"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANGIN DINGIN DI PANGGUNG UJIAN
Pagi itu, udara di Sekte Pedang Langit terasa lebih tajam dari biasanya. Di lapangan latihan utama, aura energi yang meluap-luap menandakan bahwa banyak murid telah mencapai kemajuan pesat menjelang turnamen. Di tengah kerumunan, Su Yan berdiri dengan tegak. Jubah putihnya berkibar, dan di sekelilingnya, kepingan salju tipis yang tercipta dari energi Qi-nya tampak lebih stabil dan berkilauan.
Petunjuk misterius di atas meja debu tempo hari benar-benar mengubah segalanya. Su Yan merasa energinya mengalir tanpa hambatan, seolah-olah sungai yang tadinya tersumbat bendungan kini mengalir deras menuju samudra.
"Siapa pun master yang memberiku petunjuk itu, dia pasti seorang ahli yang tak terbayangkan," batin Su Yan.
Saat ia berjalan menuju tribun kehormatan, matanya tak sengaja menangkap sosok yang sedang berlutut di tepi selokan, menyikat lumut dengan gerakan malas. Han Feng.
Su Yan berhenti sejenak. Karena hatinya sedang sangat baik setelah terobosannya, ia mengeluarkan sebuah koin perak dari kantong pinggangnya dan melemparkannya ke arah Han Feng.
Ting!
Koin itu jatuh tepat di depan hidung Han Feng. "Ambillah. Beli obat untuk tubuhmu yang lemah itu agar kau tidak mati di atas panggung besok," ucap Su Yan dingin, namun tanpa kebencian yang biasanya. Baginya, ini adalah bentuk 'sedekah' syukur.
Han Feng menghentikan sikatnya. Ia mengambil koin itu dan membungkuk dalam-dalam, menunjukkan ekspresi syukur yang berlebihan yang tampak bodoh. "Terima kasih, Kakak Senior Su! Anda benar-benar dewi yang sangat murah hati!"
Su Yan hanya mendengus meremehkan dan pergi tanpa menoleh lagi. Han Feng berdiri, memutar koin perak itu di jemarinya dengan senyum yang tidak bisa dilihat siapa pun.
"Memberiku sedekah perak setelah aku memberimu kunci keabadian? Su Yan, kau benar-benar lucu," batin Han Feng sambil memasukkan koin itu ke sakunya.
Di bagian lain lapangan, pendaftaran senjata sedang berlangsung. Li Wei berdiri dengan dagu terangkat, memegang sebuah pedang dengan sarung kulit naga berwarna biru. "Pedang Pemecah Angin". Senjata tingkat Bumi rendah yang sangat mahal.
"Han Feng! Kemari, sampah!" teriak Li Wei.
Han Feng berlari kecil dengan wajah "ketakutan". "I-iya, Tuan Muda Li?"
"Bawa tas senjataku ke tenda perawatan. Dan bersihkan pedang ini! Jika ada satu goresan saja, aku akan memotong jarimu!" Li Wei melemparkan pedang itu dengan kasar.
Han Feng menangkapnya dengan tangan gemetar yang dibuat-buat. Saat ia berjalan menjauh menuju tenda, tangannya yang memegang gagang pedang mulai bekerja. Di balik sarung pedang yang mewah, Han Feng menyalurkan getaran frekuensi sangat tinggi dari energi emasnya ke titik tengah bilah pedang.
Teknik "Sentuhan Pelemahan Struktur".
Secara fisik, pedang itu tetap terlihat sempurna dan tajam. Namun, di tingkat molekuler, struktur baja mistisnya telah retak secara internal. Pedang itu akan berfungsi normal untuk tebasan biasa, namun saat Li Wei mengerahkan energi penuh untuk jurus pamungkasnya nanti, pedang itu akan hancur berkeping-keping seperti kaca murahan.
"Senjata yang bagus, Tuan Muda," gumam Han Feng sambil mengusap bilah pedang dengan kain lap. "Sayang sekali, dia tidak akan bertahan lebih lama darimu."
Malam sebelum hari H, suasana di penginapan murid luar sangat tegang. Li Wei sedang berlatih tanding dengan salah satu pengikutnya untuk memantapkan gerakannya. Han Feng bertugas membawakan air minum dingin untuk mereka.
