NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21_Angkot tengah malam part akhir

"Aku tidak mau!" teriak Raka. Wajahnya memucat, matanya membelalak penuh ketakutan, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat.

"Kamu tidak punya pilihan..." jawab sopir itu. Ratusan wajah di tubuhnya tersenyum bersamaan, sementara suara tawanya menggema dari segala arah.

"Raka! Jangan duduk di kursi itu!" teriak Dimas. Wajahnya dipenuhi kepanikan, alisnya berkerut tajam, sementara tangannya berusaha meraih sahabatnya.

Namun pintu angkot telah terkunci.

Brak!

Dimas memukul-mukul pintu.

"Buka! Tolong buka!" teriaknya histeris. Air matanya mulai mengalir, sementara napasnya memburu.

Angkot tidak berhenti. Mesinnya meraung semakin keras.

Kreeeek... Kreeeek...Kreeeek...

Jalanan di luar perlahan berubah. Pepohonan menghitam. Lampu jalan menghilang. Kabut berubah menjadi sosok-sosok manusia tanpa wajah yang berdiri berjajar di sepanjang jalan.

Mereka semua melambaikan tangan ke arah angkot. Seolah sedang menyambut penumpang baru.

Raka menelan ludah.

"Ini... ini bukan jalan kota..." ucapnya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi kengerian, sementara bola matanya terus bergerak mencari jalan keluar.

Sopir itu tertawa.

"Tentu bukan..." katanya pelan. Seluruh wajah di tubuhnya ikut tersenyum lebar. "Ini jalan menuju tempat orang-orang yang tidak pernah pulang."

Seketika seluruh penumpang membuka mata mereka. Mata yang tadi kosong kini berubah merah menyala. Serempak mereka menoleh ke arah Raka.

"Duduk..." bisik mereka bersamaan. Senyum mereka melebar hingga hampir menyentuh telinga.

"Duduk..."

"Duduk..."

"Duduk..."

Suara itu semakin keras. Menggema di dalam kepala Raka.

Tangannya bergerak sendiri. Kakinya melangkah perlahan menuju kursi bertuliskan namanya.

"Tidak..." bisik Raka. Wajahnya dipenuhi keputusasaan, sementara air matanya mulai jatuh. Namun tubuhnya sudah tidak bisa dikendalikan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Tangannya hampir menyentuh sandaran kursi.

Tiba-tiba...

BRAAAK!!

Kaca samping angkot pecah. Pak Wiryo melompat masuk sambil membawa segenggam garam kasar dan seutas tasbih tua.

"Jangan sentuh kursinya!" bentak Pak Wiryo. Wajahnya tegang, sorot matanya penuh keberanian meski tubuhnya gemetar. Ia segera melempar garam ke arah sopir.

Ssssss...

Tubuh makhluk itu mengepulkan asap hitam.

Seluruh wajah yang menyatu di tubuhnya menjerit bersamaan.

"AAAAAAHHHHH!" Suaranya membuat telinga semua orang berdenging.

Angkot berguncang hebat. Lantai bergetar.

Atap mulai retak.

"Pak... itu apa?!" teriak Dimas. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar hebat.

Pak Wiryo menggenggam tasbihnya.

"Dia bukan hantu biasa..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa takut. "Dia adalah kumpulan arwah yang dikutuk untuk terus mencari pengganti."

Makhluk itu perlahan berdiri. Tubuhnya semakin tinggi. Hampir menyentuh atap angkot. Ratusan wajah di tubuhnya menangis. Tertawa. Berteriak. Bersamaan.

"Kalian terlambat..." katanya. Suaranya terdengar seperti ribuan orang berbicara dalam satu mulut.

Tiba-tiba...

Seluruh lampu angkot mati. Gelap. Sangat gelap. Hanya suara napas yang terdengar.

Lalu...

Sesuatu menyentuh bahu Raka. Dingin. Sangat dingin.

Ia menoleh perlahan. Di sampingnya berdiri seorang anak kecil. Wajahnya hancur. Kepalanya penyok.Matanya menggantung.

"Kak..." bisik anak itu. Wajahnya menampilkan senyum yang tidak wajar. "Aku belum sempat pulang..."

Belum sempat Raka menjawab...

Puluhan tangan keluar dari bawah kursi. Mereka memegang kaki Raka Mencengkeram semakin kuat.

"Tarik dia..." bisik seluruh penumpang. "Dia penggantinya..."

Raka menjerit sekuat tenaga.

"Tolong!!" teriaknya. Wajahnya dipenuhi ketakutan luar biasa.

