NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️

Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda" 11

Pagi itu, sinar matahari menerobos celah gorden tipis, menciptakan garis-garis kuning di lantai apartemen. Lucy menggeliat di atas kasurnya, tangannya meraih ponsel untuk melihat jam.

Pukul 06.45. Masih ada waktu sebelum berangkat.

Dia bangkit, meregangkan tubuhnya, lalu berjalan ke kamar mandi. Gaun tidur hitamnya berkibar pelan mengikuti gerakannya. Di depan cermin, dia memeriksa rambutnya. Helai-helai biru semakin terlihat jelas sekarang, mungkin sekitar seperempat dari seluruh rambutnya sudah kembali ke warna aslinya.

"Nanti saja ku cat lagi," gumamnya. "Atau ku biarin aja. Lihat reaksi mereka."

Dia mandi singkat, lalu berganti ke seragam sekolah. Rok abu-abu, kemeja putih, dasi hitam, blazer biru navy. Kacamatanya yang sekarang sudah tidak pernah dipakainya lagi tergeletak di meja dan mulai berdebu. Softlens hitam dipasang dengan gerakan cepat. Rambut sebahu diikat ekor kuda rendah.

Saat dia keluar dari kamar mandi, dia melihat Lili masih meringkuk di atas bantal. Kucing putih itu mendengkur pelan, ekornya bergerak-gerak sesekali. Tertidur pulas.

"Lili?" panggil Lucy.

Tidak ada jawaban. Hanya dengkuran halus.

"Lili, aku berangkat."

Masih tidak ada jawaban.

Lucy mengangkat bahunya. "Terserah. Dia pasti kecapekan setelah semalam terus memantau data."

Dia mengambil tasnya, meraih kunci, dan melangkah keluar apartemen. Pikirannya masih setengah melayang pada makan malam tadi, perpaduan antara ayam goreng instan rasa keju, mie kuah pedas, dan puding karamel yang ternyata enak sekali. Dia benar-benar harus mengurangi kebiasaan makan tengah malam. Tapi nanti saja. Malam ini dia sudah berencana mencoba udang goreng tepung instan yang baru—

"Pagi."

Lucy nyaris melompat.

Berdiri di depan apartemennya, bersandar pada motor sport hitam dengan tangan di saku jaket kulit, adalah Kaito Fujiwara.

Rambut pirang gelapnya sedikit berantakan tertiup angin pagi. Jaket kulit hitamnya terbuka, memperlihatkan kemeja putih di dalamnya, seragam sekolah yang sama seperti miliknya. Dia berdiri di sana dengan pose yang terlalu santai, seolah-olah sudah menunggu sejak tadi.

"Sejak kapan dia di sini?!" pekik Lucy dalam hati. "Kenapa aku tidak menyadarinya?!"

Oh, benar. Dia terlalu sibuk memikirkan udang goreng tepung.

"Ka-Kaito?!" Suara Lucy keluar lebih tinggi dari biasanya, sebuah akting kaget yang sebenarnya juga cukup asli. "Kau... sejak kapan di sini?!"

"Baru saja," jawabnya datar.

Baru saja apanya, batin Lucy. Paling tidak sudah sepuluh menit.

"Kenapa... kenapa kau di sini?"

Kaito tidak menjawab pertanyaan itu. Sebagai gantinya, dia merogoh saku jaketnya dan melemparkan sesuatu ke arah Lucy. Refleks Dewi Rubah menangkapnya dengan mudah.

Sebungkus susu kotak.

Tapi bukan susu kotak biasa yang dijual di supermarket dekat apartemennya. Ini merek impor, Lucy mengenalinya dari tulisan Prancis di kemasannya. Rasa stroberi. Susu stroberi premium yang harganya mungkin sepuluh kali lipat susu kotak biasa.

"Aku cuma lewat," kata Kaito, matanya menatap ke arah lain. "Beli barang. Kebetulan dapat susu." (alah akal-akalan elu aja deh bang bang)

Lucy menatap susu itu. Lalu menatap Kaito. Lalu menatap susu itu lagi.

