Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Jantung Kota
Kabar itu menyebar seperti api yang ditiup angin kencang di musim kemarau. Teriakan Lea yang menggelegar di teras rumah utama tidak hanya memantul di dinding kayu, tapi juga menembus telinga para santri yang sedang membersihkan selasar masjid dan mereka yang sedang mengantre di dapur umum.
"Status pernikahan kita..."
Kalimat itu menjadi teka-teki yang mengerikan bagi para santri. Bisik-bisik mulai memenuhi setiap sudut asrama.
"Kamu dengar tadi? Ning Lea bilang apa?"
"Nikah? Sama siapa? Masa sama Gus Malik?"
"Tapi bukannya Gus Malik suaminya Ning Najwa?"
Suasana pesantren yang biasanya tenang oleh lantunan ayat suci, kini berubah menjadi riuh oleh spekulasi yang menyesakkan. Sementara di dalam rumah, Gus Malik hanya bisa terduduk di kursi teras dengan kepala tertunduk dalam. Ia tahu, benteng rahasia yang ia bangun demi ketenangan Najwa kini telah runtuh berkeping-keping.
Di sisi lain, Lea berada di dalam taksi yang melaju kencang menjauh dari lingkungan pesantren. Napasnya masih memburu, amarahnya masih mendidih di puncak kepala. Ia merogoh ponselnya dan mendial nomor Dira.
"Dira... kasih tahu gue, club mana yang paling bagus di Jakarta. Yang musiknya kencang, yang orang-orangnya nggak bakal nanya gue siapa," suara Lea bergetar.
Dira di seberang sana terdiam sejenak. "Lea? Lo kenapa? Suara lo kayak habis nangis. Tiba-tiba nanya *club*? Lo kan belum pernah jalan-jalan jauh di Jakarta."
"Gue bosan, Dir! Gue cuma butuh suasana baru. Di pesantren bikin gue mati perlahan," bohong Lea, mencoba menutupi kehancurannya soal Tom dan rahasia pernikahannya yang terbongkar. "Ayo temenin gue."
"Aduh, Lea... bukannya gue nggak mau. Gue lagi ada deadline kantor sampai malam. Lo beneran oke? Nggak terjadi apa-apa kan di sana?"
"Gue oke. Cuma butuh refreshing aja. Buruan kasih tahu namanya," desak Lea.
Dira akhirnya menyebutkan sebuah nama club ternama di daerah Jakarta Selatan yang beroperasi hampir 24 jam. "Hati-hati, Lea. Jakarta nggak sama kayak London."
"Gue bisa jaga diri," jawab Lea pendek sebelum mematikan sambungan.
Sesampainya di club tersebut, dentuman musik techno langsung menyambut Lea. Pencahayaan remang-remang dengan lampu neon berwarna ungu dan biru terasa sangat kontras dengan cahaya matahari sore yang masih bersinar di luar. Lea langsung menuju bar, memesan minuman keras satu demi satu.
Satu botol... dua botol... hingga botol kelima.
Lea tertawa hambar di tengah kerumunan orang yang menari. Ia mencoba menghapus bayangan wajah kecewa Tom, wajah sedih Najwa, dan wajah dingin Gus Malik dari kepalanya. Namun, semakin banyak ia minum, wajah Malik justru semakin jelas terbayang—terutama saat jari pria itu mengusap bibirnya di tempat es krim kemarin.
"Lo jahat, Malik..." gumam Lea dengan suara cadel. Ia jatuh terduduk di kursi bar, kepalanya terasa berputar hebat. Ia mabuk berat, dunianya kini benar-benar jungkir balik.
Pukul tujuh malam di pesantren. Najwa tidak bisa berhenti menangis. Ia mencemaskan adiknya yang pergi dalam keadaan sangat marah dan hancur. Ia tahu Lea tidak mengenal Jakarta dengan baik.
"Mas... tolong cari Lea. Aku takut dia kenapa-kenapa," isak Najwa pada Malik yang sedang duduk bersimpuh di samping kursi rodanya.
"Dia sudah dewasa, Najwa. Dia harus belajar bertanggung jawab atas ucapannya," jawab Malik datar, meski hatinya sebenarnya sangat tidak tenang.
Najwa teringat sesuatu. Ia segera mencari nomor ponsel Dira di kontak cadangan milik Lea. Setelah beberapa kali nada sambung, Dira akhirnya mengangkat.
"Halo, Dira? Ini Kak Najwa. Apa Lea ada di rumahmu?"
"Kak Najwa? Enggak, Kak. Lea tadi memang telepon saya, dia tanya soal club di Jakarta Selatan. Saya pikir dia cuma main sebentar..." suara Dira terdengar khawatir. "Dia ada di Black Velvet Club, Kak."
Jantung Najwa seolah berhenti. "Club? Malam-malam begini?"
"Apa ada masalah besar, Kak?" tanya Dira ragu.
Najwa menarik napas panjang, mencoba menahan suaranya agar tidak pecah. "Hanya masalah kecil, Dira. Terima kasih informasinya."
Najwa menutup telepon dan menatap suaminya dengan tatapan memohon. "Mas... Lea ada di sebuah *club*. Dia mabuk. Aku tahu itu tempat yang paling Mas benci, tapi tolong... jemput dia. Jangan biarkan dia disentuh orang lain di sana. Aku mohon, Mas."
Gus Malik memejamkan mata rapat-rapat. Mendengar kata "club", rasa jijik menjalar di sekujur tubuhnya. Baginya, itu adalah lubang kemaksiatan terdalam. Namun, saat ia melihat air mata Najwa yang mulai bercampur dengan noda pucat di wajahnya, Malik tak punya pilihan.
"Demi kamu, Najwa. Hanya demi kamu," desis Malik.
Pria itu berdiri, menyambar kunci mobil dan mengganti jubahnya dengan jaket hitam yang menutupi baju kokonya. Ia berangkat menembus kemacetan Jakarta dengan amarah dan tanggung jawab yang saling berperang di dalam dadanya. Ia akan menjemput wanita yang telah menghancurkan rahasia mereka, di tempat yang paling ia haramkan untuk didatangi.