Pak Wiryo segera menarik Raka. Dimas ikut membantu. Namun tangan-tangan itu semakin banyak.

Bukan puluhan lagi. Melainkan ratusan. Semuanya keluar dari bawah lantai angkot. Seperti akar pohon yang hidup.

Pak Wiryo memejamkan mata. Ia membaca doa dengan suara lantang. Tasbih di tangannya tiba-tiba memancarkan cahaya putih.

Makhluk itu menggeram marah.

"Berhenti!!" bentaknya. Seluruh wajah di tubuhnya berubah mengerikan.

Cahaya semakin terang. Seluruh penumpang mulai menjerit. Tubuh mereka perlahan berubah menjadi abu.

Satu per satu menghilang. Angkot bergetar semakin keras. Retakan muncul di seluruh badan kendaraan.

"Keluar sekarang!!" teriak Pak Wiryo. Wajahnya memerah karena menahan tenaga.

Raka dan Dimas melompat keluar.

Pak Wiryo ikut melompat tepat ketika...

DUAAAAAR!!

Angkot itu meledak tanpa api. Tubuhnya berubah menjadi debu hitam. Kabut langsung menghilang. Jalan kembali sepi.

Tidak ada angkot. Tidak ada penumpang.

Tidak ada sopir. Hanya keheningan.

Raka terjatuh sambil terengah-engah.

"Sudah selesai?" tanyanya. Wajahnya masih dipenuhi rasa takut.

Pak Wiryo tidak menjawab. Ia hanya menatap telapak tangan Raka.

Di sana... Muncul cap hitam berbentuk setir angkot.

Pak Wiryo langsung membeku.

"Kenapa, Pak?" tanya Dimas. Wajahnya dipenuhi kecemasan.

Pak Wiryo menarik napas panjang.

"Kutukannya belum hilang..." ucapnya lirih. Wajahnya kembali pucat. "Dia sudah memilih

pemilik berikutnya."

Raka menatap telapak tangannya. Cap itu perlahan menghitam. Lalu terdengar suara mesin dari kejauhan.

Kreeek... Kreeek... Kreeek...

Padahal jalan itu sudah kosong.

Beberapa hari kemudian... Raka berusaha melupakan semuanya.

Ia pindah kota. Mengganti pekerjaan. Menghapus semua foto malam itu. Namun setiap malam, tepat pukul 23.58 WIB... Ia selalu mendengar suara rem angkot berhenti di depan rumahnya.

Ciiit...

Disusul tiga ketukan di pintu.

Tok... Tok... Tok...

Setiap kali Raka mengintip dari jendela... Tidak pernah ada siapa pun. Hanya sebuah kursi angkot tua yang berdiri sendiri di halaman. Dengan tulisan yang perlahan berubah. Awalnya bertuliskan...

RAKA

Lalu berganti menjadi...

SOPIR

Suatu malam, suara itu tidak lagi berhenti di depan rumah. Melainkan terdengar tepat di dalam ruang tamunya.

Kreeek...Kreeek...Kreeek...

Raka keluar dari kamar dengan tubuh gemetar. Ruang tamunya telah berubah menjadi bagian dalam angkot tua. Seluruh dinding rumah lenyap.

Di hadapannya berdiri makhluk tanpa wajah itu. Kini tubuhnya perlahan hancur menjadi abu. Ia menunjuk Raka.

"Giliranmu..." bisiknya. Suaranya sangat pelan, tetapi terdengar jelas di telinga Raka. Wajah-wajah di tubuhnya tersenyum penuh penderitaan.

Dalam sekejap...

Seluruh tubuh makhluk itu runtuh. Dan abu

hitamnya masuk ke dalam tubuh Raka.

Raka menjerit.

Matanya berubah hitam pekat. Kulit wajahnya mulai menghilang. Sedikit demi sedikit...Wajahnya lenyap.

Esok paginya...

Warga kembali melihat angkot hijau tua melintas di jalan lama yang sudah puluhan tahun ditutup.

Lampunya berkedip. Pintunya terbuka perlahan. Di balik kemudi duduk seorang sopir baru.

Ia mengenakan jaket yang sangat dikenali warga. Jaket milik Raka.

Di bawah topinya... Tidak ada wajah. Hanya kulit kosong. Setiap malam pukul 23.58 WIB...

Angkot itu kembali berhenti di halte tua. Menunggu seseorang yang terlambat pulang.

Dan jika pintunya terbuka untukmu...

Jangan pernah naik. Karena mungkin...

Kursi yang masih kosong...

Sudah bertuliskan namamu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!