NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: LANGKAH PERTAMA SANG HARIMAU

​Matahari pagi di Singapura menyapa Marina Bay dengan cahaya keemasan yang memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan pemandangan yang seharusnya membawa kedamaian. Namun, di dalam unit penthouse "The Ark", suasana justru terasa seperti pusat komando perang. Udara di dalam ruangan itu dipenuhi oleh aroma kopi espresso yang pekat dan suara ketukan keyboard yang konstan, menciptakan irama ketegangan yang hanya dipahami oleh penghuninya.

​Aaliyah Humaira berdiri di dekat jendela kaca raksasa, menatap Marina Bay Sands yang menjulang angkuh di kejauhan. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap—gamis hitam yang baru dan niqab yang terpasang sempurna. Meskipun matanya tampak sedikit sembab karena hanya tidur dua jam, ada kilatan determinasi yang tak tergoyahkan di sana.

​(Batin Aaliyah: Ya Allah... fajar baru telah tiba. Di Jakarta, mereka mungkin sedang merayakan kemenangan palsu mereka di atas berita kematianku. Mereka mengira telah mengubur Aaliyah Humaira sedalam-dalamnya. Namun, mereka tidak tahu bahwa dari negeri singa ini, aku sedang bersiap untuk meruntuhkan setiap pondasi kebohongan yang mereka bangun. Zayn... pria itu sudah pergi sejak subuh tadi untuk bertemu pengacara internasional. Mengapa hatiku merasa begitu hampa saat dia tidak ada di ruangan ini? Mengapa aku merasa seolah-olah perlindungannya adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap berdiri tegak?)

​Pintu lift pribadi berdenting pelan, dan Zayn Al-Fatih melangkah keluar. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat elegan, rambutnya tertata rapi, namun wajahnya tampak lebih dingin dari biasanya. Di tangannya, ia memegang sebuah map kulit berwarna hitam.

​Zayn berhenti sejenak saat melihat Aaliyah berdiri di depan jendela. Ia menatap sosok wanita itu dalam diam selama beberapa detik, merasakan sebuah getaran aneh yang kembali mengusik hatinya.

​(Zayn membatin: Dia tampak begitu tenang, namun aku tahu di dalam sana badai sedang berkecamuk. Aaliyah... kau berdiri di sana seperti seorang pejuang yang siap menghadapi maut. Setiap kali aku melihatmu, aku teringat betapa aku dulu sangat meremehkanmu. Sekarang, melihatmu berdiri di markasku, aku sadar bahwa kaulah aset paling berharga yang pernah kumiliki—bukan sebagai partner IT, tapi sebagai manusia yang memberiku alasan untuk kembali percaya pada kebenaran. Pengacara-pengacara itu sudah siap. Baskoro... nikmatilah sisa-sisa kejayaanmu hari ini, karena besok kau akan merangkak di kakiku.)

​"Kau sudah siap?" tanya Zayn, suaranya berat namun lembut.

​Aaliyah berbalik, menundukkan kepalanya sedikit. "Saya siap, Zayn. Data yang kita kumpulkan semalam sudah saya enkripsi dan saya kirimkan ke server pengacara Anda secara anonim sesuai instruksi."

​Zayn melangkah mendekat, berdiri hanya beberapa senti di depan Aaliyah. Aroma parfum sandalwood miliknya yang khas kembali menyerbu indra penciuman Aaliyah, membuat wanita itu sedikit menahan napas.

​"Bagus. Aku baru saja bertemu dengan Marcus Lim, pengacara terbaik di Asia Tenggara untuk kasus kejahatan siber dan pencemaran nama baik. Dia bilang, bukti AI yang kau temukan semalam adalah 'bom nuklir' bagi mereka. Kita tidak akan langsung mengebom mereka di pengadilan Jakarta. Kita akan membekukan aset mereka melalui jalur hukum Singapura terlebih dahulu karena kejahatan itu dilakukan di sini," Zayn menjelaskan, matanya menatap tajam ke arah mata Aaliyah.

​Aaliyah mengangguk. "Itu langkah yang sangat cerdas. Jika aset mereka di Singapura beku, operasional Baskoro Group di Jakarta akan lumpuh karena sebagian besar pendanaan mereka berputar di sini."

​(Zayn membatin: Kau selalu mengerti langkahku sebelum aku menyelesaikannya. Kejeniusanmu ini... benar-benar membuatku terpesona. Tapi lebih dari itu, aku ingin kau tahu bahwa aku tidak melakukan ini hanya untuk bisnis. Aku melakukan ini karena aku tidak tahan melihatmu menderita. Aku ingin melihatmu kembali ke pesantrenmu dengan kepala tegak, sebagai Aaliyah Humaira sang Hafizah yang mulia, bukan sebagai Maryam yang terbuang.)

