"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Aliansi yang Dipaksa
Pukul sebelas siang tepat, sebuah mobil sedan sport mewah berwarna hitam pekat dengan kaca film gelap yang sangat tegal berhenti tepat di depan lobi privat Corisand Media Group.
Adrian Hutama melangkah keluar dari dalam kabin dengan aura dingin yang biasa ia bawa ke ruang-ruang rapat direksi kelas atas.
Kemeja putihnya yang digulung rapi hingga sebatas siku dan tatapan matanya yang tajam serta mengintimidasi langsung membuat petugas keamanan dan resepsionis lobi membungkuk hormat, tanpa ada satu pun yang berani menghentikannya untuk menanyakan kartu akses tamu.
Adrian tidak menggunakan lift umum yang biasa digunakan oleh para staf redaksi.
Dia menggunakan lift privat berkecepatan tinggi setelah sebelumnya menyinkronisasikan sebuah kartu akses master yang baru saja dia retas secara semi-ilegal dengan sistem kendali lift menuju lantai 24.
Langkah taktis ini ia ambil segera setelah menerima sebuah pesan teks singkat dari Alea sepuluh menit yang lalu.
Pesan itu hanya berisi tiga kata yang sangat padat, namun memiliki urgensi yang cukup kuat untuk membuat Adrian membatalkan dua jadwal rapat penting dengan dewan komisaris Hutama Industries
"Sistemku jebol. Datanglah."
Begitu pintu lift privat berdenting terbuka di lantai 24, Adrian langsung disuguhi oleh atmosfer ruang redaksi yang luar biasa tegang dan tidak nyaman.
Beberapa pegawai dan staf administrasi tampak berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, berbisik-bisik dengan wajah cemas di dekat mesin fotokopi dan dispenser air.
Namun, obrolan mereka seketika terhenti total saat melihat sosok bertubuh tegap dan berwajah dingin itu berjalan melintas di koridor tengah dengan langkah-langkah besar yang mantap menuju ruang kerja utama Alea.
Adrian membuka pintu kaca ruang kerja Alea tanpa repot-repot mengetuk terlebih dahulu.
Di dalam ruangan bernuansa minimalis modern tersebut, Alea sedang berdiri membelakangi meja kerja kayunya, menatap kosong keluar jendela kaca raksasa dengan kedua tangan yang mengepal erat di sisi tubuhnya.
Gumpalan kertas hitam tebal yang sempat dia remas dengan penuh amarah tadi kini tergeletak begitu saja di atas meja, bersanding kontras dengan sebuah tablet kerja yang layarnya masih terus berkedip menampilkan baris kode sistem CMS yang mengalami eror massal.
"Kau datang jauh lebih cepat dari perkiraanku," ucap Alea tanpa membalikkan badannya, dia sudah sangat mengenali derit halus pintu yang tertutup rapat serta aroma parfum maskulin khas milik Adrian.
"Aku tidak pernah suka membuang waktu secara tidak efisien, terutama jika situasi ini sudah menyangkut integritas data korporasi yang melibatkan nama besarku," sahut Adrian dengan nada baritonnya yang dingin.
Dia berjalan mendekati meja kerja, mengabaikan jarak formalitas, dan langsung menyambar gumpalan kertas hitam yang lecek tersebut.
Dengan gerakan jemari yang tenang, dia membuka remasan kertas itu perlahan, meratakan permukaannya yang kusut di atas meja, lalu membaca setiap baris tulisan tangan berwarna merah darah dari Julian.
Seketika, garis rahang Adrian mengetat kuat, memancarkan emosi yang tertahan.
"Mantan kekasihmu ini benar-benar tidak memiliki kecerdasan taktis untuk tahu kapan harus mundur dari permainan. Dari mana pria emosional seperti dia bisa mendapatkan salinan draf wasiat rahasia ini, Alea?"
Alea membalikkan tubuhnya dengan cepat, wajahnya yang tampak lelah kini memancarkan perpaduan antara kemarahan yang tertahan dan rasa frustrasi yang mendalam.
"Itu dia masalah utamanya, Adrian! Aku sama sekali tidak tahu dari mana kebocoran itu berasal. Dan yang membuat situasinya jauh lebih buruk, dua jam yang lalu sistem CMS utama kantorku merilis data palsu mengenai manipulasi keuangan merger tiga tahun lalu, secara licik menggunakan akun administrator pribadiku sendiri. Pegawai-pegawai di luar ruang rapat mulai menatapku seolah-olah aku adalah penjahat korporasi yang sebenarnya."
Adrian tidak langsung merespons luapan emosi Alea dengan kata-kata yang reaktif.
