Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.
Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?
Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.
Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.
Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Ritual
Bulan merah pucat turun dari tahtanya, digantikan oleh bola api raksasa yang menyala-nyala, membuat langit berubah warna menjadi sedikit kekuningan. Matahari itu menyinari seluruh dunia, walaupun di laut merah ini, matahari itu seolah-olah tidak bisa menembus tebalnya kabut.
Rostav Zertu terbangun dari tidurnya, dia terduduk di atas kasur dan menyapu pandangan sekeliling, dia menghela napas dan berkata, "ya, tentu saja aku tidak akan kembali, karena ini semua bukan mimpi."
Rostav menghela napas sekali lagi, menerima kenyataan bahwa dia mungkin tidak akan bisa kembali ke Bumi. Dia sebenarnya sangat berharap bahwa saat dia bangun dari tidurnya, dia sudah kembali ke Bumi, mungkin berada di kamarnya, atau mungkin berada di kantornya. Walaupun di Bumi dia selalu bekerja, tapi tetap saja Bumi adalah tempat kelahirannya, Bumi adalah tempat tinggalnya, mau bagaimanapun buruknya keadaannya di Bumi, Bumi tetaplah rumahnya.
"Mungkin aku akan mempertimbangkan jika menemukan ritual ajaib yang dapat membawaku kembali ke Bumi. Karena, bukankah aku bertransmigrasi ke dunia ini tepat setelah aku melakukan ritual peningkatan keberuntungan? Itu artinya, bukankah aku juga bisa kembali ke Bumi dengan melakukan ritual yang sama?" Rostav mempertimbangkan kemungkinan itu, yang sebenarnya cukup masuk akal. Jika dia bertransmigrasi ke dunia ini karena melakukan ritual peningkatan keberuntungan, maka dia hanya perlu melakukan ritual yang sama di dunia ini. "Walaupun tidak ada kemungkinan berhasil, tapi lebih baik mencobanya dari pada tidak sama sekali."
Rostav segera berdiri dari kasurnya dan berlari menuju ruang penyimpanan. Di sana, dia membuka kembali peti berisi Ramuan, mengambil kapur di dalamnya, dan mengambil empat lilin. Dia menyusun empat lilin itu hingga membentuk kotak, menyambungkannya dengan kapur, lalu menggambar sebuah lambang berbentuk lingkaran dengan pola spiral yang rumit dan artistik di bagian tengahnya. Pola tersebut tersusun dari garis-garis melengkung menyerupai daun, mata, dan gelombang laut yang saling berputar menuju pusat lingkaran yang berbentuk sebuah roda.
Rostav kemudian meletakkan kembali kapur ke dalam peti, dan tanpa menutupnya, dia langsung berdiri di samping lilin pertama dan membentuk sebuah segel tangan.
"Dewa Primordial Yang Mahakuasa..." Rostav melangkahkan kakinya ke depan hingga mencapai lilin kedua, lalu memutar tubuhnya sembilan puluh derajat.
"Dewa Primordial Yang Mahakuasa..." Dia melangkahkan kakinya sekali lagi.
"Dewa Primordial Yang Mahakuasa..."
Pada momen itu, setiap kali dia mengucapkan Dewa Primordial Yang Mahakuasa, sebuah rasa aneh segera marasuki dadanya, seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Tapi, dia tidak menghiraukannya dan melanjutkan ritualnya.
Dia melakukannya hingga tujuh kali, dan di momen ini, sebuah hembusan angin datang entah dari mana, mengibarkan jubah Rostav dengan liar.
Rostav meletakkan kedua tangannya di depan wajah, berusaha untuk setidaknya mengurangi dampak dari hembusan angin.
"Angin dari mana ini? Apakah ritualnya berhasil? Apakah aku akan kembali ke Bumi?" Rostav merasa sedikit optimis dengan hal ini, dia sungguh sangat berharap dapat kembali ke Bumi.
