Lamaran Raditya di tolak oleh yuni calon ibu mertua nya karena tidak menyanggupi hantaran yang di minta. Yuni bahkan menghina Raditya dan mempengaruhi anak nya agar mencari laki laki yang kaya, karena anak nya Melinda adalah seorang sekretaris di perusahaan ibu nya. terpengaruh oleh ibu nya, Melinda sebagai kekasih Raditya akhir nya ikut merendah kan
karena emosional tiba tiba Raditya melamar seorang gadis yang bernama Dahlia, pembantu di rumah Melinda dengan cincin Berlian.
Namun siapa sangka, Raditya yang di kenal sebagai pegawai admistrasi di tempat Melinda bekerja, sebenar nya adalah anak sulung pewaris perusahaan itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 4
"Memang nya mata mu rabun? Itu cincin" ketus Radit
"iya aku juga tahu ini cincin! tapi ini cincin KW atau Asli?"
Melinda memekik sambil menggoyang goyang kan tangan Dahlia, ia menyentak tangan Dahlia dengan kasar. Aneh nya Dahlia hanya diam saja seperti meringis menahan sakit di tangan nya, membuat Radit gregetan melihat nya.
"Mau asli apa KW gak ada urusan nya sama kamu Mel.!"
"Kamu tinggal jawab aja ini asli apa KW!"
Melinda kembali mengguncang tangan Dahlia sampai terhuyung di depan dada Radit. Kedua bola mata gadis itu melebar karena kaget. Seperti detik begitu lambat meninggalkan waktu. Gadis itu kini sudah berada dalam pelukan Radit
Sejenak Dahlia mendongak menatap Radit. Radit suka warna manik mata gadis itu. Warna abu bercampur warna hitam jelaga. Tiba tiba Dahlia langsung melepas kan diri, salah tingkah. Hati Radit tersenyum namun ekpresi wajah nya datar
"Kamu jangan kurang ajar ya mas! ini rumah ku.!" tegas melinda
"kamu tuh jangan jahat sama calon istri ku. kamu kira tangan nya itu layangan bisa kamu kebas sana kebas sini! kalau sampai kami gak bisa bulan muda ke paris karena lengan nya patah, aku tuntut kamu.!"
Wajah Melinda merah padam karena merasa di permainkan.
"Aku sudah muak ya sama omongan mu yang sok bos itu. Jangan terlalu mengkhayal bisa mati kamu nanti nya karena depresi" ketus Melinda
Radit hanya diam mencebik. "Kamu hanya belum tahu saja siapa aku. kamu pasti akan segera menarik ucapan mu itu Mel" batin Radit
Tiba tiba bu Yuni yang sekarang memegang tangan Dahlia. Radit biarkan saja dia memutar mutar cincin itu di jari manis calon istri nya itu
"Semoga nenek peot ini bodoh, tak bisa membedakan mana berlian asli dan palsu. jadi, dia tak langsung terkena struk karena kaget" kata Radit dalam hati
"Ah, ini pasti kW Mel, gak mungkin asli" Bu Yuni menghempas kan tangan Dahlia. tampak gadis itu hanya mengusap tangan nya menggunakan kain hijab nya.
"Masa sih ma? tapi kok kilau nya beda ya" Melinda kembali mau meraih tangan Dahlia.
Radit langsung menepis tangan Melinda.
"Sudah ya, mau kw atau asli gak ada hubungan nya dengan kalian. kan kamu juga sudah gak mau sama aku Mel. udah ngapain juga kamu kepo"
Seolah olah tak memperdulikan omongan Radit, gadis yang masih ada di hati Radit itu menatap tajam Dahlia.
"Lepas" perintah nya
"Ta,,, tapi Non,," lirih Dahlia sambil menggenggam tangan nya seolah olah menyembunyikan jari nya yang bercincin.
"Lama! cepat lepas! aku ingin melihat nya" Melinda menarik paksa tangan Dahlia dan mencoba menarik paksa cincin itu.
Radit kembali menepis tangan Melinda yang sedang berusaha menjajah jari Dahlia.
"Apa apaan sih kamu, Mel,! jangan coba coba di lepas, itu cincin pernikahan ku"
"Aku mau lihat, kasih aku lihat mas!" teriak Melinda memaksa
"enggak, gak aku izinin"
Melinda tak mau kalah, ia terus mencoba meraih telapak tangan Dahlia sedang kan Radit berusaha menjauh kan nya
"Aku pecat kamu kalau kamu gak lepasin cincin itu"
"Anu,, Non,," lirih Dahlia kebingungan.
"Awas ya! kamu gak boleh lepas cincin itu tanpa seizin ku" ancam Radit sambil terus mengangkat lengan gadis itu.
Radit tidak mau cincin berlian itu jatuh ke tangan Melinda yang matre.
"Dahlia lepasin!" teriak Melinda sambil menghentak kan kaki nya.
Pasti lah gadis itu sedang menahan rasa kesal yang sudah sampai ke ubun ubun nya.
"Kamu gak ada hak ya" Radit terus menarik tangan Dahlia yang sedari tadi jadi rebutan.
"Dia pembantu ku disini Raditya! Dan aku cuma mau lihat lebih detail cincin itu"
"Gak ada urusan nya sama kamu. Ayo kita pergi"
Mungkin Dahlia takut di pecat, ia menatap Radit serius
"ikut aku, kamu sudah bukan pembantu lagi di sini. Tempat mu seharus nya berada di istana ku" ucap Radit serius pada dahlia
"Cuihh,,! sejak kapan laki laki kere kayak kamu punya istana. Jangan mau di percaya laki laki yang tak kamu kenal, Dahlia! Lepas cincin itu dan kembali lah bekerja" ucap Bu Yuni sambil melipat tangan nya di depan dada. Begitu angkuh dan sombong
Radit semakin muak di remeh kan seperti itu oleh nenek peot itu. "Lihat saja akan ku buat biji mata nya jatuh sekarang." batin Radit kesal, ia merogoh Handphone sederhana nya, karena handphone mahal nya sengaja dia tinggal kan di rumah
"Halo pak man. jemput saya sekarang. ini aku Sherlock tempat nya, jemput sekarang ya"
Melinda mendelik heran
"Kalian pulang aja duluan, saya pulang nya nanti sama pak Parman" ucap Radit pada Parjo dan Romlah.
kedua nya mengangguk lalu keluar dan pulang menggunakan motor kesayangan mereka. Beberapa kali Radit menawarkan motor baru untuk mereka, tapi mereka lebih suka motor butut itu. Kata Parjo, motor itu adalah ikatan bukti cinta dan perjuangan mereka selama 20 tahun menikah. Bahkan uang 50 juta yang di berikan ayah Radit secara cuma cuma malah mereka pakai untuk membeli seat umroh. Itu lah kenapa mereka berdua jadi kesayangan ayah nya Radit.
"Ayo ikut aku"
Dahlia masih bergeming seperti ketakutan
"Kamu jangan termakan rayuan laki laki ini. satu langkah kamu keluar dari runah ini, kamu aku pecat!" ancam Melinda
"Dan jangan harap kamu bakal dapet pesangon dan kembali bekerja lagi di sini. Buat kamu yang hanya tamatan SMA mau kerja apa, Hah,!" sambung si nenek peot
Radit menarik pergelangan tangan Dahlia. Gadis itu menggeleng mencoba melepas kan tangan nya dari Radit.
"Jangan pedulikan ucapan mereka" kata Radit
Dahlia masih diam, makin kebingungan