Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan yang Mengubah Segalanya
Matahari sore mulai condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang membias masuk lewat jendela besar ruang tamu rumah keluarga Lestari. Suasana di ruangan luas itu terasa kaku dan berat, seolah udara saja ikut menahan napas. Di sudut ruangan, berdiri berderet foto-foto kenangan keluarga yang terbingkai indah di dinding, namun tak satu pun dari mereka yang mampu memecah keheningan yang mencekam saat ini.
Citra Lestari duduk di kursi kayu jati berukir indah, tangannya saling bertaut di pangkuan. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem, rambut hitam panjangnya terurai rapi. Sebagai seorang dokter muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan spesialisasinya, ia biasa berhadapan dengan situasi gawat darurat, melihat darah, kematian, dan keputusan berat. Namun, saat ini, jantungnya berdegup jauh lebih kencang dibandingkan saat ia sedang bertugas di ruang operasi. Di hadapannya, ada ayah, ibunya, dan seorang pria yang belum pernah ia temui sebelumnya, namun kehadirannya seolah membawa angin dingin yang menusuk tulang.
Pria itu bernama Putra Setiawan. Tubuhnya tegap, tinggi besar, dan duduk dengan sikap yang sangat disiplin, layaknya patung yang terukir sempurna. Ia mengenakan seragam dinas tentara berwarna biru dongker yang rapi dan gagah, lengkap dengan berbagai lencana penghargaan yang terpasang di dadanya. Wajahnya tampan, memiliki rahang tegas, mata hitam yang tajam, dan sorot pandangan yang sulit dibaca. Ada kekuatan besar yang terpancar dari dirinya, namun juga ada bayangan gelap yang menyelimuti setiap gerak-geriknya. Ia tidak tersenyum, tidak juga berbicara banyak. Sepanjang pertemuan itu, bibirnya tertutup rapat, hanya mendengarkan pembicaraan orang tua mereka dengan ekspresi datar.
"Keputusan ini sudah bulat, Citra," suara Pak Haris, ayah Citra, terdengar berat namun tegas. Ia menatap putri satu-satunya itu dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara permintaan maaf dan ketidakberdayaan. "Perjodohan ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan segala urusan masa lalu antara keluarga kita dan keluarga Setiawan. Kau harus mengerti, Nak. Ini bukan sekadar pernikahan biasa, tapi sebuah kesepakatan untuk menutup kisah lama yang menyakitkan."
Citra menelan ludah dengan susah payah. Ia sudah mendengar bisik-bisik tentang hal ini sejak beberapa minggu lalu, namun ia berharap itu hanya angin lalu. Ia berharap ayahnya akan mempertimbangkan keinginannya, membiarkannya membangun hidupnya sendiri sebagai dokter yang mengabdi, bukan dikorbankan demi urusan orang tua yang bahkan tidak ia mengerti sepenuhnya.
"Ayah, aku baru saja mulai bekerja di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat," ucap Citra pelan namun jelas, suaranya sedikit bergetar berusaha menahan emosi. "Aku punya rencana untuk mengabdi, untuk membantu banyak orang. Kenapa tiba-tiba semua ini harus terjadi? Dan... kenapa harus dengan Mas Putra ini? Aku bahkan tidak mengenalnya, dan sepertinya dia pun sama sekali tidak ingin ada di sini."
Citra melirik sekilas ke arah pria di hadapannya itu. Putra masih diam, tangannya tergenggam erat di atas pahanya yang tertutup kain seragam. Di balik ketenangannya, Citra bisa merasakan ada amarah yang tertahan, ada kebencian yang tersembunyi di balik tatapan dinginnya. Dan firasat Citra tidak salah.
Putra Setiawan tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Bagi pemuda berusia dua puluh delapan tahun itu, pernikahan dengan Citra Lestari bukanlah awal dari kebahagiaan, melainkan awal dari sebuah rencana besar yang telah ia susun bertahun-tahun lamanya. Sejak ia masih remaja, sejak hari di mana ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis yang penuh kejanggalan, nama keluarga Lestari sudah terukir dalam ingatannya sebagai nama musuh.
