Ketika Aisyah terjebak di Shanghai sebagai seorang imigran gelap, ia tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah karena dua bersaudara dari keluarga Lin.
Lin Zhao memberinya rasa aman dan cinta yang tak pernah ia duga.
Sementara Lin Chou justru memberinya ancaman, kebencian, dan luka.
Namun siapa sangka, di balik semua kebencian itu tersimpan rahasia masa lalu yang mampu menghancurkan segalanya.
Tentang cinta yang tertinggal.
Tentang janji yang gagal ditepati.
Dan tentang seorang perempuan... yang memilih pergi setelah diam-diam menyelamatkan keluarga yang telah menyakitinya.
Di antara dua negara, dua budaya, dan dua hati yang dipertemukan takdir.
apakah cinta cukup kuat untuk melawan luka masa lalu?
Atau justru penyesalan akan datang... saat semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
Lin Zhao kembali dengan wajah yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Namun ketika dia baru saja masuk kedalam rumah dia mendengar Aisyah sedang mengaji.
Batin Lin Zhao yang tadinya panas,gelisah dan juga diliputi amarah yang memuncak tiba-tiba saja merasakan kehangatan dan ketenangan yang sulit untuk dia jelaskan.
Lin Zhao duduk didepan kamar Aisyah dan mendengarkan lantunan Ayat-ayat suci Alqur'an yang sedang Aisyah baca.
Tiba-tiba saja airmatanya mengalir tanpa diminta. Lin Zhao tenggelam pada rasa yang sulit untuk dia jelaskan.
“Kenapa setiap mendengar suara itu… hatiku seperti pulang ke tempat yang bahkan belum pernah aku kenal?”
Kata-kata itu hanya bisa dia pendam dalam hati. Keyakinan Aisyah membuatnya merasa menjadi seseorang yang baru.
"Kak Lin apa yang sedang kamu lakukan?" ucapan lembut Aisyah membuat Lin Zhao sedikit terkejut.
"Aisyah apa yang baru saja kamu baca kenapa itu terdengar sangat merdu. Apa itu musik?"tanya Lin Zhao penasaran.
Aisyah tersenyum dia mendekati Lin Zhao yang masih duduk dilantai..
"Itu bukan musik Kak Lin. Itu namanya lantunan Ayat-ayat suci Alqur'an. Ketika kita membacanya akan membuat hati kita merasa lebih tenang."
Lin Zhao tersenyum..
"Apa kamu bisa mengajariku?" ucapnya tiba-tiba membuat Aisyah terkejut.
"Agama itu bukan mainan Kak Lin. Kita berdua beda keyakinan. Aku seorang muslim dan Kak Lin adalah Budha. Jadi Kak Lin gak bisa sembarangan dalam belajar sesuatu."
Ucapan Aisyah membuat Lin Zhao sadar bahwa ada penghalang besar diantara keduanya..
"Tapi bagaimana jika suatu hari nanti aku juga bisa menjadi seorang muslim? apakah itu akan membuat kamu mau mengajariku tentang Islam?"
Mendengar kata-kata Lin Zhao membuat Aisyah terdiam untuk sesaat.
"Jika suatu saat nanti Kak Lin menjadi seorang mualaf maka lakukanlah itu karna hati Kak Lin yang memilih. Bukan karna sesuatu atau paksaan siapapun."
"Tapi setiap kali aku mendengarkan adzan aku merasakan seperti ada sesuatu Aisyah tapi aku sendiri tidak tahu."
Aisyah menatap Lin Zhao tak percaya. Laki-laki itu seperti telah mendapatkan hidayah untuk memeluk agama Islam,namun Aisyah masih enggan untuk menebak.
"Mungkin karna suara itu asing buat Kak Lin. sehingga ketika Kak Lin mendengarkannya Kak Lin merasa nyaman dan tenang. Mungkin itu bukan panggilan tapi hanya ketenangan batin."
Dari balik pintu utama Lin Chou mendengar semua yang dikatakan oleh Aisyah.
Sama seperti dulu saat Alesya mengatakan hal yang sama.
Lin Chou kembali mengingat kenangannya bersama Alesya.
Dulu Alesya pun selalu membaca Al-Qur'an sama seperti yang dilakukan Aisyah.
Suaranya lembut,membuat hatinya bergetar.
Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun Lin Chou kembali merasakan kehangatan lewat lantunan Ayat-ayat suci Alqur'an yang dibaca oleh Aisyah.
