NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:58.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Obrolan Keluarga

Lampu-lampu kristal di ruang makan memancarkan cahaya lembut yang menerangi meja makan panjang. Berbagai hidangan tersaji rapi di atas meja. Aroma masakan rumahan memenuhi ruangan.

Di kursi utama duduk Bimo Ardhana, sementara di sebelahnya Sifa. Di hadapan mereka, Jovian sedang menikmati makan malam setelah seharian bekerja. Sedangkan Jihan, tampak sibuk memainkan garpu sambil sesekali mencuri makanan dari piring kakaknya.

"Hei!" Jovian langsung menepis tangan jahil adiknya.

Jihan tertawa. "Cuma satu udang doang, Kak."

"Satu udang lama-lama satu piring."

"Masa calon direktur pelit sama adiknya sendiri?"

"Calon direktur juga punya hak hidup."

Bimo yang melihat tingkah kedua anaknya hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.

Beberapa saat mereka makan dalam suasana santai sebelum akhirnya Bimo meletakkan sendok dan garpunya. "Jo."

Jovian mengangkat kepala. "Iya, Pa?"

Tatapan Bimo terlihat serius. "Papa mau tanya sesuatu." Jovian langsung memperhatikan. "Soal Jena," lanjutnya.

Nama itu membuat Sifa dan Jihan ikut menoleh.

"Ada apa, Pa?" tanya Jovian.

Bimo menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalian sudah sembilan tahun bersama, kan?"

Jovian mengangguk. "Iya."

"Dan sampai sekarang hubungan kalian baik-baik saja?"

"Baik."

Bimo kembali bertanya. "Kamu serius dengan Jena?"

Pertanyaan itu membuat suasana meja makan sedikit berubah. Jovian meletakkan alat makannya lalu menjawab tanpa ragu. "Sangat serius."

Bimo memperhatikan putra sulungnya beberapa detik. "Bukan sekadar hubungan yang dijalani karena sudah lama?"

"Tidak, Pa."

"Lalu?"

Jovian tersenyum kecil. "Aku mencintainya."

Jawaban singkat itu membuat Bimo mengangguk pelan. "Bagus." Pria paruh baya itu lalu melanjutkan, "Papa hanya ingin memastikan. Karena hubungan selama sembilan tahun bukan waktu yang sebentar. Kalau memang serius, jangan gantung perempuan terlalu lama."

Jovian terdiam sesaat. Kalimat itu tepat mengenai apa yang selama ini ada di pikirannya. Sembilan tahun. Waktu yang tidak sebentar untuk seorang wanita menunggu. "Aku tahu, Pa." Bimo menatap putranya. "Dan?" Jovian menghela napas pelan. "Aku memang sedang memikirkan masa depan kami."

Mata Bimo sedikit menyipit. "Memikirkan atau sudah merencanakan?"

Jovian hanya tersenyum misterius.

Hal itu langsung membuat Bimo mengerti. "Ooh ..."

Sementara itu, Sifa yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. "Kalau Mama boleh kasih pendapat ..."

Jovian menoleh. "Iya, Ma."

Sifa menyeka bibirnya dengan tisu sebelum berkata, "Jangan terburu-buru."

Jovian mengernyit. "Maksud Mama?"

"Kamu masih muda."

Jovian langsung tertawa kecil. "Masih muda gimana, Ma. Umurku udah mau dua lima."

"Itu masih muda banget, Nak."

"Mama."

Sifa tetap terlihat tenang. "Menikah itu bukan cuma soal cinta. Setelah menikah, akan ada banyak hal yang berubah. Tanggung jawab bertambah. Prioritas berubah. Belum nanti kalau sudah punya anak."

Jovian mendengarkan dengan saksama. "Apa Mama kurang setuju kalau aku menikah dengan Jena?" tanyanya hati-hati.

Sifa langsung menggeleng. "Mama setuju kok."

Jawaban itu membuat Jovian lega.

