Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Spiritual
Kepala Hei Sanfeng terasa pusing karena tergantung terbalik. Kedua sayapnya masih mengepak panik sementara matanya menatap Li Yunru dengan tidak percaya.
Seorang manusia benar-benar menggantungnya seperti ayam!
Ia terlalu meremehkan gadis manusia ini!
Meski kepalanya terasa pusing, matanya masih sempat menangkap sosok Bai Muzhi yang berdiri tak jauh dari keberadaan keduanya. Pria berambut putih itu tampak menonton dengan tenang, seolah sedang menyaksikan leluconnya.
Di sampingnya, seekor kelinci gemuk berdiri dengan kedua telinga terangkat tinggi.
Sial! Sejak kapan naga sakit dan kelinci gendut itu berada di sana? pikirnya kesal.
"Bai Muzhi! Cepat bantu aku! Bujuk pasanganmu ini untuk segera melepaskanku!" teriaknya.
Bai Muzhi menatapnya dengan ekspresi datar seperti biasa. "... Bukankah kamu kuat?"
"Sekuat-kuatnya aku, aku tetaplah seekor burung!"
"Kamu akhirnya sadar diri."
"...."
Hei Sanfeng hampir muntah darah mendengar jawaban itu.
Ia benar-benar ingin melepaskan diri dan langsung bertarung dengan Bai Muzhi. Setidaknya itu jauh lebih terhormat dibandingkan digantung seperti ayam oleh seorang manusia.
Setiap kali ia berniat menahan atau menyerang Li Yunru, aura spiritual hijau yang samar di tubuh gadis itu seolah menekan niat tidak murninya.
Entah kenapa, bulu di tengkuk Hei Sanfeng meremang setiap kali menatap gadis manusia itu. Selalu ada perasaan nalurinya yang meminta ia untuk tidak macam-macam dengan gadis itu.
"Tuan!"
Ruu tiba-tiba berteriak gembira. Kelinci gemuk itu segera berlari menghampiri, lalu melompat dan memeluk paha Li Yunru dengan keempat kaki berdagingnya.
Kedua telinganya terkulai ke belakang dengan manja.
"Tuan, jangan pergi! Aku akan ikut denganmu."
Li Yunru mengalihkan perhatiannya pada kelinci putih gemuk lalu menatap elang hitam yang kedua kakinya masih terjebak di tangannya. Tanpa banyak bicara, ia melemparkan elang itu ke arah Bai Muzhi.
Hei Sanfeng melayang di udara sebelum akhirnya ditangkap dengan mudah oleh Bai Muzhi.
Setelah itu, Li Yunru langsung meraih si kelinci. "Aku hanya ingin pulang ke tempatku berada. Cepat, katakan, di mana jalan pulangnya?"
Ruu menatapnya dengan mata bulat yang tampak sedikit sedih. "... Kamu tidak bisa kembali lagi, Tuan. Kamu sudah terikat dengan dunia ini. Relakan saja semuanya."
"Relakan telingamu! Pokoknya aku mau pulang! Aku tidak mau tinggal di tempat antah berantah seperti ini! Kamu kembali saja pada tuan narsistikmu itu!"
Li Yunru langsung melemparkan kelinci gemuk itu ke arah Bai Muzhi yang masih memegang elang hitam jelmaan Hei Sanfeng.
Mau tidak mau, Bai Muzhi menangkap kelinci itu juga dengan satu tangan yang masih bebas.
"Tampan tapi narsistik! Dasar manusia setengah binatang, sombongnya selangit!"
Li Yunru melengos pergi begitu saja dengan langkah lebar, jelas tidak ingin berurusan lagi dengan mereka.
Baru beberapa langkah berjalan, Li Yunru mendadak merasa dadanya sesak dan napasnya menjadi berat. Pandangannya mulai berkunang-kunang hingga langkahnya goyah.
Dunia di sekelilingnya terasa berputar seperti roda. Tanah di bawah kakinya seolah bergoyang dan tubuhnya langsung terhuyung ke belakang. Sebelum akhirnya ia kehilangan keseimbangan dan jatuh pingsan.
Bai Muzhi yang melihatnya langsung bereaksi. Ia segera membuang elang hitam jelmaan Hei Sanfeng dan kelinci gemuk itu ke tanah berumput, sebelum akhirnya bergerak cepat menangkap tubuh Li Yunru yang hampir jatuh ke tanah.
Melihat Li Yunru pingsan, Ruu langsung panik. Ia segera menoleh ke arah elang hitam itu dengan tatapan penuh tuduhan.
"Ini semua salahmu! Kamu pasti melakukan sesuatu pada tuanku! Mengaku saja! Racun apa yang kamu berikan padanya? Cepat beri aku penawarnya!"
Kelinci spiritual itu langsung menendang dan mencakar elang hitam yang sebelumnya terlempar ke tanah berumput bersamanya.
Hei Sanfeng merasa benar-benar teraniaya. Dia baru saja kehilangan sejumput bulu di kepalanya. Sekarang dia malah dicakar oleh kelinci gendut sampai beberapa bulunya kembali rontok.
Elang hitam itu langsung marah, tetapi jelas tidak siap menghadapi serangan bertubi-tubi dari seekor kelinci yang sedang mengamuk.
"Apakah kamu buta? Tidakkah kamu lihat akulah korbannya? Kepalaku botak!"
Ia bahkan mengangkat kepalanya untuk memperlihatkan bagian yang kini sedikit gundul. Gadis manusia itu yang bertindak sebagai penjahat. Dan pada akhirnya, dialah yang menjadi elang botak.