"Dia 'cuma lewat'? Di depan apartemenku? Jam tujuh pagi? Dengan susu impor rasa favoritku?" Dia hampir tertawa. "Manusia ini benar-benar tidak bisa bohong."

Tapi di luar, dia memasang ekspresi senang. Matanya berbinar, senyumnya merekah, dan dia memeluk susu kotak itu seperti benda berharga. "Susu stroberi! Dan ini merek impor! Yang ini susah dicari!"

Kaito meliriknya sekilas. Senyum itu, senyum yang begitu cerah hanya karena susu kotak, membuat sesuatu di dadanya bergerak lagi. Dia buru-buru mengalihkan pandangan.

"Ayo," katanya, menaiki motor dan menyalakan mesinnya. "Nanti terlambat."

Dia mengulurkan tangannya pada Lucy, seperti kemarin. Tapi kali ini, Lucy tidak perlu instruksi. Dia sudah ingat caranya. Dia menyentuh tangan Kaito, tangannya dingin karena angin pagi, lalu menginjak injakan kaki dan mengayunkan kakinya ke atas.

Tara. Dia sudah duduk di belakang Kaito.

"Hah! Lancar!" serunya bangga.

Kaito menoleh sedikit. "Pegang."

"Aku tahu."

Lucy memegang ujung jaket kulit Kaito. Cukup. Tidak perlu memeluk. Dia sudah tidak takut—

Tangan Kaito tiba-tiba meraih tangannya dan menariknya ke depan, melingkarkannya di pinggangnya sendiri. (akal-akalan antagonis cari romansa, mana ada kebetulan sampai menyediakan helm dua uuu)

"Nanti jatuh," katanya datar.

"ALASAN KLASIK!" Lucy berteriak dalam hati. "'Nanti jatuh' apanya?! Motor belum jalan! Dan siapa yang jatuh?! Aku tidak mungkin jatuh! Aku Dewi!"

Tapi dia tidak bisa menolak. Tangannya sudah terlanjur melingkar di pinggang Kaito. Otot perutnya terasa di balik kemeja seragam, terasa keras karena terbentuk dari latihan basket bertahun-tahun. Dan aroma kayu cendananya terasa begitu dekat.

"Setidaknya aromanya enak."

Motor melaju. Kali ini sedikit lebih cepat dari kemarin. Lucy menutup matanya, membiarkan angin pagi menerpa wajahnya. Di depannya, Kaito tersenyum tipis, senyum yang tidak terlihat oleh siapa pun karena tersembunyi di balik helm.

SMA Seiran pagi itu ramai seperti biasa. Tapi begitu motor sport hitam Kaito Fujiwara memasuki gerbang, sesuatu berubah.

Murid-murid menoleh. Percakapan terhenti. Mata-mata membelalak.

Kaito Fujiwara, si ketua Five Shadows, si pemain basket legendaris, si pria yang terkenal anti-perempuan, sedang mengendarai motornya dengan seorang gadis di belakangnya. Dan gadis itu memeluk pinggangnya.

"ITU... ITU KAITO?!"

"SAMA CEWE?!"

"NAIK MOTOR DIA?!"

"BUKANNYA DIA NGGAK PERNAH BOLEHIN CEWE NAIK MOTOR?!"

"KECUALI TEMEN-TEMENNYA KAN?!"

"ITU CEWE! ITU CEWE!"

Bisik-bisik itu menyebar seperti api. Lucy turun dari motor dengan gerakan yang jauh lebih anggun dari kemarin. Dia menyerahkan helmnya pada Kaito, lalu tersenyum. "Terima kasih untuk susunya! Dan untuk tumpangannya."

"Sama-sama."

"Yaudah, aku ke kelas dulu!" Lucy melambai kecil, lalu berjalan menuju gedung utama. Langkahnya ringan, seolah tidak terganggu oleh puluhan pasang mata yang menatapnya.

