NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Sinar matahari pagi kembali menginvasi kamar utama yang luar biasa luas ini, menembus kaca jendela besar yang memperlihatkan panorama sibuknya ibu kota. Aku mengerang pelan, mencoba menarik selimut tebal untuk menutupi wajahku dari silau cahaya. Namun, ada yang aneh. Selimut hitam yang biasanya sehalus sutra ini mendadak terasa sedikit keras, berotot, dan... beraroma *mint* bercampur kayu cendana?

Aku membuka sebelah mata dengan enggan. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatanku adalah dada bidang berbalut kaus polos putih yang naik turun secara teratur. Mataku perlahan bergerak ke atas, melewati jakun yang tegas, rahang yang kokoh, hingga akhirnya berhenti pada wajah tampan Arkan Mahendra yang sedang memejamkan mata dengan damai.

Tunggu sebentar. Jarak kami beneran tidak normal!

Aku langsung menunduk dan menyadari sebuah kenyataan pahit yang menghancurkan harga diriku di pagi hari. Benteng guling stroberiku yang kokoh itu telah terguling ke lantai dengan tragis. Sementara itu, satu kakiku dengan santainya menyilang di atas pinggang Arkan, dan tanganku... oh Tuhan, tanganku sedang memeluk perut ratanya dengan sangat erat seolah dia adalah guling pengganti!

Dalam kepanikan tingkat tinggi, aku menarik lengan dan kakiku secepat kilat, bersiap untuk berguling menjauh. Namun, sebelum aku bisa melarikan diri, sebuah tangan besar dan hangat dengan cepat menangkap pinggangku, menarikku kembali hingga menabrak dada kerasnya.

"Mau lari ke mana, Manajer Naura? Jam kerja belum dimulai," gumam Arkan dengan suara serak khas bangun tidur yang luar biasa seksi, membuat seluruh aliran darahku rasanya langsung berhenti berfungsi.

Matanya perlahan terbuka, menampilkan manik mata elang yang menatapku dengan kilatan geli. Senyum miring yang paling menyebalkan sedunia terukir di bibirnya.

"L-lepaskan! Ini pelanggaran batas wilayah! Kenapa guling stroberiku bisa ada di lantai?!" protesku panik, berusaha mendorong dadanya dengan wajah yang sudah dipastikan memerah seperti kepiting rebus.

Arkan sama sekali tidak melepaskan pelukannya, malah semakin merapatkan tubuh kami. "Saya tidak tahu. Mungkin gulingmu itu ditendang oleh pasukan rayap mutan Eropa semalam. Makanya, sangat berbahaya kalau kamu tidur jauh-jauh dari saya. Area di dekat saya ini sudah terbukti bebas hama."

Aku melotot tidak percaya. Bisa-bisanya bos besar yang terkenal kejam dan sedingin kulkas dua pintu ini menggunakan alibi konyol soal rayap untuk menutupi kelakuannya yang merobohkan guling pembatas!

"Arkan Mahendra! Kamu pikir aku balita yang bisa dibodohi dengan cerita rayap mutan penendang guling?! Lepaskan, aku mau mandi! Hari ini aku harus kembali ke departemen pemasaran!" Aku meronta, memberikan cubitan kecil di lengannya.

Arkan akhirnya terkekeh pelan, melepaskan pelukannya dengan enggan. "Baiklah, cerewet. Sana mandi. Tapi ingat, meskipun hari ini posisiku sudah aman dan Dimas sudah diam, sandiwara kita belum berakhir. Di kantor, kamu tetap harus bersikap sebagai istri CEO yang sangat mencintai suaminya. Mengerti?"

Aku mencibir sambil melompat turun dari kasur, memungut guling stroberiku yang malang. "Tenang saja, Mas CEO. Urusan akting dan pencitraan, serahkan saja pada manajer iklan nomor satu di Mahardika Group. Aku akan membuat semua orang percaya kalau aku beneran bucin setengah mati padamu, padahal aslinya aku cuma mau mengamankan bonus akhir tahunku."

"Kita lihat saja nanti, siapa yang aslinya benar-benar bucin, Naura," balas Arkan tenang, kembali memejamkan matanya dengan senyum penuh arti yang membuat jantungku mendadak berdebar tidak keruan.

