Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun di Atas Panggung Karpet Merah
Kekalahan di lorong rumah sakit malam itu tidak memadamkan keangkuhan Adam; itu justru membusuk menjadi dendam yang pekat. Bagi pria seperti Adam, kehilangan piala adalah satu hal, tetapi melihat pria yang paling ia benci mendapatkan kebahagiaan sejati di atas kejatuhannya adalah penghinaan yang tak bisa diampuni.
Di ruang kerjanya yang serba hitam di lantai lima puluh, Adam menatap dua berkas rahasia di atas meja glass-nya. Di sebelahnya, segelas wiski murni tinggal tersisa separuh.
"Kau pikir kau sudah menang, Ajo?" bisik Adam, suaranya parau dan bergetar oleh amarah yang membakar ulu hatinya. "Kau pikir kau bisa menjadi pahlawan dan berjalan melenggang dengan Elsa? Akan kubuat kau merangkak di lumpur yang sama seperti sepuluh tahun lalu."
Rencana Adam kali ini tidak lagi main-main. Ia tidak hanya mengincar Ajo, tetapi juga Maya—wanita yang memepermalukannya di depan para staf dan menolak kembali ke pelukannya. Adam memanfaatkan seluruh jaringan media, koneksi politik, dan dana gelapnya untuk melancarkan serangan ganda berdarah dingin tepat pada malam Gala Premiere film Cinta Dua Batas.
Malam puncak Gala Premiere di bioskop megah kawasan Jakarta Pusat dibanjiri oleh kilatan blitz kamera dan karpet merah yang membentang sepanjang lima puluh meter. Ratusan wartawan, kritikus film, dan selebriti papan atas berkumpul.
Elsa melangkah di atas karpet merah dalam balutan gaun mahakarya Maya—sebuah gaun malam berwarna biru malam berpendar perak yang memesona, memamerkan keanggunan seorang wanita yang telah bebas dari bayang-bayang. Di sampingnya, Ajo berjalan dengan setelan jas kustom yang presisi. Untuk pertama kalinya di depan publik, Ajo tidak menggandeng Elsa sebagai sekadar produser; jemarinya menggenggam erat tangan Elsa, menatap wanita itu dengan binar protektif yang begitu kentara.
Namun, di tengah sorak-sorai publik dan kilatan kamera yang membabi buta, bencana yang dirancang Adam meledak tanpa peringatan.
Tiba-tiba, seluruh layar LED raksasa di area lobi utama yang seharusnya menampilkan trailer film mendadak mati. Udara memadat seketika saat layar-layar itu menyala kembali, memutarkan dokumen-dokumen internal hasil retakan hacker bayaran Adam, lengkap dengan rekaman suara yang dipotong dan direkayasa sedemikian rupa.
Di layar raksasa itu, terpampang narasi palsu yang mengerikan: Ajo dituduh melakukan manipulasi keuangan masif, mencuci uang investor lewat rumah produksinya, dan yang paling membakar amarah publik—Ajo dituduh memanfaatkan kekuasaannya untuk menekan dan melakukan pelecehan secara emosional kepada Elsa demi memaksa aktris itu mematuhi kontrak.
Bukan hanya itu. Layar di sebelah kanan secara bersamaan menayangkan dokumen hak cipta rancangan gaun-gaun mahakarya Maya, disertai tuduhan skandal plagiarisme berat yang mengklaim bahwa seluruh karier mode Maya dibeli dari hasil curian desain perancang luar negeri yang dibayar oleh Ajo.
Gema rekaman suara rekayasa Ajo yang terdengar dingin memotong udara: "Elsa hanyalah alat. Karakter dan air matanya bisa kubeli dengan uang."
Gedung megah itu mendadak gempar. Suara bisik-bisik berubah menjadi gumaman riuh penuh kegeraman. Kilatan blitz kamera yang tadinya memuja, kini menyengat Ajo dan Elsa bagai ribuan kilatan petir yang liar dan haus darah. Puluhan mikrofon wartawan mendadak ditodongkan secara brutal ke wajah Ajo.
"Pak Ajo! Apakah benar Anda mencuci uang investor?!"
"Nona Elsa! Apakah Anda selama ini berada di bawah ancaman Ajo?!"
"Mbak Maya! Apakah semua gaun Anda hasil plagiat?!"
Elsa tersentak kaget, tubuhnya gemetar hebat saat gelombang massa memburu mereka. Ia memandang layar raksasa itu dengan mata membelalak penuh ketakutan. Namun alih-alih meragukan Ajo, Elsa meremas jemari Ajo semakin kuat. Ia tahu persis siapa dalang di balik kekejaman ini.
