Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 : Sambutan mengesankan
Dubai.
Ayyazh dan Azima tiba di sebuah mansion mewah. Mansion bergaya timur tengah atau biasa di sebut riad mansion. Riad mansion adalah rumah mewah yang di miliki para pengusaha atau bangsawan di wilayah wilayah Arab dan sekitarnya. Keistimewaan riad mansion yang tidak di miliki mansion mewah lainnya adalah adanya halaman luas di tengah bangunan besar. Di mana terdapat taman dan air mancur yang mampu membuat mata termanjakan.
Pun mansion yang di katakan Ayyazh tadi ' rumah utama ' . Azima terpukau dengan arsitektur megah dari mansion keluarga Moez tersebut.
Seorang wanita lanjut usia namun masih terlihat gurat kecantikan di sana nampak berjalan tergesa . Sejak tadi, senyum lebar tak pernah hilang dari wajah nya. Apalagi ia kedatangan cucu menantu yang sejak lama ia dambakan.
Ia merentangkan tangan begitu Azima di depan mata. " Selamat datang di rumah mu yang baru , sayang." Ucap nya memeluk Azima erat.
Azima mengulas senyum dan membalas pelukan hangat itu.
" Bagaimana perjalanan mu? "
" Sangat menyenangkan, mmm ...." Azima bingung menggunakan panggilan tepat untuk nenek Ayyazh.
" Panggil Mema. " Ucap nya terkekeh geli. " Apa si maniak kerja itu memperlakukan mu dengan baik? " Tanya Mema melirik Ayyazh yang tengah berbincang bersama popa.
( Sudah ku duga. Kenapa aku selalu di kelilingi laki laki yang sangat gila dengan pekerjaan ?)
Mema nampak menunggu jawaban Azima yang sementara waktu terlihat melamun memikirkan sesuatu.
" I..iya , Mema." Jawab Azima gugup.
" Syukurlah , semoga saja ia bisa merubah kebiasaan buruknya itu setelah menikah."
Azima tersenyum tipis. ( Semoga saja. Aku pun berharap mas A akan mengurangi intensitas kerjanya dan lebih memperhatikan Asya.)
*
*
Acara menyambut menantu baru keluarga Moez di adakan secara sederhana. Untuk ukuran milyarder seperti mereka, pesta yang sedang berlangsung ini bukanlah sebuah pesta yang bisa di anggap mewah. Justru, sangat jauh dari kata luxury .
Mema menyampaikan permohonan maaf nya pada Azima karena tidak menyambut menantu idaman nya itu seperti yang ia harapkan sebelumnya.
" Mema minta maaf, sayang. Seharusnya, kami menyambut mu tidak dengan kondisi seperti ini. Ini sangat jauh dari citra Moez. Apalagi, kamu adalah menantu pertama kami. Hanya saja, ada sesuatu dan lain hal yang untuk saat ini, Mema belum bisa menceritakan nya padamu."
" Tidak apa , Mema. Bagi Zizi, kehangatan Mema dan keluarga Moez sudah cukup untuk Zizi. Lagian, acara ini sudah sangat luar biasa, Mema."
Lagi lagi, Mema Maryam memeluk Azima. " Hati mu sangat luas dan lapang, sayang. Persis seperti Azalea. "
Azima tersipu malu karena di samakan dengan umi grandma. Jujur, ia merasa tersanjung dengan pujian itu. Pasal nya, sifat dan sikap nya serasa bertolak belakang dengan kepribadian umi grandma yang kalem , lemah lembut. Sedangkan dirinya lebih bar bar dan agresif.
Malam semakin larut, tamu undangan sudah banyak yang meninggalkan rumah utama . Tinggal keluarga inti dan beberapa kerabat yang masih asik bercengkrama.
" Kalian menginap saja. " Pinta Popa Ibrahim.
Ayyazh yang sudah siap kembali ke mansion menatap Azima. Azima yang kebetulan duduk di sebelah Mema, balas menatap Ayyazh. Tatapan itu seperti meminta persetujuan. Tapi , Azima dalam situasi sulit untuk mengerti perkataan Ayyazh lewat indra penglihatan itu.
" Nanti saja, Popa. Aku dan Azima akan kembali ke mansion."
" Sudah malam, Yazh. Baiknya , kalian menginap saja. Iya kan, Zi? " Azima tersenyum menanggapi permintaan Mema. Ia sebenarnya bingung , mau jawab iya, takut Ayyazh tidak setuju.
" Kamar mu yang lama sudah Mema bersihkan." Ucapnya sembari mengusap tangan Azima.
" Baiklah. Malam ini , Yazh menginap." Itulah keputusan terakhir Ayyazh. Lagian saat ini, Ayyazh memang butuh istirahat. Kembali ke mansion yang berjarak cukup jauh akan menghabiskan energinya. Terlebih, benar kata Popa dan Mema, jika malam sudah sangat larut.
