Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.
Mobil yang membawa Maura sampai di sekolah dan berhenti tepat di depan gerbang. Pak Ali, sopir pribadi keluarga Wijaya, menoleh ke arah gadis itu sebelum turun. "Non... semangat, ya," ucapnya tulus.
Maura membalas dengan senyum tipis. "Makasih, Pak."
Ia menarik napas panjang lalu melangkahkan kaki memasuki halaman sekolah. Baru beberapa langkah, dari kejauhan tatapan para murid langsung mengarah kepadanya.
Ada yang memandang sinis, ada yang terang-terangan mencibir, ada pula yang memilih berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahnya. Semakin dekat bisik-bisik itu terdengar jelas di telinganya.
"Wah... nyalinya gede juga, ya. Masih berani datang ke sekolah."
"Hahaha... urat malunya udah putus, kali."
"Kayanya, pura-pura nggak denger tuh, dia."
"Kalau aku sih, mending pindah sekolah aja."
Dada Maura terasa bergemuruh, tangannya mengepal tanpa sadar. Namun, dirinya memilih tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Hari ini ia telah memantapkan hati untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
Maura terus melangkah, tetapi bukan menuju kelasnya, melainkan ruang kepala sekolah yang menjadi tujuannya.
Tok...
Tok...
Tok...
"Silakan masuk." Terdengar suara seorang wanita dari dalam.
Maura membuka pintu, melangkah perlahan lalu berhenti tepat di depan meja Bu Shandra. "Selamat pagi, Bu," sapanya gugup dengan kepala tertunduk.
"Selamat pagi," jawab Bu Shandra, menatap sosok yang berdiri di depannya. "Oh, kamu, Maura? Sudah, sehat?" tanyanya seraya membetulkan letak kacamatanya.
Maura mengangguk pelan, ia menarik napas panjang. Kemudian memberanikan diri berbicara. "Saya ingin mempertanggungjawabkan semua kesalahan yang sudah saya lakukan, Bu."
Bu Shandra memperhatikan Maura, sikapnya tampak lebih tenang, dibanding saat menginterogasi gadis itu sehari sebelumnya.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanyanya memastikan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Maura mengangkat wajah. Ada tekad kuat di balik tatapan matanya yang berkaca-kaca. "Yakin, Bu," jawabnya mantap. "Saya tahu permintaan maaf saya mungkin tidak akan mengubah apa pun. Tapi, saya tidak mau lari dari tanggungjawab. Saya ingin mengakui semuanya dan meminta maaf dengan tulus. terutama kepada Zeya dan Daniel nanti."
Bu Shandra tersenyum tipis. Wajahnya menyiratkan apresiasi melihat perubahan sikap Maura. "Bagus, saya menghargai niat baikmu. Semoga ini bisa jadi langkah awal untukmu memperbaiki diri."
"Saya akan meminta seluruh siswa berkumpul di aula. Di sana kamu bisa menyampaikan niatmu," tuturnya kemudian.
Jantung Maura berdegup sangat kencang. Tangannya refleks mengepal, wajahnya tampak sedikit menegang.
Bu Shandra menyadari perubahan raut wajah gadis itu. Lalu dengan nada tegas beliau berkata, "Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan?"
Maura kembali menarik napas panjang. Bayangan nasihat Bu Safira semalam terlintas di benaknya. Perlahan ia menganggukkan kepala. "Iya, Bu."
Bu Shandra segera meraih telepon di atas mejanya, menghubungi bagian tata usaha. "Bu Dewi, mohon umumkan kepada seluruh siswa agar segera berkumpul di aula. Ada pengumuman penting!"
"Baik, Bu," jawab suara dari seberang.
Bu Shandra menutup telepon lalu menatap Maura. "Ayo, kita ke aula."
Tak lama kemudian, aula sekolah mulai dipenuhi seluruh siswa dan guru. Suara bisik-bisik kembali memenuhi ruangan.
"Ada apa sih?"
"Nggak tahu."
"Katanya ada pengumuman penting."
Beberapa menit kemudian, Bu Shandra membuka acara. "Selamat pagi, anak-anak."
"Selamat pagi, Bu..." jawab mereka serempak.
"Teman kalian Maura, ingin menyampaikan sesuatu yang sempat tertunda kemarin. Saya harap kalian bisa mendengarkan sampai selesai."
Beliau menoleh ke arah pintu. "Maura... Silakan masuk."