Kaito menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu. Lalu dia memarkirkan motornya, dan begitu dia berbalik—

"WOYYYY!"

Riku, Shun, dan Daiki sudah berdiri di belakangnya. Ketiganya menyeringai lebar, mata mereka berbinar-binar seperti baru menemukan harta kurun.

"Kaito! Kaito! Kaito!" Riku merangkul bahunya. "Apa yang barusan kami lihat?!"

"Cewe! Di motor lo!" tambah Shun.

"Gadis yang sama! Yang kemarin! Yang pipinya tembem!" Daiki hampir melompat-lompat. "LO JEMPUT DIA?! PAGI-PAGI? GACOR!"

"Berisik." Kaito melepas rangkulan Riku dan berjalan menuju kelas. Tapi ketiga temannya terus mengikutinya seperti anak ayam.

"Lo beliin dia susu?! Susu impor?! Yang biasa lo minum sendiri?!"

"Gila! Si Kaito yang nggak suka cewe!"

"Dia pasti spesial! Ngaku aja!"

"Diam," kata Kaito. Tapi tidak ada kemarahan di suaranya. Hanya ketidakpedulian yang dibuat-buat.

Temannya tidak perlu tahu bahwa dia sudah berdiri di depan apartemen Lucy sejak pukul 06.30. Atau bahwa dia sengaja mampir ke toko impor tadi malam untuk membeli susu itu. Atau bahwa dia tidak bisa tidur memikirkan caranya melihat gadis itu lagi tanpa terlihat terlalu jelas.

Di kelas, Lucy duduk di tempatnya dengan susu kotak impor di atas meja. Beberapa murid, terutama yang tadi melihatnya di gerbang, mencuri pandang ke arahnya. Gosip sudah menyebar. Tapi Lucy tidak peduli.

Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik.

Lucy: Pagi! Jangan lupa sarapan ya hari ini. Aku baru aja dikasih susu stroberi impor, rasanya enak banget! 😊

Ren: Bagus.

Lucy terkekeh melihat balasan itu. Satu kata. Selalu satu kata. Tapi dia tahu berkat Lili bahwa Ren sebenarnya tersenyum membaca pesannya. Pria itu benar-benar tidak bisa mengekspresikan perasaannya.

Lucy: Kapan pulang?

Ren: Besok malam.

Lucy: Hati-hati di perjalanan ya! Nanti aku bawain sesuatu buat kamu. 🍓

Ren: ...

Ren: Baik.

Lucy menyeringai. Tiga titik sebelum kata "Baik". Itu artinya dia bingung harus merespons apa. Protagonis pria ini benar-benar lucu.

Pelajaran dimulai. Guru matematika masuk dan mulai menulis rumus-rumus di papan. Lucy setengah mendengarkan, sedangkan setengah jiwanya lagi sibuk dengan pikirannya sendiri.

Dua hari lagi Ren kembali. Besok Hana Himura masuk sekolah. Dan Kaito berada di level suka 40%.

Semua berjalan sesuai rencana. Bahkan lebih baik dari rencana.

Jam istirahat tiba. Lucy berjalan ke kantin bersama Yuki dan Haru. Dua temannya itu masih setia menemaninya, mungkin karena Lucy yang sekarang jauh lebih menyenangkan daripada Lucy yang dulu selalu menunduk dan tidak bersuara.

"Lucy, bentar lagi ujian basket. Kita harus latihan lagi!" keluh Yuki.

"Kamu kan udah diajarin Kaito, ya? Jadi udah bisa?" goda Haru.

Wajah Lucy berubah menjadi merah padam. Akting yang sempurna. "A-apa?! Dia cuma... cuma kebetulan aja!"

"Kebetulan gimana? Kamu sampe ditungguin di depan apartemen kan!" Yuki mencubit pipinya.

"lagian rumah mu di selatan sedangkan Kaito di Utara"

"Ih, gemes banget sih kamu!"

