Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fisya Membantu Nisa
Malam sudah larut ketika mobil Kasandra berhenti di halaman rumah.
Dengan wajah lelah dan kesal, ia melangkah masuk tanpa menoleh ke kanan maupun kiri.
Belum sempat melepas tasnya, suara tangisan Agnes terdengar dari kamar belakang.
Tangisan bayi itu menggema di dalam rumah yang sunyi.
Raut wajah Kasandra langsung berubah.
Ia menghentakkan langkah menuju kamar belakang lalu membuka pintu dengan kasar.
"Bik Nisa! Diamkan anak itu! Aku baru pulang sudah disambut suara tangisan!" bentaknya.
Nisa yang sedang berusaha menenangkan Agnes langsung berdiri.
"Maaf, Bu..."
"Ingat! Aku tidak mau mendengar dia menangis lagi malam ini. Aku ingin tidur nyenyak." Ucap Kasandra kesal
Kasandra berbalik hendak pergi.
"Bu..." panggil Nisa lirih.
Kasandra menghentikan langkahnya.
"Apa lagi?"
Nisa menundukkan kepala.
"Maaf, Bu. Susu Non Agnes sudah habis. Tabungan saya juga sudah tidak ada."
Ucapan itu membuat Kasandra mendengus.
"Lalu?"
"Saya mohon... Non Agnes masih bayi. Dia membutuhkan susu. Bu" ucap Nisa
Kasandra justru tertawa sinis.
"Aku tidak peduli."
Nisa terdiam.
"Sejak bayi itu tinggal di rumah ini, bukankah selama ini kamu yang membeli semua kebutuhannya? Lanjutkan saja."
Tangis Nisa mulai pecah.
"Tapi, Bu... saya benar-benar sudah tidak punya uang."
"Itu bukan urusanku." Tegas Kasandra
"Kalau begitu... saya mohon berikan gaji saya lebih dulu." Ucap Nisa memohon
Kasandra langsung menatap tajam.
"Belum waktunya gajian sudah minta gaji? Jangan macam-macam kamu Nisa"
"Tapi Bu..."
"Sudah! Jangan ganggu aku, kalau kamu masih mau bekerja disini" bentak Kasandra
Kasandra melangkah keluar dari kamar Bik Nisa dengan wajah dipenuhi amarah.
Langkahnya terdengar berat saat ia menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di depan pintu, ia segera masuk, lalu menutup dan mengunci pintu kamar dengan kasar, seolah ingin melampiaskan seluruh emosinya.
Suaranya terdengar hingga ke kamar belakang
Nisa hanya mampu memeluk Agnes yang masih gelisah.
"Maafkan Bibi ya, Nak..."
Air matanya jatuh satu per satu lalu ia mengambil dompet lusuhnya.
Di dalamnya hanya tersisa selembar uang sepuluh ribu rupiah.
Dengan langkah tergesa, Nisa membawa Agnes keluar menuju minimarket yang masih buka.
"Sabar ya, Nak. Bibi akan berusaha."
Sesampainya di minimarket, Nisa langsung menuju rak susu.
Ia mencari ukuran paling kecil namun rak itu kosong.
Dengan wajah cemas, ia menghampiri kasir.
"Mbak, apakah ada susu formula ukuran kecil?" Ucapnya
Kasir bernama Vera menggeleng.
"Yang tersedia hanya ukuran sedang."
"Harganya berapa?" Tanya Nisa
"Delapan puluh ribu bu" Jawab Vera
Nisa menggenggam uang di tangannya.
"Saya hanya punya sepuluh ribu."
Tangisnya pecah.
"Saya mohon... bayi ini belum minum susu dari tadi Mbak! Tolong saya...."
Vera terlihat ragu.
"Saya mengerti keadaan Ibu tapi saya tidak bisa memberikan barang tanpa dibayar."
Ada beberapa pelanggan yang berbelanja di mini market itu dan mereka mulai memperhatikan.
Ada yang hanya melihat.
Ada yang berbisik pelan.
Namun tidak satu pun bergerak membantu.
Salah seorang pegawai menghampiri.
"Bu, kalau tidak jadi membeli silakan minggir dulu."
Nisa mengangguk pelan.
Ia memeluk Agnes lebih erat.
"Maaf..."
Tepat ketika ia hendak keluar...
Sebuah suara tenang terdengar dari belakang.
"Semua kebutuhan bayi itu saya yang bayar."
Semua orang menoleh.
Seorang wanita berpenampilan elegan berjalan mendekat.
Fisya Alexander.
Ia langsung mengambil beberapa kaleng susu formula, botol susu, empeng, popok, tisu basah, dan beberapa perlengkapan bayi lainnya.
"Masukkan semuanya." Tegas Fisya dengan tatapan tenang tapi tajam
Vera terdiam.
"Iya, Bu."
Setelah semua selesai dipindai, Fisya menyerahkan kartu pembayaran.
Transaksi selesai.
