NovelToon NovelToon
Sistem Mancing Mania Mantap

Sistem Mancing Mania Mantap

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.

Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.

Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Arga melangkah keluar dari restoran Padang dengan perut kenyang dan perasaan lega.

Dia menatap jalanan raya yang padat oleh kendaraan roda dua dan empat.

'Gue butuh pakaian baru dan alat pancing yang lebih layak sekarang,' batin Arga.

Arga menyetop sebuah taksi yang kebetulan lewat perlahan di depannya.

Taksi itu membawanya ke sebuah pusat perbelanjaan besar di kawasan Senayan.

Arga turun dari taksi dan berjalan santai masuk ke dalam mal yang sejuk.

Dia langsung menuju lantai dua yang menjual pakaian pria dari merek-merek ternama.

Beberapa pegawai toko sempat melirik kemeja usang Arga dengan tatapan ragu.

Namun Arga tidak mempedulikan tatapan mereka dan fokus memilih beberapa potong baju.

Dia mengambil tiga kaos polo, dua celana bahan, dan sepasang sepatu kets hitam polos.

"Tolong totalin semuanya ya, Mbak," kata Arga sambil meletakkan pakaian itu di meja kasir.

Kasir wanita itu menghitung total belanjaan Arga dengan cepat menggunakan mesinnya.

"Semuanya jadi empat juta dua ratus ribu rupiah, Mas," ucap kasir itu dengan nada sopan.

"Pembayarannya mau pakai uang tunai atau kartu debit?"

"Debit aja, Mbak," jawab Arga tenang sambil menyerahkan kartu ATM miliknya.

Proses pembayaran selesai dalam hitungan detik tanpa ada masalah sedikit pun.

Arga langsung masuk ke ruang ganti dan memakai salah satu pakaian barunya.

Penampilannya berubah drastis dari seorang nelayan kumal menjadi pemuda kota yang terlihat rapi.

Arga keluar dari toko pakaian itu dan mulai mencari toko perlengkapan olahraga.

Dia membeli satu set joran pancing berbahan serat karbon ringan seharga sepuluh juta rupiah.

Joran itu berwarna hitam elegan dan bisa dilipat menjadi ukuran yang mudah dibawa.

Arga memasukkan joran itu ke dalam tas khusus pancing yang baru dibelinya.

Sekarang dia sudah siap untuk menuju lokasi misi hariannya.

Arga kembali memanggil taksi dari lobi utama mal tersebut.

"Ke daerah Pondok Indah ya, Pak," ucap Arga kepada sopir taksi.

"Ke kompleks perumahannya atau ke malnya, Mas?" tanya sopir taksi itu memastikan.

"Ke kompleks perumahannya, Pak, berhenti di dekat jalan utama aja," jawab Arga.

Taksi mulai melaju menembus kemacetan lalu lintas Jakarta di sore hari.

Satu jam kemudian taksi itu berhenti di pinggir jalan besar kawasan Pondok Indah.

Arga membayar ongkos taksi dan turun di atas trotoar yang sangat bersih.

Rumah-rumah di kawasan ini sangat besar dengan pagar tinggi dan penjagaan yang ketat.

Arga berjalan menyusuri trotoar mencari lokasi selokan yang dimaksud oleh sistem.

Layar biru transparan tiba-tiba muncul memandu langkahnya seperti aplikasi peta.

Layar itu mengarahkannya ke sebuah saluran air besar yang tertutup jeruji besi tebal.

Saluran air itu membelah jalanan kompleks dan mengalirkan air ke arah sungai buatan.

'Beneran di sini tempatnya,' batin Arga tidak percaya melihat lokasi tersebut.

Arga meletakkan tasnya di atas trotoar dan mengeluarkan joran karbon barunya.

Dia merakit joran itu dengan cekatan lalu memasang kail tanpa umpan apa pun.

Beberapa mobil mewah melintas dan penumpangnya menatap Arga dari balik kaca jendela.

Seorang pria berpakaian rapi memancing di saluran air perumahan elit jelas merupakan pemandangan aneh.

Arga mengabaikan tatapan mereka dan memusatkan fokusnya pada layar sistem.