Semua pasang mata langsung tertuju kepada Maura yang berjalan masuk perlahan menuju ke tengah aula debgan kepala tertunduk. Degup jantungnya kembali berpacu begitu kencang seolah ingin melompat dari rongga dadanya. Sambil menggenggam pengeras suara erat-erat, ia memberanikan diri mengangkat kepala mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang saat ini menatapnya dengan berbagai ekspresi berbeda. Kemudian ia pun membuka suara.
"Selamat pagi, teman-teman." Tak ada seorang pun yang menjawab.
Maura tersenyum pahit. "Saya tahu... kehadiran saya di sini, mungkin membuat banyak dari kalian merasa tidak nyaman."
Ia berhenti sejenak, berusaha mengendalikan suaranya yang mulai bergetar.
"Saat ini saya berdiri di depan kalian semua, bukan untuk membela diri. Tapi untuk mengakui perbuatan saya, yang menyebarkan fitnah dan mengunggah foto-foto pernikahan Daniel dan Zeya dengan tujuan agar nama baik mereka hancur."
Maura menundukkan kepala sesaat. "Saya sadar, tidak seharusnya saya melakukan hal demikian. Untuk itu saya mohon maaf sebesar-besarnya karena telah menyakiti Daniel dan Zeya, membuat nama sekolah tercoreng, dan membuat guru-guru kecewa."
Butiran bening mulai mengalir di pipinya. "Saya benar-benar menyesal."
Suaranya nyaris pecah, ia menghela napasnya yang tersengal. "Saya tidak berharap kalian langsung memaafkan saya. Tapi, saya hanya ingin meminta maaf dengan setulus hati."
Maura kemudian membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. "Maafkan saya."
Aula tetap hening. Tak ada tepuk tangan atau sorakan. Hanya kesunyian yang terasa begitu menyesakkan.
Bu Shandra kemudian melangkah maju. "Keberanian untuk mengakui kesalahan bukanlah sesuatu yang mudah," ucapnya bijak. "Saya berharap kita semua dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini. Bahwa kalian harus bersaing secara sehat untuk meraih prestasi, bukan memendam iri hati atau bahkan menjatuhkan orang lain."
"Sekian dan terima kasih atas waktunya. Kalian boleh kembali ke kelas masing-masing." Bu Shandra mengakhiri acara.
Satu per satu baik guru-guru maupun murid-murid mulai meninggalkan aula dengan pikiran masing-masing.
Maura mengusap air matanya, ia masih berdiri di tengah aula dengan kepala tertunduk. Hingga kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Maura." Mendengar suara yang amat dikenalnya memanggil, Maura pun mengangkat wajahnya.
Di hadapannya, Jenna berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajah gadis itu tampak tenang, senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Selamat, ya. Akhirnya kamu berani mengakui perbuatanmu," ucap Jenna pelan, lalu mengembuskan napas panjang.
Pandangannya beralih ke arah para siswa yang mulai menjauh, lantas kembali menatap Maura. "Ada satu hal yang harus kamu tahu. Atau mungkin kamu sudah tahu?"
Maura menatapnya bingung. Namun, ia hanya diam menunggu.
"Maaf... karena aku..." Jenna menggantungkan ucapannya sesaat. "...kamu harus mengalami semua ini."
Kening Maura langsung berkerut. "Maksud, kamu?"
Jenna menatap Maura sembari terkekeh kecil, "Aku yang memberitahu teman-teman di grup angkatan, bahwa kamu lah pelakunya. Aku menceritakan kronologi kejadian itu sampai akhirnya menyebar ke seluruh sekolah."
"Waktu itu aku sangat marah sama kamu," lanjut Jenna lirih. "Aku pengin kamu juga merasakan apa yang Zeya dan Daniel rasakan. Bagaimana mereka menanggung malu atas apa yang sudah kamu lakukan ke mereka."
"Tapi setelah melihatmu berdiri di depan teman-teman kita tadi dan mengakui semuanya, aku salut sama kamu." Jena tersenyum tulus sambil mengulurkan tangannya.
"Sekali lagi aku minta maaf. Meskipun apa yang aku lakukan sudah seijin orangtuamu."
Maura hanya terdiam mematung mencoba mencerna kalimat yang Jenna ucapkan. Tatapannya tak lepas dari gadis itu, sementara berbagai perasaan berkecamuk memenuhi dadanya. Namun, entah mengapa tak ada kemarahan maupun kebencian yang ia rasakan. Atau mungkin Maura sudah benar-benar melepaskan rasa yang selama ini membelenggunya?