karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INGATAN KEN YANG MULAI PULIH
Ken menutup pintu rumahnya pelan, seolah takut suara kecil saja bisa memecahkan sesuatu di dalam dirinya. Ingatannya memang mulai pulih, tapi belum sepenuhnya utuh. Masih ada celah—celah yang justru diisi oleh cerita-cerita yang selama ini ia percayai tanpa ragu.
Dan di dalam celah itulah, nama Sera berdiri paling kuat.
Ia berjalan menuju dapur, menuang segelas air, lalu meminumnya dalam satu tegukan panjang. Kepalanya terasa berat, tapi bukan karena ingatan yang kembali—melainkan karena bayangan-bayangan tentang seseorang yang terus mengganggu pikirannya.
Key.
Ken mengerutkan kening.
Entah kenapa, setiap kali nama itu muncul, ada rasa tidak nyaman yang langsung menjalar. Bukan hanya sekadar tidak suka… tapi seperti ada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang selama ini sudah tertanam.
Kebencian.
“Ngapain gue mikirin dia…” gumam Ken pelan, mencoba mengabaikan.
Namun pikirannya justru semakin jelas memutar ulang kata-kata Sera.
“Key itu aneh, Ken. Dari awal dia selalu ikut campur.”
“Waktu kamu di rumah sakit, dia datang terus. Aku juga gak nyaman…”
“Aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa lagi gara-gara dia.”
Ucapan-ucapan itu dulu terdengar seperti kekhawatiran. Tulus. Penuh perhatian. Dan Ken mempercayainya sepenuhnya.
Bagaimana tidak?
Di saat ia kehilangan ingatan, Sera adalah satu-satunya orang yang selalu ada di sisinya. Sera yang menjelaskan apa yang terjadi setelah kecelakaan. Sera yang mengatakan bahwa dialah yang menemukan Ken di jalan dan membawanya ke rumah sakit.
Dan dari situlah semuanya bermula.
Perasaan itu tumbuh perlahan. Dari rasa terima kasih… menjadi ketergantungan… lalu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Cinta.
Ken tersenyum tipis saat mengingatnya, meski ada sedikit keganjilan yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia duduk di kursi ruang makan—tempat yang akhir-akhir ini terasa sering dipenuhi kenangan yang membingungkan. Sekilas, ada bayangan samar di kepalanya… tentang seseorang yang berbeda. Suara yang berbeda. Sentuhan yang terasa asing tapi juga dekat.
Namun bayangan itu cepat hilang.
Ken menggeleng pelan.
“Pasti cuma sisa-sisa halusinasi,” pikirnya.
Di sisi lain, nama Key kembali muncul.
Bukan sebagai sosok yang menyelamatkan… tapi sebagai seseorang yang mengganggu.
Ken mengingat bagaimana beberapa kali Key mencoba berbicara dengannya. Cara Key menatapnya, seolah ingin mengatakan sesuatu yang penting. Tapi setiap kali itu terjadi, Sera selalu ada di antara mereka.
Dan Sera selalu punya alasan.
“Dia cuma cari perhatian.”
“Jangan terlalu dekat sama dia, Ken. Aku takut dia bikin kamu makin bingung.”
Tanpa sadar, kata-kata itu membentuk cara Ken melihat Key.
Dari orang asing… menjadi orang yang mencurigakan.
Dari mencurigakan… menjadi seseorang yang tidak ia sukai.
Dan sekarang, saat ingatannya perlahan kembali, rasa itu tidak hilang—justru semakin kuat, meski ia sendiri tidak benar-benar tahu kenapa.
Konflik itu mulai terasa, meski belum jelas bentuknya.
Di satu sisi, Ken percaya pada Sera sepenuhnya. Semua yang ia ketahui tentang masa lalunya berasal dari Sera. Logikanya sederhana—tidak mungkin seseorang yang sudah menyelamatkan hidupnya akan berbohong.
Itu pro yang ia pegang kuat.
Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang tidak sinkron.
Ken merasa ada bagian dari ingatannya yang tidak cocok dengan cerita itu. Potongan-potongan kecil yang terasa salah tempat. Dan anehnya… setiap potongan itu selalu berhubungan dengan Key.
Itu kontranya.
Namun Ken memilih menepisnya.
Ia berdiri, mengambil ponselnya, lalu menatap layar cukup lama sebelum akhirnya membuka kontak Sera. Nama itu langsung membuat hatinya terasa lebih tenang.
Sera adalah jawabannya.
Sera adalah orang yang ada sejak awal.
Dan Sera… adalah orang yang ia cintai.
Tanpa ragu, Ken mengetik pesan singkat:
“Aku udah di rumah. Kita ketemu, ya. Aku kangen.”
Ia mengirimnya, lalu menghela napas lega.
Di saat yang sama, tanpa ia sadari, di sudut lain kota, seseorang menatap layar ponselnya dengan perasaan yang jauh berbeda.
Key.
Nama Ken masih tersimpan di sana pikiran nya, Kenangan tentang malam kecelakaan itu masih jelas di pikirannya—darah, ketakutan, dan usaha mati-matian untuk menyelamatkan seseorang yang bahkan kini membencinya.
Key menutup matanya pelan.
“Kalau aja dia ingat…” bisiknya lirih.
Namun kenyataan tidak sesederhana itu.
Karena selama Ken masih mempercayai cerita yang salah… selama itu pula jarak di antara mereka akan semakin jauh.
Dan tanpa Ken sadari, kebencian yang ia rasakan bukanlah miliknya sendiri.
Melainkan sesuatu yang perlahan ditanamkan.
Oleh seseorang yang paling ia percayai.
😉🤍