Mereka bertiga duduk di meja pojok dengan nampan makanan masing-masing. Lucy memesan porsi yang cukup banyak, berupa nasi, ayam goreng, sup miso, dan puding. Yuki dan Haru tidak memperhatikan perubahan nafsu makannya. Atau mungkin mereka sudah terbiasa.

"Eh, ngomong-ngomong, udah denger belum?" Yuki tiba-tiba berbisik.

"Denger apaan?"

"Katanya, ada murid pindahan baru. Masuk minggu depan."

Tangan Lucy berhenti sejenak di atas ayam gorengnya. "Murid pindahan?"

"Iya! Anak orang kaya katanya. Keluarga Himura. Namanya Hana."

"Hana Himura," Haru menambahkan. "Katanya sih cantik banget. Tapi... ada rumor aneh juga."

"Rumor apa?" tanya Lucy, pura-pura tidak tahu.

"Katanya dia... terlibat sesuatu. Masalah keluarga. Tapi nggak jelas. Paling cuma gosip."

Lucy mengangguk pelan. Jadi Hana Himura akan segera muncul. Satu hari lagi.

Dia memasukkan ayam goreng ke mulutnya dan mengunyah pelan. Matanya menatap ke arah meja di seberang kantin, tempat Kaito dan anggota Five Shadows duduk.

Kaito sedang tidak memperhatikan sekitarnya. Tapi teman-temannya, terutama Riku, sedang mencuri pandang ke arah Lucy dan tersenyum-senyum.

"Mereka pasti membicarakanku," pikir Lucy.

Dan dia tidak salah.

"Woy, Kaito. Itu dia. Pacar kamu tu," goda Riku.

"Dia bukan pacarku."

"Tapi kan situ jemput dia pagi-pagi tadi."

"Aku cuma lewat."

"Lewat apanya?! Apartemen dia kan beda arah sama rumah situ!"

Kaito tidak menjawab. Dia hanya menusuk makanannya dengan keras.

"kamu suka dia," kata Daiki pelan.

"Diam."

"Kita nggak masalah kok." Shun menepuk bahunya. "Dia lucu. Pipinya tembem. Kayak mochi."

"MOCHI?!" Riku tertawa keras. "Iya! Bener! Kayak mochi!"

"Jadi... Mochi-chan?" usul Daiki.

"Jangan panggil dia begitu," suara Kaito rendah.

Ketiga temannya saling pandang, lalu tersenyum penuh arti. Kaito tidak pernah membela siapa pun. Apalagi perempuan.

Dia benar-benar jatuh cinta, pikir Riku.

Setelah kantin, Lucy memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Dia butuh waktu sendiri untuk berpikir, dan juga dia ingin melihat apakah ada informasi tentang keluarga Himura di arsip sekolah.

Perpustakaan SMA Seiran cukup besar, dengan rak-rak buku menjulang tinggi dan meja-meja baca yang tersebar. Lucy berjalan ke sudut terjauh, bagian arsip dan koran lama.

Dia mulai mencari. Koran-koran lama tentang keluarga Himura. Artikel tentang anak yang hilang. Berita tentang penemuan kembali Hana setelah bertahun-tahun.

Tidak banyak. Sebagian besar hanya berita permukaan, seperti Hana ditemukan, Hana kembali ke keluarga, dan Hana akan dipindahkan ke SMA Seiran. Tidak ada yang mencurigakan.

Tapi Lucy merasakan sesuatu yang ganjil.

"Terlalu bersih," pikirnya. "Berita tentang anak yang hilang dan ditemukan kembali seharusnya lebih sensasional. Tapi ini... terlalu rapi."

Dia menyimpan koran itu kembali. Di ponselnya, sebuah pesan masuk.

Ren: Apa yang kau bawa?

Lucy tersenyum. Ren penasaran dengan janjinya tadi pagi. Soal "membawakan sesuatu".

