Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJANJIAN HATI YANG TERIKAT
Keheningan di dalam mobil Haikal terasa lebih berat dari pada beton bertulang. Ardiah menatap jendela samping, menghindari kontak mata dengan pria yang duduk di sebelahan. Bayangan momen di dalam lift tadi masih membekas jelas di benaknya. Pelukan hangat Haikal, bisikan pengakuannya, dan tawa lepas mereka saat lampu menyala menciptakan getaran aneh di dada Ardiah. Ia bingung. Antara rasa kesal karena keisengan Haikal dan rasa hangat yang tak bisa ia pungkiri.
Haikal menyetir dengan satu tangan, sesekali melirik Ardiah dari sudut matanya. Ia ingin berkata sesuatu, tapi takut merusak suasana yang sedang rapuh ini. Keduanya tiba di restoran mewah tempat pertemuan dengan klien dijadwalkan. Begitu keluar dari mobil, topeng profesionalisme langsung terpasang sempurna di wajah mereka. Tidak ada lagi kecanggungan, hanya dua mitra bisnis yang siap meraih kesepakatan.
Pertemuan itu berjalan lancar. Ardiah mempresentasikan desain interior dengan percaya diri, sementara Haikal mendukungnya dengan negosiasi bisnis yang tajam. Klien, seorang pengusaha properti ternama, tampak sangat puas.
“Desain Nona Ardiah sangat brilian. Dan pendekatan Pak Haikal sangat meyakinkan,” puji klien sambil berjabat tangan. “Kita tandatangani kontrak minggu depan.”
Setelah klien pamit, Haikal menghela napas lega. Ia menoleh pada Ardiah yang sedang membereskan tabletnya.
“Lapar?” tanya Haikal santai. “Ayo makan siang dulu sebelum kembali ke kantor. Traktiran saya sebagai ucapan selamat atas keberhasilan presentasimu.”
Ardiah mengangguk pelan. Mereka memesan makanan di restoran yang sama. Di sela-sela suapan, Ardiah akhirnya membuka suara. Tangannya menggenggam gelas air mineral erat-erat.
“Haikal,” panggilnya lirih. “Ibumu... datang menemuiku kemarin sore.”
Sendok Haikal berhenti di tengah jalan. Ia menatap Ardiah lekat-lekat, alisnya berkerut. “Ibuku? Datang ke apartemenmu? Untuk apa?”
“Bukan ke apartemen, dia menemuku di lobby kantor dan membawa aku ke restoran." balas Ardiah tanpa menatap wajah Haikal, pandangannya tertuju pada Steak daging di piring, yang terlihat sedang memotongnya.
"Ooh... Lalu untuk apa ibuku menemuimu?" tanya Haikal, tampak begitu penasaran.
"Meminta aku untuk menikah denganmu,” jawab Ardiah datar. Matanya masih tertuju pada piringnya, tidak berani menatap Haikal.
Haikal terdiam sejenak, mencerna informasi itu. Lalu ia bertanya hati-hati, “Apa jawabanmu?”
“Belum kujawab. Aku ingin berpikir dulu,” sahut Ardiah singkat.
Haikal mencondongkan tubuh ke depan, rasa penasarannya memuncak. “Dan sekarang? Apakah kamu sudah punya jawaban?”
Ardiah tidak langsung menjawab. Ia meneguk air minumnya perlahan, seolah mengumpulkan keberanian. Setelah meletakkan gelasnya, ia menatap lurus ke mata Haikal.
“Oke. Aku mau nikah kontrak denganmu. Hanya satu tahun,” ucap Ardiah tegas. “Setelah Kakek sembuh dan operasinya berhasil, lepaskan aku. Kita cerai baik-baik.”
Senyum tipis terbentuk di bibir Haikal. Di balik ketenangannya, hatinya bersorak gembira. "Aku setujukan saja dulu," batinnya licik namun penuh harap. "Nanti sebelum satu tahun itu habis, aku akan buat dia jatuh cinta padaku. Hingga dia lupa akan kata cerai."
