NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Mobil berwarna hitam mengkilap itu sudah siap melaju, mesinnya menderu pelan seolah tak sabar membawa Ani menuju lembaran hidup baru. Di balik kemudi, Damar tersenyum ramah, membiarkan waktu sejenak berhenti agar Ani bisa menyelesaikan perpisahan dengan kedua orang tuanya. Di halaman rumah sederhana itu, Ayah Harun dan Ibu Asri berdiri berdampingan, memandangi putri tunggal mereka dengan tatapan yang bercampur rasa bangga, haru, dan berat hati.

Matahari pagi bersinar lembut, menyinari uban yang mulai banyak menghiasi kepala keduanya. Wajah tua mereka tampak teduh, namun sudut-sudut mata mereka sudah basah, berkilauan menahan air mata yang siap tumpah. Bagi mereka, melepaskan Ani pergi bukanlah hal yang mudah. Dulu, mereka melepaskannya menikah dengan penuh harap agar bahagia seumur hidup, namun yang kembali adalah luka dan kekecewaan. Kini, mereka melepaskannya lagi, bukan lagi sebagai anak yang akan dititipkan pada orang lain, melainkan sebagai wanita yang mandiri, yang akan berjuang dan menentukan nasibnya sendiri.

Ani berdiri di samping pintu mobil, genggaman tangannya erat memegang ujung baju Ayah Harun, sementara kepalanya menunduk sejenak mencium punggung tangan kasar yang dulu selalu menggendongnya, tangan yang penuh keringat hasil bekerja keras demi membesarkannya. Air mata Ani sudah menetes deras, membasahi punggung tangan ayahnya.

Ayah Harun mengusap kepala putrinya dengan tangan gemetar. Lelaki tua yang biasanya tampak tegas, pendiam, dan jarang sekali menunjukkan emosi, kini tak sanggup lagi menahan gejolak hatinya. Matanya berkaca-kaca, menatap wajah Ani lekat-lekat, seolah ingin merekam setiap jengkal wajah itu ke dalam ingatannya selamanya.

"Nak... anak Ayah yang hebat," suara Ayah Harun bergetar parau, hampir tak terdengar. Ia menarik napas panjang berusaha menenangkan diri, namun air mata itu tetap lolos, mengalir turun membasahi pipi keriputnya. "Pergilah... lanjutkan langkahmu. Jangan khawatirkan Ayah sama Ibu. Kami di sini baik-baik saja, kami sudah biasa hidup sederhana dan mandiri. Yang penting kamu di sana selamat, sehat, dan bahagia."

Ayah Harun lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit, mata terpejam rapat, bibirnya bergerak lirih melantunkan doa yang begitu dalam dan tulus, doa yang keluar dari lubuk hati seorang ayah yang tak punya apa-apa selain kasih sayang sepenuhnya.

"Ya Allah... Lindungilah anakku Ani ke mana pun ia melangkah. Jadikanlah ia anak yang selalu Engkau jaga, jauhkanlah ia dari orang-orang yang berniat buruk, jauhkanlah ia dari bahaya, kekecewaan, dan kepahitan hati. Berikanlah ia kekuatan saat ia lelah, berikanlah ia kebijaksanaan saat ia ragu. Mudahkanlah segala urusannya, angkatlah derajatnya, dan jadikanlah setiap langkah kakinya sebagai langkah menuju kebahagiaan dan kesuksesan yang Engkau ridhoi..."

Suara Ayah Harun pecah di akhir kalimat, ia tak sanggup melanjutkan lagi. Ia menurunkan tangannya, lalu memeluk tubuh Ani erat sekali, seolah enggan melepaskan, namun tahu ia harus melakukannya demi kebaikan anaknya.

"Jadilah wanita yang kuat, Nak. Jangan pernah merendahkan dirimu demi siapa pun. Ingat, di mana pun kamu berada, Ayah selalu bangga padamu. Selalu," bisiknya parau di telinga Ani.

Di samping mereka, Ibu Asri sudah tak kuasa lagi menahan tangis. Wanita itu terisak pelan, bahunya naik turun menahan sesak di dada. Ia mendekat, menarik tubuh Ani dari pelukan Ayah, lalu memeluknya lebih erat, seerat genggaman seorang ibu yang takut kehilangan harta paling berharganya. Tubuhnya gemetar hebat, air matanya membasahi bahu baju Ani.

"Ya Allah... Nak... Ibu tidak sanggup melepaskanmu, tapi Ibu tahu ini jalan terbaik buatmu," isak Ibu Asri, mengusap punggung dan rambut Ani berkali-kali seolah tak akan pernah cukup. "Dulu saat kamu pulang dengan hati hancur, Ibu berjanji tak akan membiarkanmu pergi lagi. Tapi Ibu salah... sayapmu terlalu lebar untuk dikurung di sini. Kamu harus terbang, Nak, terbang setinggi mungkin."

Ibu Asri melepaskan pelukannya sebentar, menatap wajah anaknya dengan mata yang basah namun berbinar doa. Ia pun mengangkat kedua tangannya, tangan yang dulu memandikan, menggendong, dan menyuapi Ani saat kecil, kini terangkat ke langit memohon pada Sang Pencipta dengan segala kepasrahan.

"Ya Allah... Tuhan hamba. Anak ini adalah potongan hati hamba. Jika Engkau berkehendak memindahkannya jauh dari pandangan mata hamba, maka jagalah ia dengan penjagaan-Mu yang tak terhingga. Jadikanlah ia wanita yang diberkahi, yang dicintai banyak orang, dan yang selalu mendapatkan kemudahan dalam setiap urusannya. Sembuhkanlah sisa luka di hatinya, gantikanlah air matanya dengan tawa bahagia, dan berikanlah ia kehidupan yang jauh lebih indah daripada apa pun yang pernah ia bayangkan..."

"Jauhkanlah ia dari orang-orang yang pernah menyakitinya, ya Allah. Dan jika ada kebaikan yang tersisa dari mereka, jadikanlah itu keberkahan bagi anakku. Namun jika mereka membawa bahaya, jauhkanlah sejauh timur dari barat. Lindungilah kehormatannya, lindungilah harga dirinya, dan jadikanlah ia cahaya yang bersinar terang di mana pun ia berada..."

Doa itu mengalir deras, penuh rasa cinta, ketakutan, harapan, dan keyakinan mutlak kepada Tuhan. Bagi Ibu Asri, doa adalah senjata terkuat yang bisa ia berikan kepada anaknya, bekal yang jauh lebih berharga daripada uang atau barang apa pun.

"Di sana nanti, kalau ada apa-apa, susah atau senang, kabari kami ya, Nak," ucap Ibu Asri sambil menyeka air mata di pipi Ani, lalu mencium kening, kedua pipi, dan kedua tangan anaknya bergantian dengan penuh hormat dan kasih sayang. "Jangan pernah merasa sendirian. Di rumah ini, di setiap sujud kami, nama kamu selalu kami sebutkan. Jalanilah hidupmu dengan jujur, rendah hati, dan percaya diri. Biarkan orang lain bicara apa saja, biarkan masa lalu berlalu. Kamu milik masa depan yang cerah, Nak."

Ani menangis tersedu-sedu di hadapan kedua orang tuanya. Ia merasa betapa kecil dan berdosanya dirinya jika pernah merasa hidupnya sial atau tidak berharga. Ia memiliki harta yang paling mahal di dunia ini: kasih sayang dan doa tulus dari Ayah dan Ibu yang tak pernah berkurang sedikit pun, meski dunia mungkin berbalik memusuhinya.

"Terima kasih... terima kasih Ayah... terima kasih Ibu..." isak Ani tak berhenti. "Maafkan Ani yang belum bisa membahagiakan Ayah sama Ibu, malah bikin susah dan sedih terus. Tapi percayalah, Ani akan berusaha sekuat tenaga. Ani akan sukses, Ani akan bahagia, demi Ayah sama Ibu. Nanti kalau Ani sudah mapan, Ani akan jemput Ayah sama Ibu ikut Ani. Kita tidak akan berpisah lama-lama, ya..."

Ayah Harun mengangguk sambil tersenyum di sela tangisnya. Ia mengusap air mata Ibu Asri di sampingnya, mencoba menguatkan istrinya sama seperti ia menguatkan diri sendiri.

"Sudah, Nak... jangan menangis terus. Nanti matamu bengkak, kasihan di perjalanan. Sudah waktunya berangkat. Damar sudah menunggu," kata Ayah Harun lembut, sambil membantu Ani masuk ke dalam mobil.

Saat Ani sudah duduk di dalam dan pintu ditutup perlahan dari luar, Ayah Harun dan Ibu Asri masih berdiri tegak di pinggir jalan, tak beranjak sedikit pun. Mereka melambaikan tangan, bibir mereka terus bergerak, melantunkan doa-doa terakhir, mengirimkan perlindungan langit menyertai perjalanan putri mereka.

Mobil itu pun bergerak perlahan, menjauh. Ani menoleh ke belakang, menatap kedua sosok renta itu yang makin lama makin kecil tertinggal di kejauhan. Mereka masih berdiri di sana, masih menatap kepergiannya, masih mengucapkan doa, sampai mobil itu berbelok dan hilang dari pandangan.

Di balik kemudi, Damar pun ikut terharu melihat pemandangan itu. Ia menghela napas pelan, lalu melirik Ani yang masih terisak namun wajahnya kini memancarkan ketenangan dan kekuatan baru.

"Kamu beruntung sekali, Ani. Ayah dan Ibumu... mereka adalah malaikat di bumi," ucap Damar pelan.

Ani mengangguk kuat, menyeka sisa air matanya, lalu menatap ke depan, ke jalan raya panjang yang lurus dan terbentang luas di hadapan mereka. Hatinya kini penuh. Duka masa lalu telah tertutup oleh kasih sayang orang tua yang begitu luar biasa. Doa-doa itu terasa seperti sayap yang mengangkatnya tinggi, memberinya keyakinan bahwa apa pun yang terjadi di depan nanti, ia akan selalu dijaga dan dicintai.

"Iya, Damar..." jawab Ani dengan suara yang mulai mantap dan tegas. "Mereka adalah segalanya buatku. Dan karena doa mereka... aku yakin, semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan indah pada waktunya."

Mobil itu melaju semakin cepat, membelah jalanan yang membawa Ani menjauh dari desa kelahirannya, namun mendekatkannya pada takdir indah yang telah disiapkan Tuhan, didoakan oleh orang tuanya, dan diperjuangkan oleh dirinya sendiri. Di dada Ani kini tersimpan bekal paling kuat: kasih sayang dan doa yang tak akan pernah putus, meski raga berjauhan.

bersambung ,,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!