Sebagai seorang pria yang mengagungkan logika dan sistem, dia menarik napas pendek, lalu menduduki kursi kerja di depan meja Alea.
Dia menarik tablet kerja wanita itu ke hadapannya, mengabaikan semua draf rilis pers yang berantakan, dan mulai mengetikkan beberapa kombinasi tombol perintah taktis untuk memanggil baris log pelacakan jaringan yang tadi sempat diperiksa oleh staf IT Alea.
"Perintah enkripsi data palsu itu secara sistemis memang datang dari akun pribadimu," ujar Adrian setelah beberapa menit keheningan yang sangat intens di antara mereka, di mana hanya terdengar suara ketukan jemarinya pada layar kaca tablet.
"Tapi mereka semua salah besar mengenai metode eksekusinya. Ini bukan serangan peretasan siber jarak jauh (remote hacking), dan ini juga jelas bukan ulah kecerobohanmu. Perangkat gawai pribadimu telah dikloning secara fisik. Seseorang berhasil menyalin alamat MAC (Media Access Control) dan sertifikat digital gawaymu saat kita berada di gala amal semalam."
Alea tertegun mendengar penjelasan medis digital tersebut.
Dia melangkah maju beberapa senti hingga tubuhnya bersandar di tepi meja kerja, tepat di samping posisi duduk Adrian, mengikis jarak di antara mereka.
"Dikloning secara fisik? Tapi gawaiku tidak pernah lepas dari genggaman tanganku atau tas kecilku sepanjang acara semalam."
"Perangkat itu tidak perlu lepas dari tanganmu untuk bisa dikloning," sela Adrian, menghentikan ketikannya lalu mendongak untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata Alea dari balik kacamata bacanya.
"Sebuah alat pemindai nirkabel jarak dekat (skimmer) berdaya tinggi yang dimodifikasi khusus dapat menyalin seluruh data identitas perangkat dalam radius kurang dari dua meter jika protokol perlindungan enkripsimu sedang mati. Dan semalam, tepat saat sistem listrik di penthouse kita dipadamkan untuk pertama kalinya, semua protokol enkripsi lokal dan firewall sekunder pada gawai kita mengalami pengaturan ulang otomatis (factory reset) akibat gelombang elektromagnetik lokal."
Alea menarik napasnya dengan tajam, sebuah kesadaran baru yang mengerikan menghantam pikirannya seperti ombak air es yang membekukan.
"Jadi... sabotase listrik dan pemadaman total di penthouse semalam bukan dirancang untuk mencuri dokumen fisik di sana, melainkan untuk melemahkan seluruh dinding pertahanan digital pada perangkat pribadi kita agar bisa dikloning dengan mudah hari ini?"
"Tepat seratus persen," jawab Adrian, sebuah senyuman sinis yang penuh dengan apresiasi taktis muncul di sudut bibirnya yang kokoh.
"Siapa pun arsitek cerdas di balik konspirasi ini, mereka tidak pernah menembak dari satu arah yang monoton. Mereka pertama-tama menciptakan krisis psikologis di rumah pribadi kita untuk melemahkan fokus mental kita, lalu keesokan harinya mereka melempar umpan emosional lewat Julian agar kau melakukan tindakan ceroboh yang bisa merusak reputasi Corisand Group."
Adrian memutar layar gawai miliknya sendiri yang sudah terhubung dengan sistem pelacakan satelit militer pribadi milik Hutama Industries, menampilkan sebuah peta topografi digital kota Valerika dengan satu titik merah kecil yang berkedip secara konstan di area pelabuhan tua pinggiran kota.
"Julian memintamu menemuinya di 'tempat biasa' sore ini untuk menyerahkan draf itu, bukan?" tanya Adrian dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat rendah, berat, dan protektif, sebuah nada yang jika didengar oleh orang lain akan sangat menyerupai rasa cemburu yang disamarkan dengan dalih logika keamanan.
"Tempat biasa yang dia maksud adalah sebuah restoran tepi dermaga tua milik mendiang kakekmu yang sudah tidak beroperasi selama dua tahun. Tim keamananku baru saja mendeteksi adanya aktivitas jaringan nirkabel ilegal dan enkripsi satelit yang tidak biasa di sekitar bangunan kosong tersebut sejak satu jam yang lalu."
Alea menatap titik merah yang berkedip di layar gawai Adrian dengan perasaan bimbang yang berkecamuk di dadanya.
"Jika aku memilih untuk tidak datang dan mengabaikan ancamannya, dia memegang draf asli yang bisa menghancurkan posisi kita di depan dewan pengawas independen esok hari. Nilai saham Corisand Group adalah taruhannya di sini, Adrian."