*
*
Azima memindai setiap sudut kamar Ayyazh. Menurut Mema, Ayyazh sudah lama tidak menempati kamar ini. Begitu ia di pilih menjadi CEO Moez Company, Ayyazh membeli mansion mewah yang lebih dekat dengan perusahaan.
Namun, kamar ini nampak terawat , bersih dan rapi meski penghuninya tak lagi tinggal di sini.
Suara derit pintu terbuka , dan beberapa detik kemudian menutup kembali.
Ayyazh masuk dan melirik Azima sekilas.
Hening.
Pria dingin itu memilih ke kamar mandi, membersihkan diri kemudian berganti pakaian.
Setelah nya, ia naik ke tempat tidur. Menarik selimut dan menutup mata.
Azima memperhatikan setiap gerak gerik Ayyazh.
( Apa di kamar ini aku tidak terlihat oleh nya? Bisa bisa nya dia melakukan banyak hal tanpa menegur ku sama sekali.)
Jujur, Azima mulai kesal. Keberadaannya seperti tidak di anggap .
A memiliki sifat yang sama dengan Ayyazh, tapi tidak sampai acuh tak acuh begitu.
Sikap Ayyazh yang kelewat dingin itu tidak membuat Azima menyerah, merasa tidak di anggap, ia pun bisa melakukan hal yang sama, menganggap Ayyazh tidak ada di dalam kamar itu. Dengan santai, ia menjatuhkan tubuhnya tepat di sebelah Ayyazh.
Sebenarnya, ia risih. Tapi mau bagaimana lagi, Azima harus mengimbangi sikap cuek dan ketidak pedulian Ayyazh.
Lucunya lagi, entah keberanian dari mana, Azima mengatur posisi tidurnya , miring ke arah Ayyazh. Jadilah mereka tidur berhadap hadapan.
Azima tersenyum samar. Sedekat ini dengan Ayyazh menjadikan jantung nya memompa lebih cepat. Di temaram cahaya lampu kamar, kedua pipi Azima memerah . Sistem saraf nya mulai merespon, antara melawan rasa gugup yang menyelimuti sekujur tubuhnya atau malah lari dari ketertarikan yang muncul di waktu yang tidak tepat.
Dan pada akhirnya, ia kalah. Setelah lima menit berlalu, Azima menyerah. Ia memilih lari dengan membalikkan tubuhnya ke arah yang berlawanan.
Nafas Azima tersengal , ia mengusap dada dan berusaha menenangkan jantung nya yang mengamuk tidak tau diri.
Setelah berusaha semaksimal mungkin, jantungnya pun berhasil ia tenangkan dengan zikir dan sholawat, hingga beberapa saat kemudian ia terlelap.
Lain hal yang terjadi di belakang Azima. Ternyata sejak tadi, Ayyazh hanya berpura pura.
Ia tidak pernah benar benar tidur seperti yang di pikirkan Azima.
Dan bukan hanya jantung Azima saja yang tidak bekerja dengan baik. Karena Ayyazh pun mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah.
Parah nya, ia hampir saja tidak bisa menenangkan diri dan menyerang Azima.
Ya , ibarat singa birahi yang menemukan betina lugu yang sudah lama ia incar. Begitulah kira kira otak Ayyazh bekerja.
Tangan Ayyazh kuat mencengkram sprei, sprei itu ia gunakan sebagai segel manual agar tubuhnya tetap pada posisi normal tidak terbang dan menangkap Azima.
Ayyazh jelas mendengar dengkuran halus dan nafas teratur pertanda jika Azima sudah bermimpi indah di dalam tidurnya. Dan itulah yang membuat nya semakin khawatir. Meski masih dalam balutan pakaian syar'i lengkap dengan hijab nya, namun siluet dari pinggang ramping menggiurkan itu tetap menggoyahkan iman Ayyazh.
Ayyazh mendesah kasar dan bangkit dari ranjang . Ia meraih bantal dan berjalan mendekati Azima.
Ayyazh berjongkok di sisi ranjang. Ia mengusap pelan wajah Azima. ( Ini yang aku takutkan saat hanya berdua dan harus berbagi kasur dengan mu. Makanya , aku ingin kembali ke mansion untuk menghindari ini. Tapi tetap saja, kau memberiku sebuah ujian berat untuk aku lewati malam ini , Zizi. )
Akhirnya, Ayyazh menurunkan ego dan memilih tidur di sofa panjang .
...****************...
habisnya setiap bab ko ya dikir amat, mana nunggu up sehari berasa lama banget, eh giliran udah up baru baca dh abis🙈🙈
wah parah Malah di samain sma batu, g sekalian zi sama dindingnya 🤣