NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:480
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gesekan Pertama di Arena Baru

Memasuki bulan ketiga masa perkuliahan, ritme kehidupan mahasiswa baru di Kampus Depok dan Rawamangun tak lagi memberikan ruang untuk bernapas lega. Tugas analisis kasus berlembar-lembar, draf jurnal ilmiah, serta tenggat waktu organisasi mulai menumpuk ketat. Di FISIP UI, Callista kini resmi bergabung sebagai staf magang di Social and Political Research Center (SPRC)—sebuah lembaga riset independen mahasiswa yang terkenal sangat selektif.

Di dalam ruang sekretariat SPRC yang beraroma kertas tua dan kopi hitam, pendingin udara bertiup cukup dingin. Callista duduk mengelilingi meja oval bersama lima anggota tim risetnya.

"Proposal analisis konflik sosial yang diajukan Callista sebenarnya punya landasan teori yang kuat," ujar Danang, mahasiswa semester lima yang menjabat sebagai kepala divisi riset, seraya mengetuk-ngetuk berkas di mejanya. "Tapi pendekatan kamu terlalu emosional, Callista. Di lembaga ini, kita butuh data empiris yang dingin. Empati tidak bisa dijadikan variabel utama dalam kalkulasi kebijakan."

Callista menegakkan duduknya, menatap Danang dengan sorot mata yang tenang namun pantang menyerah.

"Izin memberikan tanggapan, Mas Danang," potong Callista dengan artikulasi yang rapi dan tegas. "Data kualitatif dan respons emosional masyarakat adalah variabel riil di lapangan. Kalau riset kebijakan hanya menghitung angka statistik tanpa memahami psikologi sosial warga, produk kebijakan yang dihasilkan justru akan ditolak oleh masyarakat itu sendiri. Itu yang saya pelajari saat menangani proyek diplomasi sosial di Singapura."

Danang terdiam sejenak, menatap Callista dengan tatapan terkejut. Keberanian Callista menyampaikan argumentasi tanpa nada menggurui berhasil membuat anggota tim riset lainnya mengangguk-angguk setuju.

"Baik," ucap Danang akhirnya, menyunggingkan senyum tipis pengakuan. "Gunakan kombinasi keduanya. Kamu pimpin draf penyusunan instrumen wawancaranya, Callista."

Callista mengangguk mantap. "Siap, Mas. Terima kasih."

Sementara itu, di Gelanggang Olahraga UNJ Rawamangun, tensi udara terasa jauh lebih membakar. Seleksi akhir untuk menentukan sepuluh pemain utama yang akan mewakili kampus dalam Liga Mahasiswa (LIMA) DKI Jakarta sedang berlangsung sengit.

Di tengah lapangan parket, Sean yang mengenakan scrimmage vest merah berlari cepat mengatur serangan timnya. Namun, gesekan internal mulai terasa. Bima, pemain senior posisi shooting guard semester akhir, berkali-kali enggan membagi bola kepada Sean dan memilih melakukan tembakan paksa yang berujung kegagalan.

PRRRTTT!

Pelatih Utama meniup peluitnya dengan keras, menghentikan jalannya gim internal.

"Bima! Sean!" panggil Pelatih tegas dari tepi lapangan. "Permainan kalian di lini belakang kacau! Bima, kamu terlalu individualistis! Sean, kamu kapten di SMA dulu, kenapa tidak ambil kendali ritme lapangan?!"

Bima melempar bola ke lantai dengan wajah bersungut-sungut, menatap Sean dengan pandangan tidak suka. "Dia anak baru, Coach! Belum tahu karakter permainan tim kampus ini!"

Sean menghela napas panjang, menetralkan emosinya yang sempat terpancing. Ia melangkah mendekati Bima, menyodorkan tangannya dengan tenang tanpa ada gestur menantang.

"Bang Bima," ucap Sean dengan intonasi suara yang begitu dewasa dan terkontrol. "Gue di sini bukan buat menggeser posisi siapa pun. Gue di sini cuma mau bawa UNJ menang. Operan gue bakal selalu terbuka buat Bang Bima kalau posisinya lebih menguntungkan."

Bima menatap Sean sejenak, melihat kejujuran murni dan ketiadaan ego pribadi di dalam mata adik tingkatnya itu. Bima mengusap keringat di dahinya, lalu membalas tos tangan Sean dengan ketat.

"Oke. Buktikan di set berikutnya, Sean," cetus Bima pelan.

Pada set penentu, kombinasi operan cepat Sean dan akurasi tembakan Bima berhasil meruntuhkan pertahanan tim lawan dengan skor telak. Di akhir latihan, nama Sean resmi diumumkan di urutan pertama sebagai Point Guard utama tim Liga Mahasiswa UNJ.

Malam harinya, gerimis tipis menyiram kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Sebuah kedai kopi bernuansa kayu yang tenang menjadi tempat bertemu Callista dan Sean seusai padatnya aktivitas kampus masing-masing.

Dua cangkir kopi hangat asapnya mengepul halus di atas meja kayu kecil dekat jendela.

Callista menyandarkan punggungnya ke kursi, meminum kafenya perlahan. "Hari ini di lembaga riset sempet tegang banget, Sean. Mas Danang bilang analisis gue terlalu emosional."

Sean yang duduk di hadapannya terkekeh pelan, menatap Callista dengan kehangatan yang amat dalam. "Terus, Bu Mahasiswi ngalah?"

"Enggak lah," jawab Callista tersenyum bangga. "Gue pertahankan argumentasi gue pakai data riset Singapura kemarin. Akhirnya draf instrumen wawancaranya diserahkan total ke gue."

"Tuh kan, apa gue bilang," sahut Sean lembut. Jam tangan pemberian Callista melingkar indah di pergelangan tangannya saat ia meraih cangkir kopinya. "Lo itu punya cara sendiri buat memenangkan argumen tanpa harus bikin orang lain merasa dikalahkan. Di UNJ tadi gue juga sempet gesekan sama senior basket."

Callista mencondongkan badannya ke depan, menatap Sean penuh perhatian. "Terus gimana, Sean? Aman kan?"

"Aman, Cal," jawab Sean mantap. "Gue sadar kita bukan anak SMA lagi yang bisa nyelesaiin masalah pakai emosi. Gue ajak bicara baik-baik, dan puji Tuhan kita berhasil lolos seleksi tim utama buat LIMA bulan depan."

Callista menatap Sean dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga. Cowok di depannya ini telah tumbuh menjadi sosok laki-laki yang sangat dewasa, bijaksana, dan membumi.

Ponsel Callista di atas meja bergetar pendek. Sebuah pesan masuk di grup Wijaya's Trio.

Kenzo: Bagaimana pekan ketiga kalian di kampus? Saya baru saja menyelesaikan presentasi draf analisis investasi di Sydney. Semoga dinamika awal kampus tidak membuat kalian gentar.

Callista dan Sean saling menatap, lalu tertawa renyah bersamaan. Callista mengetik balasan singkat sambil mengarahkan kamera ponsel ke arah mereka berdua yang sedang menikmati kopi hangat:

Callista: Semua terkendali, Kenzo! Kami berdua baru saja memenangkan 'pertandingan kecil' di kampus masing-masing hari ini. Salam dari gerimis Jakarta!

Di bawah naungan lampu kedai kopi yang hangat dan rinai gerimis Jakarta, Callista dan Sean sadar bahwa gesekan dan tantangan di arena baru perkuliahan hanyalah batu pijakan kecil. Berdiri di atas kedewasaan, kepercayaan, dan doa yang saling menguatkan, mereka siap melangkah lebih jauh menaklukkan masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!