Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 : BUKTI DI HUTAN
Pagi belum benar-benar terang. Kabut putih tebal masih menyelimuti seluruh penjuru Wana Kelor, membuat jarak pandang tak sampai sepuluh langkah. Putri Larasati berjalan di depan dengan hati-hati, diikuti Sukma—pengawal setianya yang sudah mengabdi sejak ia kecil. Keduanya melangkah pelan, sesekali berhenti mencium bau asing atau memeriksa jejak yang tertinggal di tanah lembap.
"Yakin benar jejak ini mengarah ke dalam, Sukma?" tanya Larasati berbisik, matanya terus mengawasi sela-sela semak belukar yang lebat.
"Benar Tuan Putri. Beberapa hari terakhir banyak orang tak dikenal terlihat lewat perbatasan hutan ini. Tidak seperti penebang kayu, tidak juga seperti pemburu. Jejak sepatunya buatan halus, sepatu yang biasa dipakai orang yang punya kedudukan namun bersembunyi," jawab Sukma sambil menunjuk bekas tapak yang cukup dalam di tanah lunak.
Larasati mengangguk pelan. Sejak kejadian pencurian gudang istana, hatinya terus merasa gelisah. Sesuatu yang tak beres, sesuatu yang disembunyikan orang di balik tuduhan kepada Bayu. Maka diam-diam ia meminta Sukma menyelidiki sendiri, tak mau melibatkan pasukan kerajaan yang mungkin sudah dipengaruhi berita satu sisi saja.
Mereka terus berjalan masuk lebih dalam. Pepohonan semakin rapat, sinar matahari nyaris tak bisa menembus daun-daun lebat di atas sana. Tiba-tiba bau anyir berminyak dan bau tuak basi tercium samar tertiup angin.
"Putri, di sana," bisik Sukma sambil menunjuk ke arah gundukan semak yang terlihat seperti sengaja ditata menutupi sesuatu.
Mereka mendekat perlahan. Di balik rimbunan tanaman merambat, terlihat mulut gua yang agak besar. Di depannya masih terlihat bekas bara api yang belum lama padam.
"Kita hati-hati. Siapa tahu masih ada yang menjaga," pesan Larasati sambil mengintai dari balik batang pohon besar.
Suasana di dalam gua sunyi senyap. Hanya terdengar suara tetesan air dari dinding batu. Mereka melangkah masuk perlahan, membiarkan mata terbiasa dengan cahaya yang semakin redup. Hingga akhirnya pandangan mereka tertuju pada sudut paling dalam. Jantung Larasati seakan berhenti berdetak sesaat.
Tujuh peti besar yang sempat dilaporkan hilang dari gudang istana, terjejer rapi di sana. Segel lambang Kerajaan Galuh di bagian tutupnya masih utuh sebagian, meski ada yang sudah dibuka paksa.
"Ini benar-benar barang milik kita, Sukma!" seru Larasati tak percaya, tangannya menyentuh permukaan peti yang dingin dan berat.
"Tapi bagaimana bisa sampai di sini? Dan siapa yang menyembunyikannya?"
Sukma sedang memeriksa sekeliling lantai gua. Ia melihat sisa makanan, pecahan gelas, dan sebilah keris yang diukir lambang serigala—lambang yang dikenal milik gerombolan penyamun pimpinan Jaka Jagad.
"Putri... ini bukan perbuatan Bayu Suta," ucap Sukma mantap.
"Lihat ini semua. Jejak sepatu, lambang senjata, sisa pembicaraan yang tertulis di selembar kulit kayu. Semuanya mengarah pada Jaka Jagad dan pasukannya."
Larasati menghela napas panjang, dadanya terasa lega luar biasa sekaligus makin gelisah. Lega karena tahu Bayu tidak bersalah, gelisah karena pelakunya sengaja merancang semuanya agar orang lain tertuduh. Ia berjalan memeriksa meja batu bekas tempat pemimpin mereka duduk, hingga kakinya menyandung sesuatu yang tergeletak di pojok gelap. Sebuah topeng sederhana yang dibuat persis menyerupai ciri wajah Si Pemanah Rasa.
Ia memungutnya perlahan. Di pinggiran topeng masih terlihat sisa pewarna yang belum kering sempurna.
"Inilah buktinya," bisiknya gemetar.
"Dia membuat ini semua hanya untuk menjatuhkan nama baik Bayu."
"Tapi sepertinya mereka sudah pergi mendadak Tuan Putri," kata Sukma sambil mengintai keluar mulut gua.
"Ada jejak langkah yang berantakan, seolah mereka melihat atau mendengar sesuatu yang membuat mereka panik lari membawa sebagian barang kecil."
"Pasti mereka tahu ada orang yang datang menyelidiki," ucap Larasati tegas.
"Tapi setidaknya sekarang kita punya bukti nyata. Barang hilang ada di sini, ada jejak pelaku asli, ada tiruan penampilan yang disiapkan untuk menuduh orang tak bersalah."
Belum sempat mereka berniat membawa satu peti sebagai bukti ke istana, terdengar suara banyak orang berteriak memanggil nama dari kejauhan.
"Jaka Jagad! Kemari cepat! Pasukan mulai merapat ke pinggir hutan!"
Larasati dan Sukma saling berpandangan. Mereka tak sempat membawa barang besar, dan tak boleh sampai ketahuan pelaku bahwa bukti sudah ditemukan.
"Kita harus pergi dari sini sekarang, sebelum mereka kembali," bisik Sukma sambil memastikan kembali letak gua ini agar tak lupa jalan pulang.
Mereka menyelinap keluar lewat celah samping gua yang tertutup akar pohon. Sesaat setelah mereka menjauh, terdengar langkah kaki berat memasuki tempat persembunyian itu.
"Kenapa ada jejak orang masuk ke sini?!" bentak suara kasar Jaka Jagad.
"Coba periksa semuanya! Kalau ada yang tahu tempat ini, kita harus pindahkan semuanya malam ini juga!"
Larasati menunduk menyembunyikan diri di balik rerumputan tinggi, hatinya berdebar kencang namun senyum tipis terukir di bibirnya. Meskipun pelaku lolos sementara waktu, benih kebenaran sudah ditemukan. Sekarang tinggal cara menyampaikannya agar tidak ditolak mentah-mentah oleh pihak yang sudah membenci Bayu sedari dulu.
Sepanjang jalan pulang menuju istana, pikirannya terus berputar. Bagaimana cara melaporkan hal ini kepada Ayahanda Raja, sementara Bupati Rangga Sasmita dan para pendukungnya sudah melancarkan tuduhan ke mana-mana. Apakah bukti yang ada cukup kuat untuk melawan pengaruh besar mereka? Atau justru ia sendiri yang akan dituduh membantu pelarian seorang tersangka utama?
Namun Larasati sadar, tak sepatutnya kebenaran dikubur hanya karena takut pada bahaya. Demi keadilan, demi nama baik seseorang yang selama ini selalu menolong rakyat kecil, ia akan membuktikan semuanya sampai tuntas.
Sinar matahari akhirnya menembus sisa kabut, menerangi kembali jalan setapak yang mereka lalui. Meski jalan masih panjang dan penuh rintangan, setidaknya kini mereka tidak lagi berjalan dalam kegelapan ketidaktahuan.
Kabar bahwa barang hilang ternyata disembunyikan di hutan perlahan akan sampai ke telinga Raja, namun tak lama kemudian ia juga akan menyadari bahwa fitnah yang ditanamkan sudah tumbuh begitu rimbun di hati banyak orang.