"Kau akan tetap pergi menemui pria itu," cetus Adrian seraya bangkit berdiri dari kursi kerjanya dengan satu gerakan tegas, hingga tubuh tingginya yang tegap kembali mendominasi atmosfer ruangan dan memberikan rasa terlindungi yang aneh pada Alea.
"Tapi kau sama sekali tidak akan datang ke sana seorang diri sebagai mangsa yang ketakutan. Kita akan datang ke dermaga tua itu bersama-sama, sebagai pasangan suami istri baru yang sah, yang sedang menikmati waktu makan siang privat di aset lama keluarga. Kita balikkan umpan beracun ini tepat ke wajah mereka."
Alea mendongak, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata elang Adrian, mencoba mencari tanda-tanda keraguan, ketakutan, atau motif tersembunyi di balik keputusan pria itu.
Namun, yang dia temukan di sana hanyalah keyakinan mutlak yang sangat kokoh dan dingin.
Di tengah badai konflik kecil dengan bawahannya yang mulai meragukannya, serta tekanan konstan dari masa lalu emosionalnya bersama Julian, kehadiran fisik Adrian di sampingnya saat ini entah bagaimana terasa seperti sebuah jangkar penyelamat yang luar biasa kuat.
"Baiklah," ucap Alea akhirnya, menganggukkan kepalanya perlahan tanda setuju.
"Kita ikuti alur mereka, dan kita mainkan permainan ini sampai selesai."
Satu jam kemudian, saat Adrian dan Alea melangkah keluar dari dalam ruang kerja pribadi bersama-sama, atmosfer di sepanjang lantai 24 Corisand Media Group mendadak berubah menjadi sunyi senyap seolah-olah seluruh pasokan udara di sana telah disedot keluar.
Malik, Rania, Doni, dan puluhan staf redaksi yang tadinya sibuk berkumpul untuk bergosip ria, seketika membubarkan diri secara kikuk dan pura-pura menatap layar monitor komputer mereka masing-masing dengan fokus yang dipaksakan.
Adrian menghentikan langkah kakinya tepat di titik tengah ruang redaksi terbuka tersebut.
Dia tidak berbicara dengan nada berteriak, namun suara baritonnya yang berat menggema dengan sangat jelas dan penuh tekanan ke seluruh penjuru ruangan, mengunci perhatian semua orang.
"Seluruh krisis distorsi data palsu pada sistem CMS utama hari ini telah berhasil diisolasi dan diperbaiki sepenuhnya oleh tim ahli IT dari Hutama Industries," ujar Adrian, matanya menatap tajam ke arah Malik dan Rania hingga kedua manajer itu menundukkan kepala dengan kaku.
"Segala bentuk spekulasi internal, penyebaran rumor palsu, atau bisikan tidak berdasar yang mengganggu stabilitas produktivitas kerja di lantai ini mulai detik ini akan dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap kontrak kerja korporasi. Pastikan rilis pers resmi mengenai merger koridor timur terbit dalam waktu tiga puluh menit ke depan tanpa ada kesalahan satu angka pun."
Malik hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah sebelum menjawab dengan suara kaku. "Baik, dipahami dengan jelas, Tuan Hutama."
Alea yang berdiri tegak di samping Adrian menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat samar, hampir tidak terlihat oleh siapa pun.
Pria di sebelahnya ini mungkin adalah sosok yang sangat menyebalkan, kaku, dan terlalu dominan dalam kehidupan sehari-hari mereka di penthouse.
Namun, dalam hal mengeksekusi kendali situasi, meredam konflik operasional, dan menunjukkan dominasi korporasi di depan publik, Adrian Hutama adalah satu-satunya sekutu terbaik yang bisa dia miliki di dunia ini.
Mereka berdua kembali melangkah dengan anggun memasuki lift privat yang sudah terbuka menyambut mereka, meninggalkan seluruh riak konflik di kantor redaksi yang berhasil diredam total dalam sekejap saja dengan kekuatan absolut.
Namun, tepat ketika pintu lift besi tebal itu tertutup rapat dan mulai membawa tubuh mereka turun menuju area parkir bawah tanah, lampu indikator lantai di atas pintu lift sempat berkedip aneh sebanyak satu kali, sebuah kode distorsi frekuensi kecil yang menandakan bahwa pergerakan fisik mereka berdua menuju dermaga pelabuhan tua telah tercatat dengan sangat sempurna di dalam peladen rahasia milik sang perancang skenario agung.
Roda gigi takdir kembali berputar dengan presisi tinggi, memaksa aliansi kontrak mereka terikat semakin kuat dan membawa mereka masuk jauh lebih dalam ke tengah labirin yang kini perlahan-lahan mulai mengunci semua pintu keluar daruratnya.