​Jakarta - Dua Jam Kemudian

​Di kantor megah Baskoro Group di pusat kota Jakarta, suasana yang seharusnya penuh selebrasi justru berubah menjadi kekacauan massal. Sabrina berdiri di depan meja ayahnya dengan wajah yang memerah karena amarah dan kebingungan.

​"Apa maksud Papa?! Kenapa kartu kreditku ditolak saat aku mau bayar tas di butik tadi?!" teriak Sabrina, membanting tas branded-nya ke atas meja kerja Tuan Baskoro.

​Tuan Baskoro tidak menjawab. Ia sedang menatap layar komputernya dengan wajah yang pucat pasi. Tangannya gemetar saat ia menggulirkan tetikusnya.

​"Papa! Jawab aku!" desak Sabrina.

​"Sabrina... diamlah!" bentak Baskoro, suaranya serak. "Sesuatu yang mengerikan sedang terjadi. Seluruh rekening perusahaan kita di Singapura... dibekukan oleh otoritas moneter di sana atas permintaan sebuah firma hukum internasional."

​Sabrina tertegun, matanya membelalak. "Dibekukan? Atas dasar apa?!"

​"Tuduhan pencucian uang dan kejahatan siber internasional," jawab Baskoro lemah. "Seseorang telah mengirimkan bukti bahwa server kita di Singapura digunakan untuk melakukan peretasan dan manipulasi data AI terhadap seorang warga negara Indonesia. Mereka menyebutkan kasus Al-Azhar, Sabrina!"

​(Sabrina membatin: Tidak mungkin! Tidak mungkin ada yang bisa melacak itu! Rian bilang jalurnya sudah sangat aman! Siapa yang melakukannya? Apakah Zayn? Tidak... Zayn sedang sibuk mengurus pelayan sialan itu. Tunggu... apakah Maryam? Tidak, Maryam hanya pelayan kampung! Tapi... kenapa hatiku merasa tidak enak? Jika berita kematian Aaliyah sudah tersebar, siapa yang membela yayasan itu sekarang?)

​"Rian! Panggil Rian sekarang juga!" teriak Sabrina.

​Beberapa saat kemudian, Rian masuk dengan wajah yang berkeringat. Ia tampak sangat panik, napasnya tersenggal-senggal.

​"Nona Sabrina, Tuan Baskoro... sistem kita... sistem kita ditembus!" ucap Rian terbata-bata.

​"Aku tahu sistem kita ditembus, bodoh! Tapi siapa pelakunya?!" amuk Sabrina.

​"Saya tidak tahu pastinya, tapi peretasnya menggunakan nama samaran 'H_Zero'. Dia meninggalkan pesan di server utama kita," Rian menyodorkan sebuah tablet ke arah mereka.

​Di layar tablet itu, hanya ada satu baris kalimat berwarna merah yang berkedip di atas latar belakang hitam:

​"Orang mati memang tidak bisa bicara, tapi data mereka akan menghakimi kalian. - H_Zero"

​Sabrina hampir saja jatuh pingsan saat membaca kalimat itu. Tangannya mencengkeram pinggiran meja. "Aaliyah... dia masih hidup? Tidak... aku sendiri yang melihat dia tenggelam semalam!"

​(Sabrina membatin: Ya Tuhan... apa yang sedang terjadi? Apakah Maryam sebenarnya adalah Aaliyah? Apakah Zayn sudah tahu segalanya dan dia yang membawa Aaliyah lari? Jika benar... aku sudah tamat. Aku sudah mendorongnya ke kolam, aku sudah memfitnahnya. Jika bukti itu sampai ke polisi Singapura, aku tidak akan hanya kehilangan harta, aku akan mendekam di penjara seumur hidup!)

​"Papa, kita harus lari! Kita harus ke Singapura sekarang juga untuk mengurus ini!" ucap Sabrina panik.

​"Bodoh! Jika kita ke Singapura sekarang, kita justru akan langsung ditangkap! Kita harus tetap di sini dan menggunakan koneksi kita di kepolisian Jakarta untuk menyerang balik Zayn!" Baskoro mencoba menenangkan dirinya, meskipun ia tahu posisinya kini sedang berada di ujung tanduk.

​Singapura - Sore Hari

​Aaliyah sedang duduk di depan monitornya saat Zayn masuk membawakan sebuah kotak kayu kecil. Zayn meletakkannya di samping keyboard Aaliyah.

​"Buka ini," perintah Zayn lembut.