Jika kepalanya tidak botak saat ini, dia pasti sudah lama berubah kembali menjadi manusia dan merebus kelinci gemuk itu menjadi sup herbal.
Kedua hewan berbulu itu akhirnya bertengkar hebat hingga berguling-guling di tanah berumput hijau halaman Istana Yayue.
Ruu melompat seperti bola putih dan menabrak Hei Sanfeng. "Rasakan ini! Tubrukan kelinci!"
"Ahhh! Dasar kelinci gendut yang tak takut mati! Rasakan serangan balasanku!" Elang hitam itu mengepakkan sayapnya dengan marah.
"Tidak kena! Tidak kena! Elang botak! Giliranku, tendangan kaki kelinci! Tamparan telinga kelinci ...!"
"Kamu curang!"
Sementara itu, Bai Muzhi sama sekali tidak memerhatikan keributan di dekatnya. Bahkan ketika beberapa pelayan dan penjaga Istana Yayue datang untuk melihat situasi, mereka tidak berani melerai dua makhluk berbulu yang sedang bertarung itu.
Perhatian Bai Muzhi sepenuhnya tertuju pada gadis manusia yang berada di pelukannya.
Ia melihat cincin naga perak di salah satu jemari kiri Li Yunru mengeluarkan sedikit cahaya. Cahaya itu samar, tetapi jelas terlihat bagi seseorang dengan kekuatan spiritual sepertinya.
Sebelah alisnya terangkat sedikit. Ia bisa merasakan ikatan antara cincin itu dengan dirinya. Hubungan spiritual yang selama ini tertidur kini perlahan terbangun kembali.
Melalui ikatan itu, Bai Muzhi melihat laut kesadaran Li Yunru. Potongan-potongan gambar asing mulai melintas di benaknya.
Ada banyak gedung tinggi. Jalan raya dipenuhi kendaraan aneh yang mengeluarkan suara berisik serta lampu-lampu terang di segala penjuru bangunan. Ini jelas bukan berasal dari tempat mana pun di dunia ini ....
Bai Muzhi terkejut hingga ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Tempat apa itu?
Namun justru karena hal ini, ia semakin terdiam. Meski demikian, Bai Muzhi masih sedikit tidak percaya bahwa gadis manusia ini adalah pasangan yang ditakdirkan untuknya.
Seraya membopong Li Yunru yang pingsan, Bai Muzhi bergumam pelan. "Dia jelas berasal dari belahan dunia lain yang lebih maju. Mengapa memiliki darah keturunan peri hutan dari dunia ini?"
Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia mendengar kabar tentang ras peri hutan.
Bai Muzhi kembali menyipitkan matanya. Aura di tubuh Li Yunru sangat mirip dengan ras peri hutan yang telah mengasingkan diri dari benua Changyu.
Jika Li Yunru benar-benar memiliki darah peri hutan di tubuhnya, maka kemungkinan besar ada cerita tersembunyi yang tidak diketahui siapa pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Li Yunru yang sebelumnya sempat pingsan tiba-tiba merasa tubuhnya jatuh tersungkur ke depan. Ia hampir saja membentur sebuah batu besar di depannya.
Namun sebelum ia sempat bernapas lega, sebuah tangan tak terlihat tiba-tiba mendorong kepalanya dengan keras.
Duk!
"Aduhh ...!"
Li Yunru memegangi dahinya yang kini terasa sakit. Seraya berdiri, ia menyentuh bagian dahinya dan melihat ada sedikit darah.
"Siapa? Siapa yang mendorongku? Keluar!" teriaknya seraya menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Nak, kita bertemu lagi."
Li Yunru yang masih sedikit pusing mencoba mengumpulkan kesadarannya lebih dulu. Ia lalu menoleh ke arah sumber suara.
Seorang pria tua berhanfu abu-abu tua berdiri tidak jauh darinya. Rambut dan janggutnya putih panjang, sementara wajahnya dipenuhi keriput namun tampak cerah.
"Kakek tua?" Li Yunru menyipitkan mata. "Si penjual di toko hewan peliharaan?"
Bukankah pria tua ini orang yang memberikan kelinci gemuk itu padanya?
Mengapa dia ada di sini?
Li Yunru menoleh ke sekeliling. Ia kembali berada di lingkungan yang asing. Entah sudah ke berapa kalinya hari ini ia terlempar ke tempat yang tidak dikenal. Namun kali ini suasananya terasa sedikit berbeda.
Tanah berumput hijau membentang cukup luas. Di tengahnya terdapat kolam berair jernih. Di samping kolam itu terdapat sebuah batu besar. Dari celah batu tersebut mengalir air jernih seperti air terjun mini.
"Selamat datang di ruang spiritual naga putih, Nak," kata pria tua itu dengan ramah. "Akhirnya cincin ruang spiritual ini mendapatkan pemilik baru."
Li Yunru mengerutkan kening. "Siapa kamu sebenarnya? Dan apa maksudnya dengan ruang spiritual?"
Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sejak bertemu kelinci berbicara hingga elang yang bisa berubah menjadi manusia, kepalanya sudah hampir meledak.
"Aku hanyalah lelaki tua dari masa lalu," jawab pria tua itu santai. Ia menatap Li Yunru cukup lama sebelum kembali berbicara. "Tapi, Nak, apakah kamu benar-benar tidak menyukai dunia ini?"
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih