Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Cara Berkultivasi Gaya Mu Chen
Setelah mengetahui seluruh kebenaran tentang Tulang Bintang Galaksi, Gerbang Galaksi, dan asal-usul Kitab Jalan Bintang, Mu Chen merasa tidak ada lagi beban pikiran. Ia kini memahami dasar kekuatannya, tapi tetap berpegang teguh pada prinsip sederhananya sendiri.
Para tetua sempat menawarkan berbagai teknik kultivasi tingkat tinggi, buku-buku kuno, dan panduan rahasia sekte agar ia bisa berkembang lebih cepat. Namun, saat mencoba membaca buku-buku tebal yang penuh istilah rumit itu, matanya justru berkunang-kunang.
"Duduk bersila dengan posisi tertentu, atur napas dalam pola tertentu, tarik energi secara bertahap, saring melalui titik-titik akupunktur, alirkan ke jalur meridian... Hah? Ini seperti menghafal resep yang terlalu panjang dan berbelit-belit," gumamnya sambil menumpuk buku-buku itu di sudut meja.
Di dalam benaknya, Kitab Jalan Bintang bertanya:
"Mengapa tidak mencoba mengikuti teknik standar? Teknik ini telah diuji ribuan tahun dan terbukti efektif."
Mu Chen menggaruk kepalanya dan tersenyum:
"Teknik itu bagus untuk orang lain, kan? Tapi tubuh saya berbeda. Gerbang Galaksi saya sudah bisa menyaring energi secara otomatis, jalur meridian saya juga sudah melebar secara alami. Kalau saya ikuti cara orang lain, rasanya seperti memaksakan sepatu ukuran besar ke kaki yang kecil — tidak nyaman, dan justru menghambat gerakan."
"Lalu bagaimana caramu berlatih?" tanya Kitab itu penasaran.
"Sederhana saja! Saya buat cara sendiri yang sesuai dengan tubuh saya. Lihat saja nanti," jawabnya antusias.
Pagi harinya, Mu Chen membawa tikar kecil dan pergi ke area kebun belakang — tempat yang kini paling subur dan tenang. Ia duduk dengan santai, tidak perlu posisi bersila kaku seperti yang diajarkan di buku. Ia bahkan bisa duduk bersandar di pohon jika mau.
Ia mulai menjelaskan pada dirinya sendiri, seolah mengajari orang lain:
"Orang lain berkultivasi itu seperti mengambil air dari sungai dengan ember kecil. Mereka harus hati-hati agar air tidak tumpah, menyaringnya sedikit demi sedikit, lalu menuangkannya ke dalam tempayan. Butuh waktu lama agar tempayan itu penuh."
Ia menepuk dadanya pelan:
"Tapi saya berbeda. Tubuh saya itu sudah punya saluran air besar dan tempayan raksasa, bahkan ada alat penyaring otomatis yang disebut Gerbang Galaksi. Kalau saya pakai ember kecil, percuma saja! Lebih baik saya buka salurannya sedikit saja, biarkan air mengalir dengan sendirinya — tapi jangan terlalu lebar agar tidak banjir."
Kitab Jalan Bintang terdengar sedikit terhibur:
"Perumpamaanmu sederhana, tapi tepat sasaran. Teruskan."
Mu Chen memejamkan matanya perlahan. Ia tidak memaksakan pikiran kosong sampai pusing seperti yang diajarkan, melainkan membuat pikirannya rileks — sama seperti saat ia sedang berbaring melihat awan di langit.
"Langkah pertama: atur keran. Jangan dibuka penuh, jangan ditutup rapat. Cukup dibuka sedikit saja agar alirannya stabil."
Di dalam tubuhnya, Gerbang Galaksi perlahan berputar. Kali ini, ia tidak membiarkannya menarik energi sekuat tenaga seperti dulu. Melalui Mata Kebenaran, ia bisa melihat aliran energi di sekitarnya — seperti kabut tipis yang berwarna-warni.
Ia membuka Gerbangnya hanya seukuran lubang sedotan biasa.
Wusss...
Energi langit dan bumi mulai mengalir masuk dengan tenang. Begitu masuk, Gerbang otomatis memisahkannya: yang murni masuk ke dua dantiannya, sedangkan kotoran alami langsung diubah menjadi sedikit kesegaran untuk tubuhnya.
"Lihat? Tidak perlu susah payah menarik. Biarkan saja ia mengalir dengan sendirinya. Kalau saya terlalu kuat menyedotnya, nanti tanaman di sekitar habis energinya lagi. Ini namanya berlatih tanpa merugikan lingkungan — praktis kan?" gumamnya puas.
Setelah energi masuk, ia tidak langsung menyimpannya saja. Ia membaginya secara otomatis:
✅ Energi yang ringan dan sejuk dialirkan ke Dantian Surgawi, membuat cairan di sana semakin jernih dan berkilau
✅ Energi yang padat dan stabil dialirkan ke Dantian Neraka, membuatnya semakin pekat namun tidak kasar
Ia bahkan menambahkan cara uniknya sendiri:
"Orang lain hanya menyimpan energi agar jumlahnya banyak. Tapi saya pikir, lebih baik kualitasnya ditingkatkan. Ini seperti merebus air — kalau direbus perlahan dan disaring berkali-kali, airnya menjadi lebih bersih dan enak diminum, bukan?"
Sambil duduk santai, ia memutar sedikit energi di kedua dantiannya. Setiap kali berputar satu putaran, energi itu menjadi sedikit lebih murni. Ia tidak terburu-buru, melainkan melakukannya sambil sesekali mendengarkan suara burung atau mencium aroma bunga.
"Kalau dilakukan sambil rileks, hasilnya lebih bagus. Kalau dipaksakan sambil tegang, rasanya seperti memeras buah terlalu keras — nanti ampasnya ikut keluar juga," tambahnya dengan logika sederhana.
Setelah cukup banyak energi terkumpul, ia tidak hanya menyimpannya di satu tempat. Ia mengalirkan sedikit demi sedikit ke seluruh tubuhnya — menuju tulang, otot, kulit, bahkan darahnya.
Namun, caranya pun berbeda. Alih-alih mengikuti jalur meridian yang rumit, ia hanya berpikir: "Alirkan saja ke mana saja yang butuh kekuatan."
Melalui Mata Kebenarannya, ia bisa melihat titik-titik yang agak lemah, lalu mengirimkan sedikit energi ke sana — sama seperti menyiram tanaman yang layu.
"Ini namanya menyehatkan tubuh. Kalau seluruh tubuh kuat, energi tidak akan bocor, dan saya juga tidak mudah sakit. Lebih berguna daripada hanya menyimpan energi di perut saja," ucapnya.
Saat ia mengalirkan energi, kulitnya memancarkan cahaya perak samar yang lembut. Tanaman di sekitarnya tumbuh sedikit lebih subur, udara menjadi lebih segar — tapi tidak sampai membuat semuanya layu seperti kejadian dulu.
Beberapa hari kemudian, Bai Hao dan Su Ling datang mengunjungi dan melihat cara latihan Mu Chen. Mereka masih membawa buku panduan latihan standar.
"Mu Chen, apakah cara latihanmu benar? Tidak kaku seperti yang diajarkan, tapi kau terlihat sangat nyaman," tanya Su Ling penasaran.
Mu Chen membuka matanya dan tersenyum lebar:
"Coba kita bandingkan saja. Mari kita latihan selama satu jam."
Bai Hao dan Su Ling duduk bersila mengikuti teknik standar: posisi tegak, napas diatur sesuai pola tertentu, pikiran dikosongkan. Awalnya lancar, tapi setelah tiga puluh menit, dahi mereka mulai berkeringat, napas menjadi agak terengah karena harus konsentrasi penuh.
Sedangkan Mu Chen? Ia masih duduk santai, bahkan sempat memetik buah kecil di dekatnya dan memakannya sambil tetap mengalirkan energi.
Setelah satu jam selesai:
✅ Bai Hao & Su Ling: Merasa lelah, energi yang terkumpul sekitar seukuran telur, tubuh terasa agak kaku
✅ Mu Chen: Merasa segar, tidak lelah sedikit pun, energi yang terkumpul setara dengan tiga kali lipat milik mereka — dan kualitasnya jauh lebih murni
"Ini... bagaimana bisa?! Kau bahkan sambil makan buah saja!" seru Bai Hao tidak percaya.
Mu Chen menjelaskan dengan sederhana:
"Karena saya tidak memaksakan diri. Tubuh saya sudah punya sistemnya sendiri. Kalau saya terlalu memikirkan aturan, justru saya menghalangi jalannya sendiri. Ini seperti berjalan — kalau kita terlalu memikirkan langkah kaki kita, malah tersandung. Kalau dijalani dengan alami, kita bisa berjalan sambil melihat pemandangan."