​Aaliyah membukanya dengan ragu. Di dalamnya terdapat sebuah niqab baru yang terbuat dari sutra kualitas terbaik dengan sulaman benang perak di pinggirannya, serta sebuah bros mawar yang sangat indah—bros yang identik dengan yang difitnahkan Sabrina dulu, namun ini adalah versi yang asli milik Ibu Zayn.

​"Zayn... ini..." Aaliyah menatap bros itu dengan haru.

​"Bros yang dulu Sabrina gunakan untuk menjebakmu sudah kuserahkan ke polisi sebagai barang bukti manipulasi. Ini adalah gantinya. Ibuku yang memintaku memberikannya padamu. Beliau bilang, kau telah menjaga hatinya saat dia paling membutuhkan, dan dia ingin kau menjaga bros ini sebagai simbol bahwa kau adalah bagian dari keluarga kami," ucap Zayn, matanya memancarkan ketulusan yang luar biasa.

​Aaliyah merasakan air mata kembali menggenang. (Batin Aaliyah: Bagian dari keluarga? Ya Allah... pria ini benar-benar telah berubah. Dia yang dulu menyebutku bau kemiskinan, kini memberiku pusaka keluarganya. Mengapa setiap tindakannya membuat benteng pertahananku runtuh? Aku tidak boleh jatuh cinta... aku harus ingat misiku. Tapi... bagaimana bisa aku tidak mencintai pria yang bersedia melawan seluruh dunia demi melindungiku?)

​"Terima kasih, Zayn. Sampaikan terima kasih saya pada Nyonya Sarah," bisik Aaliyah.

​Zayn duduk di kursi di sebelah Aaliyah, menatap layar monitor yang menampilkan grafik kejatuhan saham Baskoro Group secara real-time.

​"Langkah pertama sudah berhasil, Aaliyah. Mereka sedang panik. Sabrina pasti sedang berteriak-teriak di kantornya sekarang," Zayn tersenyum tipis. "Langkah kedua adalah besok pagi. Aku akan merilis bukti manipulasi AI itu ke media internasional melalui konferensi pers di Singapura. Kita akan menunjukkan pada dunia bahwa Aaliyah Humaira adalah korban, bukan pelaku."

​"Dan Rian?" tanya Aaliyah.

​"Rian akan menjadi target berikutnya. Aku sudah menyuruh tim IT-ku yang lain untuk melacak keberadaan server cadangan yang dia sembunyikan. Begitu kita dapatkan, dia tidak punya pilihan selain menyerah dan memberikan kesaksian melawan Baskoro," Zayn menjelaskan rencananya dengan sangat detail.

​Zayn menatap Aaliyah dengan intens. "Aaliyah... setelah semua ini selesai, apa yang ingin kau lakukan?"

​Aaliyah terdiam sejenak, menatap ke arah laut yang kini berwarna jingga karena matahari terbenam. "Saya ingin kembali ke pesantren, Zayn. Saya ingin membersihkan nama ayah saya di depan seluruh santri. Saya ingin membuktikan bahwa Al-Qur'an yang saya hafal tidak pernah saya khianati."

​"Hanya itu?" tanya Zayn, suaranya sedikit kecewa.

​Aaliyah menoleh ke arah Zayn. Mata mereka bertemu dalam sebuah momen yang seolah menghentikan waktu. "Dan saya... saya ingin tetap berada di dekat orang yang telah menjadi perisai saya di tengah badai."

​Zayn tertegun. Jantungnya berdegup kencang mendengar pengakuan tulus itu. Tanpa sadar, ia meraih tangan Aaliyah dan menggenggamnya dengan sangat lembut.

​"Aku akan memastikan kau mendapatkan keduanya, Aaliyah. Pesantrenmu, dan perlindunganku. Selamanya," janji Zayn.

​Malam itu, di Singapura, rencana besar telah matang. Badai yang dikirim dari negeri singa siap meluluhlantakkan Jakarta. Dan di tengah persimpangan takdir, dua jiwa yang dulunya saling membenci kini telah bersumpah untuk saling menjaga di bawah cahaya bintang-bintang Marina Bay yang abadi.

​(Zayn membatin: Esok adalah hari perhitungan. Aku akan menghancurkan siapa pun yang pernah membuatmu menangis, Aaliyah. Karena air matamu adalah harga yang terlalu mahal untuk mereka bayar.)

1
Sri Jumiati
cobaan berat bertubi tubi .terus menerus.kasihan Aaliyah
Rita Rita
AQ jadi kepikiran presiden RI,,, apakah pak Bowo Thor 🤔 novel mu Thor bikin tegangan tinggi
Misterios_Man: diem diem aja kak, jangan bilang-bilang /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!