Tapi, hembusan angin menjadi semakin kuat, dan Ramuan yang ada di dalam peti terangkat dengan sendirinya. Itu melayang di udara!
Penutup botol Ramuan itu terbuka dengan sendirinya, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang melakukannya. Rostav yang melihat hal itu hanya bisa membelalakkan mata, dia tak menyangka akan melihat hal gaib tepat di depan matanya.
Dan, sebelum dia bereaksi lebih lanjut, botol kaca itu terbang dengan kecepatan tinggi ke arahnya, dan masuk ke dalam mulutnya.
Rostav yang tidak sempat menghindar hanya bisa pasrah saat cairan berwarna biru gelap itu memenuhi bagian dalam mulutnya, mengalir ke kerongkongan, dan masuk ke dalam perutnya. Rostav melepaskan botol kaca itu dan melihat bahwa seluruh cairan yang ada di dalamnya telah habis tanpa sisa.
"Astaga, bagaimana ini? Apa yang akan terjadi denganku? Aku meminum Ramuan ini tanpa sengaja... tunggu, bukankah aku tanpa sengaja melakukan ritual yang sama seperti yang dituliskan di kertas itu, dan tiba-tiba saja hembusan angin datang dan Ramuan itu melayang lalu masuk ke dalam mulutku. Apakah Ramuan itu beresonansi dengan ritual yang aku lakukan?" Rostav awalnya panik, dia takut bahwa tubuhnya akan rusak karena meminum Ramuan itu, sebelum akhirnya dia menyadari bahwa tanpa sadar dia telah melakukan ritual yang sama untuk meminum Ramuan itu. Hal itu membuatnya menjadi lebih lega.
Dia mengelus dadanya tanpa sadar dan meletakkan kembali botol kaca itu ke dalam peti, lalu merapikan alat-alat ritual, dan menghapus lambang di lantai.
Tapi, pada momen itu, kepalanya terasa pusing, pandangannya menjadi kabur dan dunia menjadi bergelombang. Perutnya terasa mual dan ingin memuntahkan seluruh isi di dalamnya.
"Apa yang... sebenarnya terjadi? Bukankah aku telah melakukan ritual sebelum meminum Ramuan itu?" Rostav berjalan seperti orang mabuk dan menabrak dinding beberapa kali. Dan karena tubuhnya sudah tidak kuat menahan rasa aneh itu, membuat Rostav pingsan di ruang penyimpanan.
.....
Di dalam kegelapan yang luas dan tanpa batas, Rostav terjun bebas ke bawah tanpa bisa melakukan apa pun. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun, kecuali matanya yang dapat dia buka, menampakkan pupil mata berwarna hitam cerah di tengah-tengah kegelapan yang pekat dan tanpa batas ini.
'Di mana ini...?' suara hatinya bergema di dalam kegelapan, seolah-olah suara hatinya terucap oleh mulutnya.
Kegelapan itu begitu pekat hingga Rostav tak bisa melihat apa pun walaupun matanya terbuka. Dan, tak lama kemudian, sebuah retakan tiba-tiba muncul di kegelapan dan menampakkan sebuah mata raksasa dengan pupil vertikal berwarna emas.
Awalnya mata raksasa itu berjumlah satu, tapi seiring waktu, jumlahnya bertambah menjadi dua, empat, delapan, enam belas, hingga tak dapat dihitung. Mata raksasa itu selalu ada di setiap sudut kegelapan, menatap ke arah Rostav yang terjatuh ke kegelapan.
Krek!
Sebuah suara tulang retak bergema di kegelapan. Itu adalah suara tulang Rostav yang seluruh anggota tubuhnya kini terpelintir secara tidak wajar.
'AGHH!!!' Rostav berteriak di dalam hati, dan suara teriakannya terdengar dengan jelas di kegelapan. Kedua tangan dan kakinya terpelintir hebat, menambah rasa sakit dan penderitaan Rostav, sebelum akhirnya kedua tangan dan kakinya kembali ke posisi semula, dan rasa sakit yang dia alami hilang sepenuhnya.
