NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: SOROT LAMPU DI ATAS LUKA

Waktu terus berjalan membelah takdir, membawa Aini melangkah semakin jauh meninggalkan puing-puing masa lalu yang telah lama runtuh. Pagi itu, atmosfer di dalam kamarnya dipenuhi oleh semangat baru yang membara. Di depan cermin besar, Aini mematangkan penampilannya untuk memenuhi undangan penting dari pihak rumah produksi di pusat kota provinsi.

Bukan lagi setelan kaku, hari ini dia memilih tampil modis namun tetap memancarkan wibawa yang tinggi. Aini mengenakan celana levis cutbray premium berwarna gelap yang jatuh dengan sangat apik membungkus kaki jenjangnya, dipadukan dengan blazer berwarna biru muda yang tegas dengan dalaman kaus putih bersih.

Sebagai penyempurna, selembar hijab dengan warna yang senada dililitkan dengan teramat rapi di lehernya. Saat Aini mengukir senyuman tipis di depan cermin, sebuah lesung pipi yang manis perlahan tenggelam di pipi sebelah kirinya—sebuah pesona murni yang sudah satu tahun lamanya terkubur oleh air mata kesedihan, dan kini telah kembali pulang ke pemiliknya.

Setelah merasa penampilan nya sudah pas, Aini juga menyiapkan beberapa helai pakaian untuk persiapan Aini saat di sana.

Aini melangkah keluar dari kamar menuju ruang tengah, di mana Bapak Farhan dan Ibu Naya sudah duduk menunggu dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa bangga. Aini mengambil tempat duduk di dekat kedua orang tuanya, menarik napas dalam untuk memulai obrolan yang cukup serius mengenai keberangkatannya.

"Ayah, Ibu..." panggil Aini lembut, seulas senyuman manis memperlihatkan lesung pipi kirinya.

"Keberangkatan Aini ke pusat kota kali ini sepertinya akan memakan waktu yang lumayan lama. Karena proses pra-produksi, pembacaan naskah, hingga proses syuting web series novel Aini akan segera dimulai, kemungkinan Aini akan menetap di sana selama satu atau dua bulan ke depan. Aini mohon doa restu dari Ayah dan Ibu agar semua urusan Aini di kota berjalan dengan lancar."

Ibu Naya menghentikan gerakannya, menatap wajah putrinya dengan binar mata yang berkaca-kaca menahan haru. Beliau meraih jemari Aini, mengusapnya dengan kelembutan seorang ibu kandung.

"Pergilah dengan hati yang lapang, anakku. Doa Ibu akan selalu mengalir di setiap embusan napasmu. Satu atau dua bulan bukanlah waktu yang lama jika dilewati dengan kesuksesan. Jaga kesehatan dan kehormatanmu di kota orang, ya Nak."

Bapak Farhan pun mengangguk pelan, memberikan tatapan perlindungan yang kokoh.

"Bapak rida, Nak. Pergilah jemput takdir barumu. Rumah ini akan selalu terbuka lebar untuk menyambut kepulanganmu sebagai wanita yang menang melawan badai," ujar Bapak Farhan dengan suara kebapakan yang berwibawa.

Setelah berpamitan dan memeluk erat keluarganya, Aini melangkah keluar menuju pekarangan rumah, di mana sebuah mobil operasional resmi dari pihak agensi rumah produksi sudah terparkir rapi untuk menjemput sang penulis besar.

Sementara itu, di sebuah warung kopi yang cukup ramai di sudut Pesisir Selatan, Arman sedang duduk bersama teman-teman tongkrongannya. Suasana yang tadinya biasa saja mendadak terusik saat salah satu temannya yang bernama Rudi meletakkan gelas kopinya dengan heboh sambil menatap layar ponsel.

"Eh, Man! Man! Kamu sudah lihat berita yang lagi viral sekarang belum?" tanya Rudi antusias, matanya tidak lepas dari layar HP.

"Ini tentang mantan istrimu, si Aini! Gila, dia sekarang sukses besar, Man! Masuk TV sebagai penulis yang lagi naik daun. Novelnya meledak dan mau difilmkan jadi serial besar. Bukan cuma di TV, wajah cantiknya Aini sekarang ada di mana-mana! Di Google, YouTube, TikTok, Facebook, sampai Instagram semuanya bahas dia!"

Jantung Arman seketika berdegup kencang, darahnya berdesir dingin. Tanpa basa-basi, dia langsung menarik paksa ponsel yang ada di tangan Rudi.