Menurut informasi yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun, kecelakaan yang merenggut nyawa ayah dan ibunya bukanlah kebetulan semata. Ada campur tangan di sana, ada ketidakadilan yang dilakukan oleh rekan bisnis ayahnya dulu, yaitu Pak Haris, ayah dari wanita yang kini duduk di hadapannya ini. Dendam itu tumbuh subur seiring ia tumbuh dewasa, seiring ia mengukir karier cemerlang di militer, naik pangkat berkat kerja keras dan keberaniannya. Ia menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan mereka, untuk membalas segala rasa sakit yang ia rasakan.
Dan kini, kesempatan itu datang sendiri ke pangkuannya. Keluarga Lestari sedang dalam masalah besar, baik masalah bisnis maupun masalah hukum, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan nama baik mereka adalah dengan menjalin hubungan kembali dengan keluarga Setiawan melalui ikatan pernikahan.
Putra menerima tawaran itu tanpa ragu sedikit pun. Bagi orang lain, ia terlihat seperti pahlawan yang mau membantu. Padahal, di dalam hati, ia tersenyum sinis. Menikahi Citra Lestari adalah cara paling ampuh untuk masuk ke dalam benteng musuh, lalu menghancurkannya perlahan-lahan dari dalam. Wanita di hadapannya ini, dokter yang tampak lembut, polos, dan penuh ketulusan, baginya tidak lebih dari sekadar alat. Alat untuk membalas dendam.
"Mas Putra," panggil Bu Sari, ibu Citra, memecah keheningan. "Apakah Mas Putra bersedia menerima anak kami ini? Kami harap Mas Putra bisa memperlakukan Citra dengan baik, sebagaimana seorang suami memperlakukan istrinya."
Putra mengangkat wajahnya, menatap Bu Sari sekilas, lalu pandangannya jatuh tepat ke manik mata Citra yang bening. Tatapan itu membuat Citra merasa seolah-olah sedang ditelanjangi, seolah-olah Putra bisa melihat setiap ketakutan yang ada di dalam dirinya. Ada kilatan dingin yang melintas di mata pria itu, kilatan yang membuat bulu kuduk Citra meremang.
"Saya menerima," jawab Putra singkat, suaranya berat dan dalam, bergema di seluruh ruangan. Ia tidak tersenyum, tidak juga menatap Citra dengan kelembutan sedikit pun. "Saya bersedia menikahi Nona Citra Lestari. Dan saya akan memastikan... bahwa pernikahan ini akan berjalan sebagaimana mestinya."
Ada penekanan pada kata 'sebagaimana mestinya' yang hanya bisa dimengerti oleh Putra sendiri. Bagi orang tua Citra, itu adalah jaminan keselamatan. Bagi Putra, itu adalah jaminan bahwa ia akan melaksanakan misinya sampai tuntas.
Citra tertegun. Ia menatap wajah tampan namun dingin itu dengan perasaan yang berkecamuk. Kenapa? Kenapa pria ini terlihat begitu terpaksa, namun sekaligus begitu yakin? Ada apa di balik tatapan matanya yang dalam itu? Citra merasa ada rahasia besar yang sedang disembunyikan, dan ia terjebak di tengah-tengahnya.
"Apa kau dengar, Citra?" tegur ayahnya. "Mas Putra sudah setuju. Sekarang giliranmu. Sebagai anak yang berbakti, kau tidak boleh menolak. Ini demi kebaikan semua orang, demi menyelamatkan nama baik keluarga kita."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Citra. Ia ingin berteriak, ingin menolak, ingin bilang bahwa ia tidak mau hidup bersama orang yang bahkan tidak memandangnya sebagai manusia biasa. Namun, melihat wajah ayah dan ibunya yang tampak begitu tua dan lelah karena masalah yang menimpa keluarga, hati Citra meleleh. Ia anak tunggal. Ia tidak mungkin membiarkan orang tuanya jatuh dan hancur sendirian. Meski hatinya menangis, meski firasat buruk terus menghantuinya, ia tahu ia tidak punya pilihan lain.
