NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis yang Mulai Kabur

Sore itu berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.

Sesampainya di rumah, Aluna langsung menuju kamarnya tanpa banyak bicara. Bibi Mira yang menyambut di ruang tengah segera menyadari perubahan pada wajah gadis itu. Senyum yang biasanya selalu menghiasi bibirnya kini menghilang, digantikan tatapan yang dipenuhi kegelisahan.

"Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Bibi Mira lembut.

Aluna meletakkan tasnya di atas tempat tidur.

"Tidak apa-apa."

Jawaban itu terdengar terlalu singkat.

Bibi Mira mengenalnya sejak kecil. Ia tahu, setiap kali Aluna berkata tidak apa-apa dengan nada seperti itu, justru ada sesuatu yang sedang berusaha disembunyikan.

"Kalau suatu saat ingin bercerita, Bibi akan mendengarkan."

Aluna mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Setelah pintu kamar tertutup, ia mengeluarkan foto misterius dari dalam tas.

Foto itu kembali membuat bulu kuduknya meremang.

Jelas sekali gambar tersebut diambil dari luar rumah.

Artinya, seseorang benar-benar pernah berada di dekat kediamannya tanpa diketahui siapa pun.

Ia membalik foto itu.

Tulisan di bagian belakang masih sama.

"Aku selalu lebih dekat daripada yang kau kira."

Tanpa sadar, Aluna menggenggam foto itu lebih erat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, rumah yang selama ini terasa paling aman mulai menghadirkan perasaan asing.

__________________________________________

Di sisi lain kota, Darren memasuki ruang kerja Niel dengan membawa sebuah map hitam.

"Kami menemukan sesuatu."

Niel mengangkat pandangan.

"Katakan."

"Kamera pengawas di sekitar taman berhasil merekam seseorang yang diduga pelaku."

Darren membuka map tersebut.

Beberapa lembar foto hasil tangkapan kamera diletakkan di atas meja.

Sayangnya, wajah pria itu tidak pernah terlihat utuh.

Di setiap rekaman, ia selalu bergerak tepat ketika kamera berganti sudut.

"Sengaja."

Niel mengambil salah satu foto.

"Dia memahami titik buta kamera."

"Benar."

Darren menunjuk foto terakhir.

"Hanya ini yang berbeda."

Niel memperhatikan lebih saksama.

Di balik pantulan kaca sebuah toko, tampak bayangan wajah pria itu selama kurang dari satu detik.

Meski samar, cukup untuk memperlihatkan satu bekas luka tipis yang memanjang dari pelipis hingga pipi kirinya.

"Itu saja?"

"Masih ada satu hal."

Darren menyerahkan sebuah amplop transparan.

"Tim forensik menemukan serat kain pada topi yang ditinggalkan."

"Hasilnya?"

"Bahan tersebut tidak diproduksi di dalam negeri."

Niel terdiam.

Bekas luka.

Simbol merah.

Bahan kain yang tidak umum.

Semua petunjuk itu terasa seperti potongan puzzle yang belum bisa disusun.

__________________________________________

Malam mulai turun.

Di sebuah rumah tua yang tersembunyi di pinggiran kota, pria bertopi hitam memasuki sebuah ruangan bercahaya redup.

Pria berambut putih yang pernah ditemuinya beberapa hari lalu telah menunggu.

"Apa laporanmu?"

"Rencana berjalan sesuai harapan."

"Bagaimana dengan Niel?"

"Dia mulai bergerak lebih cepat."

Pria tua itu tersenyum tipis.

"Itu yang kuinginkan."

"Apakah kita akan melanjutkan tahap berikutnya?"

Pria tua itu mengangguk.

"Besok."

Pria bertopi sedikit mengernyit.

"Secepat itu?"

"Semakin lama kita menunggu, semakin besar kemungkinan dia menemukan sesuatu."

Ia bangkit dari kursinya.

"Sudah waktunya mempertemukan mereka sekali lagi."

"Secara kebetulan?"

"Bukan."

Tatapan pria tua itu berubah dingin.

"Kali ini... biarkan Niel memilih."

___________________________________________

Keesokan paginya, Aluna memutuskan pergi sendiri ke sebuah perpustakaan tua di pusat kota.

Tempat itu selalu menjadi pelariannya ketika pikiran sedang penuh.

Rak-rak kayu yang menjulang tinggi dan aroma buku lama selalu berhasil menenangkan hatinya.

Ia memilih duduk di dekat jendela besar.

Sebuah buku sejarah berada di tangannya, tetapi pikirannya masih melayang.

Tanpa disadari, seseorang mengambil kursi di hadapannya.

"Apakah tempat ini kosong?"

Aluna mengangkat kepala.

Jantungnya seolah berhenti sesaat.

"Niel..."

Pria itu mengenakan kemeja hitam sederhana tanpa jas yang biasa ia pakai.

Penampilannya jauh lebih santai, tetapi sorot matanya tetap tenang.

"Aku mengganggumu?"

Aluna menggeleng perlahan.

"Tidak."

Keheningan sesaat menyelimuti meja mereka.

Di luar perpustakaan, hujan rintik-rintik mulai turun.

Aluna akhirnya mengumpulkan keberanian.

"Aku ingin bertanya."

Niel menatapnya.

"Tentang apa?"

"Sejak kita bertemu..."

Aluna menarik napas pelan.

"Apakah ada sesuatu yang belum kau katakan kepadaku?"

Niel tidak langsung menjawab.

Tatapannya beralih ke jendela, memperhatikan butiran hujan yang jatuh perlahan.

Lalu ia kembali menatap Aluna.

"Ada."

Jantung Aluna berdegup semakin cepat.

"Apa itu?"

Niel membuka bibirnya untuk menjawab.

Namun pada detik yang sama...

Suara ledakan keras mengguncang lantai dasar perpustakaan.

Rak-rak buku bergetar hebat.

Orang-orang berteriak panik.

Dan dari arah pintu masuk...

Tiga pria bertopeng melangkah masuk sambil membawa senjata.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!