"Wah, hebat banget mantan istrimu itu, Man," sambung Rudi tanpa sadar telah menyulut api di dada temannya.

Arman mulai membaca gambaran sinopsis cerita novel yang tertera di layar tersebut. Rasa penasarannya memuncak, namun seiring matanya menyusuri baris demi baris kata, dadanya mulai terasa sesak.

“Sinopsis ini... kenapa mengarah pada cerita rumah tanggaku dulu bersama Aini?” bisik batin Arman gelisah.

Didorong oleh rasa penasaran dan kecemasan yang membakar dada, Arman diam-diam mengunduh aplikasi novel digital tersebut di HP-nya sendiri. Dengan tangan gemetar, dia mulai membuka Bab 1 dan Bab 2 dari novel "luka dalam rumah tangga". Seketika itu juga, air mata tak kasat mata bagai menghunjam ulu hatinya. Arman dapat merasakan penyesalan yang teramat pekat.

“Sesakit ini kah rasanya menjadi seorang Aini selama ini?” rintihnya dalam hati.

Meskipun semua nama karakter di dalam novel tersebut telah disamarkan, namun seluruh alur ceritanya persis, sebiji sawi pun tidak ada yang berbeda dari sejarah kelam rumah tangganya dulu. Hati Arman mencelos, terasa sakit melihat perannya disamarkan menjadi nama orang lain namun dengan watak yang begitu buruk. Ternyata, selama ini dia sekejam itu. Kata 'kejam' dan 'pelit' seolah berputar-putar menghantam isi kepalanya hingga dia bengong menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.

Puk!

Rudi menepuk pundak Arman, memecah lamunannya.

"Hahaha! Kenapa kamu bengong begitu, Man? Menyesal ya?" canda Rudi dengan tawa ringannya.

"Andai Aini itu dulu istriku, pasti aku tidak akan sudi menceraikannya. Sudah cantik, pintar, mandiri, kaya lagi sekarang."

Percakapan di warkop itu sukses menghantam kesadaran Arman setelak-telaknya. Dia tertunduk dalam, menyadari sebuah kebenaran pahit bahwa selama ini dialah yang egois, dialah yang jahat, dan ibunyalah yang teramat kejam telah menghancurkan wanita setulus Aini.

Di sisi lain, di dalam rumah Arman, Ibu Rosita dan kakak-kakak perempuan Arman ternyata juga sedang berkumpul menatap layar televisi yang menayangkan berita hangat tentang kesuksesan Aini. Mereka semua terkejut bukan main. Mereka sadar bahwa penggambaran karakter mertua dan ipar di dalam novel yang viral itu terasa teramat kejam dan mirip dengan kelakuan mereka dulu. Namun, dasar hati yang keras, Ibu Rosita dan anak-anak perempuannya mencoba untuk bersikap bodo amat dan menutupi rasa malu mereka.

"Alah, biar sajalah! Toh, nama di dalam novel itu disamarkan semua, kan? Orang-orang kampung juga tidak akan ada yang tahu kalau itu cerita kita. Bodo amatlah, tidak usah dipikirkan!" cetus Ibu Rosita dengan nada ketus, mengibas tangannya di udara mencoba mengusir rasa bersalah yang sempat mengintip hatinya. Kakak-kakak perempuan Arman pun mengangguk setuju, memilih bermuka tembok demi menyelamatkan gengsi mereka yang sebenarnya sudah mulai retak.

Delapan jam perjalanan berlalu dengan cepat, dan mobil operasional akhirnya berhenti tepat di depan gedung pencakar langit megah milik agensi perfilman terbesar di pusat kota provinsi. Aini turun dengan langkah tegap, celana levis cutbray dan blazer birunya bergerak anggun memancarkan pesona wanita sukses.

Aini melangkah masuk ke dalam lobi mewah, berniat menuju lantai atas untuk menghadiri rapat. Dia berjalan menuju deretan lift dan menekan tombol ke atas. Saat sebuah lift berdenting terbuka, Aini langsung melangkah masuk tanpa curiga. Namun, Aini sama sekali tidak menyadari bahwa lift yang dimasukinya adalah lift khusus yang memiliki privasi ketat.