Dengan tangan yang gemetar, Citra menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengangkat dagunya, berusaha terlihat tegar layaknya seorang dokter yang biasa menghadapi situasi sulit. Ia menatap lurus ke arah Putra Setiawan, pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, pria yang aura dinginnya seolah ingin mencekik napasnya.
"Baiklah," jawab Citra pelan namun tegas. "Aku bersedia. Aku akan menikahi Mas Putra. Tapi aku harap... aku harap kita bisa saling menghargai satu sama lain, meski pernikahan ini didasari oleh perjanjian, bukan cinta."
Di sudut matanya, Citra melihat sudut bibir Putra sedikit bergerak naik, membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak ramah. Senyum yang penuh arti, senyum yang membuat jantung Citra berdegup semakin kencang karena ketakutan.
"Jangan khawatir, Nona Citra," ucap Putra rendah, hanya cukup terdengar oleh wanita itu saja. "Aku akan menjaga janjiku. Dan kau... sebaiknya kau bersiaplah, karena hidupmu akan berubah total mulai hari ini."
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan penuh ancaman tersembunyi. Bagi Citra, kalimat itu terdengar seperti peringatan. Bagi Putra, kalimat itu adalah awal dari eksekusi rencananya.
Pertemuan itu pun ditutup dengan kesepakatan bahwa pernikahan akan dilangsungkan dalam waktu dua minggu ke depan, secara sederhana namun resmi, mengingat status kedua keluarga yang terpandang namun sedang di ujung tanduk.
Sore itu juga, setelah semua pembicaraan selesai, Citra berjalan keluar rumah menuju halaman belakang. Ia membutuhkan udara segar, membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Angin sore menerpa wajahnya, membuat rambutnya sedikit berantakan. Ia masih tidak percaya, hidupnya yang tenang dan penuh rencana, tiba-tiba berubah menjadi sebuah perjodohan terpaksa dengan pria yang terlihat begitu penuh misteri dan bahaya.
Dari kejauhan, di dekat gerbang utama, Putra berdiri membelakangi rumah itu. Ia sedang berbicara singkat melalui telepon genggamnya, suaranya rendah namun tegas. Citra tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya, tapi ia melihat bagaimana cara Putra memandang rumah besar itu. Tatapan itu... bukan tatapan orang yang akan masuk ke dalam rumah itu sebagai menantu. Melainkan tatapan musuh yang sedang mengamati benteng lawan sebelum menyerang.
Citra mengerutkan keningnya. Ada apa sebenarnya? Apa yang disembunyikan orang tuanya? Dan siapa sebenarnya Putra Setiawan di balik seragam gagah dan senyum tipis yang menakutkan itu?
Hati Citra berbisik bahwa pernikahan ini tidak akan mudah. Bahwa di balik ikatan suami istri yang akan segera terjalin, ada sesuatu yang kelam dan menyakitkan yang sedang menunggunya. Namun, sebagai dokter yang terbiasa menyelamatkan orang lain, Citra berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan menjalani ini sebaik mungkin. Ia akan bersikap baik, tulus, dan mungkin... suatu saat nanti, ia bisa mengerti alasan di balik sikap dingin pria itu.
Ia belum tahu, bahwa di sisi lain, Putra Setiawan juga berjanji pada dirinya sendiri. Bahwa ia akan membuat keluarga Lestari merasakan rasa sakit yang sama persis seperti yang pernah ia rasakan bertahun-tahun lalu. Dan Citra, wanita lembut yang tidak bersalah ini, adalah kunci utama dari semua pembalasan dendam itu.
Bersambung...