"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Office Husband
Anyelir langsung menyambut pelukan Sandi. Sambil memeluk pinggang Anyelir, pria itu membawa masuk rekan kerjanya ke unit apartemennya.
Keduanya mendudukkan diri di sofa. Sandi merapihkan rambut Anyelir yang sedikit berantakan karena ulahnya.
“Hari ini kamu cuti kan? Aku pikir kamu sedang menghabiskan waktu dengan Alvin.”
“Jangan bahas itu,” sahut Anyelir dengan wajah masam.
Hanya senyuman saja yang diberikan Sandi. Pria itu bangun untuk mengambilkan minuman untuk rekan kerjanya itu. Tak lama dia kembali dengan membawa dua minuman kaleng.
Anyelir langsung menyambar minuman kaleng itu kemudian meneguknya hampir setengah. Minuman kaleng itu memiliki kandungan alkohol sebanyak lima persen. Namun karena wanita itu sudah sering mengkonsumsinya, jadi tidak akan membuatnya mabuk.
“Ada apa?” tanya Sandi lagi.
Anyelir pun langsung menceritakan apa yang membuat hatinya kesal. Wanita itu memang sering mencurahkan isi hatinya saat bertengkar dengan Alvin. Bisa dibilang Sandi adalah tong sampah nyonya Alvin tersebut.
Kedekatan Anyelir dan Sandi mulai terjalin enam bulan setelah Anyelir bergabung dengan Blue Mart. Dikarenakan istrinya sangat ingin bekerja, Alvin meminta bantuan Randika untuk mencarikan posisi di Blue Mart untuk sang istri.
Anyelir pun mendapat pekerjaan sesuai bidang kuliahnya. Dia tergabung dalam manajemen Blue Mart. Dia dipekerjakan di bidang keuangan. Khusus mengatur payroll para karyawan Blue Mart yang ada di kota Jakarta.
Sandi pun bekerja di divisi yang sama. Awal kedekatan di saat Anyelir meminta bantuan Sandi berkenaan dengan pekerjaannya.
Hubungan mereka pun hanya sebatas rekan kerja. Lama-kelamaan mereka semakin dekat dan semua rekan mereka sering menyebut Sandi sebagai office husband Anyelir.
Office husband adalah istilah untuk rekan kerja lawan jenis yang memiliki ikatan emosional dan kepercayaan kuat seperti pada pasangan. Sering menjadi teman curhat, saling mendukung, berbagi suka dan duka di tempat kerja.
Awalnya hubungan Anyelir dan Sandi bersifat platonis atau tanpa unsur romantis atau fisik. Mereka memang hanya membahas soal pekerjaan saja. Tapi karena terlalu dekat dan sering bersama, perlahan perasaan mulai bermain di antara mereka.
Jika sebelumnya mereka masih bisa menjaga jarak dan tidak melakukan sentuhan. Tapi sekarang pelukan sampai cipika dan cipiki sudah biasa mereka lakukan.
Acara curhat juga mulai bergeser. Yang mulanya hanya membicarakan soal pekerjaan, berlanjut ke ranah pribadi.
Baik Anyelir maupun Sandi sama-sama sudah berkeluarga. Istri dan anak Sandi tinggal di Padalarang. Pria itu baru pulang di saat libur.
Awalnya Sandi pulang setiap dua minggu sekali. Tapi setelah hubungannya dengan Anyelir semakin akrab, pria itu kadang pulang sebulan sekali atau enam minggu sekali dengan alasan demi mengirit pengeluaran.
Baru setahun yang lalu Sandi pindah dari kost-annya ke apartemen yang ditempatinya sekarang. Biaya sewa unit apartemen dibayarnya patungan dengan Anyelir.
Anyelir sering menjadikan unit apartemen ini sebagai tempat beristirahat sepulang kerja sebelum pulang ke rumah. Jarak dari Blue Mart ke apartemen ini memang hanya sepuluh menit dengan berjalan kaki.
“Kamu tuh kebiasaan posesif banget sama Alvin. Nanti kalau dia beneran selingkuh di belakang kamu gimana?”
“Lihat aja kalau dia berani selingkuh.”
“Menurutku Alvin itu setia. Baiknya kamu kurangi posesifmu.”
“Ck ... kamu tuh harusnya dukung aku.”
“Aku ini laki-laki, sama seperti Alvin. Aku tahu bagaimana rasanya diposesifin sama istri, ngga enak banget pastinya.”