Fisya mengambil satu kaleng susu lalu mengambil botol susunya dan langsung membuat susu di mini market itu
Lalu ia menyerahkannya kepada Nisa.
"Tenangkan dulu bayinya."
Nisa menatap Fisya dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih... Bu Fisya..."
Fisya hanya tersenyum tipis.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pertanyaan sederhana itu membuat air mata Nisa kembali jatuh.
Dengan suara bergetar, ia mulai menceritakan bagaimana selama ini Agnes lebih banyak diasuh olehnya.
Bagaimana setiap kebutuhan bayi itu dipenuhi dari gajinya sendiri.
Fisya mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.
Tatapannya berubah bukan marah, melainkan tatapan kecewa.
"Masih ada ibu seperti itu..." gumamnya pelan.
Agnes kembali menangis.
Fisya segera membuka botol susunya lalu ia menyiapkan lagi susu hangat untuk Agnes
Dan ia sendiri yang memberikan susu tersebut pada Agnes
Setelah beberapa saat, Agnes mulai tenang dan matanya perlahan terpejam.
Fisya tanpa sadar mengusap kepala bayi itu dengan lembut dan jemarinya bergerak perlahan
"Anak yang manis... cantik sekali," gumamnya lirih.
Entah mengapa, rasa iba yang begitu besar memenuhi dadanya.
Melihat bayi mungil itu diperlakukan seperti beban membuat hatinya terasa sesak.
"Aku memang membenci Jason dan Kasandra... tapi anak ini tidak bersalah. Dia hanya seorang bayi yang belum mengerti apa pun," batin Fisya.
Untuk beberapa saat, Fisya hanya terdiam menatap wajah Agnes yang tertidur pulas.
Ada perasaan hangat yang muncul di dalam hatinya, namun ia segera menepisnya.
Ia menganggap semua itu hanyalah belas kasihan terhadap seorang bayi yang tak berdosa.
Setelah semua urusan selesai, Fisya mengantar Nisa hingga ke gerbang rumah Kasandra.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Fisya mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya, lalu menyodorkannya kepada Nisa.
"Ini nomor saya."
Nisa menerimanya dengan kedua tangan.
"Kalau suatu hari Bibik membutuhkan bantuan, atau Agnes berada dalam keadaan yang tidak baik, jangan pernah ragu menghubungi saya." Ucap Fisya lembut
Belum sempat Nisa menjawab, Fisya kembali mengeluarkan sebuah kartu ATM.
"Simpan ini untuk jaga-jaga" Fisya tersenyum
Nisa langsung terbelalak.
"Bu... saya tidak bisa menerima ini."
"Ambil saja, Bik. PIN-nya tadi sudah saya tulis di belakang kartu. Gunakan hanya untuk kebutuhan Agnes dan kebutuhan Bibik. Anggap saja ini adalah titipan dari Tuhan untuk orang-orang baik seperti Bibik." Lanjut Fisya
Suara Fisya terdengar begitu lembut, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa iba yang berlebihan.
Air mata Nisa kembali mengalir.
Seumur hidupnya, baru kali ini ada seseorang yang benar-benar peduli kepada dirinya dan Agnes tanpa mengharapkan balasan apa pun.
"Terima kasih... Bu Fisya. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Ibu." Ucap Nisa terharu
Fisya hanya tersenyum tipis.
"Tolong jaga Agnes baik-baik jangan sampai disakiti oleh ibunya lagi"
"Saya janji, Bu." Jawab Nisa
Fisya mengangguk pelan sebelum masuk ke dalam mobil.
Lalu Fisya menarik napas
"Kamu pikir dengan menyiksa Agnes akan membuat ku hancur, kamu salah besar Kasandra"
"Kamu lah sebenarnya yang merasa tersakiti dan hancur karena kamu telah menyakiti darah daging mu sendiri Kasandra" gumam Fisya
Tak lama kemudian, mobil mewah itu perlahan meninggalkan rumah Kasandra hingga lampu belakangnya semakin lama semakin menghilang di balik gelapnya malam.
Nisa masih berdiri di depan gerbang sambil menggendong Agnes erat di pelukannya.
Ia menatap ke arah mobil yang telah pergi, lalu mengusap pipi mungil bayi itu dengan penuh kasih sayang.
"Lihat, Nak... ibu kandungmu baru saja menolongmu. Meski beliau belum mengetahui siapa dirimu sebenarnya, hatinya sudah memilih untuk melindungimu." Ucap Nisa
Air mata Nisa kembali jatuh.
"Bibi yakin... suatu hari nanti kebenaran akan menemukan jalannya. Saat Bu Fisya mengetahui semuanya, beliau pasti akan menjemputmu dan memberikan kehidupan yang selama ini menjadi hakmu."
Nisa mengecup lembut kening Agnes.
"Sampai hari itu tiba, Bibi akan menjaga rahasia ini. Bibi akan melindungimu, membesarkanmu, dan memastikan tidak ada seorang pun yang menyakitimu lagi. Itu janji Bibi."