Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Kesepakatan itu di buat, baik Danu, Bu Marni serta Angga setuju dengan ide perjodohan kontrak ini. Namun mendadak pintu di buka dengan kasar.
"Lila tidak setuju!"
Semua orang tercengang, ternyata Lila mendengar semua percakapan mereka.
Lila langsung maju, dia tidak terima jika akan di nikahkan secara kontrak.
Kenapa mereka tidak yakin dengan cintanya? kenapa mereka semua ragu? Dia bahkan sudah menyukai Danu sejak dia masih di bangku SD. Lila sudah begitu lama menunggu untuk momen ini.
Lila berjalan menghampiri Danu, menarik Danu di hadapan para orang tua.
"Dompet!" Perintah Lila agar Danu segera mengeluarkan dompetnya. Meski bingung dengan apa yang akan dilakukan Lila, namun entah kenapa dia setuju begitu saja memberikan dompet miliknya.
Danu mengambil dompet itu di saku celananya, dengan suka rela Danu menyerahkan dompet itu ke Lila. Lila tersenyum melihat ada KTP Danu di sana. Dia kembali menarik Danu keluar.
"Kita mau ke mana?" Tanya Danu.
"Naik saja"
Danu naik ke mobilnya, tapi bukan di kursi kemudi melainkan di sebelahnya.
Lila segera menutup pintu, dia berputar untuk segera duduk di kursi kemudi.
Danu jadi agak sedikit takut, selama ini dia tidak pernah tahu kalau Lila bisa menyetir mobil.
"Kamu bisa nyetir?" Tanya Danu yang sudah berkeringat dingin, dia takut saja di bawa ke alam lain oleh Lila.
"Tenang saja mas, Sejak di bangku SMA Lila sudah jago"
Lila membungkuk mendekat ke arah Danu sambil tersenyum, Danu langsung memundurkan badannya agar tidak begitu dekat dengan Lila.
"Mau apa kamu?"
Lila terkekeh, dia justru sengaja menempelkan pipinya ke bibir Danu. Membuat wajah lelaki itu kembali memerah.
"Cuma mau pasangin mas sabuk pengaman Mas"
Danu bernafas lega. Sial! Kenapa sepertinya adegannya terbalik? Harusnya dia kan yang melakukan itu?
Tapi tentunya bukan dengan Lila, anak ini terlalu muda untuknya.
"Kamu pindah kesini saja, mas yang nyetir"
"Tidak bisa. Sudah terlanjur"
Lila menancap dengan kecepatan tinggi, Membuat Danu langsung memegangi sabuk pengamannya dengan erat.
"Lil, jangan nekat, meski pernikahan kita tidak di restui, harusnya kita bicarakan ini baik-baik. Jangan nekat bun dir berdua begini. Mas belum kawin ini"
Seumur-umur Danu tidak pernah balapan,dia benar-benar takut. Namun melihat kekeh an Lila, sepertinya anak itu sudah terbiasa ikut balapan.
"Siapa yang mau ajak mas Bun Dir?"
"Kalau tidak, pelan kan mobilnya!"
"Tidak bisa mas, Lila buru-buru"
"Memang kita mau ke mana?"
"Lihat saja nanti"
Danu menelan salivanya berat, ternyata selain menggoda dirinya, Lila punya bakat terpendam lain yaitu jadi pembalap.
Lisa dan yang lain mengikuti kemana Lila membawa Danu pergi. Angga menepuk jidatnya begitu keras saat melihat Lila melajukan mobil Danu dengan kecepatan tinggi.
Padahal Lila sudah sering dia larang naik mobil, tapi lihatlah sekarang dia bahkan mengalahkan Valentino Rossi.
"Mas ayo cepat! Ikuti mereka"
Angga mengagguk, meski tidak bisa secepat Lila. Namun Angga bisa tahu di mana perginya anak itu, karena dia sudah memasang GPS di ponsel Lila.
Bu Marni ikut serta, dia juga penasaran kemana Lila akan membawa putranya.
"Mas cepet dikit, nanti kita kehilangan jejak"
"Tenang saja sayang, kita pasti bisa menyusul mereka"
Hati Lisa tidak tenang, Takut saja Lila berbuat nekat. Lisa tahu betul bagaimana sifat putri nya itu.