Pukul sepuluh pagi, suasana di lantai dua puluh—markas besar Departemen Pemasaran—beneran terasa sangat aneh. Begitu aku melangkah keluar dari lift dengan setelan jas kerja *peach* yang rapi, seluruh anggota timku mendadak berdiri dan menunduk hormat.

"Selamat pagi, Ibu CEO... eh, maksud kami, Bu Naura," sapa Riko, salah satu staf remajaku dengan senyum canggung yang dipaksakan.

Aku memijat pelipisku yang mendadak berdenyut. "Riko, berhenti memanggilku seperti itu. Di lantai ini, aku tetap atasan kalian yang suka marah-marah kalau draf kampanye iklan kalian jelek. Anggap saja pernikahan kemarin itu tidak pernah terjadi di dalam jam kerja."

Semua stafku mengangguk kaku, meski mata mereka masih menatapku dengan penuh rasa segan. Jelas saja, siapa yang berani membantah manajer yang calon suaminya baru saja dilantik menjadi penguasa tertinggi Mahardika Group?

Baru saja aku duduk di kursi kebesaranku, telepon di mejaku berdering nyaring. Suara Hadi terdengar panik dari seberang sana.

"Halo, Ibu Naura! Gawat, Bu! Tolong segera naik ke lantai lima puluh sekarang juga! Ada... ada darurat!"

Aku mengernyitkan dahi. "Invasi darurat apa, Hadi? Rayap mutan Eropa beneran menyerang kantormu?"

"Bukan rayap, Bu! Ini lebih mengerikan dari rayap! Ini... aduh, Bu, pokoknya Ibu cepat ke sini. Saya tidak kuat menahan amarah Pak Arkan!"

Klik. Sambungan diputus secara sepihak.

Dengan perasaan campur aduk dan insting bertahan hidup yang menyala, aku meraih map laporan pemasaran bulan ini sebagai tameng, lalu bergegas menuju lift khusus eksekutif. Jantungku berdebar kencang. Apakah Dimas kembali membuat ulah? Atau ada pemegang saham yang tiba-tiba memberontak?

Namun, begitu pintu lift terbuka di lantai lima puluh, tebakanku meleset total. Bukan Dimas yang sedang mengamuk di lobi eksekutif, melainkan sesosok wanita bertubuh semampai layaknya supermodel, mengenakan gaun merah menyala yang terlalu ketat untuk ukuran pakaian kantor, lengkap dengan kacamata hitam besar dan tas *Hermes* yang diayun-ayunkan dengan arogan.

Suara melengkingnya yang menyakitkan telinga bergema di seluruh lorong berlapis karpet tebal itu.

"Minggir, Hadi! Berani-beraninya kamu melarangku masuk! Aku ini Valerie! Mantan tunangan Arkan yang paling dia cintai! Aku baru pulang dari Paris dan aku dengar dia dipaksa menikahi perempuan kampungan antah berantah demi posisi CEO! Minggir, aku mau menyelamatkan tunanganku!"

Aku menghentikan langkahku, berdiri menyender pada dinding marmer sambil bersedekap, menikmati pertunjukan murahan di depanku. Mantan tunangan Arkan ini lagi. Wanita yang sering digosipkan oleh para karyawan lama. Katanya, wanita ini dulu meninggalkan Arkan dan memilih kabur dengan pengusaha tua kaya raya ke Eropa tepat sebelum Arkan diangkat menjadi direktur. Dan sekarang, setelah Arkan sukses menjadi CEO tunggal, dia kembali bagaikan pahlawan kesiangan yang kelaparan harta.

Hadi yang malang tampak berkeringat dingin, merentangkan kedua tangannya di depan pintu ruang kerja Arkan. "Maaf, Nona Valerie. Bapak sedang tidak bisa diganggu. Dan Bapak sudah punya calon istri, jadi Nona tidak punya hak untuk menerobos masuk!"

"Menikah apanya?! Itu cuma pernikahan kontrak, kan? Arkan tidak mungkin bisa *move on* dari pesonaku!" Valerie tertawa meremehkan, lalu tiba-tiba dia berbalik dan menatap lurus ke arahku yang sedang bersandar santai. Matanya yang dilukis dengan *eyeliner* tebal memindai penampilanku dari ujung rambut hingga ujung sepatu *heels* standar kantorku dengan tatapan merendahkan.

