NovelToon NovelToon
Istriku Seorang Putri

Istriku Seorang Putri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.

Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.

Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Pengakuan Neil dan Jaring Laba-laba Dewan Raja

Pondok kayu tua itu terasa sempit dengan tiga orang di dalamnya. Udara di ruangan itu hangat karena perapian kecil yang menyala, tetapi ketegangan di antara mereka justru membuat Viona merasakan dingin yang menjalar di tulangnya.

Neil duduk di kursi kayu yang tampak sudah sangat tua, kedua tangannya bertumpu pada lututnya. Ia menunduk, tidak berani menatap Viona. Wanita pirang di sampingnya duduk dengan posisi tegap, matanya yang tajam memandang Viona dengan penuh kewaspadaan.

"Aku tahu kau pasti bingung," Neil memulai, suaranya pelan dan sedikit serak. "Kau datang ke sini mencari jawaban. Dan kau berhak mendapatkannya. Tapi sebelum aku berbicara, aku harus memastikan satu hal." Neil akhirnya mengangkat kepalanya, menatap Viona langsung. "Kau masih mencintai kakakku?"

Pertanyaan itu membuat Viona terhenyak. "Apa maksudmu?"

"Derek. Kakakku. Kau tahu dia masih hidup, bukan? Kau tahu siapa dia sebenarnya?" Neil menatap Viona dengan mata yang penuh dengan campuran antara rasa bersalah dan harapan. "Kau tahu dia adalah Putra Mahkota?"

Viona mengangguk perlahan. "Derek sudah memberitahuku. Sebelum dia pergi mencarimu."

Neil menghela napas panjang, seolah beban di pundaknya sedikit berkurang. "Syukurlah. Aku tidak harus menjelaskan semuanya dari awal." Ia menatap wanita di sampingnya, lalu kembali menatap Viona. "Wanita ini bernama Sera. Dia bukan kekasihku."

Viona mengerutkan kening. "Tapi di desa, mereka bilang kau kabur dengan kekasih gelapmu."

"Itu cerita yang sengaja aku sebarkan," kata Neil, suaranya pahit. "Aku tidak punya pilihan. Aku harus membuat orang percaya bahwa aku kabur karena cinta, agar tidak ada yang mencurigai alasan sebenarnya."

"Siapa alasan sebenarnya?" tanya Viona, suaranya mulai tegang.

Neil menatap Sera. Wanita itu mengangguk, memberikan izin. Neil menarik napas dalam, lalu mulai berbicara.

"Aku tidak kabur dari Dewan Raja, Viona. Aku kabur dari perintah Dewan Raja. Mereka memintaku untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa aku lakukan."

"Perintah apa?"

Neil mengepalkan tinjunya. "Mereka tahu kau masih hidup. Sejak pertama kali kau berhasil lolos dari serangan di jalan, Dewan Raja sudah tahu bahwa kau tidak mati. Mereka memiliki mata-mata di mana-mana. Mereka melihat kau diselamatkan oleh seseorang—meskipun mereka tidak tahu bahwa orang itu adalah Derek."

Viona merasakan jantungnya berdegup kencang. "Jadi, mereka tahu aku bersama Derek?"

"Mereka tahu kau bersama seorang pria. Tapi mereka tidak tahu identitasnya. Itulah yang membuat mereka panik. Mereka tidak tahu siapa yang melindungimu, dan mereka takut bahwa pria itu mungkin memiliki hubungan dengan Kerajaan Timur." Neil menggeleng-geleng. "Mereka menyuruhku untuk menikahimu secara resmi, Viona. Mereka ingin aku menikahimu dan membawamu kembali ke istana, agar mereka bisa menggunakanku sebagai alat untuk mengendalikan ayahmu."

Viona membelalak. "Apa? Tapi kau mengumumkan kematianku!"

"Itu adalah bagian dari rencana mereka." Neil menunduk. "Dewan Raja ingin membuatmu mati secara resmi, agar ayahmu mengumumkan perang. Dengan begitu, mereka bisa mengusir Derek—atau siapa pun yang melindungimu—dari persembunyiannya. Mereka tahu jika ayahmu menyerang, pria yang melindungimu akan terpaksa muncul untuk menyelamatkan kerajaan. Dan saat dia muncul, mereka akan menangkapnya."

Viona merasakan tubuhnya bergetar. "Mereka menggunakan ayahku sebagai umpan? Mereka menggunakan perang untuk menjebak Derek?"

Neil mengangguk. "Itulah yang mereka rencanakan. Aku tahu rencana ini karena Sera... dia adalah salah satu mata-mata Dewan Raja. Tapi dia membantuku melarikan diri."

Viona menatap Sera dengan tatapan campuran antara curiga dan terima kasih. "Kau adalah mata-mata Dewan Raja, tapi kau melarikan diri bersama Neil?"

