NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sebelum melangkah pergi, Karin kembali menoleh. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Vina yang masih berdiri di samping Dimas.

"Vina."

"Iya?" jawab Vina dengan wajah polos, seolah tidak terjadi apa-apa.

Karin menatapnya beberapa saat sebelum berkata pelan, "Sudah berapa kali aku mengingatkanmu?"

Vina mengernyit bingung.

"Mengingatkan apa, Kak?"

Senyum tipis terukir di bibir Karin.

"Aku bukan 'Kakak' bagimu."

Senyum di wajah Vina perlahan menghilang.

"Selama kamu masih tinggal di rumahku secara gratis, panggil aku Nyonya Karin."

Suasana di sekitar mereka seketika terasa sunyi.

Vina tertawa kecil, berusaha menutupi rasa malunya.

"Nyonya?... ini kan acara resmi. Banyak tamu penting yang mengenal kita. Masa aku harus memanggil Kakak dengan sebutan 'Nyonya'? Nanti orang-orang malah merendahkanku."

Karin mengangguk pelan, seolah memahami alasan itu.

"Jadi menurutmu, status seseorang berubah hanya karena berpindah tempat?"

Vina terdiam.

Karin kembali melanjutkan dengan suara tenang, tetapi setiap katanya terdengar begitu tajam.

"Kalau di rumah aku adalah nyonyamu, lalu ketika berada di hotel ini aku berubah menjadi siapa?"

Wajah Vina mulai memerah.

"Bukan... bukan begitu maksudku."

"Lalu apa maksudmu?"

Vina refleks menoleh ke arah Dimas.

"Mas Dimas..."

Namun Dimas tetap diam. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia sadar, jika saat ini ia membela Vina, sama saja dengan mengakui di depan semua orang bahwa perempuan itu memang memiliki tempat khusus di sisinya.

Melihat Dimas memilih bungkam, Karin kembali menatap Vina.

"Dengarkan baik-baik. Statusku sebagai istri sah Dimas tidak akan berubah hanya karena malam ini kita berada di acara amal." Tatapannya semakin dingin. "Begitu juga dengan statusmu. Kamu tetap wanita yang tinggal di rumahku sebagai simpanan suamiku."

"Karin, jaga ucapanmu." Dimas refleks berbisik geram pada Karin

Namun Karin mengabaikannya. Ia masih menatap dingin Vina.

"Kamu harus ingat dimana posisimu,Vina." lanjut Karin.

Napas Vina langsung tercekat.

Beberapa tamu yang berdiri tidak jauh dari mereka mulai memperhatikan. Meski tidak mendengar seluruh percakapan, sorot mata mereka yang bergantian memandang Karin, Dimas, dan Vina membuat perempuan itu semakin gelisah.

Vina menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dengan susah payah ia menelan harga dirinya.

"Maaf... Nyonya Karin."

Karin mengangguk pelan.

"Nah, begitu lebih baik."

Ia tersenyum tipis, lalu menambahkan dengan nada yang tetap tenang.

"Mulai sekarang biasakan. Jangan sampai orang lain salah paham dan mengira kamu memiliki status yang sama denganku."

Wajah Vina seketika memucat. Jemarinya mengepal di balik gaun yang dikenakannya, menahan amarah dan rasa malu yang membuncah.

Sementara itu, Dimas hanya mampu mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan bagaimana setiap ucapan Karin mampu membuatnya tidak berkutik, sementara Vina dipermalukan tanpa bisa membalas sedikit pun.

Suasana di sekitar mereka berubah canggung. Beberapa tamu yang semula berbincang kini diam-diam melirik ke arah Vina. Meski tidak mengetahui isi percakapan mereka, raut wajah Vina yang memucat sudah cukup membuat banyak orang menebak bahwa sesuatu baru saja terjadi.

Karin tidak berkata apa-apa lagi. Ia membalikkan badan dengan tenang, lalu berjalan meninggalkan Dimas dan Vina.

Setiap langkahnya terlihat anggun dan penuh percaya diri.

Dimas memandang punggung istrinya yang semakin menjauh. Entah mengapa, malam itu ia merasa ada jarak yang begitu besar di antara mereka. Karin yang berdiri di hadapannya beberapa menit lalu bukan lagi perempuan yang selalu menuruti semua keinginannya.

Perempuan itu benar-benar berubah.

"Mas Dimas..."

Suara Vina membuyarkan lamunan Dimas.

"Mas tidak akan membiarkan dia terus mempermalukanku seperti ini, kan?"

Dimas mengusap wajahnya pelan.

"Sudahlah, Vina. Ini bukan tempat untuk membahasnya."

"Tapi semua orang tadi melihatku dipermalukan."

"Kalau kamu tidak ingin menjadi pusat perhatian, seharusnya kamu tidak memperdebatkan hal itu dari awal."

Vina membelalak tidak percaya.

"Mas sedang menyalahkanku?"

"Aku tidak menyalahkan siapa pun."

"Mas berubah."

Dimas mengembuskan napas panjang.

"Bukan aku yang berubah. Situasinya memang sedang tidak baik."

Mata Vina mulai berkaca-kaca.

"Akhir-akhir ini, Mas terus membelanya."

Dimas langsung menoleh.

"Aku tidak membelanya."

"Lalu kenapa Mas diam saat dia memperlakukanku seperti tadi?"

Karena tidak memiliki jawaban, Dimas memilih mengalihkan pandangannya.

Di sisi lain ballroom, Karin telah bergabung bersama kedua orang tuanya. Beberapa pengusaha dan tamu penting menghampiri untuk menyapa keluarga Wijaya.

"Pak Wijaya, ternyata ini putri Bapak."

"Benar. Sudah lama kami tidak melihat Nona Karin."

"Kecantikannya benar-benar menurun dari Ibunya."

Bu Wijaya tersenyum bangga.

"Terima kasih."

Pak Wijaya melirik putrinya sekilas. Melihat Karin mampu berdiri dengan tenang di tengah situasi seperti itu, hatinya dipenuhi rasa bangga sekaligus iba.

Ia baru menyadari. Putrinya ternyata telah memendam begitu banyak luka selama ini.

Saat mereka sedang berbincang, pembawa acara kembali naik ke atas panggung.

"Selamat malam, Bapak dan Ibu. Sebentar lagi acara lelang amal akan segera dimulai. Kami mengundang seluruh tamu untuk menempati kursi yang telah disediakan."

1
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!