"Nah, ini perempuan yang disewa Arkan untuk pura-pura jadi istrinya!" Valerie melangkah mendekatiku, auranya memancarkan kesombongan yang membuatku mual. "Dengar ya, Manajer rendahan. Tugasmu sudah selesai. Sekarang, kamu bisa ambil uang bayaranmu dan menyingkir dari hadapanku. Tempat di samping Arkan itu milikku."

Aku sama sekali tidak terpancing emosi. Sebagai manajer pemasaran yang sudah terbiasa menghadapi klien-klien gila, menghadapi wanita bermulut tajam seperti Valerie ini hanyalah pemanasan pagi bagiku. Aku membetulkan letak kerah jasku dengan gerakan lambat dan elegan.

"Maaf, Mbak Valerie yang terhormat. Berbicara soal posisi di samping Arkan, saya rasa Mbak perlu belajar sedikit tentang ilmu pemasaran dasar," balasku dengan nada suara yang sangat tenang namun mematikan.

Valerie mengernyit bingung. "Ilmu pemasaran? Apa hubungannya, dasar wanita kampungan?!"

Aku tersenyum sangat manis, senyum predator yang siap menerkam mangsanya. "Dalam dunia bisnis, ada yang namanya siklus hidup produk. Mbak Valerie ini ibarat produk lama yang dulunya sempat dipajang di etalase, tapi karena kualitasnya buruk dan gagal memenuhi ekspektasi konsumen, akhirnya ditarik dari pasaran. Alias... produk kedaluwarsa yang sudah dibuang ke tong sampah."

Mata Valerie melotot lebar. Mulutnya terbuka menahan amarah. "A-apa kamu bilang?!"

"Lalu," lanjutku tanpa ampun, melangkah maju satu tindak yang membuat Valerie refleks mundur, "Arkan Mahendra sekarang sudah menemukan produk unggulan baru dengan kualitas premium yang diikat dengan kontrak seumur hidup alias surat nikah resmi dari negara. Jadi, sangat tidak logis kalau dia mau menukar produk premiumnya dengan produk kedaluwarsa yang bisa menyebabkan keracunan investasi. Logika bisnisnya tidak masuk, Mbak."

Hadi yang sedari tadi panik, kini menutup mulutnya kuat-kuat menahan tawa yang hampir meledak melihat bagaimana mantan tunangan bosnya dihancurkan mentalnya hanya dengan perumpamaan anak *marketing*.

"Beraninya kamu menghinaku! Kamu pikir Arkan benar-benar mencintaimu?! Kamu cuma pion!" jerit Valerie histeris, mengangkat tangannya yang dihiasi kuku palsu panjang, bersiap untuk mendaratkan tamparan ke wajahku.

Aku bahkan tidak repot-repot menghindar, karena sebelum tangan penuh dosa itu bisa menyentuh pipiku, sebuah pergelangan tangan kokoh yang dibalut kemeja hitam mahal telah menangkap lengan Valerie dengan cengkeraman yang sangat keras.

"Sentuh calon istri saya satu sentimeter saja, dan saya pastikan kamu tidak akan pernah bisa memakai tanganmu itu untuk memegang tas *Hermes* palsumu lagi, Valerie."

Suara bariton yang teramat sangat dingin dan sarat akan ancaman mematikan itu menggema di lorong. Arkan Mahendra berdiri menjulang di sampingku. Rahangnya mengeras, mata elangnya menatap Valerie dengan sorotan jijik dan kebencian yang luar biasa pekat. Genggaman tangannya pada lengan Valerie begitu kuat hingga wanita itu merintih kesakitan.

"A-Arkan! Sakit! Lepaskan!" rintih Valerie dengan air mata buaya yang mulai menetes. "Aku ini tunangan-mu, Arkan! Aku kembali untukmu! Kenapa kamu malah membela perempuan sewaan ini?!"

Arkan menghempaskan lengan Valerie dengan kasar seolah baru saja menyentuh sampah beracun. Dia kemudian melangkah maju, memosisikan tubuh besarnya tepat di depanku, menjadi perisai mutlak yang melindungiku dari segala bentuk ancaman.