"Sistem, apa gue bisa langsung mancing sekarang?" tanya Arga dalam hati.

Ding.

"Lokasi terkonfirmasi," jawab sistem di kepalanya dengan nada datar.

"Silakan lemparkan kail Anda ke dalam saluran air tersebut."

Arga menarik napas panjang untuk menghilangkan rasa canggungnya.

Dia mengayunkan joran karbon barunya ke arah celah jeruji besi saluran air.

Swosh.

Kail itu meluncur mulus melewati celah jeruji besi.

Plup.

Kail pancing Arga jatuh dan tenggelam ke dalam aliran air yang kotor.

Arga duduk berjongkok di pinggir jalan sambil memegang jorannya erat-erat.

Sepuluh menit berlalu namun belum ada tanda-tanda kailnya ditarik sesuatu.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berat yang mendekat dari arah belakang punggungnya.

"Permisi, Mas," tegur sebuah suara bernada curiga dari belakang Arga.

Arga menoleh ke belakang dan melihat dua orang satpam berseragam biru tua.

Satpam pertama memegang tongkat keamanan, sementara satpam kedua memegang radio komunikasi di dadanya.

"Mas lagi ngapain jongkok di sini bawa-bawa pancingan?" tanya satpam pertama dengan dahi berkerut.

Arga berdiri perlahan dan tersenyum canggung ke arah kedua satpam penjaga tersebut.

"Anu... Lagi mancing, Pak," jawab Arga sejujur mungkin.

"Mancing?" ulang satpam kedua dengan nada suara tidak percaya.

"Mas waras mancing di selokan perumahan orang begini?"

"Di sini ada larangan mancing apalagi buat orang luar kompleks," tegas satpam pertama.

"Mas ini sebenarnya warga sini atau bukan?"

"Bukan, Pak, saya cuma kebetulan lewat jalan ini aja," jawab Arga dengan nada santai.

"Saya dengar di saluran air ini banyak ikan lele yang ukurannya gede."

Kedua satpam itu saling berpandangan dengan wajah kebingungan sekaligus kesal.

"Itu alasan kamu aja," tegur satpam pertama yang mulai terpancing emosi.

"Cepat gulung pancingannya dan pergi dari sini sekarang juga."

"Kalau kamu gak mau pergi, terpaksa kita bawa kamu ke pos keamanan," ancam satpam kedua.

1
Kasma Wati
💪💪💪💪💪
Kasma Wati
lanjut👍👍👍
Kasma Wati
👍👍👍👍👍
Marthen
preman pasar kelas kampungan yg nyasar 😄😄😄
cynth
Mancing lele di selokan aja malunya nembus layar, apa lagi ini. Astaga...
Gege
nasahhh... ceritanya enteng..ngalir.. menyajikan hiburan bacaan yang bikin candu...
Momen'to
mimpi basah author 😹
Magane
menunggu sistem kurir mbg
Yofu
kok bisa kepikiran sih/Sweat/
Yofu
mancing mania mantap🗿
Dhewa Shaied
crazy up thorr.. imajinasinya gak ngotak 💪💪💪 😍😍😍😍
Yuliana Tunru
syuuuka bgt hari.ini crezy up thorrr 💪💪 up ..arga waktu x cari wanita special ya jgn sampe dpt tipe rina 😄😄😄
dhani satria
tomatkah?
dhani satria: owhhhhh.....,crazy up...,mantap ceritanya
total 2 replies
dhani satria
taline panjang bgt ya 3000 meter
Gege
berat bener cerita sistem bertema mancing ini..pikir ceritanya ringan, Nemu ikan dikembangkan hasilin duit milyaran, hidup enak wanita banyak.. sampe ratusan episode...🤣🤭
Yui: makasih idenya, habis konflik ini lah bisa diterapin /Smile/
total 1 replies
dhani satria
aquamen....
dhani satria
tongkat zeus
Yui: Poseidon lebih tepatnya/Facepalm/
total 1 replies
dhani satria
CEO WIJAYA ni
Yuliana Tunru
nalasan yg setimpal 😄😄
dhani satria
hahahhahhaha.....,lha gemblung yak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!