Belum genap satu jam, Lila membelokkan mobilnya di suatu tempat.
Danu segera membuka mata, dia sejak tadi tidak berani membuka matanya, takut saja Lila mendadak menabrak sesuatu.
Jantungnya masih berdebar kencang akibat kelakuan Lila. Namun saat melihat kemana Lila membawanya, mata Danu makin membulat sempurna.
"Ayo turun mas"
"Mau apa kita ke sini?" Danu menolak turun, dia justru makin menegangi sabuk pengamannya dengan begitu erat.
"Ayo turun mas!"
Lila menarik-narik lengan Danu, Danu menggeleng cepat, dia kekeh tidak mau turun dari mobil.
"Kalau mas nggak mau turun, Lila akan teriak di sini, kalau Lila hamil dan mas nggak mau tanggung jawab!"
Alamak ancaman apa itu? Lila benar-benar membuat Danu gila.
"Lila Mas tidak mau, Kamu tahu kan papa kamu pasti marah?"
"Lila nggak perduli, pokoknya ayo turun! kalau tidak, Lila beneran teriak ini"
Danu jadi bingung sendiri, dia harus bagaimana? Mereka sudah ada di depan kantor KUA. Danu benar-benar tidak menyangka Lila bisa melalui hal seekstrim ini.
"Mass.....Lila teriak ini"
"Iya iya iya sabar"
Danu membuka sabuk pengamannya, baru saja sabuknya terbuka, Lila sudah menarik tangannya dengan begitu cepat.
"Kita beneran mau nikah?"
"Hemmmmmmmm"
"Sekarang?"
Lila kembali mengangguk.
"Tapi kita nggak ada persiapan apa-apa Lila"
"Kita cuma butuh KTP mas"
Lila menunjukkan KTP yang tadi dia ambil dari dompet Danu. Danu rasanya ingin pingsan saja. Baru kali ini dia di tagih menikah, dengan gadis yang masih muda pula. Danu tidak tahu ini berkah atau musibah. Dia tahu lelaki sepeda dia tidak pantas mendapatkan gadis secantik dan semuda Lila. Semua orang pasti bilang dia sangat beruntung. Tapi jika Angga tahu Lila membawanya ke sini, tamatlah sudah riwayatnya.
Danu harus memikirkan cara agar mereka bisa pergi dari sini.
"Mas nggak bawa mas kawin Lil"
Lila berhenti dan menatap Danu, dia merogoh saku celananya Danu, membuat Danu kembali menegang.
Lila kembali mengambil dompetnya, dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana.
"Ini sudah cukup"
"Tiga puluh ribu?"
Lila kembali mengangguk.
"Tapi....."
"Sssttttt mas jangan banyak protes. Lila itu menerima Mas Danu apa adanya"
Danu semakin lemas saja, ya ampun...yabg benar saja dia akan menikah dengan mahar tiga puluh ribu? Bahkan di atmnya ada lebih dari lima ratus juta.
"Mas ambil uang di ATM dulu ya?" Pinta Danu, mungkin ini bisa dia buat alasan untuk kabur.
"Tidak perlu! Ini Cukup"
Lila kembali menarik tangan Danu, saat mereka masuk semua orang langsung menatap mereka berdua. Bagaimana tidak? merasa seperti Om dan keponakan. Tapi rengkuhan tangan Lila yang begitu menempel di lengannya membuat semua orang heran.
"Ada yang bisa di bantu?" Tanya salah satu petugas KUA.
"Kami mau menikah Pak, sekarang juga. Bisa kan?"
Kata-kata yang keluar dari mulut Lila benar-benar membuat Danu malu, bagaimana tidak seluruh orang yang ada di KUA sekarang memperhatikan mereka. Danu menutupi wajahnya dengan tangan. Ini benar-benar memalukan. Harusnya kan dia yang bilang ke petugas itu, tapi ini justru sebaliknya. Lila begitu terlihat ngebet ingin menikah dengannya.
"Pasti hamil duluan itu"
"Iya, pasti cowok nya sudah punya keluarga. Pasti dia selingkuh. Makanya malu begitu"
kata-kata negatif itu keluar dari orang-orang yang ada di sana. Danu benar-benar malu sekarang.
Rasanya Danu ingin menghilang saja dari tempat itu.