriel bilang ruang bawah tanah masih utuh."

Leo mulai mencari pintu masuk rahasia.

Beberapa menit kemudian, salah satu penjaga berteriak.

"Tuan! Di sini!"

Di balik lemari kayu yang roboh terdapat pintu besi berkarat.

Raven memasukkan kunci bernomor 27.

Klik.

Pintu terbuka perlahan.

Udara lembap langsung menyeruak keluar.

Mereka menyalakan senter lalu menuruni tangga sempit menuju ruang bawah tanah.

Ruangan itu ternyata masih utuh.

Debu tebal menutupi seluruh perabotan.

Di sudut ruangan berdiri sebuah brankas baja besar.

Raven kembali menggunakan kunci emas.

Klik.

Brankas terbuka.

Di dalamnya terdapat beberapa map rahasia, uang tunai, emas batangan, dan sebuah kotak hitam kecil.

Raven mengambil kotak itu.

Saat dibuka, di dalamnya terdapat sebuah kaset video lama.

"Apa ini?" tanya Aurora.

Leo tersenyum.

"Kita harus memutarnya."

Mereka segera kembali ke mansion membawa semua barang tersebut.

Sore harinya, sebuah pemutar kaset tua berhasil disiapkan.

Raven memasukkan kaset itu.

Layar televisi mulai menampilkan gambar yang buram.

Perlahan muncul wajah Matteo Alvaro.

Raven langsung menahan napas.

"Raven..."

"Kalau kau sedang menonton rekaman ini..."

"...berarti aku sudah tidak ada."

Aurora menatap layar tanpa berkedip.

Matteo melanjutkan pesannya.

"Selama bertahun-tahun aku menyembunyikan satu rahasia."

"Musuh terbesar kita bukan Vittorio."

Raven mengepalkan tangannya.

"Tapi seorang pria yang kami panggil..."

Tiba-tiba gambar di layar berguncang.

Suara menjadi berisik.

Lalu...

Gelap.

Kaset berhenti berputar.

"Apa yang terjadi?" seru Aurora.

Leo memeriksa kaset itu.

Wajahnya langsung berubah.

"Bagian akhirnya sengaja dirusak."

Raven memukul meja dengan keras.

"Sial!"

Lagi-lagi mereka hanya mendapatkan setengah kebenaran.

Namun saat Leo hendak mengeluarkan kaset dari pemutar, ia menemukan secarik kertas kecil yang tersembunyi di dalam kotaknya.

Di atas kertas itu hanya tertulis sebuah alamat.

Gudang Nomor 9 – Pelabuhan Timur.

Di bagian bawahnya terdapat satu kalimat.

"Di sanalah semua pengkhianatan dimulai."

Raven menatap alamat itu dengan sorot mata tajam.

"Besok malam..."

"...kita akan ke sana."

Tanpa seorang pun sadari, dari balik jendela mansion, sesosok pria berjubah hitam sedang memperhatikan mereka.

Ia tersenyum tipis sebelum menghilang ke dalam gelap.

Seolah mengetahui bahwa Raven telah mengambil langkah yang memang diinginkannya sejak awal.

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!