"Mama cuma ingin kamu benar-benar siap. Mama tidak mau kamu menikah hanya karena terburu-buru oleh hubungan yang sudah lama. Pikirkan dengan baik, Jo. Menikah itu bukan permainan."

Jovian mengangguk pelan. "Aku mengerti."

Belum sempat percakapan berlanjut, Jihan yang sedari tadi mendengarkan tiba-tiba ikut menyela. "Nah itu!" Semua mata langsung tertuju padanya. Jihan menelan makanannya terlebih dahulu sebelum berkata, "Aku setuju sama Mama."

Jovian mengangkat sebelah alis. "Kapan aku minta pendapatmu?"

"Kakak nggak minta, tapi aku kasih gratis."

"Baik sekali," cibir Jovian.

Jihan terkekeh. "Lagian bener, Kak." Gadis remaja itu lalu menunjuk kakaknya dengan garpu. "Menikah itu bukan untuk satu atau dua tahun."

"Terus?"

"Kakak harus pikirkan matang-matang."

Jovian menyandarkan tubuhnya sambil menahan senyum. "Nasihat dari anak SMA?"

"Jangan remehkan anak SMA."

Bimo dan Sifa sampai ikut tersenyum mendengar itu. Jihan melanjutkan dengan gaya sok dewasa. "Nanti kalau sudah menikah, Kakak harus siap menghadapi pasangan setiap hari."

"Hm."

"Pas Kak Jena lagi ngambek."

"Hm."

"Lagi badmood."

"Hm."

"Lagi PMS."

Seketika Jovian tersedak air minumnya. "Uhuk! Uhuk!"

Bimo langsung tertawa keras. Sedangkan Sifa menepuk lengan putrinya. "Jihan!"

"Apa? Aku cuma menyampaikan yang aku tahu."

Jovian mengusap dadanya yang masih tersedak. "Kamu ini dapat ilmu dari mana sih?"

"Dari internet."

"Pantes."

Jihan tertawa puas melihat kakaknya kesulitan menjawab. Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah lebih serius. "Tapi aku serius, Kak." Jovian menatap adiknya. "Aku tahu Kak Jovian sayang banget sama Kak Jena." Kalimat itu membuat Jovian sedikit terdiam. "Dan aku juga tahu Kak Jena sayang sama Kakak." Jihan tersenyum kecil. "Tapi semua itu nggak cukup. Pokoknya pesanku ... pikirkan lagi dengan kepala dingin dan sungguh-sungguh. Jangan sampai baru dua bulan menikah ... udah cerai lagi. Ihhh ... takut!" Gadis itu bergidik.

Ucapan itu membuat suasana meja makan mendadak hening.

Jovian tertegun. Ia bertanya pada dirinya sendiri dalam hati. "Apakah Jena benar-benar jodohku? Apakah jika aku dan dia menikah dalam waktu dekat, rumah tangga kami akan berjalan mulus?" Mendadak rasa bimbang itu muncul dalam benak Jovian. Mengingat akhir-akhir ini, ia dan Jena selalu terlibat cekcok.

***

Jena baru saja keluar dari apartemennya setelah berganti pakaian yang lebih santai. Setelah seharian bekerja dan berbagai kejadian yang menguras emosi, ia merasa malas memasak ataupun memesan makanan secara online. Yang ia inginkan malam ini hanya satu, pecel ayam. Makanan sederhana yang selalu berhasil memperbaiki suasana hatinya.

Jena tersenyum kecil sambil mengunci pintu apartemen. Udara malam terasa cukup sejuk. Lampu-lampu jalan mulai menyala, sementara kendaraan masih lalu-lalang meski tidak seramai sore tadi.

Karena warung langganannya tidak terlalu jauh, Jena memutuskan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, pikirannya kembali melayang pada percakapannya dengan Jovian saat makan siang tadi.

Ajakan ke Jepang.

Senyum Jena tanpa sadar mengembang.

"Semoga kali ini benar-benar jadi." Ia lalu menggeleng sendiri. "Ya ampun, Jena. Baru diajak liburan aja udah senyum-senyum sendiri."