Sera akhirnya berbicara, suaranya tenang tetapi tegas. "Aku bukan lagi mata-mata mereka. Aku sudah melihat terlalu banyak kekejaman yang mereka lakukan. Ketika aku tahu rencana mereka untuk menggunakan Neil dan perang untuk menjebak seseorang—seseorang yang mungkin tidak bersalah—aku memutuskan untuk membantu Neil melarikan diri."

"Tapi mereka mengejar kalian," kata Viona.

"Dewan Raja tidak bisa membiarkan kami pergi. Neil adalah satu-satunya saksi yang tahu rencana mereka. Jika Neil berbicara kepada siapa pun, rencana mereka akan hancur." Sera menatap Neil dengan tatapan lembut. "Kami sudah bersembunyi di sini selama beberapa minggu, mencoba menemukan cara untuk menghubungi seseorang yang bisa dipercaya."

Neil menatap Viona. "Dan kau, Viona... kau muncul begitu saja. Mungkin ini bukan kebetulan. Mungkin takdir memang membawamu ke sini."

Viona menggigit bibirnya. Pikirannya berputar dengan cepat. Dewan Raja menggunakan ayahnya sebagai umpan. Mereka tahu Derek masih hidup, tetapi mereka tidak tahu identitasnya. Mereka menciptakan perang untuk menarik Derek keluar dari persembunyiannya.

"Jika mereka tahu Derek adalah Putra Mahkota," bisik Viona, "mereka akan membunuhnya."

"Benar," kata Neil. "Karena jika Derek kembali, dia akan mengambil takhta. Dewan Raja tidak menginginkan itu. Mereka ingin mempertahankan kekuasaan mereka."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Viona. "Derek sedang dalam perjalanan mencarimu. Dia mungkin sudah dekat. Dan jika Dewan Raja mengikutinya, mereka akan menemukanmu—dan mereka akan menemukan Derek."

Neil menatap Sera, lalu kembali menatap Viona. "Aku punya rencana, Viona. Tapi aku butuh bantuanmu."

"Apa rencananya?"

Neil berdiri, berjalan menuju sebuah kotak kayu kecil di sudut pondok. Ia membuka kotak itu, dan di dalamnya, ada sebuah dokumen tua yang sudah menguning. Neil mengembalikannya ke Viona.

"Ini adalah dokumen asli yang menyatakan bahwa Derek adalah Putra Mahkota. Dokumen ini disimpan di istana, tetapi Sera berhasil mencurinya sebelum kita melarikan diri. Dengan dokumen ini, kita bisa membuktikan bahwa Derek adalah pewaris sah."

Viona memandang dokumen itu. Di atasnya, tertulis dengan tinta emas nama "Derek Minos"—nama asli Derek—di bawah lambang kerajaan.

"Apa maksudmu?"

"Aku akan pergi ke perbatasan," kata Neil. "Aku akan menemui pasukan ayahmu. Aku akan memberitahunya bahwa putrinya masih hidup, dan bahwa Derek—Putra Mahkota—adalah orang yang melindunginya. Dengan begitu, ayahmu akan menarik pasukannya. Dan kita bisa menggunakan dokumen ini untuk mengembalikan Derek ke takhta."

Viona menatap Neil. Ada tekad di mata Neil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Neil mungkin telah membuat banyak kesalahan, tetapi di saat ini, ia tampak seperti seorang pria yang siap menebus kesalahannya.

"Tapi Derek belum kembali," kata Viona. "Bagaimana jika dia kembali dan tidak menemukanmu di sini?"

"Aku akan meninggalkan surat untuknya." Neil mengambil selembar kertas dan mulai menulis. "Aku akan memberitahunya ke mana aku pergi. Dan aku akan memintanya untuk menemuiku di perbatasan—dengan kau, Viona. Karena Derek perlu tahu bahwa kau aman, dan bahwa aku tidak lagi menjadi ancaman."

Viona memandang Neil menulis. Ada banyak hal yang belum terungkap, tetapi untuk pertama kalinya, ia melihat secercah harapan. Harapan bahwa perang bisa dihentikan. Harapan bahwa Derek bisa kembali ke takhtanya tanpa harus mengorbankan cintanya.

Sera mendekati Viona, menatapnya dengan tatapan serius. "Kau harus hati-hati, Viona. Dewan Raja memiliki mata-mata di mana-mana. Jangan percaya pada siapa pun, kecuali Neil dan aku."

Viona mengangguk. "Aku mengerti."

Saat Neil selesai menulis, ia melipat surat itu dan memberikannya kepada Viona. "Berikan ini pada Derek, saat dia kembali. Dan katakan padanya... katakan padanya aku minta maaf. Untuk semua yang telah aku lakukan."

Viona menerima surat itu dengan hati yang berat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi ia tahu satu hal: ia tidak akan menyerah. Tidak untuk dirinya sendiri, tidak untuk Derek, dan tidak untuk kerajaan yang telah menyatukan mereka dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.

Malam itu, Viona tidur di pondok Neil, dengan surat itu tersimpan di dekat dadanya. Dan di luar, angin malam terus bertiup, membawa kabar yang akan mengubah nasib dua kerajaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!