Sentuhan Semalam

Sentuhan Semalam

Kamar 909

Aroma alkohol, asap rokok, dan parfum murahan bercampur menjadi satu di udara, membuat kepala Eli terasa makin berputar. Di sudut kelab malam yang remang-remang itu, dunianya baru saja runtuh berkeping-keping. Dengan mata kepala sendiri, dia melihat Adrian, pria yang berstatus sebagai tunangannya dan akan menikahinya dua bulan lagi, sedang berciuman panas dengan Valencia—saudara tirinya.

"Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik, Adrian. Eli itu membosankan, dia bahkan tidak pernah mau kamu sentuh," bisikan Valencia yang manja itu terdengar jelas di telinga Eli, memicu tawa renyah dari Adrian.

"Kamu benar, Sayang. Menikahinya hanya demi formalitas bisnis keluarga. Di ranjang, dia pasti kaku seperti mayat," balas Adrian tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Eli mencengkeram dadanya yang terasa sesak luar biasa. Air mata kemarahan luruh membasahi pipinya. Rasa sakit karena dikhianati oleh dua orang terdekatnya membuat akal sehatnya hilang seketika. Tanpa membuat keributan, Eli membalikkan badan. Dia berjalan terhuyung-huyung menuju meja bar, memesan minuman dengan kadar alkohol paling tinggi, dan meneggaknya dalam sekali teguk hingga tenggorokannya terasa terbakar.

"Bisa-biasanya mereka..." Eli meracau, menuangkan lagi cairan pekat itu ke gelasnya. Dia ingin melupakan segalanya. Dia ingin mematikan rasa sakit yang menghunjam jantungnya.

Ketika kesadarannya sudah berada di ambang batas, Eli memutuskan untuk pergi. Pandangannya kabur, lampu-lampu kelab malam berputar seperti komidi putar yang rusak. Dengan sisa tenaga yang ada, dia berjalan keluar dari kelab, memasuki lobi hotel mewah yang terhubung langsung dengan tempat terkutuk itu. Di otaknya hanya ada satu tujuan: tidur dan melupakan hari ini.

Eli merogoh tasnya, mengambil sebuah kartu akses kamar hotel yang entah bagaimana bisa ada di sana—mungkin milik Adrian yang terjatuh saat mereka berpapasan tadi, atau mungkin kartu yang salah dia ambil dari meja bar. Dia tidak peduli. Kakinya yang gemetar membawanya masuk ke dalam lift, menekan tombol lantai sembilan, dan berjalan menyusuri lorong sunyi yang dilapisi karpet tebal.

Pip.

Pintu Kamar 909 terbuka dengan bunyi klik halus. Ruangan di dalamnya gelap gulita, hanya disinari oleh cahaya lampu kota yang menembus jendela kaca besar dari lantai hingga langit-langit. Eli tidak repot-repot menyalakan lampu. Dia menendang sepatu hak tingginya ke sembarang arah, berjalan sempoyongan menuju ranjang berukuran king size di tengah ruangan, dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke sana.

Namun, kasur itu tidak kosong.

Eli merasakan tubuhnya mendarat di atas sesuatu yang keras, hangat, dan bidang. Sebelum dia sempat memproses apa yang terjadi, sebuah cengkeraman kuat dan kokoh tiba-tiba mengunci pergelangan tangannya, membalikkan posisinya dalam satu gerakan cepat hingga kini dia terkunci di bawah kungkungan tubuh seseorang.

"Siapa kamu? Berani-beraninya masuk ke kamarku," sebuah suara berat, rendah, dan penuh intimidasi berbisik tepat di depan wajahnya.

Aroma maskulin yang mahal, campuran antara kayu cendana dan tembakau premium, langsung menyeruak masuk ke indra penciuman Eli. Pria di atasnya ini tidak memakai baju. Eli bisa merasakan kulit dada pria itu yang bidang dan panas bersentuhan langsung dengan telapak tangan Eli yang gemetar.

Di bawah pengaruh alkohol yang pekat, Eli menatap sepasang mata elang yang berkilau tajam di dalam kegelapan. Alih-alih merasa takut, rasa sakit hati akibat pengkhianatan Adrian justru menuntut pelampiasan. Ego Eli terluka, dan racun alkohol membuatnya nekat.

"Adrian bilang aku kaku..." Eli menggumam lirih, air matanya menetes di sudut mata. "Aku tidak kaku..."

Pria di atasnya, Xavier Arisatya, menyipitkan mata. Malam ini, Xavier baru saja dijebak oleh musuh bisnisnya dengan minuman yang dicampur obat perangsang dosis tinggi. Dia sedang menahan diri dengan setengah mati di dalam kegelapan kamar ketika tiba-tiba wanita asing ini masuk dan menjatuhkan diri ke pelukannya. Sentuhan tangan wanita itu yang dingin terasa seperti es yang menyiram tubuhnya yang sedang terbakar gairah.

"Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan, Wanita?" suara Xavier beralih menjadi serak, napasnya memburu, mematikan. Obat itu mulai mengikis kendali dirinya, terutama saat wanita di bawahnya ini tiba-tiba mengalungkan lengan ke lehernya.

"Sentuh aku..." bisik Eli menantang, menarik kerah imajiner pria itu agar wajah mereka semakin dekat. "Buktikan kalau aku tidak membosankan."

Kata-kata itu menjadi pemantik terakhir yang menghancurkan seluruh dinding pertahanan Xavier. Dengan erangan rendah yang berbahaya, Xavier menundukkan kepalanya, mengklaim bibir Eli dengan ciuman yang menuntut, panas, dan posesif. Sentuhan kasar namun penuh gairah itu menghempaskan Eli ke dalam pusaran sensasi baru yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Di dalam kamar nomor 909 yang sunyi, malam yang dingin itu seketika berubah menjadi saksi tidur dari sebuah kesalahan yang penuh gairah, yang akan mengubah garis hidup mereka berdua selamanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!