NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Tinggal di Kastil Raja Vampir

"Aku tidak tahu harus ke mana lagi, Paman," tutur Alan jujur, matanya menatap jubah beludru Jacob. "Aku tidak tahu apa-apa tentang planet ini. Jadi... bolehkah aku diizinkan untuk tinggal di sini?"

Jacob menghela napas panjang, sebuah kebiasaan lama saat dia merasa terusik oleh hal-hal sepele. Pria abadi berusia empat abad lebih itu sebenarnya bingung harus diapakan anak kecil lintas dimensi ini.

Dia pun memutar tubuhnya, melayangkan tatapan mata merah redup yang menembus langsung ke manik mata Alan. "Apakah kau bisa menjamin bahwa keberadaanmu tidak akan merepotkanku dan tidak akan mengacaukan seluruh tatanan orang-orang di dalam kastil ini jika aku mengizinkanmu tinggal?"

Alan menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat, seolah kepalanya bisa copot jika dia terlambat meyakinkan sang Raja. "Tidak, aku tidak akan merepotkan! Aku berjanji akan menjadi anak yang penurut, Paman!"

"Baiklah. Tunggu di sini, jangan bergeser satu inci pun!" perintah Jacob tegas sebelum akhirnya beranjak pergi menuju ruang kerja utamanya.

Dia berniat memanggil salah satu pelayan wanita untuk membawa Alan menuju salah satu kamar kosong di sayap barat.

Namun, alih-alih pelayan kastil yang datang, tak berapa lama kemudian justru sosok Gustav-lah yang kembali berjalan menghampiri Alan dengan langkah kaku. Sontak, Alan yang melihat wajah familier itu langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangan kecilnya ke udara secara ceria.

"Halo, Paman Tampan! Kita bertemu lagi," sapa Alan tanpa beban.

Mendengar pujian jujur dan murni yang keluar dari mulut Alan untuk yang kedua kalinya, pertahanan mental yang dibangun Gustav selama ratusan tahun runtuh seketika.

Sepasang mata sang panglima membelalak lebar. Untuk pertama kalinya dalam satu abad terakhir, dia merasakan sensasi aneh di mana wajah pucat matinya terasa sedikit menghangat.

Meskipun secara biologis bangsa vampir tidak bisa merona atau menumbuhkan rona merah di pipi, Gustav merasa sangat kikuk dan salah tingkah.

"T-tampan? Kau... kau menyebutku tampan lagi?"

Gustav berdeham sangat keras, membusungkan dadanya mencoba mengembalikan wibawa militer dan kegarangannya yang mulai retak berkeping-keping. Dia membuang muka ke arah dinding, pura-pura merapikan kerah jubah hitamnya yang sebenarnya sudah sangat simetris dan rapi.

Raja Jacob yang rupanya berjalan kembali dari arah koridor depan melihat adegan tersebut. Detik itu juga, tawa bariton sang Raja pecah, menggelegar hebat hingga suaranya bergema memenuhi sepanjang langit-langit koridor kastil batu hitam.

"Hahaha! Lihat itu, Alan! Kau baru saja berhasil menumbangkan panglima perang tertinggiku hanya dengan modal satu kata sifat!" ejek Jacob dengan sisa tawanya.

"Sudahlah, Yang Mulia, berhenti mengolok-olok saya," gerutu Gustav pelan, meskipun kini tatapan matanya yang terarah pada Alan telah melunak sepenuhnya, kehilangan seluruh sisa hawa membunuh.

Pria kekar itu berbalik, membuka sebuah pintu kayu besar di dekat mereka. "Ayo, masuk. Akan kutunjukkan kamarmu sebelum kau membuatku mati kutu dan kehilangan seluruh harga diri di depan para pelayan dengan pujian anehmu itu."

Mereka akhirnya melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat luas. Pintu kayu ek besar berukir kuno itu memperlihatkan sebuah kamar mewah bergaya gotik klasik, lengkap dengan tempat tidur besar berkelambu sutra tipis dan sebuah jendela kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah lanskap danau buatan tempat Alan muncul tadi.

"Ini adalah kamar yang biasanya digunakan untuk tamu kehormatan klan. Di dalam lemari sudah disediakan pakaian bersih, dan di atas meja ada beberapa camilan," kata Gustav, jarinya menunjuk ke arah meja kayu bundar. "Dan... karena kau terus-menerus memanggilku tampan... aku akan meminta koki pelayan menyiapkan segelas susu sapi hangat untukmu, meskipun ras kami sebenarnya tidak pernah mengonsumsi cairan itu."

Alan tersenyum teramat lebar, membuat sepasang manik mata ungunya berbinar-binar memantulkan cahaya sore. "Terima kasih banyak, Paman Tampan!"

Gustav yang hendak melangkah keluar kamar hampir saja tersandung oleh ujung sepatunya sendiri saat mendengar panggilan baru itu melekat permanen pada dirinya.

Pria itu buru-buru keluar dari kamar tanpa berani menoleh lagi, sementara Jacob masih berdiri di ambang pintu, asyik menertawakan asisten setianya yang tampak frustrasi.

****

Tap! Tap! Tap!

Jacob melangkah menaiki undakan tangga batu menuju ke lantai dua sayap timur kastil. Dia ingin menemui putra angkatnya, Justin, yang sepanjang hari ini belum menampakkan batang hidungnya sama sekali di aula. Biasanya, anak laki-laki berambut hitam itu akan selalu menyambutnya di depan gerbang, sesibuk apa pun urusan internal klan yang sedang Jacob selesaikan.

Tepat saat kaki Jacob mendarat di depan pintu kayu kamar sang pangeran kecil, daun pintu tersebut tiba-tiba terbuka dari dalam, menampakkan sosok Justin bersama Lily, pengasuhnya, yang baru saja hendak melangkah keluar.

"Ayah!" seru Justin riang.

Wajah ketakutannya yang tadi sempat mengunci dirinya di kamar langsung lenyap. Anak berambut hitam itu segera melompat ke dalam dekapan hangat Jacob, mengalungkan kedua lengan kecilnya di leher sang ayah dengan erat.

"Apa saja yang dilakukan pangeran kecil Ayah seharian ini di dalam kamar? Mengapa kau sama sekali belum menemui Ayah di aula bawah?" tanya Jacob lembut, membalas dekapan putranya.

"Aku takut, Ayah. Tadi sore aku mendengar suara ledakan yang sangat keras dari arah danau belakang. Bumi seperti berguncang, jadi aku tidak berani keluar kamar sama sekali," adu Justin polos, menyembunyikan wajahnya di bahu Jacob.

"Emm, begitukah? Bagaimana bisa seorang putraku merasa takut hanya karena suara ledakan air?"

Jacob menurunkan tubuh Justin, menatap mata hitam anaknya dengan serius namun sarat kasih sayang. "Ingat ini baik-baik, Justin. Kau adalah seorang Pangeran dari klan Vampir terkuat di Luminara. Ras kita terkenal memiliki fisik yang tangguh dan tidak mudah mati oleh hal-hal sepele. Ledakan seperti itu tidak akan pernah bisa membunuhmu. Kau mengerti?"

Justin mengangguk patuh, meresapi setiap kalimat doktrin kekuatan dari ayahnya. "Iya, Ayah. Aku mengerti. Mulai sekarang aku berjanji tidak akan menjadi penakut lagi."

"Bagus, itu baru anak laki-laki Ayah!" Jacob tersenyum bangga, mengelus rambut hitam legam putranya sebelum menurunkannya kembali ke lantai koridor. "Sekarang, Ayah ingin mengajakmu pergi ke ruang makan bawah untuk menemui seseorang. Sepertinya... dia akan menjadi teman baru yang sangat menarik untukmu."

"Teman? Siapa dia, Ayah? Apakah dia anak dari klan vampir seberang hutan?" Justin memiringkan kepalanya, menatap Jacob dengan raut wajah penasaran yang menggemaskan.

"Nanti juga kau pasti akan mengetahuinya sendiri," jawab Jacob penuh misteri.

Sang Raja Vampir melangkah memimpin jalan menuruni tangga batu, diikuti oleh langkah-langkah kecil Justin dan Lily dari belakang menuju ke arah ruang makan utama kastil.

Sesampainya di dalam ruangan luas bernuansa perak tersebut, pandangan mata Justin langsung terkunci pada sesosok anak lelaki asing berambut putih yang duduk di seberang meja panjang.

Anak itu tampak sangat tampan dengan struktur wajah yang halus, namun pemandangan kontras terlihat dari caranya makan. Anak berambut putih itu sedang mengunyah sepotong daging panggang dengan begitu lahap, mengabaikan fakta bahwa noda saus merah sudah belepotan di sekitar pipi dan dagunya yang mungil.

"Ayah... siapa dia sebenarnya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!