Ajo memajukan tubuhnya, menutupi Elsa sepenuhnya dari sorotan kamera dan desakan brutal para wartawan. Punggung Ajo yang belum sepenuhnya sembuh terasa dihantam nyeri hebat akibat dorongan massa, namun rahangnya mengetat rapat. Matanya yang tajam menyapu kerumunan, dan di lantai mezanin atas, ia melihat sosok itu.
Adam berdiri di sana, memegang gelas sampanye, menatap ke bawah dengan senyuman iblis yang sarat akan kepuasan penuh dendam.
Di sudut lain karpet merah, Maya berdiri membeku. Wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan elegan kini pucat pasi bagai mayat. Seluruh reputasi dan karya yang ia bangun dengan tetes keringat serta darah selama sepuluh tahun hancur lumat dalam hitungan detik di depan publik nasional. Karirnya sebagai perancang busana ternama runtuh seketika saat beberapa klien utamanya langsung berjalan menjauh darinya dengan tatapan jijik.
Maya mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, air mata kemarahan dan kehancuran menetes melintasi pipinya. "Adam... kau iblis!" bisiknya dengan suara bergetar yang hancur.
Melihat kehancuran di sekelilingnya, emosi Ajo yang selama ini terpendam rapat akhirnya meledak sepenuhnya. Pria bertangan dingin yang selalu tenang itu tak lagi mampu membendung badai di dadanya.
Dengan mata membara oleh amarah liar, Ajo melepaskan Elsa sebentar ke dalam perlindungan tim keamanan terpercaya, lalu melangkah menerobos kerumunan wartawan dengan keteguhan yang mengerikan. Ia memanjat tangga menuju lantai mezanin, mengabaikan teriakan dan kilatan kamera yang mengikutinya.
Adam yang sedang menikmati kemenangannya tidak sempat menghindar ketika Ajo tiba di hadapannya bagai badai pembawa maut.
BUK!
Satu pukulan keras dan mentah mendarat tepat di rahang Adam.
Hantaman itu begitu kuat hingga membuat Adam tersungkur menghantam meja kaca, memecahkan gelas-gelas sampanye dan membasahi kemeja mewahnya dengan cairan dan darah dari bibirnya yang robek. Para tamu berteriak histeris.
Ajo mencengkeram kerah jas Adam, mengangkat pria itu hingga sejajar dengan wajahnya. Napas Ajo memburu, matanya merah padam oleh kemarahan dan kepedihan yang meluap dari dasar jiwanya.
"Kau boleh serang aku, Adam! Kau boleh hancurkan rumah produksiku sampai tak tersisa!" teriak Ajo, suaranya menggelegar memecah keheningan lobi, bergetar oleh rasa cinta dan keputusasaan yang mendalam. "Tapi jika kau menyentuh Elsa dan merusak hidup orang-orang di sekitarku demi ego busukmu... aku bersumpah akan menyeretmu ke neraka bersamaku!"
Adam meringis, meraba darah di bibirnya, namun matanya memancarkan kegilaan yang puas. "Kau sudah hancur, Ajo..." bisik Adam tertawa getir. "Lihat ke bawah! Karirmu tamat! Karir Maya tamat! Kau tidak punya apa-apa lagi!"
Ajo menatap Adam dengan tatapan yang mendadak melunak—bukan karena takut, melainkan karena rasa kasihan yang amat mendalam pada pria di depannya.
"Kau salah, Adam," bisik Ajo rendah namun begitu tajam menusuk ulu hati Adam. "Kau punya segalanya tapi kau mati dalam kesepian. Sedangkan aku... aku memiliki hal yang paling berharga yang tidak akan pernah bisa kau hancurkan dengan uang atau fitnahmu."
Ajo menghempaskan Adam ke lantai, membalikkan badan, dan berjalan turun kembali ke karpet merah tanpa memedulikan tatapan menghakimi dari dunia. Ia melangkah langsung ke arah Elsa yang sedang menunggunya dengan air mata mengalir deras.
Di hadapan ratusan kamera yang merekam secara langsung ke seluruh negeri, Ajo menarik Elsa ke dalam dekapannya yang erat, mencium kening wanita itu di tengah badai skandal yang membakar nama mereka.
"Mari kita hadapi kehancuran ini bersama, Elsa," bisik Ajo di telinga wanita itu.
Elsa memeluk leher Ajo rapat-rapat, mengabaikan hancurnya karier mereka malam itu. Di tengah kekacauan dan kebencian dunia, dua jiwa yang terluka itu akhirnya menemukan kemenangan sejati yang tak akan pernah bisa direbut oleh rencana jahat apa pun.