Kitab Jalan Bintang berkomentar setuju:
"Dia benar. Teknik standar dibuat untuk tubuh biasa yang tidak memiliki kemampuan penyaringan otomatis dan jalur energi yang lebar. Bagi Mu Chen, teknik ini jauh lebih efisien — tidak membuang tenaga untuk hal yang tidak perlu."
Selain menarik energi, Mu Chen juga menciptakan cara latihan lain yang menurutnya paling berguna. Ia mengambil berbagai benda: batu, daun, air, tanah.
Ia akan meletakkan telapak tangannya di atas batu dan mengalirkan sedikit energi Surgawi, lalu mengamati bagaimana batu itu menjadi lebih padat dan berkilau. Atau memasukkan sedikit energi Neraka ke dalam air, membuatnya menjadi berat namun tetap jernih.
"Ini latihan mengontrol kualitas. Kalau saya bisa mengubah sifat energi sedikit demi sedikit, nanti saat dipakai untuk membuat jurus, saya bisa menyesuaikannya sesuka hati — mau dipakai mendinginkan, memanaskan, menguatkan, atau menyembuhkan," jelasnya antusias.
Suatu kali, Zhao Feng yang lewat melihatnya dan mencoba membandingkan. Ia melepaskan serangan energi biasa ke sebuah pohon, meninggalkan bekas yang cukup dalam. Sedangkan Mu Chen hanya meletakkan tangannya sekejap — tidak ada bekas, tapi batang pohon itu menjadi dua kali lebih kuat dan tidak mudah patah.
Zhao Feng menghela napas panjang dan tersenyum pahit:
"Selama ini aku berpikir semakin banyak energi semakin bagus. Tapi kau mengajarkan bahwa kualitas dan pengendalianlah yang lebih penting. Cara pandangmu memang berbeda."
Dalam waktu satu bulan, hasil latihan gaya Mu Chen mulai terlihat jelas. Ia tidak terburu-buru mengejar tingkatan kultivasi seperti orang lain, tapi kekuatannya tumbuh dengan stabil dan kokoh — tanpa ada gejolak energi yang tidak terkontrol.
Perubahan yang terjadi padanya:
✅ Energi menjadi sangat padat: Satu tetes cairan di dantiannya bisa menekan tanah seberat seratus kilogram
✅ Pengendalian menjadi presisi: Ia bisa mengatur aliran energi sampai ke tingkat yang sangat halus — misalnya hanya memanaskan ujung sebilah daun saja tanpa merusak bagian lain
✅ Tubuh semakin sehat: Kulitnya halus namun sangat kuat, ia bisa menahan perubahan suhu ekstrem tanpa masalah
✅ Resonansi dengan alam: Semakin ia rileks, semakin mudah ia menarik energi, bahkan bisa berlatih sambil berjalan atau berbicara dengan orang lain
Kitab Jalan Bintang akhirnya memberikan pujian:
"Ini adalah jalan yang cocok untukmu. Xing Chen sendiri pernah berkata: 'Jalan terbaik bukanlah jalan yang dibuat orang lain, melainkan jalan yang kau temukan sendiri dan sesuai dengan sifatmu.' Kau tidak berusaha menjadi orang lain, melainkan memaksimalkan apa yang Tuhan berikan padamu."
Mu Chen hanya tertawa lebar dan menepuk perutnya:
"Yang terpenting, cara ini tidak membuat saya pusing, tidak membuat saya lapar lebih cepat, dan saya masih punya banyak waktu untuk memasak dan merawat kebun. Kalau latihan itu membuat hidup menjadi sulit, buat apa dilanjutkan kan?"
Sore harinya, ia duduk di bawah pohon sambil memandangi langit yang berwarna jingga. Di dekatnya, makhluk kecil Berduri tidur dengan nyenyak, sedangkan tanaman di sekitarnya tumbuh subur dan berbuah lebat.
Ia mengalirkan sedikit energi ke tangannya — cahaya putih keemasan dan hitam keperakan berputar perlahan di telapak tangannya, seindah miniatur galaksi.
"Lambat tidak apa-apa. Yang penting stabil dan nyaman. Nanti kalau ada bahaya, saya pasti bisa bertahan. Kalau tidak ada bahaya, ya nikmati hidup saja," gumamnya santai.
Dan begitulah, Mu Chen terus berkultivasi dengan caranya sendiri — unik, sederhana, dan jauh lebih efisien daripada teknik kuno apa pun yang pernah ada. Ia membuktikan bahwa kekuatan sejati tidak selalu datang dari aturan yang rumit, tapi dari memahami diri sendiri dan menjalani segala sesuatu dengan hati yang tenang