“Baiklah, aku setuju,” kata Haikal antusias, meski berusaha terlihat biasa saja. “Lalu kapan kita ambil surat nikahnya? Aku tidak bermaksud mendesak, hanya saja kalau kita cepat menikah, Kakek juga cepat ditangani, kan?”
Ardiah mengangguk, menerima alasan logis itu. “Ya sudah, besok saja kalau gitu.”
Lalu Ardiah menambahkan syarat mutlaknya. “Dan satu lagi. Aku mau ada surat perjanjian tertulis. Tidak ada sentuhan fisik. Tidak boleh terlalu intim, kecuali di depan orang tuamu. Kita hanya berstatus suami istri di depan mereka saja. Dan rahasiakan pernikahan ini dari teman-teman kantor maupun publik.”
Haikal terdiam sesaat. Tidak boleh bersentuhan kecuali ada orang tua? Pikirannya kembali bekerja cepat. Itu artinya, di belakang pintu tertutup, mereka bebas? Atau justru itu tantangan baginya untuk melanggar batas secara halus? Senyum miring muncul di wajahnya, sebuah rencana licik mulai terbentuk di kepalanya.
“Setuju,” jawab Haikal cepat. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan kepada Roni. “Roni, siapkan draf perjanjian pra-nikah. Klausul kerahasiaan dan batasan interaksi fisik sesuai instruksi saya. Segera!”
Setelah kesepakatan itu dikunci, Haikal melajukan mobilnya, namun arahnya tidak menuju ke kantor. Ia justru mengarahkan mobilnya menuju apartemennya Ardiah. Tampaknya ia ingin mengantar Ardiah pulang. Sesampainya di sebuah gedung lantai lima Mobilnya langsung berhenti tepat di depan lobi apartemen Ardiah.
“Kenapa tidak kembali ke kantor?” tanya Ardiah heran, membuka pintu mobil.
“Karena besok kita menikah, jadi kau harus istirahat saja. Biar segala sesuatunya aku yang menyiapkan,” jawab Haikal lembut. Ada nada kepemilikan halus dalam suaranya yang membuat Ardiah sedikit tersentak, namun ia memilih untuk diam.
Ardiah turun dari mobil tanpa basa-basi dan masuk ke lobi apartemen. Sore harinya, saat Ardiah sedang bersantai, tiba-tiba pintu apartemennya diketuk. Ardiah segera membukanya dan mendapati Roni, asisten Haikal, berdiri di sana dengan sopan.
“Selamat sore, Nona Ardiah. Ini titipan dari Pak Haikal,” kata Roni sambil menyerahkan sebuah paper bag besar berwarna putih elegan.
Ardiah menerimanya dan membuka isinya. Di dalamnya terdapat sebuah gamis putih sederhana namun elegan, hijab warna senada, serta asesoris minimalis yang cantik.
“Pak Haikal berpesan, besok pagi tim makeup artist akan datang ke sini untuk mempersiapkan Anda,” lanjut Rian. “Karena setelah dari KUA, kalian akan langsung ke rumah orang tua Pak Haikal agar Kakek percaya bahwa pernikahan ini sungguh-sungguh terjadi.”
Ardiah mengangguk mengerti. Jantungnya berdegup kencang melihat gaun pengantin sederhana itu. Rasa gugup dan cemas bercampur menjadi satu. Ia menepis perasaan itu kuat-kuat.
"Ini hanya demi Kakek," bisiknya pada dirinya sendiri. "Anggap saja ini kontrak kerja baru. Tidak lebih, Ardiah. Jangan berpikir macam-macam."
Namun, di kedalaman hatinya, ia tahu bahwa hidupnya akan berubah selamanya mulai besok. Dan pria yang bernama Haikal Akram itu, entah mengapa, telah berhasil menyusup lebih dalam dari sekadar sebuah kontrak bisnis.
udah tak kasih kopi buat temen begadang...