Lucy: Rahasia! Tunggu besok aja. 😊

Ren: ...

Lucy: Aku di perpustakaan sekarang. Sunyi banget. Biasanya rame karena kamu ada di sini.

Itu kebohongan manis. Ren tidak pernah ke perpustakaan, dia lebih suka membaca di ruang OSIS. Tapi Lucy tahu pesan seperti itu akan membuatnya berhenti sejenak.

Ren: Aku tidak pernah ke perpustakaan.

Lucy: Oh iya ya. Berarti perpustakaan selalu sunyi dong. Tapi sekarang jadi rame karena aku mikirin kamu.

Ren: ...

Ren: Kau aneh.

Lucy hampir tertawa terbahak-bahak di perpustakaan yang sunyi. Dia bisa membayangkan wajah Ren yang bingung, menatap ponselnya dengan alis berkerut, tidak tahu harus merespons apa.

"Protagonis pria ini benar-benar hadiah yang terus memberi," pikirnya.

Dia mengirim satu pesan terakhir sebelum membereskan tasnya.

Lucy: Semangat ya lombanya! Kalau menang, aku kasih hadiah spesial! 🍓✨

Ren: Hadiah apa?

Lucy: Nanti aja! 😊

Dia memartikan ponselnya, tersenyum sendiri. Di seberang perpustakaan, beberapa murid meliriknya, gadis dengan rambut ekor kuda yang semakin hari semakin cantik, tersenyum sendiri sambil memeluk buku.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum manis itu, seorang Dewi Rubah sedang menghitung persentase di kepalanya.

Ren: 30%. Kaito: 40%.

"Siapa yang akan mencapai 100% lebih dulu, ya?"

Sore harinya, Lucy duduk sendirian di kelas setelah jam pelajaran selesai. Dia menunggu Yuki dan Haru yang sedang mengambil tugas dari guru. Ponselnya bergetar.

Kaito: Pulang bareng?

Lucy menatap pesan itu. Singkat dan dingin. Tapi dia bisa membaca yang tersirat.

"Dia menungguku," pikirnya. "Antagonis pria yang katanya tidak suka perempuan."

Dia mengetik balasan.

Lucy: Boleh! Tapi aku ada urusan sebentar di kelas. Tunggu ya. 😊

Kaito: Parkiran.

Satu kata. Selalu satu kata. Kenapa semua pria di dunia ini hanya bisa menjawab satu kata?!

Lucy menghela napas, lalu terkekeh. Setidaknya Kaito tidak serumit Ren. Dia lebih langsung dan lebih jujur dengan perasaannya, meskipun dia berusaha menyembunyikannya di balik sikap dingin.

Yuki dan Haru kembali, dan mereka bertiga berjalan ke gerbang. Di parkiran, Kaito sudah menunggu di atas motornya. Helm sudah disiapkan di tangannya.

"Wah, wah, wah." Yuki menyeringai. "Ada yang udah ditungguin!"

"Dih, cepet deh sana!" Lucy didorong mereka dengan malu, sebuah akting tentu saja.

Dia menghampiri Kaito. "Maaf nunggu."

"Tidak lama." Kaito menyerahkan helm padanya. "Ayo."

Lucy mengambil helm itu, lalu naik ke motor dengan gerakan yang sudah mulai terbiasa. Kali ini, dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Kaito tanpa diminta.

"Pintar," kata Kaito pelan.

"Apa?!"

"Tidak ada."

Motor melaju, dan mereka berdua menghilang di balik gerbang sekolah, meninggalkan bisik-bisik dan tatapan iri dari murid-murid lain.

Di dalam hati Lucy, dia menyeringai.

"40% hari ini. 50% besok. Dan seterusnya."

Angin sore menerpa wajahnya. Dia menutup mata, menikmati perjalanan, menikmati aroma kayu cendana, menikmati kenyataan bahwa semua berjalan sesuai rencana.

"Aku benar-benar Dewi yang brilian."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!