Seketika Anyelir terdiam. Wanita itu memang takut kehilangan Alvin, karenanya kerap bersikap posesif pada suaminya. Tanpa dia sadari apa yang dilakukannya bersama dengan Sandi sudah masuk ranah perselingkuhan.
“Aku lapar. Kamu masak dong,” suara Sandi terdengar merajuk.
Tanpa menunggu Sandi meminta dua kali, Anyelir segera bangun dari duduknya. Wanita itu segera menuju dapur untuk memasakkan sesuatu.
Sambil bersenandung kecil, Anyelir memotong-motong bahan masakan. Wanita itu nampak bersemangat sekali memasak untuk Sandi. Padahal di rumah dia jarang memasak untuk Alvin.
***
Pukul sembilan malam, taksi online yang ditumpangi Anyelir berhenti di depan kediaman Alvin. Wanita itu segera turun lalu masuk ke dalam rumah. Berhubung pintu rumah sudah dikunci, dengan sangat terpaksa dia memijit bel.
Bi Dian segera membukakan pintu. Tanpa mengucapkan terima kasih, Anyelir segera masuk ke dalam rumah. Dia langsung menuju kamarnya. Begitu pintu terbuka, dia langsung disambut tatapan tajam Alvin.
“Kenapa baru pulang? Kemana saja kamu?!”
Tidak ada jawaban dari Anyelir. Wanita itu berjalan masuk lalu menaruh tasnya di atas meja rias. Dia langsung duduk di depan meja rias dan membersihkan make upnya. Sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Alvin.
“Apa kamu tidak punya mulut? Dari mana saja kamu?!” Alvin bertambah berang karena sang istri mengabaikan pertanyaannya.
“Jalan-jalan,” jawab Anyelir santai sambil terus membersihkan sisa make up di wajahnya.
“Jalan-jalan kemana? Kenapa sampai pulang selarut ini? Apa kamu lupa sudah menjadi seorang istri?!” cecar Alvin dengan suara mulai meninggi.
Anyelir membuang kapas yang digunakannya tadi. Wanita itu kemudian mengambil lingerie dari dalam lemari lalu memasuki kamar mandi.
Alvin mendengus kesal. Entah mengapa setiap berbicara dengan Anyelir selalu memancing emosinya. Semakin lama, Anyelir semakin tidak menghargainya sebagai seorang suami.
Dari dalam kamar mandi Anyelir keluar mengenakan lingerie berbahan tipis. Namun Alvin sama sekali tidak berminat menyentuh istrinya. Di hati dan kepalanya masih diliputi kemarahan pada sang istri.
Bermula dari aksi bar-bar Anyelir di mini market, ditambah wanita itu pulang larut malam tanpa memberi kabar apapun padanya.
“Kamu masih belum menjawab pertanyaanku, Anye!”
“Sudah ku bilang kalau aku habis jalan-jalan.”
“Jalan-jalan kemana? Apa harus sampai pulang larut malam begini?”
“Apa salah kalau aku pergi menghabiskan waktu. Mas tahu kalau aku mengambil cuti hari ini. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Mas. Tapi apa? Mas malah sibuk sendiri. Sepertinya Mas lebih senang menghabiskan waktu dengan janda gatal itu!”
“Berhenti bicara omong kosong! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Ayu! Kamu itu selalu saja curiga. Kenapa kamu selalu bersikap posesif?”
“Aku tidak akan bersikap posesif kalau bukan karena Mas yang terlalu baik pada semua wanita!”
Begitulah Anyelir, selalu mencari alasan untuk membenarkan sikap posesifnya. Di matanya selalu Alvin yang salah tanpa mau wanita itu mengintrospeksi diri.
“Kamu selalu mencurigaiku. Lalu bagaimana dengan mu? Siapa tahu kalau justru kamu yang bermain api di belakangku. Makanya kamu selalu menuduhku berselingkuh.”
“Mas menuduh ku selingkuh?”
“Kenapa? Apa kamu pikir hanya laki-laki yang bisa berselingkuh?”
Anyelir seketika terdiam. Matanya nampak berkaca-kaca. Entah mengapa hatinya sakit dituduh seperti itu oleh Alvin. Padahal hubungannya dengan Sandi sudah masuk dalam kategori perselingkuhan.
“Mas tahu kenapa aku ambil cuti hari ini? Mungkin Mas lupa hari ini, tapi aku tidak pernah lupa!”
***
Dasar drama queen😏
Jangan lupa rate bintang 5 novel ini ya🤗
yg penting nti di Ending om Alvin ttp sma sisil🤭