Beberapa menit kemudian, langkahnya berhenti di sebuah warung pecel kaki lima yang cukup ramai di pinggir jalan.

Aroma ayam goreng yang baru diangkat dari penggorengan langsung menyambutnya. Beberapa pelanggan terlihat sedang menikmati makan malam. Ada pengemudi ojek online, pekerja kantoran yang baru pulang, hingga keluarga kecil yang duduk bersama di bangku panjang.

Jena menyukai suasana seperti itu.

Hangat, sederhana dan terasa hidup. Mengingatkan dia pada kenangan bersama mendiang kedua orang tuanya.

Begitu melihatnya datang, pemilik warung langsung tersenyum ramah.

"Lho, Mbak Jena. Lama nggak kelihatan."

Jena tersenyum balik. "Iya, Pak. Lagi banyak banget kerjaan. Lembur terus."

Pemilik warung mengangguk. "Mau menu seperti biasa?"

"Iya."

Pemilik warung mengangguk lagi. "Satu nasi pecel ayam ya?"

Giliran Jena yang mengangguk. "Tambah es teh manis, Pak."

"Siap."

Jena lalu memilih duduk di salah satu meja kosong yang berada di dekat trotoar. Angin malam berembus pelan, menggerakkan beberapa helai rambutnya.

Sambil menunggu pesanan datang, Jena memperhatikan suasana sekitar. Sesekali terdengar suara klakson kendaraan. Ada pula suara anak-anak yang masih bermain di halaman rumah dekat warung. Entah kenapa, suasana sederhana seperti ini selalu membuatnya merasa nyaman.

Tidak ada tekanan pekerjaan.

Tidak ada rapat.

Tidak ada target perusahaan.

Hanya dirinya dan malam yang tenang.

Tak lama kemudian, sepiring nasi pecel ayam hangat datang.

Ayam goreng berwarna keemasan tampak begitu menggugah selera. Di sampingnya terdapat sambal, lalapan segar, serta nasi putih yang masih mengepulkan uap. "Nih, Mbak."

"Wah, terima kasih, Pak." Jena langsung menyatukan kedua telapak tangannya sebentar. "Selamat makan untuk diriku sendiri." Ia tertawa kecil lalu mulai menyantap makanannya. Gigitan pertama langsung membuat matanya sedikit membesar. "Hmm ..." Rasanya persis seperti yang ia rindukan. "Enak banget." Untuk beberapa saat, Jena benar-benar menikmati makan malamnya tanpa memikirkan apa pun.

Namun ketika tangannya meraih gelas es teh, layar ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba menyala. Satu pesan masuk dari Jovian.

Jena refleks tersenyum sebelum membukanya.

Mas Jovian: Sudah makan malam belum, Sayang?

Senyum di wajah Jena semakin lebar. Ia memotret sepiring nasi pecel ayam di hadapannya lalu mengirimkannya. "Aku lagi makan nasi pecel ayam favoritku."

Tidak sampai satu menit, balasan masuk. "Kok nggak ngajak?"

Jena terkekeh. "Bukannya tadi siang sudah makan bareng?"

Mas Jovian: Kalau sama kamu, tiga kali sehari juga nggak bosan.

Jena langsung menggeleng sambil menahan senyum malu. "Dasar gombal." Jena merasa, Jovian kembali seperti dulu. Perhatian dan romantis. "Semoga tak ada lagi masalah yang datang menghampiri hubunganku dan Jovian," gumamnya lalu melanjutkan makan malamnya.