"Hanya ada satu Nyonya Mahardika di gedung ini, dan dia sedang berdiri tepat di belakang saya," desis Arkan dengan nada rendah yang membuat nyali siapa pun pasti menciut. "Kamu bukan siapa-siapa lagi selain parasit masa lalu yang sudah saya lupakan. Pernikahan saya dengan Naura adalah hal paling nyata dan paling berharga yang saya miliki. Jangan pernah bermimpi bisa kembali ke kehidupan saya, apalagi berani mengusik ketenangan istri saya."

Valerie mematung, wajahnya pucat pasi mendengar penolakan brutal yang diucapkan langsung oleh Arkan di depan banyak staf eksekutif yang kini mulai mengintip dari balik pintu ruangan mereka. Harga dirinya hancur lebur tanpa sisa.

"Hadi," panggil Arkan tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari Valerie.

"S-siap, Pak CEO!" jawab Hadi dengan sikap sempurna.

"Panggil pihak keamanan. Seret wanita ini keluar dari gedung kantorku. Dan masukkan namanya ke dalam daftar hitam. Kalau sampai dia bisa melewati pintu lobi utama lagi besok, kamu dan seluruh kepala tim keamanan akan saya pecat."

"Baik, Pak!" Hadi langsung berlari menuju interkom dengan kecepatan cahaya.

Melihat tidak ada lagi harapan, Valerie akhirnya berbalik dengan langkah gontai, menutupi wajahnya yang memerah karena malu, lalu berlari menuju lift tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun.

Begitu pintu lift tertutup, koridor lantai lima puluh kembali hening. Arkan menghela napas panjang, meredakan aura membunuh yang sedari tadi menguar dari tubuhnya. Dia kemudian berbalik menghadapku. Raut wajah kasarnya seketika melembut, berganti dengan tatapan khawatir yang membuat jantungku kembali senam aerobik.

Kedua tangannya yang besar dan hangat menangkup pipiku dengan sangat lembut. Ibu jarinya mengusap kulit wajahku perlahan.

"Kamu tidak apa-apa? Dia tidak sempat melukaimu, kan?" tanya Arkan dengan suara yang jauh lebih pelan dan penuh perhatian.

Aku menggeleng pelan, mendadak salah tingkah karena jarak kami yang terlalu dekat dan fakta bahwa seluruh lantai ini sedang menonton adegan bucin bos besar mereka. "Aku tidak apa-apa. Lagipula, sebelum kamu keluar, aku sudah menghancurkan mentalnya duluan dengan analisa produk kedaluwarsa."

Mendengar jawabanku, ujung bibir Arkan berkedut, menahan tawa yang akhirnya pecah menjadi kekehan rendah yang sangat renyah. Dia melepaskan tangkupan tangannya, namun dengan cepat berpindah menggandeng jemariku dan menguncinya erat.

"Analisa produk kedaluwarsa yang sangat akurat, Manajer Naura," puji Arkan dengan kilatan bangga di matanya. "Kemampuan mulut pedasmu itu sepertinya memang aset terbaik yang pernah saya investasikan."

"Tentu saja. Dan sebagai produk unggulan premiummu, sepertinya aku berhak mendapatkan kenaikan gaji atas performa akting mempertahankan suamiku dari serangan hama luar," balasku menantang gengsinya, berusaha menutupi debaran liar di dadaku.

Arkan menarik tubuhku sedikit mendekat, menundukkan kepalanya hingga napas hangatnya menyapa telingaku. "Kenaikan gaji bisa diatur. Tapi mengenai ucapan saya tadi tentang kamu adalah hal paling berharga yang saya miliki... itu murni fakta, bukan akting, Naura."

Aku terpaku, membeku di tempat. Wajahku dipastikan kembali memerah seperti stroberi rebus. Arkan Mahendra dengan gengsinya yang setinggi langit ini baru saja memberikan serangan jantung langsung ke pusat pertahananku.

"Ayo masuk ke ruanganku. Produk premium tidak seharusnya berdiri terlalu lama di koridor umum," ucap Arkan santai, lalu dengan senyum miring kemenangannya, dia menarik tanganku masuk ke dalam ruang kerjanya, meninggalkanku yang masih berusaha keras memungut sisa-sisa kewarasanku yang sudah terbang entah ke mana. Ya Tuhan, menghadapi mantan tunangan gila beneran tidak ada apa-apanya dibandingkan menghadapi bos bucin yang sudah mulai berani menyatakan perasaannya ini!

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!