Tepat sebelum pintu lift menutup, dua orang pria melangkah masuk. Pria yang berada di depan bertubuh jangkung, mengenakan setelan jas formal yang teramat mahal, bersih, dan memancarkan aura keteduhan yang sangat kuat namun sarat akan wibawa yang dingin menjalar. Dia adalah Arka Mahesa Pratama 35 tahun, presdir pengusaha terbesar di dunia yang terkenal dengan sifatnya yang sedingin es, kejam dalam bisnis, disiplin tinggi, tidak suka diusik, dan teramat benci pada orang yang tidak mematuhi peraturan. Di belakangnya, berdiri Arga, sang asisten pribadi yang selalu siaga.

Saat melihat ada orang asing—seorang wanita—berada di dalam lift pribadinya, Raditya seketika menolehkan kepalanya. Tatapan matanya yang tajam dan dingin menatap Aini, bersiap untuk mengusir siapa pun yang berani melanggar wilayahnya. Namun, gelombang amarah di dada Arka mendadak tertahan di tenggorokan. Saat netranya menatap wajah Aini, ada rasa sejuk dan teduh yang tiba-tiba menenangkan pikirannya, membuat ketegasannya sedikit goyah untuk pertama kali.

"Sepertinya wanita ini tidak berasal dari kota ini" batin Arka

Aini yang mendadak ditatap secara intens oleh pria asing berkemeja mewah itu bukannya merasa bersalah atau takut. Sebaliknya, ego dan harga diri Aini yang tinggi merasa terusik. Dia merasa pandangan mata pria itu teramat tidak sopan.

"Eh, apa kamu lihat-lihat? Dasar pria hidung belang! Kamu mau cabul ya" ketus Aini dengan berani, menatap balik Raditya dengan pandangan mata yang menantang penuh ketegasan, lengkap dengan lesung pipi kirinya yang berkedut sinis.

Mendengar bos besarnya diteriaki "pria hidung belang" oleh seorang wanita asing, Arga sang asisten langsung melotot kaget. Dia lirik-melirik dengan Arka yang wajahnya masih datar namun matanya menyipit dingin. Arga segera melangkah maju untuk menegur Aini.

"Dasar kampungan" lantang Arka nyaris tak terdengar.

"Apa kamu bilang? Kurang hajar mulut busuk mu itu yang kampungan" balas Aini tak mau kalah.

Arka menarik napas dan melepas kasar, menatap Aini tak percaya, selama ini siapa yang berani padanya, bahkan sekedar menatap wajah nya saja orang tak berani.

Merasa ketenangan bos nya terusik Arga buka bicara.

"Maaf, Anda salah masuk lift. Ini adalah lift khusus untuk Bapak Arka. Anda sudah salah masuk, malah bicara tidak sopan kepada atasan saya," tegur Arga dengan nada suara yang tegas dan menuntut rasa hormat.

Aini melipat kedua tangannya di depan dada, sama sekali tidak gentar. "Hah? Khusus? Memangnya kalian ini siapa, sok-sokan pakai lift khusus segala? Aneh sekali!" balas Aini tak kalah ketus, menganggap peraturan itu terlalu berlebihan.

Arga yang merasa harga diri bosnya diinjak-injak baru saja hendak membuka mulut untuk memberikan pelajaran keras dan mengusir Aini keluar, namun gerakan tangan Arka yang terangkat di udara seketika menghentikan langkah Arga. Walaupun kesal Arka memilih diam, membungkus dirinya dalam keheningan dingin tanpa berniat membalas ucapan ketus wanita di sebelahnya. Sikap tenang namun mematikan dari Arka membuat Arga terpaksa mundur dan menahan diri.

Ting!

Lift berdenting nyaring menandakan telah sampai di lantai tujuan rapat Aini. Pintu besi terbuka lebar. Tanpa ekspresi bersalah atau takut sedikit pun, Aini mengayunkan langkah kaki celana levis cutbray-nya keluar dari lift dengan kepala tegak, meninggalkan dua pria penguasa ekonomi itu dalam keheningan kotak besi.

Setelah Aini menghilang, pintu lift kembali tertutup rapat, membawa Arka naik ke lantai tertinggi menuju urusan besarnya sendiri dengan ingatan tentang wajah teduh sang wanita yang kini telah tertanam di kepalanya.

Sebab, badai takdir yang paling besar sering kali dimulai dari sebuah ketukan yang salah alamat di dalam lift yang sunyi; membuktikan bahwa saat kamu berdiri dengan harga diri yang kokoh, pria sedingin es pun tidak akan mampu meruntuhkan kelas keanggunanmu.

1
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!