"Alesya.. Lihatlah wanita itu dia sangat mirip denganmu. Dia juga bisa membimbing Lin Zhao. Kenapa disaat seperti ini justru kamu menghilang tanpa kabar dan berita. Aku sudah mencari kamu kemanapun namun aku juga tak menemukan jejakmu."
"Alesya.. Kamu sebenarnya ada dimana sudah tujuh tahun kamu menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak."
Lin Chou kembali mengingat saat terakhir dia bertemu dengan Alesya.
Mereka bertengkar dan akhirnya Alesya memilih pergi.
Cinta tanpa restu membuat keduanya selalu salah paham.
Sementara itu dulu Lin Chou harus memenuhi keinginan orang tuanya untuk menjadi seorang mafia namun Alesya tak pernah setuju.
Hal itu yang membuat keduanya terpaksa berpisah dan akhirnya Xioyi yang menjadi korban.
Mengingat itu semua membuat airmatanya jatuh tanpa diminta dia masih berdiri didepan rumah adiknya itu mendengarkan setiap ucapan yang Aisyah katakan.
"Aisyah tapi aku benar-benar merasakan kehangatan dan aku tak bisa menyangkal bahwa mendegarkan kamu mengaji membuat hatiku yang panas menjadi tenang kembali."
Aisyah tersenyum kemudian dia berjalan menuju dapur membuatkan minuman untuk Lin Zhao..
"Itu karena Kak Lin belum bisa belajar tentang ikhlas sehingga amarah Kak Lin kadang naik dan kadang turun."
Lin Zhao mendekati Aisyah dan kemudian memberikan sebuah kotak kecil dari balik sakunya..
"Aisyah ini untuk kamu."
Lin Zhao memberikan sebuah cincin berlian yang sangat cantik. Namun Aisyah justru takut untuk menerimanya.
"Kak Lin ini apa? Jangan Kak Lin ini terlalu mahal."
Aisyah menolak dengan lambat dia tidak ingin dianggap materialistis.
Lin Zhao tersenyum kemudian untuk pertama kalinya dia memegang tangan Aisyah.
Aisyah nampak malu,ia pun refleks menarik kembali tangannya..
"Kak Lin.. Ini?"
Aisyah pun terdiam sesaat.
"Ini adalah bukti cintaku padamu Aisyah. Kamu jangan khawatir aku pasti akan menepati janjiku kepadamu. Aku pasti bisa membawa kamu kembali pulang ke negaramu."
Lin Zhao melingkarkan cicin di jari manis Aisyah.
Aisyah menatapnya ragu. Cincin itu terlihat sangat indah melingkar di jarinya.
"Jangan pernah lepaskan cincin ini Aisyah. Cincin ini adalah bukti cintaku, ketulusanku dan juga harapanku untuk bisa bersamamu.."
"Kak Lin.. Ini terlalu berlebihan. Dan aku tak bisa menerimanya."
Namun paksaan Lin Zhao membuat Aisyah tak menjawab lagi. Dia pun bertekad untuk tak pernah melepaskan cincin itu dari jari manisnya.
"Aku juga punya hadiah untuk Kak Lin."
Aisyah pun masuk kedalam kamarnya dan memberikan sebuah gelang tasbih yang sangat indah. Aisyah yang membuatkannya sendiri.
"Ini namanya gelang tasbih. Isinya ada ada 33 butir. Ini biasanya aku gunakan untuk berdzikir. Kak Lin simpan ini baik-baik gak boleh sampai hilang. Dan ini juga bisa menjadi gelang ditangan."
Aisyah pun membantu Lin Zhao untuk memasangnya dipergelangan tangan Lin Zhao.
Lin Zhao pun tersenyum senang dia bahagia karna mendapatkan hadiah dari Aisyah.
Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan dari depan rumah Lin Zhao. Hal itu membuat Aisyah kembali ketakutan.
"Kak Lin ada apa?" tanyanya panik.
Lin Zhao melihat banyak anak buah Mr . Wang yang datang dan disana dia juga melihat Kakaknya yang seperti sedang membereskan mereka.
"Katakan apa yang kalian inginkan menganggu adikku dan juga wanita itu?"
Amarah di wajah Lin Chou terlihat berapi-api. Ia pun menodongkan senjatanya ke salah satu anak buah Mr. Wang.
"Kasih tahu bos kalian aku menunggunya. Kita selesaikan masalah diantara kita tanpa perlu melibatkan orang lain."
"Wang Xuan kamu pengecut."
"Jika kamu ingin berperang keluarlah dan hadapi aku.." suara Lin Chou terdengar berat dan semua orang yang ada disana ketakutan setengah mati.
"Telfon Wang Xuan sekarang dan temui aku di gudang terbengkalai."