NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat Pagi Hari

Rasa besi yang samar masih tertinggal di ujung lidah Aria ketika ia membuka kelopak matanya. Sinar matahari pagi menerobos celah tirai beludru hijau yang telah memudar di beberapa sudut, menyinari butiran debu yang melayang lambat di udara kamar. Kepalanya terasa seberat batu kastel, sisa dari pemaksaan mana semalam saat ia menulis ulang naskah takdir.

“Nona! Anda akhirnya bangun,” sebuah suara cemas memecah keheningan.

Mia Florent bergegas mendekat dari sudut ruangan. Tangannya yang gemetar meletakkan baskom kuningan berisi air hangat di atas meja kayu yang retak. Gadis pelayan itu segera memeras selembar kain katun putih, lalu mengusap dahi Aria dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah majikannya terbuat dari kaca yang mudah pecah.

“Aku tidak apa-apa, Mia,” bisik Aria. Suaranya terdengar serak, kering seperti dedaunan musim gugur. Ia mencoba bangkit, menyandarkan punggungnya pada bantal bulu yang sudah mulai mengeras.

“Jangan banyak bergerak dahulu, Nona. Semalam hidung Anda berdarah sangat hebat. Saya hampir saja memanggil tabib jika Baron tidak melarang karena khawatir akan memicu desas-desus,” Mia menggigit bibir bawahnya, menyembunyikan kecemasan yang mendalam di balik matanya yang sembap.

Aria tersenyum tipis, menepuk punggung tangan Mia pelan untuk menenangkannya. Di dunia ini, di mana status sosial menentukan segalanya, kelemahan sekecil apa pun dari keluarga Baron yang bangkrut akan menjadi santapan empuk bagi para burung hering di lingkaran sosial ibu kota. Ia tahu ayahnya membuat keputusan yang tepat dengan merahasiakan kondisinya.

“Tinggalkan aku sebentar, Mia. Aku ingin menghirup udara segar tanpa gangguan,” pinta Aria lembut.

Mia membungkuk dalam, lalu melangkah keluar dengan langkah kaki yang diredam. Pintu kayu ek tua itu tertutup dengan derit halus yang khas.

Begitu kesunyian kembali menguasai ruangan, sebutir cahaya keperakan melayang keluar dari balik lipatan tirai tempat tidur. Cahaya itu memadat, membentuk sosok peri kecil dengan sayap transparan yang berkilau seperti embun pagi. Lumi mendarat dengan anggun di atas lutut Aria yang tertutup selimut.

“Perubahan semalam terlalu memaksakan wadah jiwamu, Aria,” ujar Lumi. Suara kecilnya terdengar seperti denting lonceng perak, namun nadanya dipenuhi kekhawatiran yang nyata. “Menulis ulang tindakan penjaga istana di depan Pangeran Kael membutuhkan mana suci yang murni. Jiwa modernmu belum sepenuhnya menyatu dengan aliran mana tubuh ini.”

Aria menatap jemarinya yang pucat, lalu mengepalkannya perlahan. “Kita tidak punya pilihan, Lumi. Jika dokumen suap Evelyn berhasil lolos dan penagih utang palsu itu mempermalukan Ayah di depan umum, keluarga Evander akan hancur sebelum kita sempat memperbaiki bisnis anggur madu.”

“Namun, naskah dunia ini memiliki daya lentur,” Lumi terbang mendekati wajah Aria, matanya yang sebiru safir menatap tajam. “Setiap kali kau membelokkan alur yang seharusnya tertulis untuk Evelyn, dunia akan mencoba menyeimbangkannya kembali. Kau harus berhati-hati di jamuan teh hari ini.”

Aria mengangguk paham. Ia tahu hukum sebab-akibat ini dengan sangat baik dari pengetahuannya tentang struktur novel asli. Evelyn Roselia, sang pahlawan wanita yang dicintai dunia, tidak akan tinggal diam setelah rencananya semalam gagal secara misterius.

“Maka dari itu, kita harus mengubah nasib kecil lainnya hari ini,” Aria tersenyum tipis, sebuah binar strategis muncul di netra kelabunya. “Sesuatu yang tidak akan memicu kecurigaan besar, tetapi cukup untuk mengamankan posisi finansial kita.”

Aria meraih pena bulu angsa hitam di atas meja samping tempat tidurnya. Dengan bantuan sisa mana yang dikumpulkan Lumi, ia membuka buku harian kulitnya yang berfungsi sebagai medium takdir fisik di dunia ini. Tulisan tangan Aria yang rapi mulai menggores kertas kekuningan.