1
partini
ortumu mah Very good 👍
Asphia fia
lanjut thor update LBH byk lg💪
Nining Sariningsih
wah orang tua yang bijak,,,,,gak kayak keluarga si Jovan yang tonik,cocok thoorrrrrr kalau jena dapat keluarga kayak keluarga pak Trisno ma bunda Laila aku doa in mudah2an jodohnya jena,,,,,semangat thooorrr💪💪💪
Ama Apr: Aamiin, makasih kk🫰
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
namanya unik loh...Obi alias mas Toto 😅
Ama Apr: hahaha, berarti bs aja 2 orh yg beda🤭
total 3 replies
Dartihuti
masya'allah betul ortu yg bijak ...kebahagian yg hakiki lbh utama dr pd gelimangan harta tp hati terasa hampa...harta bisa di cari bersama kebahagian gk akan mampu di beli dng semua yg harta punya aaa...betul " 👍pak Trisnoudah maruk dqn nafsu harta apapun susah tuk menyadarkan kl org dah egois bin srakah
Ama Apr: kan, masih ada orkay yg bijak🫰
total 1 replies
Yeni Astriani
Bimo belum tahu saja kalau Mas Toto itu Obi laki2 yg direndahkan derajat nya oleh anak istrimu kalau ketemu pasti menolak 100%, sebab kelakuan anak istrinya, dan untuk Jihan belum tentu dia masih perawan siapa tau udah jebol duluan melihat pergaulan nya saja begitu sama kaya Michelle
Ama Apr: hihi, kena mental mereka🤣
total 1 replies
partini
wah ternyata ga mulus ya pak Bimo mua main curang Tah jangan" Bimo kepikiran menjebak biar tangung jawab macam obat perangsang mungkin setalah tau siapa anak pak Tris tentu nya
pak Tris ortu yg 👍
Ama Apr: hehe, iya kk
total 3 replies
Andriyati
aku rasa dia punya gangguan mental,,
Ama Apr: michelle kk?
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
terlalu berambisi pengen jodoh in anak nya sama keluarga konglomerat 😏
Ama Apr: betul kk
total 3 replies
Oma Gavin
jangan mau pak trisno temen mu itu licik matre dan sombong
Ama Apr: hoho iya
total 1 replies
Eneng Farida
aduh beneran bkn toto kan anak pak tresno?
Ama Apr: kita lihat nanti
total 1 replies
Dartihuti
Percaya deh dng crita Nikita kl sikap Pak Trisno lbh bijak gk seegois main trima si Bimo main asal jodohi anak hanya buat urusan bisnis...jg bisa bedain sikap org tulus apa fulus
Ama Apr: yap, betull
total 1 replies
partini
semoga ga Jena sama Niki kedepannya ga ada masalah takut nya cinta bertepuk sebelah kaki wehhh🤦
pak Bimo to the point sekali wehhh
pak tri responnya seperti apa yah penasaran langsung gas atau seak seok
Ama Apr: hehe, besok y kk
mau up lagi, nggak keburu🤣
total 3 replies
Amy
semoga pak trisno nggak mau jodohin anaknya sama jihan,,,,tolak mentah2 aja
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
Dartihuti
Diiih...nafsu amat ingin c4 berbesan orang kaya biar + bonafit biar di pang tak terkalahkan gk tahu tar sok ...Pak Tridno mang kayak anda tuan Bimo yg gila akan sumber kekayaan hingga meremehkan org
Ama Apr: kita buktikan, apa trisno sm gila harta
total 1 replies
Oma Gavin
weleh ngarep banget anaknya bisa tunangan sama anak pak trisno yg sudah kesengsem sama jena jgn harap bisa yg ada kamu terkejut setelah tau jena kerja di perusahaan pak trisno
Ama Apr: hahaha
total 1 replies
partini
sat set sekali mau di jodohin,aihhh ga jadi mendoakan kamu jadi mantu pak tri Jen 🤭
Ama Apr: belum tentu pk tris nya mau🤭
total 1 replies
Yeni Astriani
semoga pak Trisno menolak perjodohan itu sama Jihan jangan Terima keluarga sombong☺☺☺
Ama Apr: wkwkwk, aamiin
total 1 replies
Kota Tegalan
PD BANGET si Bimo 🤣🤣🤣🤣 yg ada ntarr Jihan mewek 😆
Ama Apr: ketawain aja kk
total 1 replies
Dartihuti
Moga di mudahkan ya Jena...
Pak Trisnonya terkesan dng prilaku jg kinerjamu...begitu jg Authour nya🥰
Ama Apr: aamiin, makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!