Rostav bernapas dengan lega, tapi belum ada satu detik, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa menimpa kepalanya, seolah-olah ada paling godam yang menghantam kepalanya berkali-kali.
Rostav berusaha menahan rasa sakitnya, tapi rasa sakit itu begitu kuat hingga dia tidak dapat menahannya dan berteriak sekuat tenaga yang dia miliki.
"AGHHH!!!!!" Rostav terbangun dari pingsannya dengan keringat yang segera membasahi tubuhnya, membuat pakainya menempel sepenuhnya ke kulit.
Dia bernapas dengan berat, suaranya terdengar seperti berasal dari kedalaman gua. Dia menatap langit-langit ruang penyimpanan dan mendorong kedua tangannya untuk membantunya duduk. Dia meraba-raba kepalanya sendiri, seolah-olah masih merasakan rasa sakit itu, tapi untung saja rasa sakit itu telah menghilang.
"Hah, itu seperti kenyataan, bukan mimpi. Apa itu sebuah ilusi, apa itu efek karena aku meminum Ramuan? Entahlah, yang jelas, aku masih hidup," dia memandangi tubuhnya sendiri. Mulai dari tangan, mengepalkannya, merasakan kekuatan mengalir di tubuhnya. "Juga, aku merasa bahwa tubuhku berkali lipat jauh lebih kuat dari sebelumnya, apakah itu efek dari meminum Ramuan? Tapi, sayang sekali aku tidak bisa kembali ke Bumi. Hah."
Rostav menghembuskan napas kekecewaan dan berdiri, tapi pada momen itu dia mendengar sebuah suara bergemuruh. Dia menunduk dan menatap perutnya sendiri. "Ugh, aku lapar," dia menyapu pandangan dan berhenti di sebuah karung goni. Dia mendekatinya dan membukanya, mengambil satu roti berbentuk kotak dengan lubang kecil di seluruh bagian.
"Aku pernah melihat roti seperti ini di Bumi. Orang-orang mengatakan rasanya keras seperti batu," dia memindai roti itu dengan teliti sebelum akhirnya mengarahkannya ke mulut, dan menggigitnya.
Krak!
Roti keras itu retak dan pecah di mulut Rostav. Rostav sendiri terkejut dengan kekuatan gigitannya, dia mengira giginya akan rontok saat menggigitnya, tapi ternyata dia bisa memakannya dengan cukup mudah. "Tidak kusangka aku bisa memakannya semudah ini, ya hanya saja rasanya seperti yang kubayangkan. Mungkin inilah makanan yang dimakan oleh seorang petualang."
Rostav sebenarnya tidak terlalu menyukai rasa dari roti itu, tapi karena rasa lapar yang membara, dia menghabiskan total lima roti keras, dan sebenarnya dia cukup menikmatinya.
Setelah sarapan, dia kembali ke Ruangan Kapten dan duduk di kursinya. Dia awalnya merasa santai sebelum akhirnya perhatiannya teralihkan oleh sebuah gulungan di atas meja.
Karena rasa penasaran, Rostav mengambil gulungan itu dan membukanya, bibirnya terangkat ketika melihat apa isi dari gulungan itu.
"Peta," dia bergumam dengan nada bahagia saat dia meletakkan peta itu di atas meja.
Peta itu kebanyakan berisi gambar lautan berwarna merah dengan beberapa sketsa kecil bergambar hutan, pulau, gua, dan lain-lain. Di bagian ujung peta terdapat sebuah angka kordinat yang menunjukkan di mana seseorang berada.
Rostav berusaha mencari di mana lokasinya dengan mengamati sebuah kompas di meja. Rostav melihat sebuah tulisan yang cukup besar, dia pun membacanya. "Laut Mayat."