*Kereta dagang milik Tuan Henderson—mitra distrik yang membawa botol kaca pesanan Evander—mengambil jalur pintas melalui celah bukit berbatu. Mereka menghindari pemeriksaan pajak tambahan di gerbang timur karena patroli penjaga yang dialihkan secara kebetulan.*

Cahaya keperakan samar berpendar dari ujung pena, meresap ke dalam serat kertas sebelum menghilang sepenuhnya. Aria menghela napas panjang, merasakan sedikit kekosongan di dadanya saat mana miliknya kembali terkuras. Namun, kali ini efeknya jauh lebih ringan daripada semalam.

“Ini akan memastikan pasokan botol kaca kita tiba sebelum matahari terbenam tanpa biaya tambahan,” gumam Aria, menutup bukunya.

Tiga jam kemudian, Aria telah berdiri di selasar luar paviliun kaca istana, tempat jamuan teh musim semi diadakan. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hijau sage yang sederhana, tanpa hiasan permata berlebih. Gaun itu adalah gaun lama yang dijahit ulang oleh Mia dengan sangat rapi, menonjolkan siluet tubuhnya yang anggun tanpa terkesan pamer.

Aroma harum teh earl grey dan kelopak mawar yang mekar di taman istana menguar di udara yang sejuk. Di ujung selasar, sekelompok wanita bangsawan sedang berkumpul, mengelilingi seorang gadis dengan gaun merah muda berenda mewah yang tak lain adalah Evelyn Roselia.

Evelyn menyadari kehadiran Aria. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman manis yang tampak begitu tulus, namun matanya yang sebiru langit menyimpan kilatan dingin yang mematikan. Ia melangkah mendekati Aria dengan gerakan yang sangat anggun.

“Aria, senang melihatmu bisa hadir,” sapa Evelyn dengan suara lembut yang menarik perhatian para wanita di sekitarnya. “Aku sempat mendengar kabar burung bahwa keluargamu sedang mengalami masa sulit belakangan ini. Kuharap gaun sederhana yang kau kenakan hari ini bukan karena... ah, lupakan saja. Kau tetap terlihat manis.”

Beberapa nona muda di belakang Evelyn menutup mulut mereka dengan kipas sutra, menyembunyikan tawa sinis. Sindiran halus itu ditujukan langsung untuk merendahkan status finansial keluarga Evander.

Aria tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru menegakkan punggungnya, menatap Evelyn dengan pandangan tenang yang membuat gadis di hadapannya sedikit tidak nyaman.

“Terima kasih atas perhatianmu yang begitu besar, Lady Evelyn,” ujar Aria, suaranya terdengar jernih dan berwibawa di antara desas-desus yang mulai senyap. “Kesederhanaan adalah bentuk penghormatan kami terhadap musim semi yang murni. Bukankah keindahan sejati tidak diukur dari seberapa banyak renda yang bisa dibeli oleh koin emas?”

Evelyn sedikit tersentak. Sebelum ia sempat membalas, seorang pelayan istana dengan seragam resmi bergegas mendekati area paviliun, membawa sebuah gulungan dokumen penting ke arah meja utama di mana beberapa tetua bangsawan dan investor distrik sedang duduk.

“Laporan dari gerbang barat!” seru pelayan itu dengan napas terengah-engah. “Kereta dagang Henderson baru saja tiba dengan muatan botol kaca berkualitas tinggi untuk distrik Evander. Mereka berhasil melewati jalur alternatif dan membawa sampel anggur madu baru yang siap dipasarkan besok pagi!”

Bisik-bisik di antara para bangsawan langsung berubah arah. Beberapa investor yang awalnya mengabaikan Aria kini mulai saling berpandangan dengan ketertarikan yang jelas. Anggur madu dengan kemasan kaca mewah adalah komoditas langka yang sangat dicari oleh kalangan atas kekaisaran saat ini.

Wajah Evelyn memucat sesaat. Rencana sabotase botol kaca yang telah ia susun bersama kroninya menguap begitu saja karena rute alternatif yang tidak terduga itu. Ia mengepalkan jemarinya di balik lipatan gaun indahnya hingga kuku-kukunya memutih.

Dari kejauhan, di balik pilar marmer yang tinggi, sesosok pria berambut hitam dengan jubah berlogo naga emas mengamati seluruh kejadian itu. Pangeran Kael Ashford menyesap tehnya perlahan, matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dari sosok Aria.

“Gadis yang menarik,” gumam sebuah suara berat dari balik bayangan pilar di samping Kael.

Duke Lucien Veritas melangkah maju, senyuman misterius tersungging di wajahnya yang tampan nan dingin. Ia menatap Aria dengan pandangan seorang pemain catur yang baru saja menemukan pion paling berharga di atas papan.

“Dia selalu punya cara untuk mengubah papan permainan, bukan begitu, Yang Mulia?” bisik Lucien, membuat Kael meliriknya dengan tatapan penuh kewaspadaan.

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!