"Minumnya, Tuan Muda," ucap Han Feng sambil menyodorkan gelas keramik.
Tepat saat Li Wei hendak mengambil gelas itu, mata mereka bertemu. Han Feng tidak lagi menunduk. Selama satu detik—hanya satu detik—Han Feng melepaskan sedikit aura predatornya melalui tatapan matanya.
Li Wei tiba-tiba merasa seolah-olah langit runtuh menimpanya. Udara di sekitarnya mendadak menjadi sedingin es, dan ia melihat bayangan iblis raksasa di belakang Han Feng yang siap menelannya bulat-bulat.
"Aaakh!" Li Wei berteriak kecil, mundur selangkah hingga gelas yang dipegang Han Feng jatuh dan pecah di lantai.
"Tuan Muda? Ada apa? Apakah Anda sakit?" tanya Han Feng dengan wajah yang seketika kembali menjadi pelayan yang ketakutan dan gemetar, tangannya pura-pura panik membersihkan pecahan gelas.
Li Wei terengah-engah, keringat dingin mengucur di dahinya. "Kau... kau..." ia menunjuk Han Feng dengan tangan gemetar. Namun, saat ia melihat Han Feng yang sedang memunguti pecahan kaca dengan bodohnya, ia mulai ragu. "Apakah itu hanya halusinasiku karena kelelahan?"
"Pergi! Jauhkan wajahmu dariku!" bentak Li Wei. Sejak saat itu, setiap kali Li Wei memejamkan mata, ia teringat tatapan Han Feng yang mengerikan. Benih paranoia telah tertanam di jiwanya.
Keesokan harinya, arena utama Sekte Pedang Langit dipenuhi oleh lautan manusia. Ribuan murid, puluhan Tetua, dan tamu dari kerajaan sekitar berkumpul. Genderang perang dipukul berirama, menciptakan detak jantung yang berdebar di seluruh penjuru arena.
"Selamat datang di Turnamen Pedang Embun Pagi!" teriak pembawa acara.
Satu per satu nama peserta dibacakan. Hingga tiba saatnya pengumuman grup babak penyisihan.
"Grup 4! Li Wei dari barisan murid luar... melawan... Peserta Pendukung: Han Feng!"
Tawa pecah seketika di seluruh arena.
"Hahahaha! Ini bukan pertarungan, ini pembantaian!"
"Berapa lama si sampah itu akan bertahan? Aku bertaruh dia pingsan hanya karena melihat pedang Li Wei!"
"Lihat pakaiannya! Dia datang untuk bertarung atau untuk mencuci baju?"
Han Feng berjalan masuk ke arena dengan pakaian pelayan abu-abu yang paling kusam yang ia miliki. Ia berjalan dengan langkah yang terlihat ragu-ragu, kepalanya menunduk, sangat kontras dengan Li Wei yang masuk dengan jubah tempur biru mengkilap dan pedang di pinggang.
Li Wei menatap Han Feng dari seberang panggung. Meskipun ia dikelilingi oleh sorak-sorai, rasa dingin yang ia rasakan semalam masih membekas. Ia mencoba menenangkan dirinya. "Dia hanya sampah. Satu tebasan, dan semuanya selesai."
Han Feng berdiri di titiknya. Ia menyentuh saku pinggangnya, merasakan kupon taruhan 1:100 yang ia simpan dengan rapi. Ia menarik napas pelan, mencium aroma kegembiraan di udara yang sebentar lagi akan berubah menjadi bau ketakutan.
"Tawa kalian sangat keras hari ini," batin Han Feng sambil sedikit mengangkat kepalanya, menatap ke arah tribun di mana Su Yan duduk dengan anggun.
"Mari kita lihat, seberapa keras kalian bisa berteriak saat aku mulai merobek harga diri sekte ini."
Wasit mengangkat tangannya ke udara. "Babak pertama... DIMULAI!"
Li Wei mencabut pedangnya, memancarkan aura biru yang kuat. Namun, Han Feng hanya berdiri diam dengan tangan kosong, menunjukkan senyum tipis yang hanya bisa dilihat oleh Li Wei—senyum yang menandakan bahwa neraka baru saja membuka pintunya.
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